
Hime tersenyum saat dia akan mendapatkan sebuah pekerjaan besar kali ini. Mendapatkan banyak serbuk sari dari beberapa pekerja yang mengangkutnya ke atas, membuat Leo tampak senang.
Jika memang sudah begitu, dia mengunci ruangannya dan mencoba untuk fokus dalam meramu potion. Setidaknya kemungkinan terbesar, dia tidak akan keluar dari ruangan selama beberapa hari.
Membuat ratusan potion, Hime merasa tertantang saat ini. Meski begitu, dia mengangkat ujung bibirnya dan juga bersemangat walaupun itu akan membuat dia pingsan suatu hari nanti.
Melihat sikap Hime yang langsung mengunci ruangannya setelah mendapatkan tumpukan bahan yang didapatkan, membuat bibir Leo berkedut begitu saja.
Di sisi lain, mulai saat ini dia berpikiran untuk menyuruh para pekerja agar membawa setidaknya lima wadah besar yang berisikan serbuk sari bunga Lily. Kemudian lima wadah besar juga untuk air langit. Itu dilakukan setiap seminggu sekali.
Untuk waktu yang begitu luang, Leo yang sebelumnya mungkin akan mempekerjakan orang yang mengurus ladang untuk membudidayakan, kini menjadi mempekerjakan mereka saat berada dalam waktu tidak memetik serbuk sari bunga Lily. Sehingga, saat ini Leo lebih tenang.
Kemudian, mendapatkan serbuk sari sebanyak itu, kemungkinan menurut perhitungan Hime sendiri akan mendapatkan setidaknya hampir 50 potion. Yang artinya, Leo hanya membuat 50 potion untuk setiap minggunya. Hanya saja, dia masih tidak tahu dia akan meningkatkan jumlah produksi, dan yang pasti, dia tidak ingin memaksa Hime.
“Lain kali aku akan membuatkannya rumah sendiri.” Leo menghela napas dan berbalik badan, melihat kedua budaknya yang berdiri di belakangnya. “Walikota sudah kembali kan? aku ingin melakukan sesuatu untuk sementara waktu.”
“Tuan, maaf jika aku benar-benar lancang. Tetapi, aku masih penasaran, mengapa akhir-akhir ini Anda sering keluar dan tidak kembali dengan kurun waktu cukup lama.” Melina bertanya dengan penuh penasaran.
Leo bersedekap dan berjalan sambil melewati mereka, “Hanya ada urusan sebentar. Emm, jika aku belum kembali, jangan lupa untuk memberi makan Hime. Kalian boleh pergi dan jangan mengikuti aku.”
Mereka mengangguk, kemudian mereka pergi setelah Leo pergi meninggalkan mereka berdua.
Iris berpikir, dia tampaknya mengerti apa yang akan dilakukan oleh tuannya saat ini. Ya, jelas tuannya pasti akan keluar untuk memburu apa yang namanya seorang pembunuh. Alias Leo akan memburu para pembunuh yang berkeliaran.
Diam-diam, saat Melina pergi setelah Leo pergi, Iris mengikuti Leo yang tampaknya dia masuk ke dalam kamarnya untuk menggunakan pakaian bak seorang assassin. Itu adalah pikiran Iris, hanya saja, untuk mengetahui rasa penasarannya, Iris langsung mengetuk pintu kamar Leo untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
Tok-tok-tok
“Tu-tuan.”
Iris mengetuk dengan perlahan.
Suara pintu yang terbuka, membuat Iris berdebar begitu kencang. Apalagi dia hampir pingsan dan berdarah hidungnya saat melihat bahwa Leo bertelanjang dada sambil memegang sebuah pakaian yang masih terlipat dengan begitu sempurna.
Wajah Iris memerah, selama ini dia belum pernah melihat seorang laki-laki yang memiliki tubuh bagus dan berotot sama seperti Leo. Otot perut dan otot dada terlihat terbentuk dengan sangat sempurna yang membuat Iris langsung memalingkan mukanya.
“Bukankah aku berkata untuk tidak mengikutiku?” Leo bertanya dengan dingin.
“Maaf tapi, aku hanya memastikan bahwa Anda keluar lagi untuk memburu penjahat.”
“Tidak, hanya saja, aku ingin ikut tuan. Aku mungkin akan menjadi rekan bagi Anda dan membantu Anda.”
“Tapi aku sama sekali tidak ingin membawa beb….” Leo menghentikan ucapannya sendiri. “Tidak, maksudku mungkin ini akan menjadi sesuatu yang sulit. Jika ada apa-apa, aku tidak akan bisa menolongmu.”
Leo menghela napas, dia hampir berkata bahwa Iris adalah seorang beban. Dan segera dia menyadari bahwa Iris adalah bawahan paling kuat miliknya yang membuat, tidak mungkin Iris menjadi sosok seperti Hime yang kesulitan untuk menjaga diri.
Meski berbicara seperti itu, dia sama sekali tidak merendahkan Hime. Hanya saja, itu adalah fakta! Karena Hime sendiri belum terbiasa untuk melihat pembunuhan.
“Aku bisa melindungi diriku sendiri tuan ketika Anda jauh dariku. Jadi jangan masalah.”
“Gunakan pakaian yang menutupi identitasmu.” Leo memerintahkan. “Selain itu, setelah kita melakukan ini, aku harap kamu tidak menjadi sosiopat dan kehilangan empatimu.”
__ADS_1
“Apa hubungannya?”
“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kebanyakan seseorang setelah melakukan pembunuhan akan menjadi sosiopat alias kehilangan empati? Mungkin setelah membunuh ayahmu, kamu tidak memiliki sikap seperti itu karena itu ada sebab akibat, tapi bagaimana jika saat ini kamu akan membunuh tanpa sebab?” Leo mengangkat alisnya sebelum dia menutup pintu untuk menggunakan pakaian bak Assassin.
Iris masih bertanya-tanya, hanya saja dia langsung menuruti apa yang Leo katakan bahwa dia harus mengenakan sesuatu untuk menutupi identitasnya.
Beberapa menit kemudian, Leo sudah menggunakan pakaian yang tertutup. Tapi tidak sepenuhnya, karena dia hanya menggunakan pakaian bak Assassin dan menyembunyikan topengnya di balik pakaian tersebut. Saat itu juga, ketukan pintu juga terdengar lagi.
“Masuk saja, itu sama sekali tidak terkunci.”
Iris yang mendengar itu, dia masuk dengan tenang, pakaiannya benar-benar tertutup dengan menggunakan penutup wajah yang tidak menunjukkan bahwa dia adalah Iris.
“Tapi sebelumnya, dimana kita akan menemukan para pembunuh itu?”
“Hari sudah mulai malam, biasanya orang-orang mencurigakan akan mulai keluar. Selain itu, mereka akan berada di tempat tersembunyi, seperti lembah, pinggiran kota, dalam hutan dan yang lainnya.” Leo menjelaskan sambil membuka jendela kamarnya. “Hanya saja, aku mendapatkan sebuah informasi akhir-akhir ini dari beberapa pembunuh lainnya, ada sebuah tempat di selatan kota. Apa kau pernah lihat? Di situ ada sebuah perbukitan dengan gua. Di situ adalah sarang kelompok penjahat.”
“Bukit tersebut .... itu adalah tempat bermainku dulu. Dan kini menjadi sarang para penjahat?”
Tanpa membalas pernyataan dari Iris, Leo langsung melompat dari jendela kamarnya dan langsung untuk keluar dengan sangat cepat atau lebih tepatnya berlari ke tempat yang dia maksud tadi. Kondisi matahari yang terbenam, membuat Leo harus bergegas.
Iris yang melihat itu, dia juga melompat untuk mengikuti kemana perginya Leo. Meski ada beberapa pertanyaan yang ingin dia tanyakan sebenarnya.
Tempat ini ada di barat kota Little Pear, sedangkan wilayah yang Leo tuju adalah Selatan kota. Dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk menuju kota terlebih dahulu. Lebih tepatnya, dia ingin mengambil jalur memutar sehingga dia hanya melewati beberapa desa sehingga tidak ada yang mengetahui pergerakannya.
Selain itu, dia berpikir bahwa nanti dia akan berusaha untuk bertarung sambil menutup matanya. Karena apa yang dia takutkan, Leo bisa membaca masa lalu mereka yang membuat Leo sendiri merasakan kehancuran pada hatinya. Dia akan berusaha, berusaha keras untuk tidak membaca masa lalu mereka.
__ADS_1