Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 10 ( Kembali terbangun )


__ADS_3

Rangga Wisesa sudah nampak terbaring lemah dihadapanku, aku sangat menyesal karena tidak bisa berbuat apa pun untuk membantunya.


Namun, tiba-tiba dia berkata :


"Terimakasih Istriku, kamu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku," lalu akhirnya mata Rangga Wisesa pun secara perlahan nampak tertutup.


"Bangun Rangga, aku mohon jangan tinggalkan aku, kamu sudah janji bahwa kita akan selalu hidup bersama untuk selamanya, aku mencintaimu Rangga, sungguh aku sangat..sangat.. mencintaimu," ucapku dengan tertunduk sedih.


Airmata ini pun pecah, disaat aku hampir mengingat semua kenangan indah bersama Rangga, namun, sekarang aku kembali dihadapkan dengan kenyataan pahit yang telah terjadi dengan kekasihku, bahkan di depan mata kepalaku sendiri.


"Rangga aku mohon bangun sayang," ucapku dengan meneteskan airmata hingga mengenai wajahnya.


Secara tiba-tiba rantai yang melilit tubuhku hilang bersamaan dengan Rangga Wisesa yang kembali terbangun. Lalu, dia berbicara dan menatapku dengan tersenyum,


"Jangan pernah menangis lagi sayang, airmata mu terlalu berharga, kamu hanya boleh menangis karena bahagia, tenang saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


Akhirnya kami pun saling berpelukan setelah melewati semua ketakutan jika nanti kenyataannya kami harus berpisah kembali.


"Wah..wah...wah...sungguh kisah cinta yang sangat mengharukan," ucap Raja Genderewo sambil bertepuk tangan.


Mungkin ini yang dinamakan kekuatan cinta, secara tiba-tiba Rangga Wisesa pun kembali berdiri untuk melawan Raja Genderewo.


"Jangan pernah berharap kamu bisa membawa Permaisuriku Genderewo, seujung kuku pun aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhnya lagi !!" ucap Rangga Wisesa.


Pertarungan pun akhirnya berlangsung kembali. Namun, kali ini terlihat seimbang, karena kekuatan Rangga nampaknya sudah kembali pulih.


Mereka saling menyerang mengeluarkan cahaya yang berbeda, Rangga mengeluarkan cahaya kuning, sedangkan Raja Genderewo mengeluarkan cahaya merah, sehingga akhirnya cahaya-cahaya tersebut pun saling bertubrukan dan mengeluarkan suara keras.


BUUUUM..Raja Genderewo nampak terpental jauh.


Sesaat kemudian.....


Dari Kejauhan aku melihat Cahaya putih yang sangat menyilaukan, sehingga akhirnya cahaya tersebut menghampiriku, rupanya itu adalah Arga.


"Arini ayo kita harus segera pergi dari tempat ini," ucap Arga dengan memegang erat tanganku.


"Maaf arga aku tidak bisa ikut denganmu, karena sekarang Rangga Wisesa sedang mempertaruhkan hidupnya demi melindungi diriku, dan sekarang aku pun sudah mengingat semuanya, Aku sangat mencintai Rangga Wisesa meski pun sekarang kita sudah berada di alam yang berbeda," ucapku pada Arga.


Sampai akhirnya aku menyuruh Arga untuk pergi meninggalkanku :


"Lebih baik sekarang kamu pergi dari tempat ini Arga, jangan pernah mencampuri urusanku lagi, dan apa pun yang terjadi aku ingin selamanya hidup bersama Rangga Wisesa SUAMIKU."


Arga nampak terdiam, aku melihat kesedihan dalam sorot matanya, aku tau dia sangat mencintaiku. Namun, aku tidak akan pernah bisa membalasnya karena hatiku hanya untuk Rangga Wisesa.

__ADS_1


"Arini sadarlah, sekarang kamu bukan lagi Roro Ajeng Istri dari Rangga Wisesa, tetapi kamu adalah Arini Purnama Maharani anak dari Bunda Ria dan Ayah Eko, lalu bagaimana kalau kamu sampai tidak kembali lagi kedalam tubuhmu sekarang? mereka pasti akan sedih jika kamu sampai meninggal," Ujar Arga.


Sekarang hatiku merasa bimbang, aku juga teringat dengan Ayah dan Bundaku. Namun, disisi lain aku tidak ingin lagi berpisah dengan Rangga Wisesa, Bisakah aku egois karena menginginkan keduanya? tanyaku dalam hati.


Sampai beberapa saat kemudian, Disaat Raja Genderewo lengah, Rangga pun nampak berhasil membuat Raja Genderewo terpental untuk kesekian kalinya, hingga akhirnya Rangga datang untuk menghampiri kami.


"Pergilah sekarang juga Permaisuriku sayang, disini terlalu berbahaya untukmu, sekarang belum saatnya untuk kita kembali bersatu, sabarlah sebentar lagi, aku pasti akan menjemputmu menuju Istana kita," ucap Rangga padaku.


"Tetapi bagaimana denganmu Rangga?aku takut terjadi sesuatu kepadamu," ucapku pada Rangga Wisesa.


"Tenang saja kamu tidak usah mengkhawatirkan keadaanku, karena sebentar lagi bala bantuan akan datang," jawab Rangga Wisesa


"Arga aku titip Istriku, bawalah kembali jiwa Istriku ke dalam tubuhnya, jaga dia baik-baik sebelum aku menemui kalian, pergilah sayang ikutlah dengan Arga," ucap Rangga dengan memeluk serta mencium keningku.


Dadaku terasa sesak sehingga aku pun kembali mengeluarkan airmataku.


"Hati - hati Suamiku, aku pasti akan sangat merindukanmu, aku pun melambaikan tangan kepada Rangga sebagai salam perpisahan sebelum akhirnya Arga kembali memegang erat tanganku serta mencoba untuk membawaku kembali lagi ke alam manusia."


Sesaat kemudian.....


Secara Perlahan aku berusaha untuk membuka mataku, Cahaya Mentari pagi membangunkanku dari tidur panjangku, sekarang aku dapat melihat bahwa di sampingku ada Ani dan Ida yang nampak terlelap sambil memeluk tubuhku.


Namun sepertinya mereka terganggu dengan gerakan tubuhku sehingga mereka berdua pun terbangun.


"Apa...? Bagaimana bisa aku pingsan selama dua hari sedangkan aku merasa baru saja tertidur sebentar?" tanyaku pada mereka.


Ani dan Ida kini menatapku dengan heran.


Kepalaku terasa berdenyut nyeri setelah mencoba untuk mengingat kembali tentang kejadian yang tadi katanya mimpi, Namun, bagiku terasa seperti nyata.


"RANGGA WISESA," teriakku sampai teman-temanku pun merasa terkejut.


Aku berusaha untuk bangun, namun, badanku terasa lemas.


"Arini, kamu harus istirahat dulu, saat ini kamu baru saja terbangun dari pingsan, jangan sampai memaksakan diri, kami tidak mau terjadi hal buruk lagi menimpamu," Ucap kedua temanku dengan terlihat sedih.


"Maafkan aku teman-teman karena sudah membuat kalian merasa khawatir, Akan tetapi sekarang aku harus segera mencari Rangga Wisesa, SUAMIKU."


"APA....?" Teriak mereka serempak.


"Kamu lagi ngerjain kita ya Rin? Mana mungkin kamu sudah Nikah, baru juga pingsan dua hari," ujar Ida dan Ani. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kamar yang kami tempati.


"Masuk saja Nek, gak dikunci kok," Ucap Ida.

__ADS_1


"Nek Ipah pun nampak masuk beserta Kakek Soleh dan juga Arga.


"Makasih ya Ga, tadi kamu sudah datang buat menyelamatkan nyawaku," ucapku pada Arga.


"Iya gak apa-apa Arini, itu semua sudah menjadi tugasku," jawab Arga.


Melihat percakapan kami berdua, teman-temanku pun nampak heran.


"Lho Arini kamu lagi ngigo ya? lagian dari tadi juga Arga ada disini kok, gak pergi kemana-mana," ucap Ida.


"Sebenarnya ada sesuatu hal yang belum kalian ketahui," aku pun berusaha untuk memilih kata-kata yang tepat untuk aku sampaikan kepada mereka, supaya mereka mengerti dengan yang aku ucapkan nantinya.


Mereka terlihat memasang kuping untuk mendengarkan ceritaku.


Aku sebenarnya adalah titisan Ratu siluman ular yang bernama Roro Ajeng,


Jauh sebelum aku dilahirkan, kedua orangtuaku tidak sengaja membunuh Roro Ajeng yang pada saat itu sedang menjelma menjadi seekor ular.


Rangga Wisesa adalah Suami dari Roro Ajeng, dia adalah Raja siluman ular.


Rangga tidak terima dengan kematian Roro Ajeng sehingga berusaha untuk membunuh kedua orangtuaku.


Disaat Rangga hampir membunuh orangtuaku, secara tiba-tiba sukma dari Roro Ajeng keluar dan mencoba untuk menghalangi Rangga.


Roro Ajeng pun berkata bahwa tidak sepenuhnya kedua orangtuaku bersalah atas kematiannya. Sehingga pada akhirnya Roro Ajeng memutuskan untuk masuk ke dalam rahim bundaku, supaya dia bisa terlahir kembali.


Akhirnya, Rangga Wisesa pun menyetujui usul dari Roro Ajeng, dengan syarat Rangga Wisesa akan mengambil kembali diriku disaat Ulang tahunku yang ke Delapan belas.


Ani dan Ida pun akhirnya nampak mengerti dengan ceritaku, sehingga mereka kembali bertanya.


"Lho Rin bukannya Ulang tahunmu tinggal satu minggu lagi yah?"


"Iya...Namun, bukan hal itu yang sekarang aku khawatirkan, tetapi sekarang aku malah takut jika aku sampai tidak bisa bertemu lagi dengan Rangga Wisesa."


"Kamu tuh harusnya seneng Rin, karena kalau seandainya Rangga Wisesa tidak bisa menemuimu lagi, berarti artinya kamu terbebas donk dari jerat siluman ular itu?" ujar Ida.


Namun, tiba-tiba hatiku terasa sesak mendengar ucapan dari teman-temanku, sehingga tangisku pun pecah.


"Kalian tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan sekarang ini, aku sudah mengingat semua tentang masalaluku, aku sangat mencintai Rangga Wisesa serta ingin hidup bersama dengannya untuk selamanya."


"Kamu yang sabar ya Rin, maafkan perkataan kami barusan yang telah membuatmu sakit hati," ujar Ani dan Ida.


Sehingga akhirnya kami bertiga pun kembali berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2