
Leo masih tidak percaya bahwa lawannya adalah seorang perempuan. Pun levelnya berada di atas Leo yaitu ‘4’ awal. Hanya saja, dia tidak heran bahwa Melina atau Mateo berada di level demikian karena dia memiliki umur 5 tahun lebih tua dari Leo. Sepertinya itu yang dipikirkan oleh Leo.
Meski demikian, kemampuan Melina dalam bertarung baik menggunakan pedang atau menggunakan pedang, Leo sama sekali tidak bisa memandang remeh. Dia tidak bisa untuk merendahkan wanita tersebut karena apabila Leo tidak serius tadi, bisa-bisa Leo akan terbunuh yang menjadi sebuah kemungkinan terberat.
Fajar kini telah muncul di ufuk timur, setitik cahaya perlahan mulai muncul di balik gelapnya sebuah malam. Kondisi sudah mulai dini hari yang membuat Leo hampir tidak percaya bahwa dia melakukannya semalaman, meski sebenarnya dia yakin dia melakukan quest setelah tengah malam.
Jelas, Leo mengetahui dengan jelas bagaimana wajah Melina barusaja. Yang membuat Leo sendiri merasa tertegun karena wanita cantik sepertinya justru melakukan tindakan yang begitu tercela.
Andai kata Melina tidak menggunakan penutup kepala, bisa dipastikan rambut terurainya akan membuat semua laki-laki akan terpana. Atau mungkin tidak terkecuali Leo juga?
“Kau menatapku seperti itu? Kau masih ingin mengkritikku tentang sikap dan penampilanku?”
“Tidak, hanya suaramu saja. Aku harap suaramu bisa terdengar lebih feminin.” Kata Leo secara terus terang.
“Aku sama sekali tidak peduli, dan kau juga tidak perlu mempermasalahkan. Ini sudah menjelang pagi, kau ingin bertemu dengan tuanku atau tidak?” Tanya Melina kepada Leo.
“Yaah, lebih cepat lebih baik. Sekarang pimpin jalan.” Jawabnnya.
Melina yang mendengar keseriusan Leo, dia menghela napas sembari mengerutkan dahinya. “Aku tegaskan sekali lagi, jika kau ingin bertemu dengan tuanku, kesempatan untuk keluar bisa dibilang sangatlah mustahil. Jadi aku sarankan bahwa sebaiknya kau mencari informasi yang lain saja.”
“Aku tak tahu harus mencari informasi yang paham dunia gelap dimana. Jika ada kesempatan mengapa tidak? Lagipula ini urusanku tentang bagaimana caraku keluar.”
__ADS_1
“Meski kau bisa keluar, kau telah memiliki janji kepadaku. Ingat itu!”
Leo hanya mengangguk, dia sama sekali tidak menjawab apa yang Melina katakan. Lebih tepatnya dia tidak bisa untuk berjanji sepenuhnya kepada Melina.
Sekarang dia mengekor kepada Melina, mengikuti kemana perginya Melina. Dan bersamaan dengan dia berjalan, dia merasakan sebuah geli di pergelangan tangannya. Lebih tepatnya seperti ada sebuah energi yang mengalir yang membuat dia mengangkat tangannya karena penasaran.
Siapa yang berpikir bahwa quest tersebut ternyata sudah selesai? Gelang tag miliknya seolah menunjukkan bahwa quest telah selesai. Padahal, seharusnya masih ada satu preman yaitu Melina yang masih hidup.
Kepalanya seakan pusing, dia tidak mengerti tentang penyelesaian quest tersebut. Hanya saja, dia teringat bahwa quest tersebut menjelaskan bahwa hanya ada beberapa orang dengan level ‘3’ sehingga, Melina sama sekali tidak dihitung. Sehingga, dia hanya bisa bernapas dengan lega dan bisa menukarkan data penyelesaian quest tersebut dengan bayaran perak.
Namun, dia sekarang acuh dan tak acuh. Dia hanya fokus untuk kemana perginya Melina sekarang juga.
Suasana yang sebelumnya canggung tiba-tiba menjadi pecah ketika Melina merasa ada sesuatu yang dia tanyakan. Lagipula, dia sangat terkejut saat Leo mampu bertahan dari zona keterpurukan. Sanggup bertahan dari masa lalu kelam, dan tidak larut dalam kesedihan hingga penyakit mental menjadi sasaran, itu merupakan hal yang luar biasa.
Leo menjawab, “Yaah bisa dibilang sangat beruntung, ada seseorang yang begitu baik hingga mau untuk merawatku. Dan, kau? kau juga yatim piatu?”
“Benar, tapi tidak seberuntung dirimu. Aku sudah diculik dan diperbudak semenjak aku berumur 10 tahun. Bisa dibilang, aku sudah berulang kali berpindah majikan.”
Meski berkata tanpa menunjukkan wajah sedih, Melina sebenarnya menyimpan kesedihan yang begitu luar biasa. Bagaimana tidak? Hidupnya begitu suram yang membuat sebenarnya dia kesulitan untuk melupakan hal tersebut.
Ketika dia umur delapan tahun, ayahnya merupakan seorang pemabuk berat, seorang penjudi yang memiliki hutang yang begitu banyak. Bahkan hutang-hutang tersebut menumpuk bak menggunung. Tapi, apakah ayah Melina peduli? Tentu saja tidak, pikirannya benar-benar sangat kolot dan tidak memikirkan keluarganya sama sekali.
__ADS_1
Dan suatu ketika, siapa yang berpikir bahwa ada beberapa orang yang datang menagih hutang secara tidak terhormat. Beberapa orang datang, dan memukuli secara kasar ayah Melina, bahkan ibunya yang seharusnya tidak memiliki hubungan hutang dengan ayah Melina juga harus merasakan imbasnya.
Ingatan paling kelam, dan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan saat ibu Melina justru menjadi pemuas nafsu orang-orang tersebut. Ibunya diperkosa tepat di depan matanya sendiri, yang membuat Melina hanya bisa menangis, berteriak.
Hutang memang hutang, namun seharusnya itu tidak ada hubungannya dengan alat pemuas napsu bejat mereka. apalagi notabene ibu Melina tidak memiliki hubungan hutang dengan ayah Melina. Dunia benar-benar menjadi sesuatu yang tidak begitu adil.
Ia yang tidak bisa apa-apa, hanya bisa meringkus. Orang-orang tersebut memanfaatkan Melina sebagai pembayaran hutang. Lebih tepatnya Melina akan dijual sebagai budak, apalagi wajah Melina yang memiliki paras luar biasa, membuat dia cocok untuk diperbudak dengan harga yang sangat mahal secara ilegal.
Leo terdiam ketika dia baru saja mendengar apa yang diucapkan oleh Melina barusaja. Dipikir-pikir, hidup Leo masih lebih baik karena dia tidak hidup dan diperbudak oleh seseorang. Setidaknya membawa semua kambing naik turun masih lebih baik daripada ribuan orang di luar sana yang memiliki nasib tidak mendukung.
“Jadi jika kau menganggapku sudah kotor, itu memang fakta. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi oleh budak kotor sepertiku.” Kata Melina secara terus terang.
“Jangan membahasnya, itu seharusnya sudah privasi bagimu. Aku cukup tertegun saat kau memiliki bakat luar biasa dalam pertahanan. Selain itu kau memiliki level ‘4’ awal, itu merupakan sesuatu yang mengesankan, apalagi statusmu adalah wanita yang diperbudak. Selain itu, hatimu benar sangat kuat untuk menghadapi apa yang kau ceritakan.” Leo menjawab apa yang dipernyatakan oleh Melina.
“Dan, bukankah statusmu hanya yatim? Kau tidak mengatakan ibumu meninggal. Hanya sekedar diperkosa. Kemudian kau digunakan sebagai alat pembayaran hutang.” Sambungnya sambil bertanya kepada Melina.
Melina yang mendengar hal itu, dia menundukkan kepalanya. Kemudian menjawab, “Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana kondisi ibuku sekarang. Kami sudah berpisah cukup lama belasan tahun. Lagipula, aku juga sulit untuk kabur karena ada yang namanya istilah segel perbudakan.
Sehingga, jika kau melakukan apa yang kau inginkan hanya sebatas sebuah informasi. Itu adalah hal yang naif dan sangat ceroboh. Karena bisa-bisa, kau akan dipaksa untuk diperbudak, atau yang terjadi kau akan mendapatkan sebuah siksaan.”
“Aku akan berusaha sebaik mungkin.”
__ADS_1