Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 37 ( Misi Penyelamatan Jiwa Ida dan Ani )


__ADS_3

Pov Arini


Kami masih menunggu kabar Ida yang saat ini masih berada di dalam ruang operasi, sudah Lima jam lebih operasinya berlangsung, namun belum ada tanda-tanda Dokter keluar, hingga akhirnya tepat pada jam ke tujuh Dokter pun keluar dari ruang operasi dan kami pun segera menghampirinya.


"Dokter, Bagaimana keadaan Ida sekarang?" tanya kami.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar, akan tetapi pasien sekarang masih mengalami koma, sehingga pasien sekarang harus di rawat di ruang ICU," Jawab Dokter.


"Astagfirulloh Ida, mudah-mudahan kamu baik-baik saja Nak," ucap Nek Ipah.


"Yang sabar ya Nek, Arini yakin Ida akan baik-baik saja, yang penting sekarang kita terus berdo'a memohon pertolongan kepada Alloh," ucapku mencoba untuk menenangkan Nek Ipah.


"Nek, kek, Arini sama mas Aditya pamit mau ke Mushola dulu ya, soalnya kami belum Sholat Isya."


"Iya silahkan Nak Arini, Nak Aditya biar Kakek sama Nenek saja yang menunggu di sini, karena Ayah dan Ibunya Ida masih dalam perjalanan pulang dari luar kota."


Akhirnya Aku dan mas Aditya bergegas ke Mushola yang berada di depan Rumah Sakit, dan Aku yang selesai sholat duluan pun memutuskan untuk menunggu di halaman Mushola karena kebetulan ada tempat duduk yang berada di bawah Pohon beringin.


Tiba-tiba bulu kudukku terasa berdiri dan angin kini berhembus dengan kencang.


Wush...wush...wush...


terdengar suara angin yang kini menerpa tubuhku, hingga akhirnya aku mendengar suara tangisan seseorang yang sangat memilukan hati.


"Hiks..hiks...hiks...Arini...tolong...Arini tolong aku..."


Aku mendengar suara yang terus memanggil namaku serta meminta tolong kepadaku, sehingga akhirnya aku mencoba untuk melihat ke sekeliling.


Kini aku melihat sekelebat bayangan siluet perempuan. kalau dilihat-lihat itu seperti Ida, gumamku dalam hati. lalu kemudian aku pun memutuskan untuk menghampirinya.


Pada saat aku hampir sampai ke tempat Ida berada, tiba-tiba aku melihat tubuh Ida di seret oleh seorang lelaki yang aku kira itu adalah Jerry, mungkin tepatnya itu adalah jiwa Ida yang terpisah dari tubuhnya, hingga aku pun berusaha untuk mengejar mereka. Namun, kaki ku tersandung oleh batu sehingga membuatku jatuh.

__ADS_1


"Awwww," aku pun meringis kesakitan hingga tidak mampu mengejar mereka.


"Arini sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya mas Aditya yang kini sudah berada di belakangku untuk membantuku kembali berdiri.


"Mas, aku tadi melihat jiwa Ida, dan dia minta tolong kepadaku. Namun, saat aku akan menghampirinya tiba-tiba Jerry datang dan membawanya pergi. Kita harus segera menolong Ida mas," ucapku dengan berlinang Airmata.


"Iya sayang, sebaiknya sekarang kita mencari cara untuk melepaskan jiwa Ani dan Ida dari sekapan Raja Genderewo, dan kita tidak boleh gegabah menghadapi mereka," ujar mas Aditya.


Sesaat kemudian Angin bertiup sangat kencang, lalu munculah sosok dua orang anak remaja yang sangat aku rindukan.


"Assalamu'alaikum, Ibunda, Ayah Aditya," ucap mereka secara bersamaan.


"Wa'alaikumsalam...., Bima, Ayu, Bagaimana kabar kalian Nak?" tanyaku pada mereka yang kemudian menghampiri serta mencium punggung tanganku dan suamiku.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja Ibunda. Namun, yang kami khawatirkan saat ini adalah bahaya yang sedang mengincar Ibunda," jawab mereka.


"Jadi Bima dan Ayu adalah Anak kamu dan Rangga Wisesa sayang?" tanya mas Aditya.


"Iya mas, mereka Adalah Anakku dari mendiang Rangga wisesa, dan aku harap mas dapat menerima mereka yang tidak sama seperti kita," pintaku pada mas Aditya.


"Oh iya sayang, Bagaimana keadaan Kakek di sana?" tanyaku pada Bima dan Ayu.


"Alhamdulillah Kakek baik-baik saja Ibunda, dan Kakek mengirimkan salam kepada kalian, Kakek bilang sangat merindukan semuanya."


"Iya Nak, kami juga sangat merindukan Kakek."


"Oh ya Ibunda, kami berdua berencana untuk menyelamatkan Jiwa tanteu Ani dan tanteu Ida yang kini berada dalam sekapan Raja Genderewo," ujar Bima dan Ayu.


"Tapi sayang, kalian masih terlalu kecil untuk melawan Raja Genderewo," ujarku yang merasa khawatir dengan kedua Anakku.


"Ibunda harus yakin kalau Allah SWT akan selalu melindungi kita, dan kebaikan pasti akan selalu mengalahkan kejahatan, kami mohon do'a restu dari Ibunda dan Ayah Aditya."

__ADS_1


"Kami pasti akan selalu mendo'akan keberhasilan kalian Nak, nanti Ibu dan Ayah akan membantu do'a dari sini," jawab mas Aditya.


"Tapi mas, aku khawatir dengan Bima dan Ayu, aku takut mereka kenapa-napa," ucapku pada suamiku.


"Tenang saja sayang, kamu harus percaya dengan kemampuan mereka, karena aku yakin Allah SWT akan selalu menyertai langkah mereka yang berniat baik untuk membasmi angkara murka di muka bumi ini," jawab mas Aditya yang berusaha untuk menenangkanku. Namun, tiba-tiba kami mendengar suara Kakek Soleh.


"Assalamu'alaikum," ucap Kakek Soleh yang kini berada di belakang kami.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami secara bersamaan.


"Apa kalian sudah siap Anak-anak?" tanya Kakek Soleh kepada Bima dan Ayu.


"Iya Eyang kami sudah siap," jawab Bima dan Ayu.


"Jadi Kakek sudah mengenal Anak-anakku?" tanyaku kepada Kakek Soleh.


"Iya Nak Arini, sekarang portal ghaib menuju kerajaan siluman ular sudah terbuka kembali, jadi mereka sering main ke rumah Kakek."


"Sejak awal kami sudah merencanakan semua ini, karena hari ini adalah hari yang tepat untuk menyerang Raja Genderewo karena Bulan purnama belum muncul, jadi Raja Genderewo tidak dapat menghisap jiwa dari manusia yang di tumbalkan untuknya," jelas Kakek Soleh.


"Kek, lebih baik Aditya juga ikut melepas raga bersama Kakek, jadi Aditya bisa membantu kalian."


"Mas, apa aku juga boleh ikut?"


"Jangan sayang, ini terlalu berbahaya untuk kamu, sejak awal Raja Genderewo sangat menginginkan jiwamu untuk menambah kekuatannya, jadi lebih baik kamu membantu do'a dari sini saja serta menjaga raga mas dan Kakek Soleh nanti, dan agar lebih aman kita harus melakukannya di dalam mushola saja Kek," ujar mas Aditya.


"Iya Nak Aditya, karena di dalam mushola tidak akan ada makhluk halus yang mengganggu tubuh kita."


"Kek bagaimana dengan Nek Ipah, kasihan kan kalau Nek Ipah menjaga tubuh Ida sendirian?"


"Nak Arini tenang saja, barusan Ayah dan Ibunya Ida juga sudah sampai."

__ADS_1


Akhirnya kami pun berjalan menuju Mushola. dengan hati yang berdebar kini aku berada di dalam Mushola menjaga tubuh Mas Aditya dan Kakek Soleh yang saat ini sudah melepas raga dan berangkat bersama kedua Anakku menuju kerajaan Genderewo.


Aku pun berusaha untuk terus berdzikir serta melapalkan do'a, "Ya Alloh berikanlah kelancaran kepada mereka dalam membasmi angkara murka di muka bumi ini, Amin Yarobbal Alamin..🤲"


__ADS_2