
Sebuah pintu ruangan terbuka, semerbak ramuan tercium begitu menyengat. Seperti biasa, saat pertama kali masuk, Leo sempat menutup hidungnya karena benar-benar tidak begitu tahan dengan bau ini. Apalagi Araka yang selalu mengikuti Leo, dia juga selalu menutup hidung dan mulutnya.
“Tuan Leo.”
“Kakak.”
Leo bisa melihat Hime dan Yuuki yang sedang bekerja keras. Apalagi Hime, Leo benar-benar salut dengannya karena dia selalu bersemangat saat dia mengurus ramuan seperti ini. Sedangkan Yuuki, meski dia berada di sini, tampaknya dia sibuk dengan dunianya sendiri.
“Yuuki, apa yang kau lakukan?” Tanya Leo.
“Ah kakak, aku baru saja membuat racun ilusi. Aku memberikannya nama ‘Phantasma’ aku baru saja mencobanya sendiri, dan itu membuat diriku berhalusinasi secara berat. Dan bahkan sulit untuk membedakan halusinasi dengan kenyataan.” Yuuki menjelaskan. “Untuk bahannya sendiri, aku sebenarnya merahasiakannya kakak, karena bahan ini sama sekali tidak begitu langka dan bisa digunakan orang kapan saja untuk keburukan. Aku tidak ingin itu terjadi.”
Leo yang mendengar itu, dia benar-benar sangat bangga dengan Yuuki. Kemampuan Yuuki setelah belajar alkimia dari Hime, benar-benar meningkat. Bahkan dia bisa menciptakan poison yang merupakan kebalikan dari karya milik Hime yaitu ramuan penyembuhan. Apalagi setelah mendengar dari Yuuki sendiri bahwa dia tidak akan menggunakan ramuan itu untuk keburukan.
Yuuki dan Araka, kemampuan mereka dalam menerima sebuah pembelajaran benar-benar sangat cepat. Bahkan Araka sendiri, dia sudah bisa bermain pedang dengan sangat apik, ditambah dengan kemampuan lincah dari Yuuki untuk melawan musuh secara fisik langsung.
Kombinasi pertarungan mereka juga terlihat sangat bagus. Sehingga Leo sendiri benar-benar sangat bangga karena perkembangan mereka selama seminggu ini benar-benar sangat cepat. Selain itu, setelah Yuuki berhasil menciptakan poisonnya sendiri, membuat kombinasi pertarungan antara Yuuki dan Araka kemungkinan tidak bisa untuk ditembus.
Ramuan ilusi yang Yuuki sebut ‘Phantasma’ terlihat begitu bagus menurut Leo. Bahkan Leo sendiri hampir muntah darah saat Yuuki menjadikan dirinya sendiri sebagai objek untuk penelitiannya sendiri. Sehingga, apabila digunakan dalam kombinasi mereka, pasti akan membuat musuh sedikit tidak bisa berkutik.
Hime menggelengkan kepala dan menyentuh dahinya. Kemudian dia berkata, “Benar-benar sangat merepotkan saat Yuuki terkena efek ramuannya sendiri tuan. Dia linglung dan memandang sekitar dengan kebingungan. Untung saja, aku menyadarkannya dengan mencekoki potion Lily saat aku tahu bahwa dia membuat barang beracun.”
“Apa yang kau lihat Yuuki?” Tanya Leo kembali kepada Yuuki.
“Aku tetap berada di sini, tapi yang ku lihat bahwa kakak Hime ada banyak sekali yang membuat aku bingung. Bahkan aku sempat tidak tahu apakah ramuan racun itu berhasil atau tidak? apalagi kondisi tubuhku juga tidak bisa bergerak. Tapi sebenarnya ilusi tersebut tercipta secara acak, tidak mesti korbannya melihat sesuatu menjadi lebih banyak” Yuuki berkata dengan bangga meskipun dia merupakan korban dari ramuannya sendiri. “Emm, jika kakak penasaran, aku bisa memberitahukan apa bahannya.”
“Bukankah itu rahasia katamu?”
__ADS_1
“Hanya ada kakak Hime, Kakak Leo dan juga Araka. Jadi, kalian bukanlah orang asing bagiku. Lagipula, Araka juga sudah mengetahuinya saat dia bertanya secara terus menerus di telepati.” Ucap Yuuki.
“Bahannya adalah, daun teratai hitam, akar pisang emas, dan bunga sari telinga. Aku mengekstrak semua bahan itu menjadi satu. Dan terciptalah ramuan tersebut.” Sambungnya dengan menjelaskan.
“Itu menjijikkan.” Protes Araka.
Leo mengusap rambut Araka dengan lembut sebelum dia memberitahu Araka lebih dalam. “Kau harus terbiasa dengan ramuan yang akan dibuat oleh saudaramu. Itu akan sangat cocok dengan kombinasi pertarungan yang akan kalian buat.”
“Tapi ....” Araka ingin protes lagi. Tapi setelah itu dia hanya bisa menghela napas dan mengangguk dengan begitu pelan.
“Ah ya, setelah ini aku ingin melihat kombinasi kalian. Yuuki, jangan ragu untuk melemparkan racun yang kamu buat itu kepadaku.”
Yuuki sedikit terkejut, wajahnya terlihat masam saat dia disuruh untuk melakukan hal yang sembrono yaitu melemparkan potion tersebut kepada Leo saat latihan tadi. Hal tersebut jelas Yuuki ingin menolaknya, bahkan Araka sekalipun yang tampaknya ingin menunjukkan wajah protes.
Masalahnya, dia tidak tahu apakah ada sebuah kejadian yang tidak-tidak. Dan yang pastinya, dia juga tidak ingin melukai Leo secara berat. Apalagi persediaan potion bunga Lily hanya beberapa dan itu digunakan sebagai sebuah cadangan untuk warga desa Griefhaven.
Hime melambaikan tangannya, “Selamat bersenang-senang.”
......
Di ruang latihan, Leo sama sekali tidak membawa pedangnya. Di hadapannya, terdapat Yuuki yang mengaitkan ramuan di pinggangnya, serta memasang kuda-kuda untuk bersiap-siap melawan Leo.
Begitupun dengan Araka, dia mengangkat pedangnya dan memasang sebuah kuda-kuda. Tatapannya benar-benar tajam dan bersiap untuk melawan Leo sebagai ajang latihan tanpa ragu sedikitpun.
Leo menghela napas, dia kemudian mengayunkan tangannya untuk memberikan sebuah aba-aba untuk bersiap-siap.
“Mulai!” Leo memberikan sebuah aba-aba agar mereka bisa memulai untuk menyerang dirinya.
__ADS_1
Dan yang benar saja, keduanya seolah berlari secepat angin.
Pertama, Yuuki menyerang Leo tepat di hadapan Leo sendiri. Dia mengayunkan beberapa pukulan dan tendangan agar Leo lebih fokus dengannya. Sedangkan Araka, dia bergerak ke belakang, mendorong pedang kayunya ke arah punggung Leo.
Leo menganggap bahwa teknik milik mereka sudah sangat sering dilakukan. Sehingga, Leo bisa membacanya dan bisa menghindar secara terus menerus dengan begitu mudah.
Meskipun begitu, Leo sendiri cukup terkejut saat pola pertarungan mereka sedikit berubah. Dimana mereka kini berputar atau mengitari Leo secara terus menerus dengan sangat cepat sambil melancarkan sebuah serangan dari masing-masing mereka.
Hal tersebut membuat Leo mengangkat mulutnya dan ternganga karena dia kesulitan untuk bergerak secepat bayangan. Apalagi kondisi mereka yang menyerang dari segala sisi.
Tidak menyia-nyiakan waktu, Yuuki mengambil racunnya menggunakan sebuah esper tanpa dia mengambilnya secara langsung. Apa yang dia lakukan adalah mendorongnya tepat pada wajah Leo.
Hanya saja, kurang dari beberapa inci dan Leo sudah hendak bersiap. Araka juga menggunakan sebuah kemampuan esper untuk menarik potion tersebut. Sedangkan posisi pedang berpindah di tangan Yuuki dengan mudah.
Araka mundur ke belakang beberapa meter sambil melemparkan Phantasma. Yang membuat Leo sedikit menyadari dan hampir terkejut dengan kecepatan esper yang dilakukan oleh Araka. Sedangkan di depannya, Yuuki tengah mengayunkan pedang kayu dengan sangat cepat.
Leo mengulurkan tangannya ke depan, sehingga dia bisa meraih pergelangan tangan Yuuki karena dia sedikit menggunakan pedang secara amatir. Dan yang menjadi masalah saat ini, tentang Araka yang sudah melemparkan racun Phantasma tepat ke arah Leo. Sehingga, Leo sendiri merasa sedikit bimbang.
Andaikata Yuuki memang benar-benar musuh, dia bisa menarik pergelangan Yuuki dan menjadikan dia sebuah tameng bagi Leo. Sehingga yang terkena racun adalah Yuuki sendiri. Akan tetapi, Leo tidak akan melakukan hal tersebut kepada Yuuki. Apalagi unsur kaca pada ramuan tersebut pasti akan melukainya.
Apa yang dia lakukan saat itu adalah berpikir secara cepat selama beberapa mili detik sebelum memutuskan.
“Aku menyerah!”
Hampir beberapa inchi saja racun itu mengenai tubuh Leo, botol racun itu seketika berhenti, yang kemudian Araka menariknya kembali dengan menggunakan kemampuan esper miliknya.
Mengalahkan Leo, jelas dari wajah Yuuki dan juga Araka, mereka benar-benar berteriak dengan sangat senang. Bahkan wajahnya begitu ceria saat Leo mengaku menyerah di depan mereka.
__ADS_1