Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 28 ( Arini Koma )


__ADS_3

Pov Aditya


Setelah kami menemukan jasad Pak Eko, kami pun berniat untuk membawanya terlebih dahulu ke rumah Kakek Soleh untuk kemudian dibawa ke Rumah Sakit terdekat oleh ambulance yang kini masih di perjalanan.


Aku selalu dihantui rasa bersalah karena tidak dapat menolong beliau yang terjatuh di depan mata kepalaku sendiri. Kini kami membawa jasad beliau menggunakan kantung jenazah, dari kejauhan Bunda Ria yang melihat apa yang kami bawa pun langsung menangis histeris sehingga membuatnya pingsan.


Aku tidak tau bagaimana dengan nasib Rangga Wisesa, karena mata batinku melihat portal ghaib yang menuju kerajaannya pun kini sudah tertutup.


"Nak Aditya kenapa ya Kakek lihat kalau sekarang portal ghaib ke Kerajaan Siluman ular sudah tertutup?" tanya Kek Soleh.


"Iya Kek tadi juga saya tidak dapat melihatnya, apa mungkin karena para pengikut Rangga Wisesa tidak mau kalau sampai Rangga kembali ke alam kita Kek?" tanyaku pada Kek Soleh.


"Entahlah, tapi Kakek rasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan makanya mereka menutup portal ghaib penghubungnya, mungkin supaya kita tidak dapat mengetahuinya," ujar Kek Soleh.


"Apa pun itu aku harap Rangga Wisesa juga akan baik-baik saja Kek, dimana pun dia berada."


"Iya Nak Aditya, kita berdo'a saja untuk kebaikan semuanya."


Setelah beberapa saat kemudian, Bunda Ria kini telah tersadar dari pingsannya,


"Bunda kami menunggu keputusan Bunda, akan kita bawa kemana sekarang jasad Ayah? apakah ke Rumah sakit atau langsung saja kita bawa ke Rumah Bunda yang berada di Bandung?" tanyaku pada Bunda.


"Sebaiknya sekarang kita langsung saja memandikan jenazah Ayah, untuk kemudian di kebumikan di Bandung, kasihan kalau harus dibawa ke Rumah sakit terlebih dahulu pasti prosesnya akan lama," jawab Bunda.


Kami pun segera memandikan jenazah Pak Eko, dan Alhamdulillah semuanya lebih cepat selesai karena dibantu oleh warga sekitar serta kemudian menyolatkan jenazah beliau.


Setelah semuanya selesai serta mobil ambulance sudah datang, kami semua pun berangkat menuju kediaman Bunda Ria di Bandung termasuk Kakek Soleh dan Nek Ipah juga ikut mengantar.

__ADS_1


Isak tangis kini masih terdengar di rumah duka, Namun, aku tidak tau kenapa Arini belum juga membuka matanya, sehingga setelah selesai acara pemakaman Pak Eko, aku dan Ida beserta Ani pun berencana membawa Arini ke Rumah sakit untuk diperiksa keadaannya. Sedangkan Nek Ipah dan Kek Soleh membantu Bunda untuk mempersiapkan acara tahlilan Almarhum Pak Eko di rumah, karena mendiang Ayah atau pun Bunda sudah tidak mempunyai lagi kerabat dekat.


Sesampainya di Rumah Sakit kami bertiga akhirnya membawa Arini ke UGD, Dokter pun kini memeriksa keadaannya. Namun, setelah Dokter memeriksa semuanya, tidak ada yang nampak aneh pada tubuh Arini, Dokter bilang semua organ tubuhnya normal serta baik-baik saja, hingga akhirnya Dokter menyarankan untuk berobat jalan saja.


......................


Satu minggu sudah kami lewati setelah kepergian Pak Eko, sehingga Kakek Soleh dan Nek Ipah pun memutuskan untuk pulang ke Sumedang pada esok hari. Akan tetapi, beliau menyarankan agar aku terlebih dahulu menikahi Arini, supaya tidak terjadi fitnah karena kami tinggal dalam satu atap.


Sehingga akhirnya malam ini aku meminta ijin untuk menikahi Arini kepada Bunda Ria keluarga satu-satunya Arini agar bisa selalu menjaga mereka serta memboyongnya ke rumahku di Pesantren yang berada di Jawa.


Bunda Ria sangat bahagia mendengar niat baikku, serta menerimanya dengan senang hati. Akhirnya tanpa menunggu lama malam ini pun kami langsung melaksanakan acara Pernikahanku bersama Arini, supaya Nek Ipah dan Kakek Soleh dapat menyaksikan pernikahan kami sebelum akhirnya kembali pulang ke Sumedang.


Ijab kobul hanya disaksikan oleh beberapa orang saja, dan dengan di hadiri oleh para tetangga terdekat.


"Apakah Nak Aditya sudah siap?" tanya Pak penghulu, Aku pun menjawabnya dengan anggukan kepala, dan kini aku sudah bersiap menjabat tangan pak penghulu.


"Saya terima Nikah dan Kawinnya Arini Purnama Maharani dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI," ucapku dengan lantang.


"Bagaimana para saksi? SAH?"


"Sah..sah..sah..."


"Alhamdulillah...."


Kini sekarang aku sudah menikahi Arini, Perempuan yang sangat aku cintai, aku akan berusaha membahagiakannya serta menjadi imam yang baik untuknya, dan aku berharap Arini kelak tidak membenciku karena telah menikahinya tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu.


Waktu pun kini sudah menunjukan pukul Sebelas malam, aku yang disuruh oleh Bunda Ria tidur sekamar dengan Arini pun kini sudah masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Sebenarnya malam ini aku sangat bahagia dengan pernikahanku, tapi aku berusaha untuk tidak menyentuh Arini meski pun dia sudah syah secara hukum maupun agama telah menjadi Istriku, aku tidak mau meminta hak ku disaat dia belum bangun dari tidur panjangnya serta menerima dengan ikhlas pernikahan kami.


Kamar Pengantin kami dihias dengan begitu indah, dan Arini pun begitu cantik malam ini dengan mengenakan baju serta riasan pengantin pada tubuhnya, aku sampai tidak bisa menahan hasratku sebagai seorang lelaki normal sehingga aku tidak sengaja mencium bibirnya yang manis bak madu, hatiku seakan merasa berdosa karena telah mengambil ciuman pertama Arini, tapi disisi lain dia adalah Istriku yang halal untuk aku sentuh.


Akhirnya sekarang aku memutuskan untuk sholat terlebih dahulu sebelum akhirnya aku memutuskan tidur, dan memeluk bidadari surgaku serta masuk ke alam mimpi yang indah.


Sepasang mata telah melihat semua yang dilakukan oleh Aditya kepada Istrinya, makhluk tersebut begitu geram karena tidak bisa mencegah Pernikahan Arini dan Aditya karena dia belum sembuh dari luka dalamnya setelah tempo hari bertarung dengan Rangga Wisesa. Ya....dia adalah Raja Genderewo yang masih belum musnah dan selalu berusaha mengambil jiwa Arini untuk menambah kekuatannya.


Keesokan paginya kami semua sudah berkumpul untuk memulai sarapan karena rencananya Nek Ipah dan Kek Soleh akan pulang hari ini ke rumahnya di Sumedang, Ani dan Ida pun sudah nampak bersiap untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


Sedangkan aku memutuskan untuk memboyong Arini serta Bunda Ria nanti setelah beres acara tahlil empat puluh hari Ayah.


"Maaf ya Kek, Aditya tidak bisa mengantarkan Kakek ke Sumedang."


"Iya tidak apa-apa Nak Aditya, dari sini ke Sumedang juga tidak terlalu jauh," jawab Kakek Soleh.


"Iya lagian nanti kita ganggu pengantin baru yang lagi hangat-hangatnya," celetuk Ida dan Ani yang hanya aku balas dengan senyuman.


"Atas Nama keluarga Almarhum Ayah Eko, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga Kakek Soleh dan yang lainnya, mohon maaf apabila kami sudah merepotkan kalian," ucapku mewakili keluarga Istriku.


"Iya sama-sama Nak Aditya, semoga kalian selalu bahagia, serta diberikan keturunan yang soleh_soleha, serta menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah,"


"Amin..." ucap kami secara bersamaan.


"Jangan lupa kapan-kapan main lagi ke rumah Kakek di Sumedang," ucap Kakek Soleh.


"Iya insyaalloh Kek, mudah-mudahan semuanya diberikan kesehatan serta kelancaran dalam segala hal, Amin Yarobbal Alamin..🤲"

__ADS_1


__ADS_2