Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 39 ( Pertarungan melawan Raja Genderewo )


__ADS_3

Setelah Jiwa Ani dan Ida berhasil kembali ke alam manusia, Aditya, Kek Soleh, Bima dan Ayu pun kembali bersiap untuk bertarung dengan Raja Genderewo.


Grrrrr...grrrrr...grrrrr...


Huahahahahahahahahaha...


"Kalian pikir bisa dengan mudah mengalahkanku !" teriak suara yang tanpa wujud.


"Semuanya, kita harus berhati-hati, itu pasti suara Raja Genderewo," teriak Aditya.


Tiba-tiba cahaya merah melesat ke arah mereka sehingga mereka bertiga akhirnya terpental.


"Kalau berani tunjukan wujudmu yang sebenarnya, jangan menjadi pengecut !" teriak Aditya untuk memancing keluar Raja Genderewo.


Kini angin berhembus dengan kencangnya, dedaunan kering pun nampak beterbangan, mereka berusaha sekuat tenaga supaya tidak terbawa oleh angin.


Grrrrrr....grrrr.....grrrr...


suara Raja Genderewo terdengar menggema sehingga memekakkan telinga.


"Tutup telinga kalian, dan jangan putus berdzikir !" ujar Aditya.


Namun naas, Jerry yang berada disana pun terpental jauh entah kemana.


"MATI LAH KAU PENGKHIANAT !" teriak Raja Genderewo pada Jerry yang akhirnya kini menampakan wujud aslinya.


Kini sosok bertubuh tinggi besar, dengan bulu yang lebat sudah nampak di hadapan mereka, dan mereka pun mencoba untuk mengelilingi tubuh Raja Genderewo untuk bersiap menyerangnya.


"Manusia lemah seperti kalian tidak pantas melawanku, hmmmmm....sepertinya aku tertarik dengan dua anak kecil ini, rupanya mereka manusia setengah ular."


"Apa kalian anak Arini dan Rangga wisesa?" teriak Raja Genderewo pada Bima dan Ayu.


"Benar sekali om Wowo, om Wowo pinter juga ya, kenalkan aku Ayu, dan ini kakakku, namanya Bima," ucap Ayu yang mendapat pelototan dari Bima.


"Sekarang bukan saatnya kenalan Ayu," teriak Bima.


"Aku suka denganmu gadis kecil, kamu akan menjadi santapanku yang lezat dan aku pasti akan semakin bertambah kuat, Huahahahahahaha," Raja Genderewo pun tertawa dengan kerasnya.


"Om jangan kenceng-kenceng dong ketawanya, itu mulutnya bau banget, belum gosok gigi ya?" celetuk Ayu, hingga membuat Aditya dan Bima geleng-geleng kepala.


"Bismillah...Allahu akbar," teriak Aditya dengan mengarahkan tenaga dalamnya kepada tubuh Raja Genderewo disaat ia sedang lengah.


Duar..duar..duar...


terdengar suara keras membentur tubuh Raja Genderewo hingga kemudian terpental.

__ADS_1


"Beraninya kau menyerangku disaat aku sedang lengah," teriak Raja Genderewo.


"Apa bedanya denganmu yang tadi telah menyerang kami tanpa memperlihatkan wujudmu !" ucap Aditya dengan tersenyum.


"Ternyata tenagamu lumayan juga Aditya, setelah kau menikah dengan titisan Roro ajeng rupanya sekarang kekuatannya terserap oleh tubuhmu," ucap Raja Genderewo.


"Tapi tetap saja kalian semua bukanlah tandinganku !" Raja Genderewo berteriak dengan sombongnya serta berusaha mengeluarkan kekuatannya untuk menyerang mereka.


Srrrrt...srrrrt...srttt...crash...crash..crash..


Kilatan cahaya kini nampak mewarnai pertarungan mereka yang sedang berlangsung.


Namun, rupanya Kek Soleh terkena pukulan Raja Genderewo hingga jatuh tersungkur, lalu kemudian memuntahkan darah.


"Astagfirulloh Kek, Kakek tidak kenapa-napa kan?" tanya Aditya yang kini menghampirinya.


"Kakek tidak apa-apa Nak Aditya, sekarang Nak Aditya kembalilah bantu Bima dan Ayu, sepertinya mereka sudah kewalahan," jawab Kek Soleh.


"Iya Kek, sebaiknya Kakek pulanglah terlebih dahulu ke alam manusia, supaya dapat memulihkan tenaga dalam Kakek disana," ucap Aditya yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Kek Soleh.


Setelah Jiwa Kek Soleh kembali ke alam manusia, akhirnya Aditya pun kembali membantu Bima dan Ayu.


"Kalian tidak apa-apa kan Nak?" ketika Bima dan Ayu kembali terpental oleh hantaman Raja Genderewo.


"Alhamdulillah luka dalam kami tidak terlalu parah Yah," jawab Bima.


"PANAS..PANAS..hentikan bacaan itu !" teriak Raja Genderewo. Namun, sama sekali tidak mengusik konsentrasi Aditya, Bima dan Ayu.


Hingga beberapa saat kemudian tiba-tiba ada sebuah tombak yang melayang ke arah mereka, serta terdengar suara tanpa wujud.


"Bima, gunakanlah tombak itu sebagai senjata, lalu tancapkanlah tepat pada jantung Raja Genderewo."


"Suara siapa itu Bima?" tanya Aditya.


"Itu suara Ayahanda Rangga wisesa, meski pun Raga Ayahanda sudah tiada, akan tetapi sewaktu-waktu suaranya masih dapat kami dengar," jawab Bima.


"Kalau begitu Bima cepat lakukan perintah Rangga, jangan buang-buang waktu, biar ayah dan Ayu akan membantumu dari sini."


"Baik Ayah."


Akhirnya, Bima pun kini melesat menuju arah Raja Genderewo yang masih nampak kesakitan karena bacaan dzikir Aditya dan Ayu yang tidak pernah putus.


JLEB


Bima berhasil menusukkan tombak tepat pada jantung Raja Genderewo sehingga Raja genderewo semakin berteriak kesakitan.

__ADS_1


Aaaaaaaaaaaaaaa


sampai akhirnya tubuh Raja Genderewo terbakar hingga kemudian menjadi abu.


"Alhamdulillah..." ucap mereka bertiga secara bersamaan, dan kemudian mereka pun berpelukan.


"Terimakasih Rangga wisesa kamu sudah membantu kami," ucap Aditya.


"Ayah sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini, karena sepertinya kerajaan Genderewo akan hancur," ucap Bima. hingga akhirnya mereka bertiga kembali ke alam manusia dan Aditya pun masuk kembali ke dalam raganya.


"Alhamdulillah.." ucap Arini dan Kek Soleh yang masih berada di samping Aditya.


"Kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya Arini kepada Aditya.


"Alhamdulillah kami bertiga baik-baik saja dan sudah berhasil mengalahkan Raja Genderewo atas ijin Alloh SWT serta bantuan dari Rangga Wisesa yang memberikan tombak kepada Bima," jawab Aditya.


Arini yang senang pun langsung berhambur memeluk suaminya.


"Ibunda," teriak Ayu dan Bima yang kemudian ikut berpelukan dengan mereka.


Kek Soleh yang melihat keharmonisan keluarga Arini pun tersenyum melihat semua itu.


Semoga keluarga kalian selalu berbahagia Nak Arini, ucap Kek Soleh dalam hati.


Beberapa saat kemudian Bima dan Ayu pun memutuskan untuk kembali ke Kerajaan siluman ular.


"Ibunda jaga diri baik-baik ya, kami tidak bisa berlama-lama disini, karena kasihan kakek pasti sudah menunggu kami untuk pulang."


"Iya sayang jaga diri kalian juga, mudah-mudahan secepatnya kita akan kembali bertemu," ucap Arini kepada kedua anaknya.


"Ayah Aditya tolong jaga Ibunda dan adik kita baik-baik ya," ucap ayu yang mendapat tatapan bingung dari Aditya dan Arini.


"Ayu dan kak Bima sebentar lagi akan punya adik dari ayah dan Ibunda." kini Aditya dan Arini pun nampak tersenyum mendengar ucapan Ayu.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya," ucap Bima dan Ayu yang kemudian mencium punggung tangan Arini, Aditya dan Kek Soleh, sampai akhirnya mereka berdua menghilang setelah mengucapkan Salam.


"Nak Arini, Nak Aditya, Kakek sebaiknya menemui Nek Ipah dulu ya untuk menanyakan kabar Ida," ucap Kek Soleh.


"Kami juga akan ikut ke sana Kek, kami berdua ingin melihat keadaan Ida sekarang," jawab Arini.


Kemudian akhirnya mereka bertiga berjalan menuju ruang ICU tempat Ida di rawat. Akan tetapi, Nek Ipah beserta kedua orangtua Ida tidak terlihat keberadaannya, sehingga kemudian suster keluar dari ruangan tersebut dan Arini pun memutuskan untuk bertanya.


"Sus, pasien atas nama Ida apa masih ada di dalam?"


"Maaf Bu, pasien atas nama Ida barusan sudah di pindahkan ke ruang perawatan, alhamdulillah kondisinya sudah membaik serta sudah sadar dari koma nya," jawab suster tersebut.

__ADS_1


"Alhamdulillah..." ucap Arini, Aditya dan Kek Soleh secara bersamaan.


__ADS_2