
Kuntilanak Mirna kini meminta ijin kepada kami untuk tinggal di lingkungan Pesantren.
"Arini boleh ya aku tinggal disini, nanti aku bisa bantu jagain bayi kamu," rengek Mirna.
"Gak bisa, pokoknya kamu harus kembali lagi ke asal mu, aku gak mau kalau sampai anakku yang ada di dalam kandungan istriku sekarang menjadi sawan gara-gara melihat kamu," jawab mas Aditya.
"Ya sudah kalau Mirna gak boleh tinggal disini, aku aja ya mas ganteng yang tinggal disini, biar aku yang bisa selalu berada di sisimu," ujar kuntilanak Ganjen.
"Eh enak aja ya pengen deket-deket suami aku, sekarang juga kamu harus pergi dari sini, lagian mas kenapa sih sampai lupa buat pagar ghaib, jadi mereka bisa masuk kan?" ucapku yang tidak rela kalau ada wanita lain yang mencoba mendekati suamiku, walau pun itu hantu.
"Istri mas ganteng nyeremin banget sih, bahkan lebih seram dari hantu, padahal sih aku sudah menerima dengan ikhlas walau pun harus menjadi istri kedua," ucap Kuntilanak Ganjen tanpa tahu malu.
"Apa kamu bilang? aku lebih seram dari hantu? apa kamu gak mikir kamu itu hantu?" aku pun berteriak karena tidak rela dengan perkataan si Ganjen.
"Kalau begitu sebaiknya kamu pergi dari tempat ini sebelum aku memusnahkan kamu !!" ucap mas Aditya kepada si Ganjen, kemudian dia pun pergi karena takut oleh ancaman mas Aditya.
"Sayang terus sekarang Mirna bagaimana?" tanya mas Aditya yang kini meminta pendapatku.
"Mirna, karena dulu kamu pernah membantu kami melawan Kuntilanak Merah, aku mengijinkan kamu untuk tinggal disini, tapi dengan syarat kamu harus masuk ke dalam agama yang kami anut, dan jangan mencoba mengganggu siapa pun yang tinggal di Pesantren ini, apalagi kalau sampai kecentilan sama cowok-cowok disini !!" jelas ku kepada Mirna.
"Iya Arini cantik, aku janji tidak akan melanggar semuanya, aku juga bakalan belajar mendalami tentang agama kalian, dan pastinya kita akan bisa main salon-salonan lagi kayak dulu ya kan Da?" ujar Mirna yang kini langsung berhambur memeluk Ida, dan Ida pun sudah tidak takut lagi kepada Mirna apalagi dia sudah beralih ke mode cantik.
"Duh senengnya punya keluarga baru," ucap Mirna.
"Oh ya Da, Bunda kemana? kok daritadi gak kelihatan?" tanyaku pada Ida.
"Bunda sepertinya masih tiduran, mungkin Bunda kecapean karena tadi habis bantu para santriwati masak, jawab Ida.
Aku sebenarnya merasa khawatir, karena akhir-akhir ini Bunda jadi sering mudah sakit.
__ADS_1
"Ya sudah kami permisi ke kamar dulu ya," ucapku pada semuanya dengan menarik tangan mas Aditya.
"Inget masih sore Rin," celetuk Ida.
"Aku masih inget, dulu aja Arini ogah-ogahan tuh sama mas Aditya, sekarang aja pengennya nempel terus," ujar Mirna.
"Kalian itu pikirannya pasti ngeres kan? udah aku mau Sholat Ashar dulu," ucapku kemudian berlalu ke dalam kamar.
"Kamu kenapa sih sayang sepertinya ada yang lagi kamu pikirkan ya?" tanya mas Aditya padaku.
"Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan Bunda mas, apalagi akhir-akhir ini Bunda jadi mudah sakit."
"Mas tahu bukan hanya itu saja kan yang menjadi pikiran kamu?" tanya mas Aditya yang nampak curiga kepadaku karena mencoba menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sebenarnya sudah beberapa kali aku bermimpi bertemu dengan Ayah, dalam mimpiku ayah selalu berkata bahwa beliau akan segera menjemput Bunda, aku takut mas kalau Bunda juga meninggalkanku seperti Ayah," ucapku dengan menangis dalam pelukan mas Aditya.
......................
Satu bulan pun kini telah berlalu, besok adalah hari Pernikahan Ida dan mas Abdul. Pernikahan Ida memang sengaja di adakan di Pesantren, karena Ida ingin aku hadir di acara Pernikahannya. Semua keluarga Ida dan mas Abdul sudah datang untuk menghadiri Pernikahan mereka, termasuk Ibu dan Ayahnya mendiang Ani, mereka juga datang mewakili Ani yang sudah pergi meninggalkan kita semua.
Aku juga senang karena dapat kembali bertemu dengan Nek Ipah dan Kek Soleh, dan ternyata kedua anak ku pun Bima dan Ayu ikut bersama mereka datang kesini.
"Assalamu'alaikum Ibunda," ucap mereka yang kini masuk ke dalam kamarku.
"Wa'alaikumsalam, sayang kalian kapan datang?" tanyaku pada Bima dan Ayu.
"Kami baru saja datang kok Ibunda, ikut bareng sama kek Soleh dan Nek Ipah," jawab Ayu.
"Lho kalian kan bisa menghilang? kenapa harus ikut Nek Ipah dan Kek Soleh?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Iya Ibunda, ini semua usul Ayu, katanya dia ingin mencoba naik mobil kayak manusia," ucap Bima yang nampak kesal.
"Tapi kan seru juga kak naik mobil, tadi aja kakak sampai ketiduran," balas Ayu tidak mau kalah.
Bima dan Ayu memang hanya bisa terlihat oleh orang-orang yang mereka kehendaki saja, dan disaat Bunda masuk ke kamarku, beliau nampak terkejut melihat mereka berdua.
"Arini sayang, siapa mereka? kenapa mereka berdua mirip sekali sama kamu dan nak Rangga?" tanya Bunda yang memang belum mengetahui tentang Bima dan Ayu.
"Mereka berdua adalah anak ku bersama Rangga wisesa, karena pada waktu aku disini sedang koma, jiwaku disana sudah Menikah dengan Rangga, sehingga kami memiliki dua anak kembar," jelas ku pada Bunda yang masih nampak terlihat heran. Kemudian mas Aditya pun menyusul masuk ke dalam kamar.
"Bima, Ayu, kenapa kalian berdua mau kesini tidak bilang dulu sama Ayah?" tanya Aditya. Dan Bunda pun kini semakin heran.
"Jadi Nak Aditya juga sudah mengetahui kalau sebenarnya Arini punya anak dari nak Rangga?" tanya Bunda pada suamiku.
"Iya Bunda, dan merekalah yang sudah mengalahkan Raja Genderewo sehingga Arini sekarang bisa terbebas dari gangguannya," ujar mas Aditya.
"Tapi Bunda heran kenapa mereka sudah besar, padahal Arini hanya tinggal disana selama dua tahun saja?" tanya Bunda kembali.
"Dunia kita dan disana itu berbeda Bunda, disana segala sesuatu itu terjadi lebih cepat dibandingkan dengan disini, jadi Bunda tidak perlu heran dengan pertumbuhan mereka yang cepat sekali menjadi dewasa," jelas mas Aditya, Kini Bunda pun mengerti lalu kemudian menghampiri Bima dan Ayu dan memeluk mereka berdua.
"Akhirnya kami bisa bertemu juga dengan Nenek, Kakek juga disana selalu menceritakan tentang Nenek yang cantik dan baik hati," ucap Ayu yang sudah keceplosan, padahal kita semua yang mengetahui bahwa Ayah masih terjebak di alam sana sudah sepakat untuk menutupinya dari Bunda.
"Apa maksud Ayu berbicara tentang Kakek? apa Ayah juga sekarang masih ada di Alam Siluman Ular?" tanya Bunda yang kini nampak meminta penjelasan kepada kami.
"Kami bisa menjelaskan semuanya Bunda, sekarang Bunda tenang dulu," ucap mas Aditya sehingga mas Aditya menyuruh aku untuk menceritakan semuanya kepada Bunda.
"Sayang, sebaiknya sekarang kamu ceritakan kepada Bunda tentang semua yang sudah kamu alami sewaktu koma," ucap mas Aditya.
Dan kini aku pun sedang memikirkan kata yang tepat untuk aku jelaskan kepada Bunda, supaya Bunda tidak merasa bersedih dengan keberadaan Ayah sekarang yang masih belum kembali ke tempat seharusnya.
__ADS_1