Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Membawa Leo pergi


__ADS_3

"Tuan!!!" Melina berteriak dengan sangat kencang, memperhatikan napas Leo yang semakin berat.


Mata Leo perlahan semakin memudar, dia sudah tidak bisa melihat apa-apa. Kesadarannya mulai menghilang karena dia sudah kehabisan darah, tanahnya dipenuhi darah yang mengalir karena tusukan pedang yang lebar milik Guy.


Lukanya cukup parah, Hime terlihat begitu panik. Dia merasa sangat bodoh karena tidak membawa potion penyembuhan. Sesal, ya! Hime menangis di samping Leo di saat para pasukan pembantu sedang berperang melawan goblin.


"Tuan bertahan! Bodoh! Jika kalian hanya menangis, tuan tidak akan pulih. Bawa kembali ke mansionnya!" Iris berteriak sambil mengeluarkan elemen petir yang keluar untuk membantai para goblin yang ada di belakang.


"Bagaimana caranya?" Melina tidak bisa berpikir dengan jernih. Sedangkan Hime, dia mencoba untuk merapal sebuah sihir medis terapan yang merupakan sihir biasa yang bisa dipelajari.


Hanya saja, dia bukan seorang healer. Andaikan bakatnya adalah sihir atribut yang merupakan penyembuhan, menyembuhkan Leo adalah hal yang mudah, tapi sihir terapan ini hanyalah sihir yang dapat dipelajari dan sangat lemah dibandingkan sihir murni atau sihir atribut.


"Aku akan membawa tuan." Shin kemudian datang di depan Leo, langsung mengangkat di punggungnya dan membawanya pergi tanpa banyak bicara. Melewati pertarungan yang hebat yang terjadi pada manusia dan juga goblin yang dikendalikan oleh Guy. 


 


Shin terus berlari mengitari kerumunan goblin yang sedang terbunuh oleh para pemanah dan swordsman. Hanya saja, dia bertemu dengan Yuna yang juga membawa busur panah dan sempat terkejut saat melihat kondisi Leo.


"Apa yang terjadi!?" 


"Tidak ada waktu untuk menceritakannya." Iris berkata sambil terus mengikuti kemana perginya Shin. 


Yuna terlihat sangat panik juga, hanya saja dia langsung bergerak untuk membantu mereka semua karena sebelumnya mereka membawa sebuah kuda yang dipersiapkan sebelumnya untuk mereka datang ke sini. 


Tanpa banyak bicara, kemudian Yuna menuntun mereka ke arah kudanya yang diikat di sebuah batang pohon. 


"Bawa dengan menggunakan kuda!" Yuna berkata demikian. 

__ADS_1


Sedikit merasa bersalah, saat dia dan guild master kemarin meminta Leo untuk menjalankan misi yang begitu berbahaya. Yaitu menyelidiki apa yang terjadi dengan hutan monster? Aktivitas Goblin yang berada di pinggir hutan tampaknya memberikan tanda-tanda bahwa memang akan ada sebuah penyerangan.


Untung saja, saat Melina datang ke desa Caprae, beberapa guild langsung mengirimkan sebuah pesan menggunakan sebuah beast terbang yang sangat cepat ke guild. Sehingga, guild petualang dan para petualang tingkat tinggi langsung bergerak untuk membantu penyerangan yang ada di hutan monster.


Dan pesan itu juga sampai di telinga walikota Galen dengan sangat cepat. Sehingga, mereka mengirimkan sekitar ratusan petarung dan pemanah dengan sangat cepat dan datang dalam kurun waktu, hampir setengah jam di saat Iris mencoba memperlambat mereka, dan Leo bertarung dengan pelaku utamanya.


Walikota kemudian memerintahkan viscount barat, dan viscount memerintahkan baron terdekat. Mereka juga langsung mengirimkan beberapa pasukan yang mereka siapkan tanpa berpikir panjang lagi. Masalahnya, ini demi kemaslahatan wilayah.


Untungnya, goblin tersebut baru masuk ke perbatasan hutan Esves dengan Iris yang terus mundur sambil melancarkan terus menerus elemen petirnya yang tampaknya mampu untuk melambatkan mereka semua.


Mungkin jika bukan karena teknik milik Iris, para goblin sudah masuk ke dalam kedua desa dan wilayah milik Leo yang jelas akan sangat merugikan.


Sesampainya di mansion dengan pergerakan kuda yang sangat cepat, Shin langsung turun dengan menggendong tuannya yang ada di punggungnya. Kemudian ada Iris yang bertugas untuk memegang kendali kuda menggunakan keahliannya sebagai seorang ‘mantan petualang’


Kondisi Leo kian parah, wajah Leo benar-benar sangat pucat dalam kondisi lemas. Bagaikan putih kertas, Leo terlihat seperti mayat yang sama sekali tidak memiliki daya untuk bangkit. Mereka masih secara terus menerus mengecek nadi Leo, berharap bahwa Leo tidak .....


Dengan sangat panik, Iris mencari di ruangan Hime sebuah potion bunga Lily yang tersisa.


Sedangkan Leo, dia terbaring di atas lantai dengan Shin yang berusaha untuk menghentikan darah tersebut dengan memperbanyak balutan kain.


“Tuan bertahanlah!” Iris datang dengan membawa potion biru dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat sangat panik saat melihat tuannya tidak berdaya begitu saja. “Aku sangat bodoh, andai saja aku bertarung bersama tuan tadi. Padahal aku mengerti bahwa musuh memiliki level 7.”


“Jangan menyesal Iris, bukan waktunya untuk mengeluh.” Shin berkata dengan tenang.


Mulut Leo dipaksa membuka mulutnya menggunakan tangan Shin. Sehingga Iris bisa dengan leluasa meminumkan potion tersebut agar efeknya bisa terserap optimal. Meski tangan Iris sedikit tantrum dan bergetar karena dia menangis berat melihat kondisi Leo.


Potion tersebut melewati kerongkongan dan mungkin tercerna dengan cukup baik. Luka milik Leo perlahan-lahan mengeluarkan asap dan menutup secara ajaib yang membuat kedua bawahannya ternganga tentang apa yang mereka lihat.

__ADS_1


Padahal luka yang dimiliki Leo tergolong luka besar. Jantungnya mungkin juga tertusuk yang membuat kemungkinan bahwa Leo seharusnya tidak bisa selamat dengan begitu mudah jika tidak ada potion yang menyembuhkannya.


Luka sebesar itu menutup dengan perlahan, seolah tidak meninggalkan sebuah bekas tusukan sedikitpun. Ini sangat luar biasa, itulah yang dipikirkan mereka berdua. Mereka pikir bahwa luka yang disembuhkan oleh potion tersebut hanya luka kecil, tapi siapa yang berpikir bahwa ramuan tersebut benar-benar sangat manjur?


Hanya saja itu tidak merubah sebuah fakta bahwa Leo langsung sadar. Itu membuat Iris masih dalam keadaan begitu panik dan mencoba untuk menggoyangkan Leo menggunakan tangannya.


Tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuh Leo, seolah bahwa Leo benar-benar pingsan. Tapi, apa yang sebenarnya menjadi masalah? Bukankah luka Leo sudah tertutup dengan begitu sempurna tanpa ada bekasnya lagi?


“Shin, apa yang terjadi? Kenapa tuan tidak bangun? Shin, lakukan sesuatu!” Iris bertanya dengan sedikit panik.


“Tenang, apakah mungkin tuan kehabisan darah? Lukanya memang sembuh, tapi sebelumnya darahnya terus mengucur tak ada habisnya. Kita harus melakukan sesuatu.” Shin mencoba menenangkan pikirannya. Tampaknya dia dapat berspekulasi bahwa tuannya, yaitu Leo kehabisan darah setelah terkena sebuah luka berat itu tadi. Masalahnya, bagaimana cara memulihkan darah Leo?


“Transfusi darah?” Iris menatap serius Leo. “Masalahnya apakah pureblood sendiri memerlukan darah pureblood lain yang cocok? Dimana kita harus mendapatkannya? Cih!”


“Aku tidak tahu persis, hanya saja seharusnya memang begitu. Sayangnya pureblood terdekat dari sini adalah, keluarga kekaisaran Black Moon. Itupun juga mereka mau membantu kita.”


Bersamaan dengan itu juga, Melina datang dengan sangat cepat dalam posisi tidak begitu santai. Bahkan dia langsung mendobrak pintu mansion untuk melihat keberadaan tuannya yang terkapar lemas. Dia melihat, lukanya memang pulih, tapi dia juga belum sadar sama sekali yang membuat Melina sendiri sangat panik sambil meneteskan air matanya.


“Apa yang terjadi pada tuan! Kenapa tuan tidak bergerak!? Tuan, kumohon bangunlah!” Melina berteriak dan berekspresi yang sama seperti Iris. Penuh dengan kepanikan yang membuat dia tidak bisa untuk tenang melihat tuannya terbaring dengan lemas.


“Dimana Hime?” Tanya Shin mencoba untuk mencari keberadaan Hime. Masalahnya, yang mengerti tentang ramuan adalah Hime.


Melina mengusap air matanya dan mencoba untuk menenagkan diri, sambil menatap Shin, “Dia mencari tumbuhan herbal untuk membuat potion. Katanya untuk memulihkan darah.” Katanya dengan nada yang tinggi. Tampaknya dia tidak bisa untuk lebih tenang.


.....


“Selamat datang di alam bawah sadar, Leodric Frosch.”

__ADS_1


__ADS_2