Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 81 ( Gangguan dari Jin Kafir )


__ADS_3

Hari ini Keluarga Ida bersama Arya akan berangkat menuju Jawa, Arini tidak dapat mengantar mereka karena dia sedang tidak enak badan, sedangkan Arga selalu di sibukkan dengan pekerjaan.


"Da, mas Abdul, saya titip Arya ya, maaf karena tidak dapat mengantar kalian sampai ke Jawa," ujar Arini dengan memeluk tubuh Ida.


"Aku pasti bakalan selalu menjaga calon menantuku Rin, sedih banget sih Rin harus berpisah sama kamu, semoga kamu cepet sembuh ya, ingat jangan terlalu banyak pikiran," ujar Ida.


"Iya Da makasih banyak, Putri sayang juga baik-baik ya di sana, kalian sering-sering telpon Bunda," ujar Arini yang kini bergantian memeluk Putri.


"Bunda jangan khawatir ya sama Kang Arya, kan ada Putri yang bakalan selalu jagain, nanti Putri bakalan belajar memasak juga biar jadi calon Istri idaman," ujar Putri dengan cengengesan.


"Makasih ya sayang, Putri memang anak yang baik, Bunda percaya Putri bakalan selalu ada buat Dede," ujar Arini dengan mengusap lembut kepala Putri.


"Bunda, Dede pamit ya, do'akan Dede supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat," ujar Dede dengan mencium punggung tangan Arini, dan Arini pun kini memeluk tubuh anaknya dengan erat.


"Bunda pasti akan selalu mendo'akan Dede dimana pun Dede berada," ujar Arini.


"Aa tolong jagain Bunda baik-baik ya, maaf Dede gak bisa membantu Aa buat mengurus perusahaan Ayah yang berada di sini, tapi insyaallah Dede bakalan ngembangin usaha peternakan Ayah di Jawa, jadi Aa gak perlu repot-repot ngirimin Dede uang untuk biaya Sekolah Dede," ujar Arya dengan memeluk tubuh Arga.


"Dede belajar saja yang rajin, jangan mikirin biaya buat Sekolah, nanti biar Aa yang mengurus semuanya, dan Aa pasti bakalan selalu jagain Bunda kita dengan segenap jiwa dan raga Aa," ujar Arga.


"Makasih ya A, Aa memang saudara Dede yang paling baik," ujar Arya dengan meneteskan airmata.


Akhirnya Ida, Abdul, Putri dan Arya pun kini berangkat menuju Jawa, dan Arini melepas mereka dengan tangisan.


"Bunda yang sabar ya, Aa pasti bakalan selalu ada buat Bunda," ujar Arga dengan merangkul tubuh Bundanya.


"Makasih ya sayang, Aa memang anak Bunda yang baik," ujar Arini dengan memeluk tubuh Arga, sehingga jantung Arga kini berdetak dengan kencang.


Kenapa setiap aku berdekatan dengan Bunda, jantungku selalu berdetak dengan kencang ya, dan aku langsung mengingat wajah gadis yang selalu masuk ke dalam mimpiku, batin Arga.

__ADS_1


"Bunda, Aa pamit dulu ya, soalnya banyak kerjaan yang harus di urus, Bunda gak kenapa-napa kan kalau Aa tinggal sendiri," ujar Arga karena takut Arini mendengar jantungnya yang sedang berdetak dengan begitu kencang, sehingga Arga pun memutuskan untuk segera pergi bekerja.


"Bunda gak apa-apa kok sayang, maaf ya sekarang Aa harus menjadi tulang punggung keluarga," ujar Arini yang kini merasa bersalah kepada Arga.


"Bunda tidak perlu merasa bersalah, itu semua sudah menjadi tanggung jawab Aa sebagai anak," ujar Arga dengan mencium punggung tangan Arini, lalu kemudian bergegas berangkat kerja setelah mengucapkan Salam.


......................


Setelah kepergian semuanya, Arini kini duduk termenung menatap ke arah luar jendela, bayangan Aditya masih menari-nari di dalam pikirannya.


Mas aku sangat merindukanmu, sekarang aku sendirian mas, batin Arini dengan meneteskan airmata. Tiba-tiba ada tangan kekar yang kini memeluk tubuh Arini dari belakang.


Arini yang kaget pun sontak membalikan badannya untuk melihat orang yang saat ini memeluknya.


"Mas Aditya," ujar Arini dengan langsung memeluk lelaki yang kini ada di hadapannya, Arini tidak menyadari jika itu hanyalah tipu muslihat Jin kafir yang menyerupai wajah mendiang Suaminya.


Jin tersebut tertawa menyeringai ketika tipu muslihatnya berhasil mengelabui manusia yang saat ini sedang lengah dan lemah.


"Aku juga sayang, aku sangat merindukan tubuhmu," ujar sosok Jin yang kini menyerupai wajah Aditya sehingga Jin tersebut berniat untuk mencumbui Arini.


Ketika Jin tersebut akan melancarkan aksinya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar Arini yang di buka secara paksa.


Brak


Kini terlihat Arga mendobrak pintu kamar Arini sehingga membuat Jin yang sudah di kuasai nafsu birahi itu pun murka.


"Kenapa kau berani mengganggu kesenanganku anak muda !" teriak Jin tersebut.


"Berani sekali kau mengganggu Bundaku !" teriak Arga.

__ADS_1


Arini masih diam mematung karena dia belum sepenuhnya sadar dari pengaruh Jin tersebut.


"Rasakan ini Jin laknat !" ujar Arga dengan mengeluarkan cahaya biru lalu mengarahkannya ke tubuh Jin tersebut, tapi Jin tersebut berhasil menghindari serangan Arga sehingga pertarungan pun kini tak terelakkan lagi.


Arga kini memancing Jin tersebut bertarung di luar rumah supaya tidak terjadi kerusakan di dalam rumah.


"Kenapa kau mengganggu Bundaku Jin Kafir?" tanya Arga.


"Aku menyukai manusia yang sedang lemah imannya, aku menginginkan tubuh Bundamu Arga, sebaiknya kau jangan ikut campur !" ujar Jin tersebut sehingga membuat Arga semakin murka.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Bundaku, rasakan ini Jin Kafir kamu akan merasakan akibatnya karena telah berani mengganggu perempuan yang aku sayangi," ujar Arga dengan kembali mengeluarkan cahaya biru lalu mengarahkannya kepada tubuh Jin tersebut.


"Ampun-ampun !" teriak Jin tersebut tanpa perlawanan, karena tenaga dalam yang Arga lesatkan sangat besar dan langsung menembus jantung Jin tersebut, lalu sesaat kemudian Jin tersebut pun musnah.


Arga kini bergegas menghampiri Arini, lalu mengusapkan air do'a terhadap wajah Bundanya, dan seketika Arini pun kembali tersadar.


"Lho Aa kenapa masih ada di sini? bukannya tadi Aa sudah pamit ya sama Bunda untuk berangkat kerja?" tanya Arini.


"Bunda ayo minum dulu air ini," ujar Arga dengan memberikan segelas air putih kepada Arini.


"Bunda jangan melamun terus ya, Aa gak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama Bunda, untung aja tadi Aa kembali lagi ke sini untuk mengambil berkas yang ketinggalan, apa Bunda gak ingat kalau tadi Bunda sudah dikelabui oleh Jin kafir?" tanya Arga.


"Astagfirulloh, Bunda kira tadi Bunda mimpi bertemu Ayah Nak," ujar Arini.


"Bukan Bunda, yang tadi itu adalah Jin Kafir yang mengganggu manusia ketika lengah dan imannya melemah," ujar Arga.


"Makasih ya sayang, Bunda gak tau apa jadinya kalau Aa gak datang," ujar Arini dengan memeluk tubuh Arga.


"Bunda sebaiknya sekarang ikut Aa ke tempat kerja saja ya, kalau Bunda di sini sendirian terus melamun lagi Aa takut jika ada yang kembali mengganggu Bunda," ujar Arga.

__ADS_1


"Ya sudah Bunda ikut Aa saja, nanti Bunda di sana bisa bantu pekerjaan Aa juga meskipun cuma sedikit," ujar Arini dengan tersenyum.


Akhirnya Arini dan Arga kini berangkat menuju tempat kerja Arga.


__ADS_2