
Yuuki dengan wajah yang begitu murung, pada akhirnya dia menemui Araka yang berada di ruang latihan Leo. Meski sebenarnya Leo sendiri harus menunggu beberapa lama karena Yuuki tersesat di beberapa ruangan karena ini pertama kali baginya.
Yuuki menggarukkan kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat cemberut saat menatap Leo. Padahal, dia sendiri benar-benar ingin bersama dengan Hime sambil belajar untuk membuat sebuah potion.
“Maafkan aku Yuuki, tapi kamu bisa kembali ke ruangan Hime nanti. Namun, aku juga perlu tahu kemampuan kalian berdua.” Ucap Leo sambil mengusap kepala Yuuki dengan lembut.
Yuuki sendiri menjadi lebih tenang, wajahnya kembali ceria saat diperlakukan seperti itu oleh Leo. Sehingga, dia hanya bisa menurut dan tidak membalas apapun kepada Leo.
“Kalian berdua bisa menyerangku secara bersamaan. Kalian bebas menggunakan teknik Gemini kalian, baik itu Telepati, perpindahan tubuh dan yang lainnya. Bahkan jika perlu, kalian bisa menggunakan kemampuan telekinesis untuk menggerakkan benda-benda di sekitar.” Leo berkata.
Meski Leo tahu atribut sihir mereka berdua, akan tetapi teknik yang mereka kembangkan, jelas Leo sama sekali tidak mengetahuinya. Dia hanya mengetahui telekinesis dan juga perpindahan tubuh mereka melalui sedikit ingatan Araka.
Yuuki dan Araka hanya bisa menatap satu sama lain. Mereka terlihat sedikit keberatan untuk melawan Leo secara bersamaan. Hanya saja, mereka langsung mengangguk dan memasang kuda-kuda.
Kuda-kuda ini, terlihat hanya Yuuki yang payah. Sedangkan Araka, dia memasang kuda-kuda seperti yang Leo ajarkan. Terlebih, Araka juga membawa sebilah pedang kayu yang kemungkinan dia gunakan untuk menyerang Leo.
Leo memberi sebuah aba-aba, namun sebelum itu, agar adil Leo memasukkan sebuah pedang ke dalam selongsong miliknya. Barulah Leo mengayunkan tangan kanannya untuk memberikan aba-aba kepada mereka berdua.
Yuuki dan juga Araka berlari. Tetapi tampaknya mereka berlari dalam kondisi zigzag seolah ingin merusak kefokusan milik Leo.
Alih-alih fokus kepada salah satu dari mereka, Leo justru fokus pada titik tengah. Pandangannya tetap ke depan yang membuat dia bisa melihat keduanya. Saat ini juga, Leo bisa melihat bahwa Yuuki bergerak ke arah belakang, sedangkan Araka mengayunkan pedangnya secara perlahan ke arah Leo.
Sejenak, Leo berpikir bahwa power ayunan Araka terlihat sangat kecil. Pedangnya juga kayu, jadi terkena sebuah pukulan pedang kayu dari Araka tidak akan berefek besar kecuali sebuah goresan kecil. Apa yang dia pikirkan saat ini adalah keberadaan Yuuki yang bergerak ke belakang Leo seolah ingin memberikan sebuah serangan.
__ADS_1
Sehingga, Leo hanya fokus kepada Yuuki saja.
Akan tetapi, saat dia berbalik badan, posisi telah berubah, Yuuki yang mengayunkan sebuah pedang, sedangkan Araka akan menyerang menggunakan kekuatan fisik. Tampaknya Leo sedikit meremehkan mereka dan membuat Leo sendiri terkecoh.
Leo sendiri begitu cepat, dia kembali berbalik badan dan mengangkat tangannya untuk segera menahan pedang dari Yuuki.
Sedangkan dia membiarkan Araka untuk memukulnya.
“Ah, sial aku lupa!”
Leo menyadari sesuatu, sehingga apa yang dia lakukan adalah langsung bergerak bagaikan bayangan untuk menjauh.
Untung saja belum terlambat, atau lebih tepatnya Araka belum memukul tubuhnya. Atau yang terjadi, Araka akan berteriak kesakitan bagaikan dia memukul sebuah tembok beton. Mengingat, bahwa tulang Leo benar-benar sangat keras.
“Aku berubah pikiran. Sebelum kalian bertarung melawanku. Alangkah baiknya kalian satu lawan satu terlebih dahulu. Kalian bebas menggunakan senjata apa saja, hanya saja kalian hanya boleh menggunakan senjata yang berbahan kayu dan bukan besi.” Ucap Leo.
Yuuki dan Araka, mereka kembali memandang satu sama lain setelah menyadari bahwa serangan mereka berdua sama sekali tidak mengenai Leo. Bahkan saat mereka belum menyadari bahwa Leo sudah berpindah tempat, Leo sudah berbicara terlebih dahulu yang membuat mereka hampir muntah darah.
Mengulang dari awal, Yuuki dan juga Araka hanya menurut dan menjaga jarak. Namun, Leo memberikan waktu kepada mereka untuk mengambil senjata apa saja yang berbahan kayu. Tapi tampaknya, Yuuki tidak membutuhkan senjata apapun, justru dia melemparkan senjata pedang kayu yang dia dapatkan dari Araka dan memberikannya kepada Araka kembali.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Yuuki menggunakan tangan kosong, sedangkan Araka menggunakan pedang kayu.
“Aku penasaran apa percakapan dalam telepati mereka? mereka dari tadi hanya diam saja tanpa mengeluarkan suara.” Tanya Leo kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
“Kalian bisa mulai!” Leo memberikan sebuah aba-aba.
Yuuki dan Araka, mereka berdua langsung bergerak untuk memberikan sebuah serangan pertama. Namun dalam kondisi seperti ini, Araka yang bergerak ke depan, sedangkan Yuuki, dia terus mundur sambil menghindari ayunan pedang yang begitu asal-asalan dari Araka.
Leo memperhatikan, tampaknya Yuuki dengan bantuan telekinesisnya, dia selalu merubah arah posisi ayunan pedang yang diberikan oleh Araka. Sehingga berulang kali Araka mengayunkan sebuah pedang, itu akan menjadi sia-sia karena digerakkan oleh Yuuki.
Itu artinya, kontrol telekinesis Yuuki sebenarnya jauh lebih kuat dibandingkan oleh Araka. Itu adalah pikiran Leo sendiri. Namun, dalam segi kemampuan serangan fisik tanpa embel-embel telekinesis, seharusnya Araka benar-benar sangat baik untuk mengendalikan sebuah pedang. Walaupun Araka menyerang Yuuki secara asal-asalan.
Araka memang cocok dalam menggunakan sebuah pedang. Dan dalam penilaian Leo sendiri, Yuuki benar-benar sangat cocok dalam mengontrol serangan lawan apabila lawannya menggunakan sebuah senjata.
Bisa dibilang, Yuuki berguna menjadi seorang support rasa assassin. Apalagi pergerakan Yuuki benar-benar sangat lincah dalam bergerak untuk menghindari serangan Araka yang begitu asal-asalan. Padahal Leo sendiri mengakui bahwa melawan serangan asal-asalan yang tidak bisa ditebak itu jauh lebih sulit.
Leo seolah bisa memunculkan gambaran di dalam otaknya. Seperti jika Araka dalam kondisi bertarung dengan seseorang yang sama-sama menggunakan sebuah senjata, Araka pasti langsung bertarung, hanya saja jika tidak ada Yuuki, maka Araka akan kesulitan karena tidak ada yang bisa mengubah arah serangan musuh tanpa musuh duga. Kemudian, dengan menggunakan tangan kosong dan kemampuan lincah, Yuuki bisa menyerang musuh dengan mudah, dan Araka sebagai pengalihan karena Araka dianggap lebih berbahaya karena menggunakan sebuah senjata.
Kesimpulannya, walaupun Araka pandai dalam telekinesis, tetapi pengendalian benda masih jauh lebih baik Yuuki. Apalagi posisi benda dipegang oleh seseorang. Hanya saja, untuk masalah sebuah serangan, Araka adalah pemenangnya.
“Sudah cukup, aku sudah bisa menyimpulkan dan menilai kalian.” Leo berkata dengan nada tinggi untuk menghentikan mereka.
Yuuki dan juga Araka berhenti, mereka mengangguk dengan senang dan berjalan ke arah Leo. “Ah, apakah sudah selesai kakak? Aku, aku bisa kembali ke ruangan Alkemis kan?” Tanya Yuuki dengan antusias.
“Tentu saja Yuuki, kau juga sudah berusaha dengan begitu baik. Kau bisa kembali. Sedangkan Araka, jika kamu ingin berlatih, aku juga tidak keberatan.”
“Yeay!” Mereka berdua bersorak dan melompat secara bersamaan.
__ADS_1