
Aku nampak heran melihat pemuda yang tempo hari terlihat berada di bawah Air Terjun, dia melihat ke arah kami dengan tatapan yang sepertinya sedang menahan amarah, sampai-sampai matanya terlihat seperti mengeluarkan cahaya berwarna merah.
Tapi hatiku merasakan sakit disaat kami saling bertatapan, aku seperti sudah lama menahan kerinduan yang teramat dalam padanya, entah kenapa aku pun merasa bingung dengan perasaanku saat ini, padahal aku baru beberapa kali saja melihatnya, akan tetapi rasanya sudah lama sekali kami saling mengenal.
Tiba-tiba sekilas aku melihat wajahnya mengeluarkan sisik seperti ular.
"Astagfirulloh...." aku pun langsung lari menuju ke dalam rumah saking takutnya.
"Lho kenapa dengan Arini? kok tiba-tiba dia lari dan masuk ke dalam rumah?" tanya Ani kepada Ida.
Kemudian mereka saling tatap karena merasa kebingungan, sampai akhirnya mereka menyusulku ke dalam kamar.
"Rin kamu kenapa? kok tiba-tiba seperti orang yang merasa ketakutan gitu sih?" tanya mereka padaku.
Sebenarnya aku ingin sekali menceritakan kepada mereka tentang kejadian yang selama ini aku alami, namun aku takut mereka malah ketakutan mendengar ceritaku, karena aku pun belum mengetahui semua kebenarannya secara pasti.
"Aku enggak apa-apa kok, cuma lagi gak enak badan aja," jawabku pada mereka supaya mereka tidak merasa cemas.
"Ya sudah kalau begitu kita sarapan dulu yu, cacing-cacing dalam perutku udah mulai pada demo nih, kamu juga pasti sudah laparkan? tadi kamu kan muntah - muntah terus," ajak Ida padaku.
"Emang otak kamu mah isinya makanan semua Da, jadi kalau soal makanan Ida pasti ingat terus tuh," ledek Ani.
"Udah-udah kalian ini kapan akurnya sih, apa aja pasti diributin," ujarku mencoba untuk menengahi mereka.
Kami bertiga pun akhirnya keluar dari kamar, namun diluar sudah nampak ada Arga yang sedang berbicara dengan kakek soleh ( nama kakeknya Ida ).
Aku tidak dapat mendengar pembicaraan mereka karena jarak kami terlalu jauh, namun sepertinya mereka sedang mengobrolkan hal yang sangat serius, entah ada masalah apa yang terjadi.
Nek Ipah sempat mengajak mereka untuk makan bersama, tapi Kek Soleh menyuruh kami supaya sarapan duluan saja.
.....................
__ADS_1
Kek Soleh kini mengajak Arga untuk berbicara,
"Kamu siapa sebenarnya? kenapa sampai bisa berada di rumahku?" tanya Kek Soleh pada Arga.
"Perkenalkan namaku Arga Ki," jawab Arga kepada kakek Soleh dengan menjabat tangannya.
"Aku tahu Arga kalau kamu bukanlah seorang manusia, tapi aku pun bisa merasakan kalau kamu termasuk golongan jin baik," ujar Kek Soleh.
"Iya Ki, aku kesini bertujuan untuk menjaga Arini, karena Rangga Wisesa terus saja berusaha untuk membawa Arini masuk ke alamnya."
"Sebenarnya aku sudah mengetahui semuanya dari awal, kalau sebenarnya Arini adalah titisan Ratu Siluman Ular Roro Ajeng yang tak lain yaitu istri dari Rangga Wisesa," ucap Kek Soleh.
"Apa Aki bisa menceritakan awal mula semua ini terjadi?" pinta Arga sehingga Kakek Soleh pun mulai bercerita.
Sebenarnya aku mengetahui semua cerita ini dari Ki Jarot, dahulu dia adalah kuncen di Air terjun ini.
Awal Petaka ini bermula dari Air Terjun, dan itu terjadi jauh sebelum Arini dilahirkan. Kedua orangtua arini sempat melakukan camping di dekat Air Terjun, dan mereka masih termasuk Pengantin baru.
Padahal cuaca pada saat itu sedang cerah, namun tiba-tiba berubah menjadi gelap, petir pun terdengar menggelegar, seakan Alam semesta ikut marah dan bersedih dengan kematian ular tersebut sehingga akhirnya hujan badai pun turun dengan derasnya.
Kaki orangtua Arini sampai tidak bisa melangkah dari bawah Air terjun, sebelum akhirnya Rangga Wisesa datang dengan amarah yang kian membuncah.
"RORO AJENG....." teriak Rangga Wisesa yang langsung memeluk tubuh ular yang sempat di bunuh oleh Ayahnya Arini, dan wujud ular itu pun kini telah berubah menjadi sosok Ratu Roro Ajeng.
Kedua orangtua Arini nampak terkejut dengan kejadian yang ada di depan mata mereka, sehingga mereka merasa ketakutan melihat amarah Rangga Wisesa.
"Manusia biadab kalian...tega sekali membunuh Permaisuriku, sekarang juga aku akan membunuh kalian berdua untuk membalaskan dendam kematian Istriku," teriak Rangga Wisesa.
"Maafkan Aku kisanak, Aku tidak tahu kalau Ular yang tidak sengaja sudah aku bunuh adalah istri kisanak, aku hanya berusaha untuk melindungi istriku dari ular tersebut yang hendak menggigit kakinya."
"Haaaah....Banyak omong kalian, hutang nyawa harus dibayar kembali dengan nyawa, kalau istrimu tadi tidak menginjak ekor istriku dia pun tidak akan berusaha untuk menggigitnya, padahal tadi istriku hanya berusaha melewati kalian saja untuk masuk ke dalam Istana kami," teriak Rangga Wisesa.
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan kami kisanak, tolong jangan bunuh kami."
Karena Rangga Wisesa sudah diliputi oleh amarah yang membuncah, dia pun sudah bersiap mengeluarkan tenaga dalamnya yang bertujuan untuk membunuh kedua orangtua Arini. Namun, semua itu terhalang karena tiba-tiba Sukma Roro Ajeng kini berada di hadapan mereka.
"Hentikan suamiku, jangan kau bunuh mereka, mungkin ini semua sudah takdirku, kejadian ini juga tidak sepenuhnya kesalahan mereka Namun, sebagai hukumannya sukmaku akan masuk ke dalam rahim istri dari orang yang telah membunuhku, dan nanti aku akan terlahir kembali, sehingga akhirnya kita akan kembali bersama lagi untuk selamanya," ucap Roro Ajeng.
Tiba-tiba Sukma dari Roro Ajeng pun menghilang dan masuk ke dalam rahim Ibunya Arini. dan seiring dengan amarah Rangga Wisesa yang mulai reda, secara tiba-tiba hujan badai pun berhenti dan cuaca akhirnya kembali cerah.
"Kalian hari ini lolos, tapi ingat baik-baik, disaat bulan Purnama yang bertepatan dengan usia anak kalian ke delapan belas tahun, aku akan menjemput istriku kembali yang nanti akan terlahir menjadi anak kalian berdua, sekarang kalian berdua pergilah dari tempat ini sebelum amarahku datang kembali."
Semua itu terasa seperti mimpi buruk untuk kedua orangtua Arini, mereka pun bergegas pergi meninggalkan Rangga Wisesa yang masih terpuruk dengan memeluk tubuh Roro Ajeng. Namun, sebelum mereka kembali pulang ke kota, mereka terlebih dahulu menemui Ki Jarot, dan kebetulan rumah yang kakek tempati sekarang ini dahulunya adalah rumah Ki Jarot.
Kedua orangtua Arini pun menceritakan semua kejadian yang mereka alami kepada Ki Jarot.
"Ki apakah benar kutukan Siluman ular itu, bahwa istriku kelak akan melahirkan titisan dari Roro Ajeng?" tanya ayahnya Arini.
"Iya benar, dan aku tidak bisa menolong kalian, karena semua itu diluar kemampuanku," jawab Ki Jarot.
"Terus apa yang bisa kami lakukan Ki?" tanya Bundanya Arini.
"Didiklah anak kalian dengan baik, jadikan dia anak yang soleha, maka insyaalloh nanti Rangga Wisesa tidak akan bisa membawanya, kecuali atas keinginan putri kalian sendiri."
"Sekarang cepatlah kalian pergi dari tempat ini, Rangga Wisesa bukanlah Siluman Ular biasa, tetapi dia adalah penguasa di wilayah ini." Akhirnya kedua orangtua Arini pun pulang ke kota dengan pikiran yang berkecamuk. akhir cerita kakek Soleh.
"mungkin memang benar Arini adalah titisan dari Roro ajeng, tapi sekarang Rangga dan Arini hidup di alam yang berbeda, jadi tidak akan mungkin bisa bersatu kembali kan Ki?" tanya Arga.
"Entahlah Nak Arga, kakek juga masih belum mengetahui cara apa yang akan dilakukan oleh Rangga Wisesa nanti supaya mereka dapat bersatu kembali, tapi apa bedanya Rangga denganmu sekarang yang sama-sama mengharapkan cinta Arini?" ujar Ki Soleh.
"Iya Ki aku tahu kalau aku juga salah, bahkan demi bisa menjaganya setiap waktu aku bersedia masuk ke dalam agama yang Arini anut, supaya aku tidak lagi kepanasan kalau dia melakukan sembahyang serta membaca ayat-ayat suci," jawab Arga.
"Aku tahu semua Pengobananmu Arga, tapi sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berharap kepada Arini, karena kalian juga tidak akan mungkin bisa bersatu," ujar Ki Soleh.
__ADS_1
"Iya Ki, aku hanya ingin menjaganya saja dari Rangga Wisesa, karena aku tidak mau kalau Arini sampai dibawa oleh Rangga Wisesa menuju alamnya," jawab Arga.