Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Abyssal Misery


__ADS_3

Perlahan, Leo membuka matanya begitu samar. Napasnya terengah-engah seolah begitu berat dan habis melakukan sesuatu yang begitu berat. Keadaan di tempat cukup gelap, hanya beberapa titik remang cahaya yang membuat dia bisa merasakan bahwa dirinya berada di mana.


Tubuhnya dipenuhi oleh rasa sakit yang begitu luar biasa, bahkan dia sulit untuk berdiri di tempat yang seolah dipenuhi oleh sebuah aura kematian yang sangat pekat.


“Arghhh. Lenganku.” Leo menyeringai saat dia merasakan lengan kirinya mengalami sakit. bahkan rasanya seperti hendak patah yang membuat dia harus sedikit menyipitkan matanya untuk menahan rasa sakit tersebut.


Wajahnya terlihat membeku, setelah dia mengingat bahwa dirinya jatuh ke dalam sebuah jurang. Meski sebelumnya dia juga telah berusaha untuk naik ke permukaan untuk menghindari hal-hal yang tidak dia inginkan.


Tapi siapa yang berpikir, bahkan dirinya juga tidak menyangka bahwa dirinya bisa pasrah dan memilih untuk jatuh ke dalam jurang yang begitu mengerikan ini. Tak tahu, dia tak tahu sudah berbenturan dengan dinding jurang berapa kali. Tapi yang pasti, hal tersebut cukup menyakitkan.


Berapa lama dia telah jatuh? Mananya hampir sepenuhnya pulih. Itulah yang dia rasakan. Setidaknya mungkin dia pingsan selama satu malam untuk mengembalikan seluruh mananya. Hal tersebut membuat dia bisa sedikit lega.


Juga, dia sanggup menyentuh dinding jurang yang tampak sangat curam dan sangat sulit untuk di daki. Selain itu, di sisi kirinya juga merupakan tebing jurang yang menandakan bahwa dirinya berada di jurang yang paling dasar.


Apalagi sinar matahari tidak sampai ke dasar ini. Keadaan sangat gelap tapi tidak terlalu karena ada sedikit penerangan.


Penerangan, memang, Leo mengerutkan dahinya saat menghampiri setitik, dua titik cahaya yang sedikit menyilaukan mata. Namun, saat Leo mendekat, dia cukup terkejut bahwa sumber cahaya itu berasal dari bunga yang tumbuh di dasar jurang. Bunga berwarna putih dengan cahaya yang menyala, menghasilkan bunga tersebut bak seperti lampu yang menyinari kegelapan.


“Ini, bentuknya persis dengan bunga Lily?” Batin Leo saat dia berjongkok, memperhatikan bentuk bunga tersebut dengan sangat berhati-hati. Karena apa yang dia takutkan cahaya itu hilang.


Jelas Leo tidak mau. Hanya dua bunga itulah satu-satunya pencahayaan yang Leo miliki di tempat gelap seperti dasar jurang seperti ini.

__ADS_1


Pandangannya tiba-tiba menghadap ke arah depan, bunga lily itu seolah menyorot ke arah tumpukan tulang belulang yang berserakan. Membuat Leo kaget dan hampir melompat ke belakang tentang apa yang dia amati.


“Tulang belulang berserakan, apakah aku cukup beruntung tidak seperti mereka? jelas, mungkin ini bukan waktunya. Hanya saja aku tidak ingin secepat ini.” Leo berkata dengan dirinya sendiri.


Bukan hanya tulang belulang hewan, Leo bisa melihat ada banyak sekali tengkorak yang menandakan bahwa itu adalah tulang belulang milik manusia. Sehingga, mungkin banyak sekali orang yang jatuh ke jurang ini.


“Akh aku lupa. Mungkin ini sedikit menguras mana yang begitu banyak.” Batin Leo kembali.


Kemudian, dia menatap ke atas, membuat sebuah segel tangan untuk menggunakan salah satu teknik miliknya. Sebuah segel tangan, seperti dia mengaitkan kedua jarinya hingga jari-jari yang lainnya membentuk sebuah sayap.


“Shadow Eagle manipula .....”


Belum dia selesai merapalkan sebuah teknik, dia terganggu dengan sebuah aura kegelapan yang sangat mengerikan. Aura tersebut membuat dia hampir terlempar ke belakang karena tekanan aura yang begitu kasar.


Suara menggelegar saat bersamaan dengan sebuah aura mencengkam itu. Membuat Leo yang berusaha untuk menahan diri, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri karena suara itu terlihat berat, kasar dan juga menggema. Apalagi kondisi yang berada di dasar jurang dan gelap, membuat keadaan semakin mencengkam.


Beberapa detik kemudian, aura itu telah berhenti. Leo tersungkur di atas tanah dengan seteguk darah yang keluar. Jelas ini merupakan aura dari kekuatan yang sangat mengerikan, tidak mungkin tidak.


Keadaan Leo terpojok, dengan pencahayaan bunga lily, Leo sanggup melihat makhluk yang dipenuhi oleh tulang belulang. Lebih tepatnya adalah seorang Skeleton dengan ukuran mungkin tiga kali lipat dari tubuh manusia biasa.


Leo tercengang, melihat sosok skeleton dengan membawa pedang tulang yang ukurannya hampir sama dengan tinggi Skeleton itu sendiri. Selain itu, apa yang membuat Leo takjub adalah Skeleton tersebut menggunakan sebuah cincin berwarna hijau, bak Zamrud yang menyala terang.

__ADS_1


Ini jelas mengerikan, Leo tidak bisa melihat berapa level dari Skeleton tersebut. Tapi yang pasti, dari aura yang dikeluarkan barusan membuktikan bahwa makhluk yang ada di hadapannya lebih kuat dari Leo. Jauh lebih kuat yang membuat Leo sendiri menelan ludah secara kasar.


“Maafkan aku, aku datang tidak karena mengganggu. Aku hanya datang karena kejaran seseorang dan pada akhirnya jatuh dari sini.”


“Tch, manusia sama saja! Kau pasti membuat seribu alasan agar kau bisa mendapatkan kekuatan dari penguasa Abyssal Misery? Tidak semudah itu, bahkan sangat mustahil.” Kata Skeleton tersebut mengangkat pedangnya dan mengulurkan ke arah Leo seolah bersiap untuk bisa membunuh Leo kapan saja.


Ucapan skeleton barusan, Leo menyimpulkan bahwa tulang belulang dari manusia yang ada di sini mungkin tidak hanya sekedar jatuh tanpa sengaja. Melainkan di sengaja. Mereka tampaknya benar-benar haus akan kekuatan hingga mencari kekuatan sampai ke tempat yang mengerikan seperti ini.


Hanya saja, Leo sendiri tidak tahu kekuatan apa yang dicari hingga orang-orang terjun ke dalam jurang yang disebut dengan ‘Abyssal Misery’ namun, setelah melihat cincin berwarna hijau yang dikenakan oleh Skeleton, dapat disimpulkan bahwa benda itulah yang memiliki kekuatan atau mungkin sebuah artefak kuno yang hebat.


Akal pikiran telah rusak, orang-orang rakus telah haus akan kekuatannya yang berdampak mereka tidak bisa keluar dan dibabat habis oleh penunggu Abyssal Misery.


“Aku hanya ingin keluar, aku sama sekali tidak haus akan kekuatan.” Kata Leo dengan perlahan-lahan. Dia tidak bisa membayangkan bahwa pedang yang dipegang oleh Skeleton tersebut didorong dan menusuk lehernya.


Skeleton sama sekali tidak bisa begitu percaya, kemudian apa yang dia lakukan adalah menginjak bunga lily yang ada di depannya hingga keadaan semakin gelap gulita, bahkan cincin hijau itu tadi juga seolah kehilangan cahayanya. Tidak ada pencahayaan sama sekali yang membuat Leo tidak bisa melihat apa-apa kecuali bergerak melompat mundur karena dia tidak ingin pedang tersebut menusuk tubuhnya.


“Sialan, aku sungguh sial.” Leo berdecak kesal. Dia tidak bisa menebak di mana keberadaan Skeleton yang membuat dia harus meningkatkan kewaspadaan.


Kraaak!


“Suara tulang remuk? Dia ada di sana!”  Leo bergumam sambil mengangkat pedangnya secara vertikal untuk menahan sebuah serangan secara tiba-tiba oleh skeleton tersebut.

__ADS_1


“Manusia rendahan! Akan ku kirim nyawamu sampai ke dasar neraka!”


__ADS_2