
Dinda kini pergi meninggalkan Putri tanpa pamit terlebih dahulu, karena dia merasa tersiksa dengan perasaan yang dia punya untuk Arga.
Dinda kini berada di atas pohon di dalam hutan dekat tempat kemping, dan dia akhirnya menumpahkan tangisannya.
"Kenapa sih aku tidak bisa memilik cinta pertamaku? kenapa aku dan Arga harus berbeda alam?" teriak Dinda dengan terus mengeluarkan airmata darah.
Tiba-tiba dari samping Dinda kini terdengar seseorang berbicara.
"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lebih tenang Dinda," ujar Bima yang kini duduk di samping Dinda.
"Kamu siapa? kenapa kamu bisa tau namaku?" tanya Dinda kepada Bima.
"Perkenalkan namaku Bima Wisesa, aku anak dari Ibunda Arini dan Ayahanda Rangga Wisesa," ujar Bima dengan mengulurkan tangannya kepada Dinda.
"Jadi Kak Bima ini anak Bunda Arini yang tinggal di Kerajaan Siluman Ular itu ya?" tanya Dinda.
"Iya Dinda, aku adalah manusia setengah ular," ujar Bima dengan tersenyum.
"Kenapa Kak Bima bisa berada di tempat ini?" tanya Dinda.
"Tadi aku main ke rumah Ibunda untuk memberitahukan tentang Pernikahan Ayu adik kembarku dengan Pangeran Sanca, aku ingin bertemu dengan Aa dan Dede, tapi Ibunda bilang mereka sedang kemping di Puncak, ya sudah akhirnya aku datang saja ke tempat ini," jawab Bima.
"Apa Kak Bima sudah bertemu dengan Aa dan Dede?" tanya Dinda.
"Belum, tadi mereka masih berada di atas panggung, makanya aku memutuskan untuk menunggu mereka sambil jalan-jalan kemari, eh taunya aku denger cewek nangis di atas pohon, makanya aku samperin aja sekalian," ujar Bima dengan tersenyum.
"Maaf ya Kak jika tangisanku sudah mengusik ketenangan Kak Bima," ucap Dinda.
"Gak apa-apa kok Dinda, tapi maaf kalau tadi aku tidak sengaja mendengar perkataanmu tentang perasaan kamu terhadap Arga" ujar Bima.
"Iya Kak gak apa-apa, aku hanya merasa sedih saja dengan perasaanku saat ini karena aku tidak mungkin dapat bersama dengan Arga," ujar Dinda dengan tertunduk sedih.
"Aku tau gimana rasanya sakit hati Dinda, kamu yang sabar ya, Cinta tidak harus saling memiliki," ujar Bima yang kini memeluk tubuh Dinda dengan erat. Dinda pun kini kembali menumpahkan airmatanya dalam pelukan Bima.
__ADS_1
Kenapa jantungku berdetak kencang ya saat berada di dekat Dinda, apa aku sudah jatuh Cinta pada pandangan pertama kepadanya? tanya Bima dalam hati.
"Makasih ya Kak, sekarang aku sudah merasa lebih tenang," ujar Dinda.
"Iya sama-sama Dinda, aku pasti akan selalu ada buat kamu" jawab Bima.
"Oh iya Kak, Bunda Arini dulu bilang kalau Kakak juga akan Menikah sama Kak Kirana ya?" tanya Dinda.
"Pernikahanku dengan Kirana batal Dinda, karena dia sudah mengkhianatiku dengan lelaki lain," ujar Bima yang kini terlihat sedih.
"Maaf ya Kak Bima jika Dinda sudah mengingatkan Kakak dengan hal buruk yang terjadi dengan kisah cinta Kak Bima," ujar Dinda yang kini merasa bersalah.
"Gak apa-apa kok Dinda, mungkin dia bukan jodoh terbaik buat Kakak, mending ketahuan busuknya dari sekarang daripada nanti ketahuannya setelah kami berdua Menikah," ujar Bima.
"Iya Kak lebih baik seperti itu daripada nanti ketahuannya, pasti hati kita akan terasa lebih sakit, semoga Kak Bima cepat mendapatkan gantinya yang lebih baik segala-galanya ya," ujar Dinda.
"Iya makasih banyak Dinda, sepertinya aku sudah menemukan gadis itu," ujar Bima dengan tersenyum.
"Wah selamat ya Kak, aku ikut bahagia," ujar Dinda.
"Kakak gak boleh menyerah sebelum berperang, aku pasti bakalan dukung Kakak untuk mendapatkannya," ujar Dinda.
"Apa kamu yakin bakalan berusaha buat bantuin aku?" tanya Bima.
"Iya Kak aku janji bakalan bantuin Kak Bima," ujar Dinda dengan menautkan kelingkingnya kepada kelingking Bima.
"Terus bagaimana dengan perasaanmu terhadap Aa?" tanya Bima.
"Aku akan berusaha untuk melupakan Aa karena dunia kita berbeda jadi percuma juga aku berkhayal terlalu tinggi karena selamanya kita gak akan mungkin bisa bersatu," jawab Dinda.
"Baguslah jika memang seperti itu rencananya, jadi apa sekarang kamu mau jadi Istri dan Ibu dari anak-anakku?" tanya Bima sehingga kini Dinda membulatkan matanya dan menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan perkataan Bima.
"Kak Bima gak usah bercanda deh, gak lucu tau, aku sampai syok dengernya," ujar Dinda dengan tertawa.
__ADS_1
"Aku tidak bercanda Dinda, aku bukan mencari kekasih, tapi aku mencari pendamping hidup yang bisa menerimaku apa adanya," ujar Bima yang kini menggenggam tangan Dinda.
"Apa semua ini tidak terlalu cepat Kak?" tanya Dinda yang kini masih terlihat heran.
"Apa salah jika aku jatuh cinta kepadamu pada pandangan pertama?" tanya Bima.
"Tidak Kak karena cinta tak pernah salah, tapi aku masih ragu karena aku takut jika sampai mengecewakan Kak Bima," ujar Dinda.
"Kamu tadi menyuruhku untuk tidak menyerah dan kamu juga sudah berjanji akan membantuku, apa salahnya kalau kita berdua saling bantu untuk melupakan masalalu kita yang menyakitkan, kita tidak akan tau hasilnya kan jika kita belum mencobanya?" ujar Bima.
"Iya Kak aku mau," ujar Dinda.
"Mau apa? kalau ngomong itu yang jelas," goda Bima.
"Aku mau mencobanya dengan Kakak," jawab Dinda dengan malu-malu.
"Mencoba apa hem?" lagi-lagi bima menggoda Dinda dengan menaik turunkan alisnya.
"Aku mau mencoba menjalin hubungan dengan Kak Bima," jawab Dinda sehingga replek Bima memeluk tubuh Dinda.
"Makasih ya sayang, aku akan berusaha membahagiakanmu," ujar Bima. Lalu kemudian tanpa sadar kini Bima berteriak dengan kencangnya, "I Love You Dinda." Secara perlahan Bima kini mendekatkan wajahnya kepada wajah Dinda yang kini tersenyum di sampingnya.
Jarak mereka kini sudah semakin dekat dan Dinda pun secara replek menutup matanya. Hanya tinggal beberapa senti saja Bibir mereka akan bertemu, tapi tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang yang kini berada di tengah-tengah mereka.
"Woy baru juga jadian udah main sosor aja, kalian juga sudah berisik ngapain malah pacaran di rumahku !" ujar Genderewo penghuni pohon tersebut sehingga membuat momen romantis mereka menjadi ambyar.
Bima dan Dinda kini terlihat salah tingkah karena sudah kepergok oleh genderewo penghuni pohon tempat mereka nangkring.
"Eh maaf Om Wowo kami tidak permisi dulu numpang duduk di sini," ujar Bima dengan cengengesan.
"Ayo Dinda kita pindah aja," ujar Bima dengan menarik lembut tangan Dinda.
"Maaf ya Om kami permisi dulu, maaf jika sudah mengganggu, selamat beristirahat," ujar Dinda yang wajahnya kini masih merah merona karena malu.
__ADS_1
"Awas jangan main sosor nanti kebablasan, mendingan cepat halalin dulu !" teriak Om Wowo.
"Iya Om siap, kita OTW Pelaminan," ujar Bima dengan tertawa, dan kini mereka berdua pun melayang menuju ke tempat Kemping.