
Pov Arini
Setelah proses pemakaman Ani selesai, kami berdua akhirnya berpamitan kepada keluarga Ani.
"Bu, maaf ya Arini pulang duluan, soalnya kami berencana mau kembali ke Jawa nanti malam, dan sekarang kami mau menjenguk Ida terlebih dahulu,"
"Iya tidak apa-apa Nak Arini, terimakasih atas kehadirannya," jawab Ibunya Ani, dan kami pun kini melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit untuk menjenguk Ida sekalian berpamitan.
Pada saat kami turun dari mobil, aku melihat Ida sedang duduk si taman bersama Abdul, lelaki yang mirip sekali dengan Jerry, dan mereka nampak tertawa bahagia.
"Lihat deh mas, sepertinya Ida bahagia sekali ya, mudah-mudahan saja dengan kehadiran Abdul, Ida bisa secepatnya melupakan Jerry."
"Iya sayang, kita do'akan saja yang terbaik untuk mereka." jawab mas Aditya.
Kami pun memutuskan untuk menghampiri Ida dan Abdul.
"Assalamu'alaikum..." ucap kami kepada Ida dan Abdul.
"Wa'alaikumsalam...Arini, mas Aditya," jawab Ida.
"Silahkan duduk, mas, mbak," ajak abdul kepada kami.
"Ida gimana kabar kamu sekarang? kelihatannya sekarang kamu lagi bahagia banget?" tanyaku.
"Alhamdulillah sekarang kondisiku sudah lebih baik, ini semua juga berkat mas Abdul yang selalu menyemangati ku," ucap Ida.
"Alhamdulillah deh kalau begitu, jadi sekarang aku bisa tenang buat ninggalin kamu," ucapku.
"Lho, emang kamu mau kemana lagi sih Rin?"
"Rencananya nanti malam kami mau pulang ke Jawa, kasihan Ibu kalau ditinggal terlalu lama, beliau juga masih gak enak badan," jawabku pada Ida.
"Aku sebenernya pengen ikut, biar sekalian belajar ilmu agama disana, tapi kondisiku belum memungkinkan," sesal Ida.
"Ida gak usah sedih ya, nanti kalau Ida sudah sembuh, mas Abdul anterin Ida ke sana biar sekalian mas Abdul bisa belajar ilmu agama juga." ucap Abdul dengan tersenyum kepada Ida.
"Ekhem..ekhem..kita jadi obat nyamuk nih mas," ledekku pada mereka.
"Iiiih Arini aku kan jadi mau, eh malu maksudnya," Ida nampak cengengesan.
"Ya sudah kalau memang sudah cocok, nanti kami tunggu undangannya," ucap mas Aditya yang di balas dengan senyum malu-malu oleh Ida dan Abdul.
__ADS_1
"Kami pamit sekarang ya Da, soalnya aku juga belum packing-packing baju," ucapku.
"Kalian berdua hati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan, aku pasti kangen banget sama kamu Arini," ucap Ida dengan memeluk erat tubuhku.
"Iya Amin..makasih do'a nya ya, kalian berdua juga semoga cepat sembuh, dan tolong sampaikan salam kami kepada keluarga kamu ya Da, maaf kami tidak bisa berpamitan langsung."
"Iya gak apa-apa Rin, lagian mereka semua juga lagi pada pulang, kasihan kayaknya kecapean karena sudah jagain aku," jawab Ida.
"Kalau begitu kami pamit sekarang ya," aku pun kembali memeluk Ida sebelum pergi dan kami berpamitan juga kepada mas Abdul, lalu setelahnya mengucapkan salam.
Saat di perjalanan pulang dari Rumah Sakit aku merasa sangat mengantuk, mungkin karena semalam aku juga kurang tidur.
"Mas aku tidur dulu ya, gak tau kenapa mataku lengket banget ni," ucapku kepada mas Aditya.
"Iya gak apa-apa sayang kamu tidur aja," jawab mas Aditya sambil mengusap lembut kepalaku.
"Ya sudah mas hati-hati ya nyetirnya," ucapku kepada suamiku, lalu kemudian aku pun tertidur pulas.
"Arini...Arini...." kini aku mendengar suara seseorang memanggil namaku.
"Kita akan segera bertemu kembali sayang," ucap sebuah suara tanpa wujud, lalu aku berusaha mencari asal suara tersebut, hingga sesaat kemudian aku melihat bayangan seorang lelaki. Namun, wajahnya tidak terlalu jelas karena terhalang oleh kabut, disaat dia mencoba untuk menggapai tanganku, aku pun tiba-tiba terbangun dari tidurku.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Suamiku yang nampak sedang memasukan baju ke dalam koper.
"Lho kenapa aku sekarang berada di kamar mas? bukannya tadi saat di perjalanan pulang menjenguk Ida aku tertidur di mobil ya?" tanyaku pada mas Aditya.
"Iya sayang, tadi kamu tidurnya pules banget, jadi mas gak tega buat banguninnya, akhirnya mas gendong saja langsung ke dalam kamar," ucap mas Aditya dengan tersenyum.
"Terimakasih ya mas,"
"Masa sama Suami sendiri bilang terimakasih? itu semua kan sudah kewajiban mas, sekarang sebaiknya kamu mandi dulu gih biar seger, terus kita makan, tadi di jalan mas sempet mampir juga buat beli makanan."
Aku merasa bingung dengan mimpi yang baru saja aku alami, itu semua nampak begitu nyata, siapa sebenarnya lelaki dalam mimpi ku, dan apa maksud dari perkataannya, hati ku pun kini bertanya-tanya.
"Kenapa kamu malah bengong sih sayang?, ayo cepetan mandi, apa mau mas sekalian mandiin?" goda mas Aditya hingga akhirnya aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah yang merona.
Setelah selesai makan dan Sholat Magrib, kami akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Jawa, mas Aditya bilang kalau jalan malam lebih enak karena cuacanya yang tidak terlalu panas serta tidak terlalu macet.
"Mas kenapa ya akhir-akhir ini aku merasa selalu mengantuk? bawaannya pengen tidur terus," ucapku dengan menyenderkan kepalaku ke bahu Suamiku yang sedang fokus menyetir.
"Kamu gak lagi sakit kan sayang?" tanya mas Aditya dengan mencoba memegang keningku menggunakan punggung tangannya.
__ADS_1
"Gak tau mas sekarang kepalaku rasanya pusing banget sama mual terus."
"Apa sebaiknya kita cari Dokter aja buat periksa keadaan kamu dulu, mas khawatir kamu kenapa-napa sayang."
"Gak usah mas aku cuma pengen deket-deket sama mas aja, jadi aku merasa lebih baikan," ucapku dengan terus menyenderkan kepalaku di bahunya serta memegang erat lengannya.
"Ya sudah kalau itu bisa membuat kamu merasa lebih baik, tapi kenapa Istri mas jadi manja begini ya," ucapnya dengan tersenyum padaku dan aku pun membalasnya dengan senyuman juga.
Setelah kami melakukan perjalanan selama hampir empat jam, rasa kantuk kini mulai menyerang kembali, hingga berkali-kali aku menguap.
"Sayang kalau kamu ngantuk sebaiknya tidur saja, ini juga sudah jam sebelas malam," ucap mas Aditya.
"Emang gak apa-apa mas gak ditemenin ngobrol? nanti mas malah ikutan ngantuk lagi kalau gak ada temen ngobrolnya."
"Gak apa-apa nanti mas putar murotal aja di handphone, terus nanti di depan mas beli kopi juga biar gak ngantuk," ucapnya dengan sesekali mengelus lembut kepalaku.
Akhirnya aku pun terlelap dan masuk ke alam mimpi, entah kenapa lagi-lagi aku mengalami mimpi yang sama, aku bertemu kembali dengan sosok laki-laki yang wajahnya masih belum jelas terlihat.
Namun, tiba-tiba disaat mataku secara perlahan terbuka aku dikejutkan oleh penampakan seorang perempuan yang menempelkan wajahnya di depan kaca mobil, dan tepat di depan wajahku.
"ASTAGFIRULLOH..."ucapku dengan replek melempar tas yang aku pegang ke depan wajahnya.
"Kamu kenapa sayang? kok tas nya dilempar?" tanya mas Aditya.
"Tuh mas lihat deh ada yang ikut numpang di depan, wajahnya mana serem lagi" ucapku.
Tiba-tiba hantu sejenis kuntilanak tersebut kini malah memasukan kepalanya menembus kaca yang berada di depanku, dan lagi-lagi karena kaget tanganku replek hingga memukul-mukul kepalanya menggunakan tas ku.
"Aduh sakit ini mbak, kok main pukul-pukul aja," ucap kuntilanak tersebut.
"Lagian salah sendiri ngapain kepalanya pake nongol segala ke depan wajahku, aku kan jadi kaget," jawabku padanya.
"Aku kan mau ikutan gosip sama mas ganteng yang ada di sebelahmu," ucap dia dengan genit serta mengerjap-ngerjapkan matanya disaat melihat mas Aditya.
"Gak manusia, gak hantu sama aja kalau lihat cowok ganteng langsung deh kecentilan, udah sana keluar gak usah kecentilan sama Suami aku ya !" ucapku dengan mendorong wajahnya yang penuh dengan darah dan belatung.
"Huuuh gitu aja pelit, ya sudah aku pergi aja ah mau cari Cogan lain, disini takut, Istrinya nyeremin kaya singa," ucapnya dengan melayangkan tubuhnya diiringi tawa khas nya yang menyeramkan.
"Dasar hantu gak ada akhlak, gak mikir apa wajahnya lebih menyeramkan, ni darah sama belatungnya sampai nempel di tanganku," aku pun ngedumel sembari menyemprotkan hand sanitizer lalu mengelapnya dengan tisu.
Mas Aditya kini malah tertawa melihat kelakuanku yang sudah berdebat dengan hantu.
__ADS_1