
“Leo, mereka pergi, kita harus membuntutinya.” Ucap Iris kepada Leo.
“Tidak, ini terlalu mencurigakan. Nona Iris, jika Anda berkenan membunuh mereka, maka Anda bisa mengejarnya. Aku akan tetap di sini.” Leo masih merasa bahwa alun-alun dalam keadaan tidak beres. Dia masih, merasa ketidaknyamanan dalam pikirannya. Dan itu entah kebetulan atau tidak.
“Kamu tidak ingin mengambil quest, Leo?” Celetuk Iris dengan perasaan yang juga tidak nyaman. Bukan, dia sebenarnya tidak merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, melainkan dia cukup jengkel ketika Leo tidak ingin mengambil sebuah kesempatan emas yang ada di hadapannya.
“Anda duluan saja, nanti aku akan menyusul. Bukankah sudah kukatakan aku tidak butuh bantuanmu nona Iris?”
“Lihat, para petualang lain sudah ber ....”
Leo menatap Iris dengan tatapan dingin, auranya juga sedikit bocor yang perlahan menusuk dada Iris apabila diibaratkan. Hal tersebut membuat Iris sendiri tidak bisa berkutik dan berdecak kesal untuk segera langsung pergi dari tempat. Dia tidak memperdulikan Leo apakah dia akan mengambil quest ini atau tidak? Padahal dia sudah sepenuhnya sudah mengambilnya.
“Sialan, manusia bodoh!” Gerutu Iris sambil pergi menghilang di tempat.
“Tuan, mengapa Anda tidak mengikuti nona Iris untuk menyelesaikan quest?” Tanya Melina yang benar-benar sangat penasaran.
“Entah tebakanku benar atau salah, akan ada kekacauan. Apa anda tidak curiga nona? Ketika penjahat kecil melakukan aksinya secara bersamaan dan pergi secara bersamaan pula. Dan quest yang diambil oleh tuan Leo adalah membunuh para penjahat kecil itu saat penjahat itu kecil pergi. Kemudian, quest itu juga bersifat umum, yang artinya setiap petualang akan bersaing.” Hime berucap. “Itu artinya, saat para penjahat kecil itu bergerak secara bersamaan, para petualang juga akan bergerak besar-besaran, nona Iris juga langsung bergerak. Dalam artian, itu adalah pengalihan.”
Leo mengerti, dia sudah berspekulasi seperti itu semenjak tadi. Tampaknya quest tersebut memang sengaja diadakan. Karena apabila tidak, saat festival tersebut, para petualang yang tidak mengambil quest, mereka pasti akan melihat festival ini. Sehingga, untuk mengalihkan perhatian para petualang yang dianggap merepotkan, maka diciptakanlah sebuah quest tersebut akan para petualang merasa kerepotan.
“Aku paham sekarang. Sekarang, tragedi apa yang akan terjadi? Sangat disayangkan ketika aku hanya membawa empat potion saja.” Leo menopang dagunya menggunakan jarinya.
Perlahan, parade hampir berakhir, walikota Galen Gallowglass turun dari kereta kuda dan melambai pada rakyat Little Pear. Seluruh warga bersorak senang karena di hadapan mereka adalah seorang walikota yang sangat hebat dimata mereka, sosok walikota yang sangat baik yang sangat disegani oleh rakyatnya.
“Aku memiliki insting. Entah kalian percaya atau tidak.” Leo perlahan memegang gagang pedang yang ada di punggungnya dan sedikit demi sedikit saat walikota itu berada di tengah-tengah alun-alun dan naik ke atas podium.
__ADS_1
“Dalam hitungan ketiga, akan ada sebuah kekacauan.” Leo menatap serius walikota dan pedangnya juga dia cabut secara perlahan-lahan. “Tiga .... dua ....”
“Tuan jangan bilang Anda akan ....”
Belum selesai Melina berkata, Leo sudah menggunakan kecepatan bayangannya untuk bergerak. Sehingga Leo sendiri sudah tidak berada di tempat seolah menghilang di telan oleh bumi.
.....
Beberapa detik sebelumnya .....
Walikota Galen berdiri di atas podium dengan sangat cerah. Dia benar-benar sangat bahagia saat rakyatnya bersorak senang. Untuk merayakan ini, dia akan membuka sebuah sambutan yang mungkin sepatah atau dua patah kata.
“Bumm!”
Saat hendak membuka suara, sebuah gelombang petir melesat dengan sangat cepat seolah menyilaukan mata. Gelombang petir yang bersumber dari atas alun-alun menyambar ke arah walikota saat berdiri di atas podium. Jelas itu membuat orang-orang benar-benar sangat terkejut dengan suara ledakan itu.
Sedikit orang yang melihat dengan jelas bahwa sambaran petir itu melesat ke arah walikota. Tapi itu hanya spekulasi dan tebakan mereka setelah melihat sambaran petir itu berasal. Karena faktanya, mata mereka tiba-tiba menjadi putih karena silau dalam beberapa detik, sebelum, mereka melihat sebuah kejadian yang sebenarnya.
Seorang pemuda, berdiri di samping walikota dengan sangat tegas, mengulurkan salah satu tangannya hingga memunculkan sebuah perisai berwarna hitam pekat yang perlahan hancur bagaikan bayangan yang menghilang. Namun, saat perisai hitam itu menghilang, tampak sebuah tulang-belulang yang seolah membentuk kerangka dan menjadi perisai sambaran petir itu terjadi.
“Sudah kuduga. Walikota, bisakah Anda meninggalkan tempat ini? atau mungkin siapapun yang ada di tempat ini. Ini akan menjadi pertarungan yang berat.” Leo berkata dengan sangat dingin, sambil menatap ke arah atas, tempat munculnya gelombang petir itu berada.
Seseorang, dengan menggunakan topeng serta tudung, sehingga tidak begitu nampak wajah dan bentuk rambutnya, dia melayang di udara sambil mengulurkan tangannya. Yaa, dia yang baru saja mengeluarkan gelombang petir dan berniat untuk membunuh walikota.
Semua orang yang berada di alun-alun, mereka pergi berlari, menyelamatkan diri mereka masing-masing. Semua orang yang berada dalam stand, mereka juga pergi keluar untuk menyelamatkan dirinya dari serangan yang mendadak dan begitu tiba-tiba.
__ADS_1
“Level 7 awal ya. Sepertinya aku kesulitan untuk melawannya kali ini. Level 7, seperti raja meskipun raja berada di akhir. Cih, ini sangat merepotkan.” Kata Leo dengan cukup lirih. “Walikota, kenapa kau masih berada di situ?”
“Raja sudah level 8 awal, jangan kau ....”
“Bodoh! Bukan saatnya bercanda! ini serius, Anda berada di level 6 awal. Anda bukan lawannya.” Leo berkata dengan tegas.
“Kau juga bodoh! Kau level 5 ‘awal’ biarkan aku yang akan melawannya. Tidak akan kubiarkan rakyatku terluka.”
Leo berdecak begitu kesal, memang bahwa walikota sendiri bersikap sangat tenang, meski kekhawatiran berada dalam tubuhnya. Kenapa dia bisa tenang, dia juga memiliki beberapa pengawal yang sudah siap untuk bertarung mati-matian.
Hanya saja saat itu juga, beberapa kelompok muncul mengepung mereka. Sama seperti orang yang berada di langit tadi, mereka memakai topeng dan juga tudung. Hanya saja, kelompok yang mengepung walikota dan 4 prajurit pengawalnya lebih banyak dan tidak sebanding dengan mereka.
Namun, saat itu juga, orang yang berada di langit, dia langsung mencondongkan tubuhnya yang kemudian bergerak dengan sangat cepat secepat kilat.
Leo membuka matanya lebar-lebar, dia hampir tidak bisa mengikuti pergerakan orang itu dengan mata telanjangnya. Apalagi saat dia menoleh, orang tersebut sudah berada di samping dalam kondisi, tangan orang tersebut dilapisi oleh elemen petir dan sudah menembus dada walikota Galen.
“Sialan, cepat sekali dia.”
Walikota jelas tak berdaya, apalagi ketika orang tersebut menarik tangannya, walikota Galen langsung rubuh dengan darah yang mengalir begitu deras.
“Lion Bone Creature! Shadow Lion manipulation!”
Seketika entitas singa milik Leo tercipta, yaitu singa bayang dengan tulang yang kuat. Hewan tersebut bergerak dengan sangat cepat untuk melawan seluruh kelompok di kala prajurit penjaga Galen terkejut dan hendak mendapatkan sebuah serangan dari kelompok tersebut.
“Sebisa mungkin! Bawa walikota dan cari temanku yang bernama Melina dan juga Hime!” Teriak Leo.
__ADS_1
Namun saat itu juga, Leo bergerak ke arah seseorang yang baru saja menyerang walikota dengan sangat cepat sambil memposisikan pedangnya untuk menebas kepala orang tersebut. Sambil berkata dengan malas, “Aku heran, bagaimana mungkin levelmu bisa naik seperti ini nona?”