Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 18 ( Misi Penyelamatan Arini )


__ADS_3

Kakek Soleh bertanya kepada Rangga Wisesa dan Arga tentang keadaan Arini yang saat ini masih terjebak di Kerajaan Genderewo.


"Bagaimana Rangga, Arga, apa kalian sudah bisa berkomunikasi dengan Arini?" tanya Kek Soleh.


"Kami sudah berhasil berkomunikasi dengan Arini Ki, tapi pagar ghaib disana terlalu kuat sehingga susah untuk kami tembus," jawab Arga.


"Sepertinya makhluk halus seperti kami memang tidak akan bisa memasuki pagar ghaib di Kerajaan Genderewo, kecuali ada manusia yang bersedia melepas raganya kemudian pergi ke alam sana untuk menyelamatkan Arini," ucap Rangga Wisesa.


"Mungkin sebaiknya Aki saja yang pergi ke sana. Bagaimana Arga, Rangga, apa kalian setuju?" tanya Kek soleh.


"Bukannya aku tidak menyetujui usul Aki, namun yang bisa masuk ke sana hanyalah perempuan yang masih suci atau perawan, dan kalau lelaki harus yang masih perjaka juga," tambah Rangga.


"Susah juga kalau persyaratannya harus seperti itu," jawab Kek Soleh. Namun, beberapa saat kemudian Ani dan Ida nampak keluar dari kamar.


"Biar kami saja Kek yang pergi ke sana untuk menyelamatkan Arini, karena Arini adalah teman sekaligus saudara terbaik bagi kami," ujar Ida dan Ani.


"Tapi ini semua terlalu berbahaya, dan Kakek tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan kalian, karena kami juga tidak akan bisa mendampingi kalian," jawab Kek Soleh yang kini terlihat khawatir.


"Tenang saja Ki meski pun mereka tidak mempunyai ilmu kanuragan dan kita tidak bisa mendampinginya secara langsung, tapi dari sini kita bisa berusaha menyalurkan kekuatan yang kita punya melalui tubuh mereka," ujar Rangga Wisesa.


"Lalu jika kita semua melakukan ritual penyelamatan terhadap Arini, siapa nanti yang akan menjaga Raga Arini?" tanya Arga.


"Tenang saja, kalian tidak usah khawatir, disini ada Nenek", ujar Nek Ipah dari dalam kamar. Namun, kini Ani dan Ida nampak Salfok karena melihat wajah Rangga Wisesa yang Rupawan.


"Pantas saja Arini tidak bisa move on dari Rangga Wisesa ya Ni, orang ketampanannya melewati batas gitu, ampe bikin semua cewek klepek-klepek," ucap Ida.


"Woooy...jaga tuh mata kalian, udah kayak serigala kelaparan aja kalau lihat cowok ganteng, sekarang bukan saatnya kalian mengagumi Rangga, awas tu mata nanti gue colok," ucap Arga saking kesalnya melihat kelakuan Ida dan Ani yang tidak tau situasi.


"Ida dan Ani, sekarang kalian berdua cepat ambil wudhu dulu, biar kita bisa secepatnya memulai ritual," ujar Kek Soleh. Sehingga Ida dan Ani pun terlihat melangkahkan kaki menuju empang.


beberapa saat kemudian...


"Ani, Ida apa kalian sudah siap?" tanya Kek Soleh.


"Iya Kek," ucap Ani dan Ida secara bersamaan.

__ADS_1


"Sekarang kalian berdua duduk di depan tubuh kakek," titah Kek soleh pada Ani dan Ida.


"Kalian bacalah basmallah, lalu cobalah tutup mata kalian, berkonsentrasilah dan terus panggil nama Arini", ucap Kek Soleh kembali.


"Rangga, Arga apa kalian juga sudah siap?"


"Iya Ki," ucap Rangga dan Arga secara bersamaan, lalu mereka pun duduk bersila di belakang Ki Soleh serta menempelkan tangan kepada pundak Ki Soleh, kemudian mereka berdua mencoba untuk menyalurkan tenaga dalamnya.


Beberapa saat kemudian jiwa Ani dan Ida nampak keluar dari raganya...


"Ani coba lihat deh ke bawah, akhirnya kita berdua bisa melayang, aku jadi merasa seperti hantu Casper deh," ujar Ida dengan cekikikan.


"Kalian dengarkanlah suara Kakek, sekarang kalian masuklah kedalam cahaya putih yang berada di hadapan kalian, titah Ki Soleh.


Akhirnya Ani dan Ida pun masuk ke dalam cahaya putih tersebut, kemudian mereka tersedot ke dalam lubang lorong waktu penghubung antara alam manusia ke Kerajaan Genderewo.


"Lho Da kita sekarang berada dimana? kenapa disini nampak gelap semua?" tanya Ani.


"Ida, Ani, sekarang kalian sudah sampai di wilayah Kerajaan Genderewo," kini terdengar suara Kek Soleh yang tanpa terlihat wujudnya.


"Lawanlah rasa takut kalian, dan ikutilah kunang-kunang yang berada di depan kalian saat ini."


"Ni darimana ya kunang-kunang tersebut datangnya, kok aneh banget ya bisa ada kunang-kunang sebesar senter gitu," tanya Ida pada Ani.


"Udah jangan mikir yang macem-macem, sekarang mendingan kita ikutin perintah Kakek saja," jawab Ani dengan menarik tangan Ida untuk mengikuti cahaya kunang-kunang tersebut.


Kini di sekeliling mereka nampak dipenuhi oleh pepohonan yang menjulang tinggi dan rimbun, sampai-sampai Ani dan Ida susah untuk melihat ke sekelilingnya.


"Sepertinya kita berada di dalam Hutan Ni."


"Iya Da, serem banget ya, aku jadi merinding begini, kalau bukan demi Arini aku juga gak bakalan mau pergi ke tempat ini."


Apalagi sekarang tiba-tiba ada tangan dingin yang nampak memegangi bahu mereka. Kaki Ida kini sudah nampak gemetaran sampai akhirnya tercium bau pesing.


"Da kamu ngompol ya?"

__ADS_1


"Iya Ni, aku udah gak kuat nih," jawab Ida.


Hampir saja mereka berteriak karena saking ketakutannya. Namun, kini terdengar suara dari belakang tubuh mereka yang meminta mereka supaya tidak berteriak.


"Tolong..kalian jangan berteriak, kami bukanlah makhluk jahat," ucap mereka.


Akhirnya mereka berdua pun memberanikan diri untuk menengok ke arah belakang. Namun, Tiba-tiba tubuh Ida merosot karena tidak kuat melihat penampakan yang sangat menyeramkan.


Ani dan Ida kini melihat lelaki dan perempuan paruh baya dengan tubuh yang penuh luka serta darah yang terus mengucur dari kepalanya. Dan mereka pun mencium bau anyir yang begitu menyengat, sampai-sampai mereka ingin muntah.


"Bu, itu mata Bapaknya mau copot, apa gak bisa dibenerin dulu gitu?" tunjuk Ida ke arah mereka dengan tangan yang gemetaran."


"Keadaan kami seperti ini karena kami meninggal dengan cara kecelakaan mobil pada Enam tahun yang lalu. Dan sekarang kami menjadi arwah penasaran karena belum menemukan arwah anak kami yang bernama Indah. sudah beberapa bulan kami berkeliling disini untuk mencari arwah Indah yang terjebak di alam ini," ujar sosok hantu tersebut.


"Lho kok bisa Indah terjebak disini?" tanya Ani.


"Beberapa bulan yang lalu kami akhirnya telah mengetahui dalang dari kecelakaan kami dahulu, dan ternyata mereka adalah adik kami sendiri yang dengan teganya melakukan semua itu hanya demi menguasai harta yang kami punya."


"Lalu sekarang bagaimana dengan nasib mereka?" tanya Ida.


"Sekarang mereka sudah mendapatkan balasannya. Namun, mereka bilang kalau jiwa anak kami masih terjebak disini karena telah menjadi tumbal pesugihan mereka."


"Bu..Pak..kami turut prihatin dengan kejadian yang menimpa keluarga kalian, dan kami ikut bersedih mendengar cerita Ibu dan Bapak, lalu apa yang bisa kami bantu untuk kalian, karena sekarang kami juga sedang mencoba untuk melepaskan jiwa teman kami yang kini di tahan juga di Kerajaan Genderewo ini," ujar Ani.


"Sebaiknya kita bekerja sama saja, nanti disaat kalian berdua mencoba memasuki Pagar Ghaib nya, maka kami pun akan mengecoh mereka dengan memancing penjaga untuk keluar supaya kalian bisa bebas untuk masuk ke dalam sana," jawab orangtua Indah.


"Kenapa sebelumnya kalian tidak mencoba untuk masuk ke dalam?" tanya Ida.


"Dari dulu kami juga sudah mencoba untuk melewati pagar ghaib tersebut. Namun, semua itu hanya sia-sia karena tidak akan ada satu pun makhluk halus yang bisa melewati Pagar ghaib Raja Genderewo tersebut," jawab orangtua Indah.


"Lalu apa sekarang kami akan bisa masuk ke dalam sana?" tanya Ani.


"Kalian pasti bisa masuk ke dalam sana, karena kami dapat melihat kalau kalian dilindungi oleh seorang manusia beserta kedua makhluk halus yang mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi," jawab orangtua Indah.


"Ya sudah sekarang kalian cobalah untuk masuk sebelum ada yang menyadari dengan keberadaan kita, mungpung sekarang Bulan Purnama belum muncul, jadi tenaga dalam Raja Genderewo belum sepenuhnya pulih. karena disaat Bulan Purnama dia akan mendapatkan tambahan kekuatan dari korban- korban Pesugihan yang akan diberikan oleh Pengikutnya.

__ADS_1


__ADS_2