
Matahari kini telah menampakan diri dari persembunyiannya, Mudah-mudahan hari ini dan seterusnya berjalan dengan lancar Ya Alloh, ucapku dalam do'a.
Setelah melakukan sholat subuh berjamaah, aku dan Ani pun memutuskan untuk ikut membantu Nek Ipah memasak di dapur, Kami tidak berani membangunkan Ida karena kejadian semalam, lagian malah Ida sekarang yang lagi PMS.
Hari ini rencananya aku mau masak Pindang Ikan mas, karena tadi pagi Kek Soleh dan Arga sudah mengambil ikan di empang.
Cara memasak disini pun masih tradisional yakni dengan menggunakan tungku serta kayu bakar, makanya kalau dingin-dingin gini tempat favorit kami ngumpul di depan tungku.
"Oh ya Rin, semalam sebenernya Ida kenapa sih sampai pingsan gitu?" Ani pun memulai percakapan pada pagi hari ini.
"Kalau di ceritain semuanya terlalu panjang Ni, tapi intinya dia pingsan karena semalam di gangguin oleh setan kuntilanak yang lagi numpang mandi di empang," jawabku pada Ani.
"Iiiiiiiiih...serem banget sih Rin...jadi takut deh kalau ke empang sendirian malem-malem," ujar Ani.
Aku tidak menceritakan kejadian sebenarnya tentang Ida yang pingsan karena mengetahui kebenaran tentang Arga, toh nanti juga Ida pasti cerita yang sebenarnya sama Ani.
"Yang penting kita jangan putus baca do'a aja Ni, terus kalau ada yang mau ke toilet malem-malem saling antar aja, kamu sih malem dibangunin sama Ida katanya susah banget," ucapku.
"Iiiiih....Arini aku tuh bukannya gak denger Ida bangunin, cuma tanggung karena lagi asyik-asyiknya mimpi pacaran sama Lee Min Hoo, tuh yang lagi duduk di sebelah kamu," tunjuk Ani dengan menunjuk Arga menggunakan dagunya.
"Ani...Ani..kamu tuh ada-ada aja sih," inget noh ada orangnya jangan suka kecentilan," ucapku mengingatkan Ani.
Arga pun hanya tersenyum mendengar percakapan kami.
Apa Ani masih akan tetep mengagumi Arga ya, kalau dia mengetahui tentang jati diri Arga yang sebenarnya? gumamku dalam hati.
Kini waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi, setelah kami semua beres sarapan, termasuk dengan Ida yang tadi sudah bangun setelah mencium aroma masakan, akhirnya aku bersama Arga beserta kedua temanku berencana untuk bermain ke Air terjun.
Sepanjang perjalanan Arga terus saja berusaha memegangi tanganku dengan erat, aku pun selalu berusaha untuk menepisnya, karena aku tau ini salah sebab kami bukanlah muhrim, tapi dia memohon katanya untuk yang terakhir kalinya sebelum dia pergi, sampai akhirnya sepanjang perjalanan aku pun membiarkan Arga untuk menggenggam tanganku.
Ani dan Ida yang berjalan di depan kami kini terdengar kasak-kusuk bergosip. Namun, Aku tahu kalau sebenarnya pasti Ida sedang menceritakan tentang kejadian yang dia alami semalam serta berusaha untuk menceritakan kepada Ani soal kebenaran tentang Arga.
__ADS_1
Aku tidak terlalu memikirkan tentang pembahasan mereka apa pun itu, tapi sekarang yang aku pikirkan adalah Rangga Wisesa, aku ingin sekali mengetahui keadaannya.
Mungkin di kehidupanku yang sekarang Rangga Wisesa bukanlah Suamiku, aku pun menyadari hal itu, tetapi pada kenyataannya kini setelah aku mengetahui semuanya aku merasa Rangga Wisesa adalah belahan jiwaku.
Beberapa saat kemudian kami berempat pun akhirnya sampai di bawah Air terjun, karena jarak dari rumah Nek Ipah kesini tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.
Ani dan Ida pun sudah nampak bermain air di bawah Air Terjun, mereka berdua mengajakku, tapi suasana hatiku kini sedang tidak baik, jadi aku berusaha menolak mereka dengan bilang lagi gak enak badan.
Ini baru pertama kalinya aku bermain kesini saat di dunia nyata, karena sebelumnya aku kesini hanya dalam mimpi saja.
Arga nampaknya mengetahui tentang kegundahan hatiku, dia sampai beberapa kali terlihat membuang napas.
"Rin, ayo sekarang cepat kamu ikut aku, aku akan mengajakmu ke sebuah tempat," ucap Arga dengan menarik tangan kanan ku.
"Sekarang coba pejamkan matamu," pinta Arga.
"Arga aku gak mau ya kalau kamu mau aneh-aneh, kamu modus kan mau cium aku?" tanyaku padanya.
Mungkin wajahku sekarang merah kayak kepiting rebus, saking malunya karena sudah berpikiran negatif kepada Arga, sehingga akhirnya aku pun menyangkal pertanyaan Arga.
"Enggak..enggak, siapa juga yang mikir jorok, Ya udah gak usah ngambek lagi ya, maafin aku, udah nih sekarang aku udah merem, kamu mau ngapain aku sekarang? ucapku pada Arga.
Secara tiba-tiba Arga memegang erat tanganku, hingga beberapa saat kemudian dia kembali berkata,
"Ayo sekarang buka matamu Arini", titah Arga.
Secara perlahan aku mencoba membuka mataku, hingga mataku membulat melihat keberadaanku sekarang ini.
"Lho bukannya ini Istana Rangga Wisesa?" tanyaku pada Arga sambil melihat ke sekeliling.
"Iya Arini aku tau kamu sangat merindukan Rangga Wisesa kan? makanya aku membawamu untuk menemuinya."
__ADS_1
Aku pun merasa terharu dengan pengorbanan yang Arga lakukan, ini semua pasti tidak mudah untuknya, hatinya pasti sangat sakit karena sudah mengantarkan orang yang dia cintai untuk menemui lelaki lain.
"Terimakasih banyak Arga," saking senangnya sampai- sampai aku memeluknya.
"Sama-sama Arini, Ayo cepetan masuk sana sebelum aku berubah pikiran," ucapnya lagi dengan tersenyum. Namun, aku dapat melihat dengan jelas matanya kini berkaca-kaca karena menahan tangis.
"Oh iya..nanti pulangnya aku gimana?" tanyaku pada Arga.
"Tenang saja nanti malam aku pasti akan menjemputmu kembali sambil melihat keadaan Arga. Namun, jika kamu membutuhkan sesuatu maka tutuplah matamu serta panggil namaku tiga kali," jawab Arga.
"Wah kaya manggil om Jin donk?" celetukku pada Arga.
"Memangnya kamu lupa kalau sebenarnya aku ini Om Jin?" ucap arga sambil mengelus kepalaku yang tertutup hijab.
Sampai akhirnya aku masuk pun dia nampak masih berdiri mematung melihat kepergianku.
Aku pun mencoba untuk membuka pintu utama Istana dengan membacakan Basmallah, Nampak dayang dan pengawal tertunduk hormat padaku, aku sempat terkejut karena sudah melihat wujud mereka sebenarnya, yaitu manusia setengah ular, dari atas sampai pinggang mereka berwujud manusia, namun dari pinggang ke bawah mereka berwujud ular. Namun, anehnya aku tidak merasa takut sedikit pun, mungkin karena dulu aku juga memiliki wujud yang sama dengan mereka.
Beberapa dayang nampak berjalan untuk membawaku masuk ke dalam kamar Rangga Wisesa.
Tiba-tiba aku berteriak sambil menangis karena melihat keadaan Rangga yang memiliki luka lebam pada sekujur tubuhnya, dia nampak terbaring lemah, dan tanpa basa basi aku pun langsung berlari untuk memeluknya.
"Rangga kenapa tubuhmu menjadi seperti ini? maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu," ucapku padanya dengan mengurai pelukanku.
Akhirnya dengan perlahan Rangga terlihat mencoba untuk membuka matanya.
"Apa aku sedang bermimpi karena sudah melihat Permaisuriku kini berada di hadapanku," Ucap Rangga.
"Ini bukan mimpi sayang, aku kesini datang untuk melihat keadaanmu," jawabku pada Rangga Wisesa.
Aku pun akhirnya meminta pelayan untuk membawakan obat-obatan tradisional serta air panas untuk mengompres tubuh Rangga yang panas.
__ADS_1
Maafkan aku Ya Alloh, aku tau aku sudah berbuat dosa karena sudah mencintai lelaki yang bukan manusia, hamba mohon ampunilah semua dosa hamba, do'a ku dalam hati.