
Aditya dan Arini memutuskan untuk memeriksakan keadaan Arini ke dokter kandungan, dan Bunda juga ikut mengantar mereka.
Setelah beberapa saat menunggu, kini giliran Arini yang di panggil untuk pemeriksaan.
"Silahkan bu berbaring," ucap perawat dengan menuntun Arini agar berbaring di atas ranjang.
"Maaf Bu Arini, kapan hari pertama haid terakhir nya?" tanya Dokter.
"Kalau tidak salah, sepertinya tanggal satu mei dok, sekitar dua bulan yang lalu," jawab Arini.
"Apa sudah mencoba di tes menggunakan tes pack?"
"Belum sempat dok."
"Baiklah kalau begitu mari kita lakukan USG saja, biar lebih mengetahui secara akurat Bu Arini hamil atau tidaknya."
Setelah mengoleskan gel pada perut Arini dokter pun menggerakan alat USG nya, Bunda dan Aditya kini terlihat harap-harap cemas menunggu hasil USG, hingga dokter pun tersenyum lalu berkata.
"Selamat ya bu, pak, kalian akan menjadi orangtua, usia kandungan Bu Arini sudah memasuki minggu ke enam," ucap dokter.
Saking bahagianya mendengar berita kehamilan Arini, Bunda dan Aditya kini berpelukan lalu melompat seperti anak kecil, semua orang yang ada disana pun tersenyum melihat kekonyolan mereka.
"Alhamdulillah.. terimakasih Ya Alloh atas rezeki terbesar yang sudah di titipkan kepada kami," ucap Aditya dengan mengelus lembut perut Arini.
"Apa ada keluhan yang dirasakan oleh Ibu? tanya dokter.
"Paling saya sering mual sama pusing saja dok."
"Itu merupakan gejala umum yang di alami oleh ibu hamil pada trimester pertama, kalau begitu saya berikan resep obat untuk mengurangi mual sama pusingnya sekaligus vitamin biar pertumbuhan janin nya sehat. Dan kalau bisa calon Bunda juga minum susu untuk ibu hamil ya biar mengurangi rasa mual muntahnya," jelas dokter pada Arini.
"Terimakasih ya Dok, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Arini dan keluarga.
Akhirnya, mereka bertiga pun pulang dengan hati yang berbahagia, setelah sebelumnya menebus obat di Apotek.
"Bunda sepertinya nanti sore kita harus mengadakan syukuran kecil-kecilan di Pesantren," ucap Aditya.
"Ia nak Aditya,, Bunda setuju, biar nanti Bunda yang masak dibantu sama santriwati disana," jawab Bunda.
__ADS_1
"Bunda nanti Arini bantuin ya."
"Jangan dong sayang, kasihan nanti bayi kita kecapean," jawab Aditya.
"Tapi mas, kalau aku tiduran terus juga bosen," rengek Arini.
"Arini sayang benar yang di katakan nak Aditya, usia kandungan kamu masih trimester pertama, jadi gak boleh cape dulu," ucap Bunda.
Arini pun nampak cemberut. Namun, tiba-tiba dia ketiduran.
"Lho kenapa nak Aditya sekarang Arini nya diem, dia masih ngambek ya? tanya Bunda.
"enggak kok Bunda, Arini sekarang malah tidur, mungkin dia kecapean.
"mungkin juga bawaan bayi, soalnya dulu juga pada waktu Bunda hamil Arini bawaannya ngantuk terus," jawab Bunda dengan tersenyum, dan Aditya pun membalas senyuman Bunda.
Di dalam tidur Arini, dia kembali bermimpi bertemu dengan Pria yang wajahnya masih belum terlihat jelas olehnya. dan lagi-lagi dia berkata kalau mereka akan segera bertemu. Namun, Bima dan Ayu pun ikut masuk ke dalam mimpi Arini sehingga Pria yang identitasnya belum Arini ketahui pun akhirnya menghilang bersama kabut.
"Ibunda kami kangen," ucap Bima dan Ayu yang kini memeluk tubuh Arini.
"Bunda juga kangen sayang, kalian kemana saja, kenapa baru sekarang menemui Bunda?" tanya Arini.
"Kasihan kalian sayang, maaf ya Bunda gak bisa membantu kalian," ucap Arini.
"Gak apa-apa Bunda, kami senang kok bisa ngelakuin semuanya."
"Oh iya Bunda selamat ya, Ayu dan kak Bima bakalan punya adik bayi," ucap Ayu.
"Iya sayang terimakasih, selamat juga kalian bakalan jadi kakak, Bunda yakin kalian akan menjadi kakak yang baik buat adik kalian nanti."
"Tapi Ibunda, tadi Bima melihat ada seorang lelaki yang selalu ingin menghampiri Ibunda, apa Ibunda kenal dengan lelaki tersebut?" tanya Bima.
"Postur tubuhnya memang tidak terasa asing buat Bunda, tapi Bunda tidak dapat melihat wajahnya secara jelas."
"Tenang saja Ibunda tidak usah khawatir, dia sepertinya tidak berniat mencelakai Ibunda," ucap Bima.
Akhirnya Bima dan Ayu pun kembali ke Kerajaan siluman ular, setelah sebelumnya berpamitan kepada Arini dan mengucapkan salam.
__ADS_1
Arini kini secara perlahan membuka matanya kembali, dan kemudian dia melihat ke sekeliling.
"Seperti biasa, aku pasti dipindahkan oleh suamiku tercinta," gumam Arini dengan tersenyum.
"Tapi mas Aditya kemana ya? kok gak ada?" Arini pun bertanya-tanya sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya keluar kamar.
Bunda kini terlihat sedang sibuk memasak bersama santriwati di dapur.
"Bunda mas Aditya keman?" tanya Arini pada Bunda dengan menutup hidung, karena Arini merasa mual disaat mencium aroma masakan.
"Tadi nak Aditya katanya mau mengecek dulu ke Peternakan. sayang, kalau gak kuat nyium aroma masakannya lebih baik kamu masuk lagi saja ke kamar," ucap Bunda.
Arini pun kini masuk lagi ke dalam kamar dan mencoba untuk mengotak-atik handphone nya. Namun, ada hal yang aneh ketika dia melihat layar utama pada handphone nya, karena kini wallpaper nya berubah menjadi fhoto seorang lelaki.
Secara tiba-tiba fhoto tersebut tersenyum kepada Arini, sehingga secara spontan dia melemparkan handphone nya saking terkejut.
"Astagfirulloh, untung saja aku melemparnya ke atas kasur." gumam Arini. Namun, kini dari belakang tubuh Arini, dia merasakan pelukan yang erat dari seseorang.
Deg..deg..deg..deg..deg..
Jantung Arini kini berpacu dengan cepat, dia bingung harus bagaimana, karena untuk menengok ke belakang saja Arini ketakutan, hingga kemudian terdengar suara seseorang yang ia kenal.
"Sayang kamu kenapa kok mas peluk diem aja kaya orang ketakutan," tanya Aditya.
Arini pun nampak menghela napas panjang.
"Hemmm..mas ngagetin aja sih?"
"Makanya jangan suka melamun, sampai-sampai tadi mas ngucapin salam aja kamu gak denger," ucap Aditya.
"Masa sih mas? tadi kayaknya aku gak denger suara mas masuk deh, lagian kata Bunda juga mas lagi ke peternakan, kok udah pulang lagi?" tanya Arini heran.
"Habisnya mas kangen sama kalian, jadi mas cuma sebentar disana nya, oh iya tadi kenapa handphone nya dilempar?" tanya Aditya dengan mengambil handphone Arini lalu kemudian melihat wallpaper nya.
"Mas aku gak tau..." ucap Arini yang kemudian dipotong oleh Aditya.
"Kamu so sweat banget sih wallpaper nya pake fhoto kita waktu lagi di Bandung," ucap Aditya hingga membuat Arini bingung, karena tadinya Arini mau menjelaskan kalau bukan dia yang memasang Fhoto lelaki lain.
__ADS_1
Arini pun kini melihat layar handphone nya dan ternyata benar kalau sekarang wallpaper nya masih sama seperti yang dia pasang, dan tidak ada lagi fhoto lelaki yang sepertinya sangat familiar untuk Arini, tapi dia belum mengingat sama sekali siapa lelaki tersebut.