Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Memang jebakan


__ADS_3

“Eh?”


Iris mengerutkan dahinya. Sebagai seorang petualang berpengalaman di kota ini, jelas dia juga mengetahui kemana rute menuju wilayah duke. Keadaan dimana tempat duke adalah ke selatan, namun sepertinya kereta kuda ini terus menerus keluar menuju wilayah timur.


Lebih tepatnya, saat ini mereka berada di wilayah aman. Wilayah aman sendiri yaitu biasanya sebuah wilayah yang berada di perbatasan antara kota ke kota, atau mungkin wilayah kerajaan dan kerajaan. Tanpa mengetahui siapa tuan tanah dan pemilik dari wilayah aman, karena aturan dari wilayah aman memang begitu bahwa tanah tersebut tidak boleh ada di memilikinya.


Kembali kepada Iris, dia tahu bahwa kereta kuda ini keluar melalui gerbang wilayah timur kota Little Pear. Jelas membuat Iris kebingungan karena apabila dia ke barat secara terus menerus, maka dirinya akan menuju kota Floppa. Ya, tampaknya memang begitu.


“Tunggu, sejak tadi aku benar-benar sangat curiga. Bukankah ini wilayah timur kota Little Pear? Seharusnya untuk menuju kastil Duke adalah ke Selatan.” Protes Iris kepada kusir kereta kuda yang duduk di depan.


Leo dan Melina yang mendengar itu, dia mengerutkan dahinya. Mereka sebenarnya sama sekali tidak mengerti tentang jalan jalan seperti ini. Akan tetapi setelah mendengar perkataan dari Iris, mereka menjadi was-was. Apalagi perasaan Leo benar-benar tidak begitu nyaman.


“Maafkan aku nona, akan tetapi jalur selatan menuju wilayah Duke dalam perbaikan. Jadi, kami mengambil jalur Timur. Maafkan aku apabila perjalanan justru lebih jauh.” Jawab kusir kereta kuda itu.


“Sialan.” Leo menghela napas. Andai saja kemampuan Lord of the Eye nya bisa digunakan untuk melihat apakah rencana seseorang atau apakah orang lain jujur atau tidak, dia pasti akan begitu tenang. Dia sangat mengerti bahwa kemampuan ini hanya bisa melihat masa lalu kelam seseorang yang membuat dia jengkel sendiri.


“Tuan, di samping adalah sebuah pinggiran hutan. Bisakah kita istirahat sebentar sebelum masuk ke kota Floppa?” Tanya pemilik kereta kuda tersebut dengan sedikit ragu.


“Tentu saja.” Leo membalasnya.


Rombongan kereta kuda itu akhirnya belok menuju sebuah hutan yang ada di samping mereka untuk beristirahat. Karena pada dasarnya, beristirahat di tengah-tengah jalan sangatlah tidak etis. Di sisi lain, posisi kanan mereka merupakan sebuah tebing tinggi yang tidak mungkin untuk dilewati karena begitu curam.


Jelas, mereka langsung turun dari kereta kuda untuk beristirahat. Matahari juga sudah mulai tenggelam, kemungkinan untuk melanjutkan perjalanan adalah esok karena mereka harus bermalam di tempat ini. Beberapa orang mulai membuat sebuah perapian, ada juga salah satu dari mereka yang mulai masuk ke dalam hutan lebih dalam lagi untuk mencari hewan.

__ADS_1


Leo mulai duduk dan menghela napas. Dia memegang sebuah batu berwarna ungu yang merupakan sebuah batu teleportasi dan menatapnya secara terus menerus. Ia hanya termenung, sedikit mengkhawatirkan bawahannya karena saat ini entah kenapa perasaannya benar-benar sangat buruk.


Leo tahu bahwa Hime berasal dari kota Floppa, maka dari itu dia mengizinkan Hime untuk menuju wilayah viscount selatan dan juga wilayah Floppa karena pasti dia ingin sekali bertemu masternya.


Tunggu, jika Leo saat ini baru saja keluar dari wilayah timur dan hendak masuk ke kota Floppa, apakah Leo saat ini masih dalam satu wilayah dengan Hime? Jelas Iya! Hanya saja, posisinya yang sangat berbeda. Ibarat Leo berada di gerbang timur bagian selatan, sedangkan Hime berada di wilayah timur bagian utara. Keberadaan mereka masihlah sangat jauh.


Saat itu juga, salah satu penjaga yang menjaga Leo, dia berteriak dengan sangat kencang. Bahkan posisinya juga berada di dalam hutan saat dia hendak mencari barang buruan.


Jelas, bahwa Leo, Melina dan Iris terkejut mendengarnya. Leo langsung menyimpan batu teleportasi dan langsung berdiri. Begitupun dengan Iris dan juga Melina.


“Apa yang terjadi?’ kata salah satu penjaga Leo. Wajahnya seolah menunjukkan bahwa dia benar-benar sangat panik.


“Tuan, nona, kita harus melihatnya.” Ucap salah satu dari mereka.


“Sudahlah, sebaiknya kita melihatnya.”


Iris mengangguk, kemudian dia dan Melina mengikuti kemana perginya tuan mereka yaitu Leo dengan perasaan was-was. Hanya saja, Leo merasa sangat aneh saat orang-orang atau seluruh penjaganya mengikuti dirinya masuk ke dalam hutan seolah memang sengaja mereka menggiring.


Leo melirik ke belakang, menarik sebilah pedang dan bergerak dengan sangat cepat ke arah mereka. Iris yang juga mengerti, dia mengeluarkan sebuah sambaran petir kepada mereka.


Sedangkan Melina, dia sama sekali belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja, tanpa adanya sebuah pernyataan protes, beberapa dari mereka langsung melawan Iris dan juga Leo secara bersama-sama.


“Aku sudah mengerti, ini jebakan bukan?!” Leo bertanya dengan tatapan yang begitu sinis sambil menciptakan seekor harimau bayang untuk menyerang mereka. Kemudian, Leo juga bergerak ke arah samping dan beradu pedang kepada mereka secara terus menerus.

__ADS_1


“Ah, anda benar-benar paham. Aku tidak tahu bagaimana kereta kuda milik duke yang asli benar-benar kebingungan.”


Leo menggertakkan giginya, kemudian dia mengayunkan pedangnya dan juga tebasan pedang bayang ke arah mereka. Hanya saja, setelah membunuh mereka, posisi Leo diserang oleh harimau bayang milik dirinya sendiri.


Terpaksa Leo harus melompat mundur, dia sangat terkejut saat entitas harimau bayang menyerang dirinya sendiri. Begitupun dengan Iris yang membuka mulutnya setelah mereka menghabisi mereka secara satu persatu. Dan dia teringat, bahwa yang bisa melakukan seperti itu hanyalah, Guy Blackwell.


Namun, saat Iris berpikir demikian, sebuah akar menjerat dirinya dengan sangat erat. Melina tanpa diperintah sekalipun langsung membakar akar tersebut tanpa melukai Iris.


Di sisi lain, setelah Melina menyangkal sebuah serangan kepada Iris, tiba-tiba, sebuah kabut berada di sekeliling Melina hingga membuat pandangannya menjadi buram.


“Melina!” Teriak Leo, dia juga melihat Iris yang perlahan-lahan terjerat oleh sebuah akar pohon. Setiap Iris berusaha menghancurkan akar pohon menggunakan elemen petir miliknya, bahkan saat dia berusaha untuk melompat sekalipun, akar tersebut akan mengikat Iris kemanapun berada.


Saat itu juga Leo teringat bahwa posisi dirinya sedang berhadapan dengan entitas miliknya sendiri. Terpaksa, dia harus menebaskan pedangnya secara berulang kali untuk membunuhnya.


Dan saat itu pula, Leo teringat bahwa yang bisa mengendalikan sebuah entitas adalah Guy.


Yang benar saja, Leo harus berbalik badan dan menyadari sesuatu, mengayunkan dan memainkan pedangnya secara terus menerus saat Guy berusaha menyerangnya menggunakan pedang yang dia pegang.


Guy juga tersenyum saat dia bisa melihat Leo sekali lagi dan beradu pedang seperti ini. Wajah konyolnya yang membuat Leo bisa mengingat pertarungan dirinya dengan Guy yang bahkan membuat Leo sendiri hampir mati dibuatnya.


“Apa yang terjadi? Jadi ini jebakanmu?!” Leo bertanya dengan terus memainkan pedangnya.


Suara pedang atau lebih tepatnya dentuman pedang mengiringi ucapan Leo. Tetapi Guy juga mengerti sehingga dia menjawab. “Ini bukan ideku, tapi ide Raven.”

__ADS_1


__ADS_2