Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Barang berharga yang dibuang


__ADS_3

“Bagaimana kamu tahu?” Leo mengerutkan dahinya karena dia penasaran tentang apa yang baru saja diucapkan oleh Ray.


Begitu jelas bahwa Leo tidak mampu untuk melihat tentang apa yang dimiliki oleh perempuan yang bernama Hime itu. Padahal, Ray kemarin menyebutkan bahwa semua yang dimiliki oleh Ray juga akan dimiliki oleh Leo tentunya. Karena itulah yang disepakati dalam perjanjian tulang yang dikatakan oleh Ray.


“Ini adalah kemampuan milikku. Ada apa, apa kamu penasaran? Kemampuan ini juga atribut sihir milikku yang disebut dengan Lord of Eye. Jadi sebelumnya aku juga bisa melihat atribut sihir dan kemampuan yaitu seorang Swordsman.” Ray berkata menjelaskan.


“Bukankah kamu mengatakan bahwa seluruh kemampuanmu menjadi milikku? Seharusnya atribut itu juga menjadi milikku. Sehingga, aku memiliki 3 atribut sihir yang berbeda.” Leo mengerutkan dahinya setelah dia berkata demikian.


Ray yang mendengar itu, dia tertawa dengan cukup lebar, dia tidak menyangka bahwa tuannya merupakan sosok orang yang paling bodoh. Meski begitu, dia tidak begitu heran karena dia juga belum menjelaskannya kepada Tuannya atau yang disebut oleh Leo.


“Aku hanya mengatakan bahwa  kemampuanku menjadi milikmu hanyalah atribut utama bocah. Aku tidak menyebutkan bahwa seluruh kemampuanku menjadi milikmu. Atribut utamaku, yaitu bone strength dengan teknik-tekniknya adalah milikmu, sedangkan yang lainnya tidak, apa kamu mengerti? meskipun kamu adalah tuanku, tapi aku juga tidak bisa melawan kehendak mutlak bahwa seluruh kemampuanku ada bersamamu. Kecuali dalam keadaan tertentu.”


Leo mengangguk mengerti. Dia berpikir bahwa semua kemampuan milik Ray akan menjadi miliknya. Akan tetapi ternyata bahwa kemampuan milik Ray yang berupa atribut utama yang hanya dimiliki oleh Leo seperti yang dicantumkan dalam sebuah perjanjian tulang. Meski begitu, dia sebenarnya juga terkejut bahwa Ray memiliki atribut sihir lebih dari satu.


“Tunggu, kamu sama sekali tidak menyebutkan tentang atribut utama saat melakukan perjanjian. Akh, lupakan saja.”


Leo kembali fokus pada Hime. “Hime, dimana rumahmu?”


“Aku di jual oleh orang tuaku kepada mereka. Jadi, aku menganggap bahwa aku sama sekali tidak memiliki rumah. Emm, sebenarnya aku berasal dari kota Floppa.” Kata Hime dengan perasaan sedih. Melina yang mendengar itu, dia tiba-tiba menjadi geram dan ingin membanting Lala tanpa dia sadari.


Bagaimana tidak? Tampaknya ada orang yang seperti itu. Ada orang yang menjual seorang anak perempuan hanya untuk harta yang tidak akan abadi.


Apapun masalah pada orang tua Hime, baik itu terlilit hutang atau keadaan dimana mendesak ekonominya, perbuatan itu sama sekali tidak bisa untuk dimaafkan. Di sisi lain, dia merasa heran bahwa dia pikir bahwa orang-orang itu tadi juga menculik Hime bagaikan dia menculik Lala. Rupanya orang tua Hime lah yang menjualnya kepada mereka sehingga mereka sendiri tidak perlu untuk repot-repot.

__ADS_1


Dan, itu menjadi sebuah kesempatan emas bagi Leo. Hime memiliki kemampuan untuk menjadi seorang Alkemis dengan atribut sihir yaitu nature aura. Selain itu, levelnya masih berada dalam level 3 awal. Bukankah itu sangat menarik? Tampaknya orang tua Hime merupakan sosok orang yang buta karena tidak melihat kemampuan milik anaknya. Atau mungkin mereka sama sekali tidak peduli karena yang mereka pikirkan hanyalah uang.


“Begini saja, Melina, bawa Hime kembali ke mansion Voldegod. Dalam artian, kamu tidak akan ikut denganku. Biarkan Hime tinggal terlebih dahulu bersama mereka.” Leo berkata setelah dia berpikir cepat. Jelas, daripada Hime menjadi seorang gelandangan dan berakhir menyedihkan.


Selain itu, Leo ingin memanfaatkan Hime agar dia mengolah bunga Lily Sunflower menjadi sebuah ramuan yang sangat baik. Selain, juga memanfaatkan ramuan itu untuk pendekatan kepada seorang bangsawan apabila dia berhasil menjualnya kepada mereka. Dan, kemudian dia bisa menggali informasi tentang Verva yang selalu diketahui oleh para bangsawan katanya.


“Tapi tuan .....” Melina sedikit membantah. Tapi dia langsung tidak berkutik saat Leo menatapnya dengan tatapan yang begitu datar namun serius. Aura Leo seolah sedikit bocor yang membuat dia hanya bisa mengangguk setuju untuk membawa Hime ke tempat kediaman Voldegod sebelumnya. “Baik tuan, budak mengerti.”


“Hime, kamu akan bersama dengan bawahanku terlebih dahulu. Aku akan melihat kalian besok. Jangan khawatir tentang Melina. Dan juga jangan khawatir tentang orang jahat. Melina akan melindungimu atas perintahku. Kamu mengerti?”


“Ba-baiklah, a-aku mengerti. Terimakasih atas kebaikan Anda. Aku tidak tahu harus berterimakasih bagaimana lagi selain hanya menggunakan ucapan seperti ini.” Jawab Hime dengan tatapan ke bawah. Tampaknya dia masih takut tentang keadaannya tadi,


Kemudian, Leo membawa Lala yang masih menangis sedih di dekapan Melina, sedangkan Melina pergi dengan membawa Hime. Hanya saja, saat Leo membawanya, Lala berubah menjadi senang, meskipun dalam kegelapan. Tampaknya, dia bisa mengerti siapa yang membawanya di balik kegelapan.


“Kakak di sini, jangan khawatir, mereka telah dikalahkan.”


.....


Beberapa menit kemudian, Leo akhirnya telah sampai di sebuah penginapan milik ibu Lala. Tampaknya benar-benar sangat ramai. Bahkan ada beberapa prajurit milik walikota yang datang karena laporan milik orang-orang tentang penculikan ini.


Hanya saja, dari kejauhan Leo melihatnya kurang puas pada kinerja mereka. Mereka sedikit lambat dan enggan dan hanya memberikan solusi kepada ibu Lala tanpa bergerak sama sekali.


Kemudian, Leo melompat ke arah kerumunan tersebut dengan membawa Lala yang ada di pelukannya. Kemudian, dengan begitu sigap, para prajurit yang melihatnya langsung menodongkan senjata ke arah Leo setelah tahu bahwa Leo membawa seorang anak kecil.

__ADS_1


“Berhenti di tempat! Jadi kamu pelaku penculikan ini!” Kata prajurit tersebut.


Benar, tampaknya kinerja mereka cukup buruk. Para prajurit walikota tidak bisa bersikap begitu profesional. Lagi Pula, mana mungkin seorang penculik datang kembali ke tempat dengan membawa culikannya? Bahkan anak kecil saja seharusnya paham akan hal tersebut.


“Ini kesalahpahaman? Lagipula aku tidak akan bertindak bodoh tuan!” Ujar Leo. Dia juga sedikit mengangkat wajahnya karena ujung tombak milik salah satu prajurit hampir menyentuh lehernya.


Leo sedikit menyeringai, kinerja yang begitu buruk. Sebelum kedatangan Leo mereka tampak enggan. Dan kemudian ketika kedatangan Leo dengan membawa Lala, mereka menodongkan tombak bagaikan pahlawan.


“Tidak, tunggu tuan, ini kesalahpahaman.” Kata salah satu orang yang langsung membereskan kesalahpahaman ini.


Ibu Lala yang mengerti, dia langsung berdiri dalam keadaan menangis dan memeluk Lala kembali. Begitupun dengan Lala yang juga menangis senang setelah kembali bertemu ibunya.


“Ibu, ibu aku takut. Untung ada kak Leo yang datang ibu.”


“Lala, jangan menangis sayang.” Ibu Lala kemudian memeluk Lala dengan erat sebelum dia sedikit membungkukkan badannya kepada Leo.


“Terimakasih tuan, terimakasih. Anda menyelamatkan kami yang kedua kalinya tuan Leo.”


Leo sedikit tidak peduli dengan ibu Lala. Dia hanya menatap datar para prajurit yang masih menodongkan senjatanya. “Jadi, bisakah untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini? aku sama sekali tidak menculik Lala. Tidak ada alasan bagi kalian untuk menyebutku seorang penculik.”


“Itu benar tuan prajurit. Pemuda ini yang justru langsung mengejar para penculik tadi.” Kata orang lain yang mencoba untuk menjelaskan.


Prajurit yang mendengar itu, mereka langsung menurunkan tombaknya. Kemudian, mereka beranjak untuk pergi dan berkata, “Jangan mudah percaya, bisa saja dia bersekongkol agar disebut sebagai pahlawan. Tapi aku sama sekali tidak peduli karena kalian menerimanya.” Katanya seolah memprovokasi.

__ADS_1


Leo hanya diam, dia sama sekali tidak begitu peduli selain masuk ke dalam kediamannya. Semua orang yang ada di tempat tersebut bubar untuk kembali ke rumah masing-masing.


__ADS_2