
Kini hari yang ditunggu-tunggu oleh Ida dan mas Abdul pun telah tiba, sebentar lagi Ida dan mas Abdul akan mengucap janji suci Pernikahan.
"Rin aku deg-degan banget nih, ada yang kurang gak dengan penampilanku?" tanya Ida yang kini sudah terlihat cantik.
"Tenang aja, kamu udah cantik banget Da, mas Abdul pasti langsung pingsan karena terpesona melihat kecantikan mu," jawabku pada Ida.
"Jangan donk Rin, nanti kalau mas Abdul pingsan aku gak jadi dong nikahnya, gimana dong nanti malam?" rengek Ida.
"Astagfirulloh...Ida, kamu itu Omes banget sih," ujarku. Namun, tiba-tiba Mirna datang lalu bertanya "Omes itu apa Rin?" tanya Mirna padaku.
"Otak Mesum Mirna, masa belum ijab kabul Ida sudah ngebayangin Malam Pertama aja," ucapku pada Mirna, dan kini Ida terlihat cekikikan.
"Waaaaah senengnya yang mau belah duren, aku jadi penasaran," celetuk Mirna.
"Astagfirulloh..makin gak ada yang bener aja ini," ucapku dengan geleng-geleng kepala.
"Sayang, kamu jangan dengerin omongan tanteu-tanteumu yang pada ngelantur itu ya," ucapku dengan mengelus lembut perutku.
"Mirna awas saja ya kalau nanti malam kamu ngintip-ngintip aku sama mas Abdul, nanti mata kamu bintitan lho," ancam Ida.
"Tapi aku gak janji ya Da," ujar Mirna dengan cengengesan.
"Ya sudah daripada kalian berdua ngelantur terus, mendingan sekarang kita keluar, pasti mereka sudah nungguin kita," ajakku pada Ida dan Mirna.
"Tapi aku deg-degan banget Rin, rasanya jantungku mau copot," ujar Ida.
"Tenang aja Da, kamu itu harus Percaya Diri, lihat saja penampilan kamu sekarang yang body nya semakin aduhai, walau pun dulu kamu segede gentong," ledek Mirna.
"Kamu jangan ngingetin aku tentang masalalu dong Mir, aku kan jadi malu," ucap Ida dengan tersenyum.
Kami bertiga pun kini melangkahkan kaki ke tempat ijab kabul diadakan,
"Eh Mirna ngapain sih kamu ikut-ikutan jalan kayak kami? nanti kita berdua malah ikutan kesandung lagi," ucapku.
"Eh iya maaf, aku lupa," ucap Mirna dengan cengengesan, lalu kembali melayang.
"Awas ya kamu jangan kecentilan !!" aku pun berusaha untuk mengingatkan Mirna.
"Iya..iya.." jawab Mirna kemudian keluar terlebih dahulu dari kamar pengantin Ida.
__ADS_1
Kini Aku dan Ida sudah tiba di tempat acara untuk ijab kabul, mas Abdul pun sudah terlihat duduk di depan penghulu.
"Aduh Rin lihat deh calon imamku ganteng banget kan? aku jadi gak sabar deh," ujar Ida dengan cengengesan.
"Ingat Da, diniatin dalam hati, tujuan kamu Nikah itu Ibadah," ucapku pada Ida.
"Tapi kalau sudah menikah begituan juga Ibadah kan?" jawab Ida Ambigu.
"Au ah kamu mah otaknya ngeres terus, yuk kamu cepetan duduk sana di samping mas Abdul."
Ida dan Abdul pun kini sudah nampak duduk berdampingan, mereka begitu terlihat serasi.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Saya sudah siap sekali Pak," ujar mas Abdul yang kini tiada hentinya menatap wajah Ida dengan penuh kekaguman.
"Baik kalau begitu kita mulai acaranya, sekarang ayo jabat tangan saya," ujar Pak penghulu yang kini memberikan tangannya dan mas Abdul pun langsung menjabatnya
"Saudara Abdul Kodir, saya Nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Ida Parida Bin Mansyur dengan mas kawin seperangkat Alat Sholat dan Emas seberat lima puluh gram dibayar Tunai.."
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Ida parida Bin Mansyur dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai," ucap mas Abdul dengan lantang.
"Sah..sah.." terdengar suara suamiku yang menjawab pertanyaan Pak Penghulu, karena mas Aditya menjadi salah satu saksi Pernikahan Ida dan Abdul.
"Alhamdulillah.." ucap kami semua yang berada disana secara bersamaan.
Ida pun kini langsung memeluk tubuh mas Abdul, bukannya mencium punggung tangannya terlebih dahulu, sehingga terdengar tawa di acara Pernikahan Ida.
"Astagfirulloh Ida, main nyosor aja," ujarku.
"Ida sepertinya udah gak sabar sayang, mas juga jadi pengen nengok anak kita," ucap mas Aditya yang kini merangkul tubuhku dari samping.
"Ingat mas masih siang," ucapku dengan mencubit pinggang suamiku yang dia balas dengan tersenyum manis sehingga hatiku meleleh dibuatnya.
Akhirnya kami semua mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, serta melakukan acara Fhoto bersama.
Ayu dan Bima pun menampakan diri mereka seperti manusia normal karena ingin di fhoto bersama Ida dan mas Abdul, Ida yang melihat kedatangan kedua anak ku pun merasa sangat bahagia sehingga memeluk mereka berdua, Mirna pun tidak mau kalah, dia juga menampakan diri dengan wujudnya yang cantik serta ikut berphoto bersama kami semua.
Ini adalah hari yang sangat membahagiakan namun juga melelahkan bagiku yang sedang berbadan dua, apalagi mas Aditya merengek seperti anak kecil, karena dia bilang ingin menengok anaknya, aku pun tidak bisa menolak keinginan suamiku.
__ADS_1
......................
Malam pun tiba, ini adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh Ida dan Abdul karena sekarang mereka sudah resmi menjadi pasangan suami isteri.
Ida terlihat malu-malu disaat Abdul mulai mendekatinya.
"Sayang, kita kan sekarang sudah sah menjadi suami istri, mas boleh kan meminta hak mas sekarang?" ucap Abdul dan Ida pun menjawabnya dengan malu-malu.
"Iya mas, aku juga sebenarnya sudah gak sabar pengen nyobain."
Disaat Abdul dan Ida sudah bersiap dan membaringkan tubuh mereka di atas ranjang Pengantin, tiba-tiba..
ADUH..
Kini terdengar suara orang yang mengaduh kesakitan dari kolong ranjang pengantin mereka, sehingga Ida dan Abdul pun menghentikan niat mereka.
"Sayang kamu denger gak?" tanya Abdul.
"Iya mas, siapa sih yang iseng malam-malam gini mengganggu malam pengantin Kita saja," jawab Ida.
Lalu mereka berdua kini mencoba mengendap-ngendap seperti maling untuk melihat ke bawah kolong ranjang.
disaat Abdul membuka sprei yang menutupi pinggir ranjang Ida pun berteriak.
"MIRNA...." ngapain sih kamu berada di kolong ranjang segala? kamu tuh udah gangguin malam pengantin kita tau," ujar Ida yang kini nampak kesal dengan Mirna.
"He..he..maaf, aku kan cuma penasaran Da pengen ngintip kalian," ucap Mirna dengan cekikikan.
"Keluar gak sekarang," teriak Ida yang kini menghalangi tubuh Abdul yang hanya memakai ****** ***** saja.
"Iiiiih...kamu pelit banget sih Da, aku janji deh gak bakalan berisik lagi, tadi juga aku kesakitan karena kepentok ranjang, aku cuma mau lihat kalian aja kok," ujar Mirna.
"Emangnya kami film apa pake acara mau ditonton segala?" ucap Ida dengan sinis.
"Ya ampun...mas Abdul roti sobeknya bikin aku pengen," ucap Mirna yang terlihat kagum dengan perut kotak milik Abdul sehingga berusaha untuk memegangnya. Namun, lagi-lagi Ida mengahalanginya.
"Stop Mirna, jangan berani sentuh milik Ida, apa kamu mau sekarang aku panggil mas Aditya untuk memusnahkanmu?" ancam Ida, lalu kemudian Mirna pun keluar karena takut dengan ancaman Ida.
Sehingga Ida dan Abdul kini melanjutkan kembali aktifitasnya yang sempat tertunda. Akan tetapi, disaat mereka melakukannya Ida tidak sadar sudah menjerit karena kesakitan, Namun, tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar mereka, karena semua orang tau penyebab Ida kesakitan.
__ADS_1
Arini dan Aditya pun yang barusan mendengar teriakan Ida nampak tertawa terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala, "Ida..Ida.."