
“Eh?” Leo mengerutkan dahinya saat dia dan Hime pertama kali masuk ke dalam desa tersebut. Bagaimana tidak? Seorang ibu-ibu paruh baya memanggil namanya. Padahal, Leo sendiri sama sekali tidak mengenal siapa nama ibu-ibu tersebut.
Tidak hanya ibu-ibu saja, mendadak beberapa orang yang melirik Leo, mereka segera menyapa Leo dengan penuh kejutan seolah melihat seseorang yang baru saja pulang dari kampung halamannya. Walaupun itu memang.
“Kamu benar-benar Leo kan? kau, kau mengharumkan nama desa Caprae! Kami mendengar aksimu menyelamatkan walikota!”
“Leodric, dimana kakek tua itu?”
“Waah, Leodric pulang membawa seorang wanita.”
“Maafkan aku, tapi kakek itu menghilang secara tiba-tiba.” Leo merespon salah satu pertanyaan dari mereka.
Mereka yang mendengar itu, mereka sempat terkejut dengan pernyataan bahwa Gin sudah tidak bersama Leo lagi. Padahal hubungan Leo dan Gin begitu dekat yang membuat mereka atau penduduk desa saja merasa takjub walaupun mereka tahu bahwa Leo dan Gin sama sekali tidak memiliki hubungan darah.
Sangat disayangkan bahwa old of the mountain sudah tidak bersama Leo lagi. Jelas itu membuat mereka sedikit kecewa dan sedih karena Gin dikatakan menghilang secara tiba-tiba.
“Hei, beri Leo jalan! Dia ingin kembali ke lereng! Kalian seharusnya tahu bagaimana sikap Leo itu.” Kata salah satu dari mereka yang mengerti tentang perasaan Leo.
Leo seolah menghela napas secara lega saat ada orang yang mengerti bahwa Leo ingin kembali ke lereng untuk melihat kondisi rumahnya.
Mereka yang mengerti, mereka membuka jalan bagi Leo dan mereka anggap sebagai wanita milik Leo. Sehingga, Leo bisa kembali berjalan lagi.
“Eh Leo! Leo kembali! Hai Leo. Tunggu, apa?”
“Pangeranku, setelah berbulan-bulan akhirnya kau kem ....”
Seperti biasa, saat Leo berjalan-jalan menuju rumahnya, banyak sekali wanita-wanita baik tua maupun muda yang melambai-lambaikan ke arah Leo seolah mencari perhatian. Hanya saja, kali ini mereka sedikit putus asa karena Leo kembali dengan membawa berita buruk bagi mereka, yaitu Hime yang berjalan di belakang Leo dengan bangganya.
Leo sama sekali tidak menggubris mereka, bahkan sama sekali tidak menoleh sama seperti yang dia lakukan dulu. Menurutnya mereka hanyalah seorang wanita yang sedang mencari perhatian, terlebih .... Leo sama sekali tidak tertarik kepada mereka.
__ADS_1
“Anda cukup terkenal di desa ini tuan. Lihat, Ada banyak wanita yang menyapa Anda.”
“Tapi mulut mereka sedikit bungkam saat ada dirimu. Yaah, jika tidak ada dirimu, mungkin para wanita itu sangat heboh.”
“Eh?” Wajah Hime sedikit memerah.
“Sebelumnya, aku hidup di desa ini. Tetapi aku sedikit bersosial kepada mereka karena aku memiliki sebuah rumah yang menyendiri. Apa kau lihat lereng gunung itu? Aku tinggal di situ.” Sambung Leo sambil menatap ke atas.
Sambil berjalan menuju rumah Leo, Hime tampaknya banyak bertanya tentang Leo sebelumnya.
“Bagaimana dengan kakek yang disebutkan seseorang tadi? dan, dia memiliki julukan old of the mountain?”
“Benar, aku hidup bersama dengan kakek Gintaru. Tapi tampaknya dia tidak menyukai keramaian sehingga membuat sebuah rumah di lereng gunung ini dan tinggal bersamaku, hingga terciptalah sebuah sebutan pria tua dari gunung. Namun, aku tidak akan menceritakan bagaimana aku bisa bertemu dengannya, karena ceritanya begitu panjang.” Leo menjawabnya.
Sedikit menaiki lereng gunung, dan juga melewati beberapa persawahan, pada akhirnya Leo telah sampai di sebuah gubuk tua yang begitu menyedihkan. Bagaikan tak terawat dan ditinggalkan begitu lama.
Padahal, Leo sendiri berharap saat dia kembali, gubuk atau rumah kecilnya terawat yang membuat dia benar-benar penasaran. Dan saat dia masuk, pak tua Gintaru berada di dalam dan sedang mengasah sebuah pedang. Ya, itu adalah sedikit dari harapan Leo.
“Ini adalah rumahku dulu. Lihat, ini begitu menyedihkan karena tampaknya dindingnya juga terlihat lapuk dan tak terawat.”
“Pasti di sini banyak kenangan yang hilang. Aku benar kan tuan?”
“Mungkin saja, tapi kenangan yang masih membekas adalah pedang yang ada di punggungku. Ini adalah sebuah pedang milik kakek Gintaru sebenarnya.” Ujar Leo sendiri sambil melirik ke arah pedang yang ada di punggungnya.
“Walaupun pak tua Gin benar-benar sosok yang begitu ku rindukan, tapi menurutku dia adalah seorang bedebah sialan. Apa kau lihat kandang itu? Dulu berisikan sekitar 7 kambing. Dan kau tahu apa yang diminta oleh pak tua Gin?” Tanya Leo kepada Hime.
Hanya saja, belum Hime menjawabnya, Leo sendiri sudah menjelaskannya kepada Hime. “Dia memintaku untuk menggendong kambing itu naik ke puncak gunung ini. Mungkin itu hanya satu kambing, dan bagaimana jika tujuh kambing? aku harus naik dan turun secara berulang kali.”
“Tuan, aku memang selalu percaya denganmu. Tapi untuk kali ini aku sama sekali tidak.” Hime membalasnya dengan sebuah kerutan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Leo mengangkat Hime dan meletakkannya di atas kedua tangannya. Lebih tepatnya, dia menggendong Hime di atas tangannya. Hanya saja, dia masih tanpa ekspresi sama sekali.
“Tu-tuan, a-apa yang kamu lakukan?” Hime bertanya dengan gugup. Wajahnya memerah, serta jantungnya juga berdebar kencang saat Leo memperlakukannya seperti ini.
“Diam, aku akan membawamu ke puncak itu. Kau pasti lelah karena harus berjalan sejauh ini.”
“I-iya tuan, a-aku percaya bahwa Anda menggendong semua kambing itu ke puncak gunung. Ta-tapi. Emm tidak! A-aku masih tidak percaya bahwa Anda menggendong gunung tersebut.”
“Kau ini bicara apa?”
“Eh?”
Hime benar-benar berdetak begitu kencang saat Leo memperlakukannya seperti itu. Bahkan saat naik ke lereng yang begitu terjal sekalipun, Leo tetap menerobosnya dan tetap membawa Hime menggunakan kedua tangannya.
Leo sudah terbiasa melakukan yang seperti ini. Dia menggendong Hime, menurut pikiran yang sebenarnya dia hanyalah berlatih karena dia sudah tidak menggendong kambing itu ke puncak. Sehingga, apa yang dilakukan oleh Leo hanya sekedar upaya untuk merenggangkan otot dan sedikit bernostalgia. Kurang lebih, dia menganggap Hime sama seperti kambing.
Menurutnya, jalur nya masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah seperti dirusak oleh petualang atau mungkin yang lainnya. Sehingga, Leo hanya menghela napas dengan sedikit lega.
Hingga pada akhirnya, Leo sudah sampai di atas puncak. Dia mengatur napas dan menurunkan perlahan Hime sebelum dia mengulurkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-otot lengannya.
Udara yang begitu sejuk, tampaknya Leo sedikit bernostalgia di puncak gunung ini. Padang rumput yang begitu luas tempat Leo mengembalakan semua kambingnya. Bahkan kandang semi nya juga masih ada.
“Tu-tuan, te-terimakasih. A-aku sedikit tidak menyangka bahwa Anda sekuat itu. Se-selain itu aku tidak percaya bahwa Anda tidak terengah-engah.” Hime berkata sambil memalingkan wajahnya. Meski dalam hatinya dia merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan.
“Masih indah seperti biasanya. Kita bisa melihat ada beberapa objek di sini. Apa kamu lihat? Di utara ada mansion kita atau hutan esves, di barat ada kota Silver Fox dan kota Black Garden. Di timur adalah pusat kota Little Pear.”
Sambil berkata demikian dan menunjuk arah, dia bisa merasakan semilir angin sepoy-sepoy melewati pori-porinya. Membuat dia bisa lebih tenang dan tidak memikirkan apapun selain keindahan yang ada di sini.
Hime saja mengerti dan merasakan takjub yang mendalam saat melihat pemandangan yang berada di atas gunung ini. Apalagi ditambah dengan angin sepoy-sepoy yang begitu nikmat.
__ADS_1
Hime menatap Leo, namun Leo berjalan ke arah sebuah pohon yang begitu rindang dan tampak sejuk apabila dipandang. Lebih tepatnya, Leo berjalan ke pohon tersebut dan duduk bersandar dengan begitu tenang. Bahkan Leo sendiri sepertinya merasakan sebuah kantuk saat dia bersandar di pohon itu.