Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Hutan monster (2)


__ADS_3

“Sialan, benar ternyata bahwa monster di hutan ini lebih aktif. Ada apa memangnya?” Leo membatin, kemudian dia menghadap ke arah belasan monster itu sambil mengeluarkan harimau bayang miliknya.


“Tuan, tampaknya akan ada puluhan goblin lagi yang akan datang!” Iris berkata. Hanya saja, dia langsung fokus kepada musuh utamanya yaitu goblin yang berusaha untuk menyerang dia dan yang lainnya.


Walaupun terkena sebuah sambaran petir, siapa berpikir dengan tubuh kurus goblin, pergerakan mereka jauh lebih mudah dan jauh lebih gesit dan bisa bergerak dengan begitu bebas. Bahkan saat Iris mencoba untuk mendekati mereka dengan elemental petir yang Iris miliki, goblin mengangkat tamengnya dan hanya sekedar terpental sedikit jauh.


“Bala bantuan dari goblin telah datang.” Leo berkata sambil mengarah ke arah kerumunan goblin yang jauh menjadi lebih banyak.


“Ini aneh.” Pikirannya, “Tidak biasanya goblin sekuat inu! Bahkan elemental petir dan api milik Melina tidak sanggup untuk menembus perisai mereka?”


Jika memang elemen tidak begitu berguna, Leo langsung bergerak secepat bayangan dengan melapisi sebilah pedangnya dengan shadow sword. Kemudian, dia menebaskan dalam sekali serang beberapa goblin yang ada di dekatnya.


Kemampuan Shadow Sword tampaknya cukup efektif dalam menghadapi mereka. Hanya saja, ini sedikit dirugikan bagi Iris dan Melina. Memang Iris sendiri cukup kuat dibandingkan Melina. Bahkan membunuh ayahnya saja mampu. Tapi Goblin kali ini lebih intensif dan seolah memiliki anti sihir pada perisai mereka.


Kuantitas goblin yang lebih banyak, membuat pertarungan tidak seimbang. Walaupun dalam kualitas, mereka bertiga cukup baik, tapi sihir mereka tidak bisa mencangkup puluhan goblin sebanyak ini.


“Thunder Blast!”


“Fire Area!”


Iris dan Melina justru tersenyum lebar. Walaupun tameng para goblin sedikit anti sihir, tapi bukankah itu hanya sekedar perisai yang bentuknya melingkar dan berada di depan? Tinggal bergerak ke arah bagian belakang para goblin dan menghancurkannya. Itu cukup mudah.


Kondisi tanah dan dedaunan pohon yang sebelumnya terlihat apik dan bersemi, kini seolah berubah menjadi lautan darah karena Leo terus bergerak dengan sangat cepat menebaskan pedangnya. Entah kenapa, dia benar-benar malas untuk menggunakan atribut sihir baik bayang ataupun tulang untuk membunuh mereka.


Keadaan yang memuaskan saat Leo bergerak dengan sangat lincah untuk menggerakkan pedangnya.

__ADS_1


Hanya saja, saat itu juga, seekor troll dengan ukuran yang cukup besar, mereka muncul sambil mengayunkan tangannya yang ukurannya sebesar manusia dewasa. Dia muncul setelah kemungkinan Troll itu berjalan dari arah selatan.


Pukulan yang cukup besar, jelas Leo harus melompat ke belakang. Namun, dia juga menebaskan pedangnya agar berefek pada tangan troll tersebut.


“Sial, kulitnya keras.”


Ketika tangan Troll menghantam tanah, keadaan tanah menjadi retak. Itu membuktikan seberapa besar kekuatan Troll ketika menggunakan kekuatan fisiknya.


“Mundur!” teriak goblin yang memiliki ukuran sedikit besar untuk memberi aba-aba untuk mundur.


Saat fokus untuk melawan Troll, Leo bisa melihat sisa beberapa goblin yang memilih untuk mundur. Sedangkan Iris dan Melina, mereka mengejar goblin tersebut dan akan membuatnya tidak ada sisa.


Troll merupakan makhluk yang bodoh. Tapi dia kuat. Leo harus berhati-hati dengan makhluk sepertinya. Atau yang terjadi dia akan menjadi tanah yang retak dan hancur sama seperti dampak dari serangan dari troll itu tadi.


Tidak, dia baru ingat jika memiliki tulang yang begitu kuat. Sehingga, dia langsung memasukkan pedangnya dan bergerak dengan sangat cepat untuk mendaratkan sebuah pukulan telak pada perut troll.


Hanya saja, saat dia berhasil menyusul, Iris dan Melina tampaknya diam di tempat dengan sedikit linglung.


“Apa yang terjadi?” Tanya Leo.


“Mereka sangatlah licik, mereka bergerak secara bebas dan kemudian menyebar satu persatu.” Jawab Iris. “Maafkan aku tuan.”


“Tidak, tidak masalah.” Leo menghela napas. Dia kemudian berniat untuk masuk lebih dalam lagi di hutan ini untuk mencari tahu apa penyebab para monster jauh lebih kuat dan juga. Tapi pikiran Leo menyebutkan, ada sosok dibalik ini semua.


“Tuan, aku merasa benar-benar sangat aneh. Mereka jauh lebih kuat dibandingkan aku bertarung dengan goblin sebelumnya. Apalagi saat troll itu muncul. Apa Troll memang sewajarnya membantu goblin?” Wajah Melina dipenuhi oleh sebuah tanda tanya.

__ADS_1


Leo mendengus, “Aku juga merasa begitu. Selain itu, saat kita menyerang belasan goblin itu tadi, puluhan goblin muncul. Ini artinya, sudah ada rencana di baliknya.”


“Maksudnya, kita dijebak?” Iris bertanya.


“Bisa dibilang, tapi tuan Saka tidak mungkin menjebak kita. Apa yang terjadi sebenarnya?” Leo menyentuh dagunya sendiri.


Tiba-tiba, tanah yang sebelumnya terlihat tenang, mendadak menjadi bergetar. Leo bisa menatap permukaan tanah dan mengerutkan dahinya. Mulutnya ternganga karena keadaan kembali semakin aneh yang membuat dia kebingungan apa yang terjadi sebenarnya?


Tapi instingnya merasakan adanya tanda bahaya, yang membuat Leo kembali menatap ke depan. Suara gemuruh juga muncul perlahan yang membuat daun-daun pepohonan menjadi berjatuhan karena getaran tersebut.


“Tidak, tidak mungkin!”


Leo, Iris dan Melina, dia sejenak menatap ke depan dengan wajah yang penuh tanda tanya setelah melihat pemandangan yang ada di depannya. Kepulan asap terlihat begitu tebal dengan gemuruh yang semakin besar.


Leo kembali memegang pedangnya dan bersiap untuk menariknya kapanpun. Hanya saja, matanya tiba-tiba terbelalak saat kepulan asap itu menghilang dan memperlihatkan sebuah pemandangan yang begitu mengerikan.


“Ini sudah jelas ada sosok dibaliknya.” Jantung Melina berdebar kencang. Wajahnya tiba-tiba seputih kertas. Berbeda dengan Leo dan juga Iris yang terlihat begitu tenang.


“Barisan Troll yang terlihat dua baris di depan, di belakangnya terdapat puluhan, tidak, tapi ratusan. Emm tidak, aku pikir ini lautan goblin! Mereka memegang senjata mereka masing-masing dengan lengkap bagaikan pakaian perang. Ada perisai yang milik mereka merupakan anti sihir.” Leo mengatur napasnya. Dia tidak pernah merasakan semengerikan ini dalam hidup dewasanya walaupun tubuhnya terlihat begitu tenang.


“Iris, Melina! Peringatkan seluruh petualang yang berada di desa Caprae dan Ciradar, kemudian suruh mereka untuk memperkuat kota. Aku akan mencoba mengurangi mereka sebisa mungkin!” Leo menarik bilah pedangnya.


“Tidak!” Protes Melina. “Jika tuan terluka, atau kondisi terburuknya gugur. Ini akan berdampak pada kita tuan! Jadi lebih baik mati bersama Anda dibandingkan terluka berat karena kehilangan Anda yang berada jauh.”


“Melina!” Iris protes. “Ah tidak, Melina benar tuan, aku tidak ingin ....”

__ADS_1


“Aku tidak akan mati secepat itu. Lagipula mereka adalah sekawanan goblin lemah dan juga troll bodoh. Hanya saja, kelebihan masing-masing mereka benar-benar saling melengkapi.” Leo kemudian berdecak kesal sambil berkata seperti itu. Prioritas paling penting sekarang adalah kedua desa dan wilayah miliknya yang terdapat orang-orang yang tak bersalah.


Jika dibiarkan, mereka pasti akan menyerang besar-besaran sesuai dengan rencana sosok di belakangnya. Mengapa Leo berani berkata demikian? Pasalnya tidak mungkin Troll dan Goblin beraliansi kecuali mereka dikendalikan oleh seseorang. Jelas, Leo penasaran siapa sosok di belakangnya.


__ADS_2