
Sosok berwarna hitam, berada dalam kegelapan, muncul di depan raja Skeleton dengan cukup gagah.
Sebuah skeleton bayang, entitas bayangan yang Leo ciptakan untuk menandingi keberadaan raja Skeleton. Meski Leo tidak yakin apakah entitas ciptaannya bisa menang, karena Skeleton yang dia ciptakan masihlah kurang sempurna dari raja Skeleton yang asli. Apalagi raja Skeleton yang memiliki atribut sihir untuk memperkuat tulang dan juga menciptakan senjata dari tulang belulangnya.
Kendati demikian, Leo yakin bahwa apabila tidak dalam kegelapan, Skeleton bayang hanyalah satu per lima dari kekuatan raja Skeleton yang asli. Sedangkan untuk berada di kegelapan seperti ini, skeleton bayang akan meningkatkan power, dan sangat sulit untuk dikontrol. Setidaknya kekuatannya akan melebihi setengah dari raja Skeleton tersebut.
Leo tahu bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang nekad. Apalagi posisinya belum pernah menjinakkan Skeleton bayang selama hidupnya. Jika itu hanya sekedar serigala atau harimau, Leo pasti akan bisa menjinakkan monster-monster tersebut yang di luar kontrol.
“Ini Skeleton bayang, jika aku cukup ceroboh, pasti aku akan dikalahkan oleh entitas ciptaanku sendiri.” Gumam Leo sembari menyipitkan matanya.
Leo sudah bisa mendengar kondisi keadaan sekitar. Suara gemuruh yang membuat dia bisa lebih peka tentang keadaan sekitar. Seperti yang ada di hadapannya adalah Skeleton bayang yang mengepalkan tangan tulangnya ke arah raja Skeleton.
Di sisi lain, dia juga bisa mendengar sebuah angin yang seolah di belah. Sehingga, Leo langsung melompat ke arah pundak Skeleton bayang untuk menahan pedang milik raja Skeleton.
“Buug!”
Meski cukup keras, tapi raja Skeleton bisa terpukul mundur. Leo tidak menyia-nyiakan waktu untuk melompat ke arah raja Skeleton tersebut ke arah pundaknya sebelum dia menggores leher raja Skeleton tersebut.
Tapi yang Leo rasakan hanyalah tulang yang begitu keras. Sedangkan dalam kegelapan yang hanya ada beberapa titik cahaya yang sedikit redup, Leo sanggup melihat bahwa tangan raja Skeleton langsung mengepal dan hendak memukul Leo yang ada di pundaknya.
“Akhirnya, cahaya. Serigala bayang tadi tampaknya cukup cerdas karena bisa mencari keberadaan bunga Lily di sepanjang jurang. Meski sulit di kontrol, tapi dia bisa dijinakkan dan bisa mematuhi apa yang dikatakan oleh tuannya.” Leo menghela napas lega, saat sosok serigala bayang yang sebelumnya gagal untuk ditusuk oleh raja Skeleton, kini tengah menggigit akar bunga Lily yang bercahaya. Sayangnya, karena tidak ada tanah dalam akar tersebut membuat bunga Lily semakin redup.
Setitik cahaya tidak berefek pada Skeleton bayang, karena dia memiliki ukuran yang besar dan memberikan kerusakan yang besar pula, maka butuh banyak cahaya untuk menurunkan power miliknya. Sehingga, dia terus memukul raja Skeleton di kala Leo menahan tebasan berpedang milik raha Skeleton.
__ADS_1
Meski sebenarnya, pukulan Skeleton bayang tampak tidak tau aturan, tidak peduli apakah Leo terkena dampak pukulannya, dia sama sekali tidak peduli. Sehingga, Leo yang belum bisa menjinakkannya bisa mengerti dan hanya bisa mendengar.
Leo terus untuk menahan pedang milik raja Skeleton, dia juga memiliki kesempatan untuk menyerang dengan terus menerus, tidak peduli tulang tersebut sekuat apa.
“Manusia rendahan! Kau benar-benar ahli menggunakan sebuah pedang. Atribut sihirmu tentang memanipulasi bayangan juga tidak bisa diremehkan.” Teriak raja Skeleton itu dengan melompat mundur sambil menancapkan pedangnya di atas tanah.
Sebuah getaran terjadi bagaikan gempa yang kuat, Leo bahkan sulit untuk membuat tubuhnya bisa bertahan karena getaran tersebut. Dinding jurang juga seolah akan ambrul seakan hendak mengubur Leo.
Kemudian, raja Skeleton tersebut melompat, ke arah Skeleton bayang yang hendak bersiaga dan menyerang raja Skeleton tersebut lagi. Sayangnya, pergerakan raja Skeleton kali ini sangat cepat, sehingga dalam sekali tebas saya mampu untuk membuat sihir bayangan Skeleton milik Leo hancur dengan mudah.
Leo melompat mundur, dia sudah kehabisan cara untuk bagaimana caranya untuk melawan raja Skeleton tersebut. Apalagi dia sudah kehabisan banyak mana.
Raja Skeleton menghilangkan pedang tulang miliknya, kemudian dia menatap wajah Leo dengan cukup sinis. Cincin berwarna hijau milik Skeleton tersebut juga kembali menyala berwarna hijau tepat di wajah Leo.
Leo yang mendengar itu, dia langsung terdiam membatu. Pasalnya, dia sama sekali belum mengalahkan raja Skeleton tersebut, namun Skeleton sudah langsung menyerah dan menyodorkan cincin berwarna hijau itu kepada Leo begitu saja. Jelas, bahwa Leo penasaran, apa maksudnya itu semua?
“Dari matamu, aku bisa melihat bahwa kau memiliki potensi yang hebat, seolah kau merupakan seorang pureblood, atau bahkan kekuatanmu bisa melebihi para penyihir berdarah murni. Tidak sia-sia kau bisa memiliki kekuatanku.”
Lagi-lagi terkejut, Leo bahkan langsung menyangkal apa yang Skeleton itu katakan. “Pureblood? Ini bercanda? kedua orang tua ku bahkan tidak bisa untuk disebut sebagai darah campuran, apalagi aku? Aku tidak tahu apa siasatmu, dan manipulasi apa yang akan kau lakukan. Aku hanya perlu keluar dari sini.”
Pureblood, atau bisa disebut sebagai seorang berdarah murni.
Dahulu kala, kedatangan demon of chaos tentu saja membuat sebuah huru-hara di dunia ini. Kehancuran dimana-mana yang disebabkan oleh demon of chaos beserta para pasukannya. Tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan seluruh umat manusia hampir berada dalam ambang kepunahan karena akibat dari zaman kehancuran tersebut.
__ADS_1
Untung saja, masa itu muncullah 7 orang pahlawan, yang bahkan kekuatan mereka melebihi para raja yang kerepotan. Mereka adalah seorang penyihir yang hebat, tak tertandingi dan memiliki atribut sihir elemental yang berbeda-beda. Kekuatan mereka mampu untuk memukul mundur demon of chaos dan menyegelnya. Dan sangat disayangkan bahwa mereka tidak bisa membunuhnya.
Ketujuh pahlawan itu tentu saja tidak hidup sendiri, mereka akhirnya menikah, memiliki anak dan melahirkan para penyihir-penyihir hebat, jauh lebih hebat dibandingkan dengan para penyihir biasa. Mereka yang merupakan keturunan murni, tak ada darah campuran dari penyihir yang bukan keturunan 7 orang pahlawan, disebut pureblood.
Skeleton tersebut langsung tebahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Leo. Tapi dia langsung diam atau tidak menjelaskan secara langsung mengapa Leo merupakan seorang pureblood. Lagipula, Skeleton itu juga tidak mengerti kisah Leo yang sebenarnya, setelah Leo mengatakan demikian.
Hanya sekedar bahwa Leo memiliki darah pureblood, tapi tampilannya sama sekali tidak menunjukkan seorang bangsawan tinggi, yang mana para pureblood pasti seorang bangsawan. Namun bangsawan sendiri masih belum tentu pureblood.
Sehingga, dia tidak menjelaskan dan bersikeras kepada Leo bahwa Leo adalah pureblood.
“Lupakan saja. Tapi aku serius, ambillah cincin Fainchorne milikku ini. Kau pantas mendapatkannya.”
“Fainchorne?” Leo kembali bertanya dan mengerutkan dahinya.
“Yaah, cincin Fainchorne sangat cocok untukmu. Sebenarnya banyak orang yang datang untuk mengambil artefak ini, tapi tak ada yang cocok dengan Fainchorne, sehingga aku tidak segan untuk membunuhnya. Sedangkan semenjak kedatanganmu, Fainchorne terus menerus menyala yang membuat benda ini tertarik kepadamu.” Skeleton itu menjelaskan kepada Leo.
“Lantas mengapa aku tidak bisa melihat itu menyala saat kita bertarung? Dan mengapa kau membuatku bertarung juga itu sudah cocok semenjak tadi.” Tanya Leo dengan tatapan yang datar.
Skeleton itu tertawa sebelum dia berkata, “Ini cukup mudah, aku tinggal memutar bagian atas cincin, sehingga kondisi yang bercahaya tertutup saat memegang pedang. Dan pastinya, aku ingin memberimu sebuah ujian.”
Bagaikan terhipnotis, Leo cukup tertarik dengan Fainchorne, bahkan matanya berbinar. Lagipula, siapa yang tidak ingin menolak artifak yang diincar banyak orang? Sehingga tanpa ragu lagi, Leo menarik Fainchorne dari jari tulang milik Skeleton dan memasangnya tepat pada jarinya sendiri.
“Namaku adalah Ray.”
__ADS_1