Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 68 ( Hantu Botak )


__ADS_3

Arini dan Aditya semakin merasa heran dengan keistimewaan yang dimiliki oleh Arga, karena baru dua hari Sekolah Arga sudah dua kali naik Kelas.


"Bunda kenapa sih Dede gak setiap hari naik kelas seperti Aa? Dede kan mau bareng sama Aa juga," rengek Arya.


"Nanti Dede juga bakalan bisa nyusul Aa kok, asalkan Dede terus belajar dengan rajin, banyak berdo'a, serta jangan pernah ninggalin Sholat dan mengaji," ujar Arini.


"Iya Bunda, tapi Dede juga senang karena bisa satu kelas sama Putri, nanti kalau Dede nyusul Aa berarti Dede bakalan pisah sama Putri kan Bunda?" tanya Dede.


"Iya, Anak-anak Bunda makin pinter aja, Bunda jadi makin sayang sama Aa dan Dede," ujar Arini dengan memeluk tubuh kedua anaknya.


"Kalau setiap hari naik kelas, berarti satu minggu Aa sudah masuk SMP donk Bunda," ujar Aditya dengan tersenyum.


"Tapi Bunda kasihan Yah, usia Aa kan masih kecil, meskipun kepintarannya melebihi usia anak pada umumnya, tetapi Bunda takut kalau nanti Aa bergaul dengan temannya yang jauh lebih dewasa." ujar Arini.


"Iya juga Sih, sebaiknya nanti kita pikir-pikir dulu aja kalau ada tawaran naik kelas lagi. Bunda maaf ya Ayah gak bisa nemenin nungguin Anak-anak soalnya di Kantor lagi banyak kerjaan," ujar Aditya.


"Iya gak apa-apa Yah, nanti pulangnya kita bisa naik taksi," ujar Arini dengan mencium punggung tangan Suaminya.


"Aa, Dede, Ayah berangkat kerja dulu ya. Belajar yang rajin, jangan sampai ngerepotin Bunda," ujar Aditya ketika Arga dan Arya mencium punggung tangannya.


"Iya, Ayah gak usah khawatir, Aa pasti bakalan jagain Bundanya Aa yang paling cantik," ujar Arga.


"Dede juga bakalan selalu jagain Bunda," ujar Arya tidak mau kalah.


Kemudian Aditya pun melajukan kembali mobilnya setelah sebelumnya mengucapkan Salam kepada Anak dan Istrinya.


Sesaat kemudian Ida berlari menghampiri Arini.


"Rin kamu tau gak semalam mas Abdul digangguin sama Kuntilanak Ganjen," ujar Ida.


"Astagfirulloh Ida, kamu kebiasaan deh, datang-datang suka ngagetin," ujar Arini.


"Iya_iya maaf, soalnya aku kesel banget sama si Kuntilanak Ganjen," ujar Ida.


"Ya sudah sekarang kamu cerita sama aku, kenapa Kuntilanak Ganjen bisa sampai gangguin mas Abdul," ujar Arini.


"Eh Rin tunggu deh, perasaan ada yang hilang ya," tanya Ida dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

__ADS_1


"Apa Da? daritadi aku gak kehilangan apa-apa," ujar Arini.


"Memangnya kamu gak ngerasa sudah kehilangan mas Aditya?" tanya Ida.


"Kalau itu namanya bukan hilang Da, tapi mas Aditya memang gak bisa ikut nungguin Anak-anak, soalnya dia lagi banyak kerjaan," jawab Arini.


"Terus kamu sendiri tumben gak di anterin sama mas Abdul?" tanya Arini.


"Kan semalam mas Abdul kerasukan si Kuntilanak Ganjen, jadi sekarang badannya terasa lemas," ujar Ida.


"Terus yang nungguin mas Abdul di rumah siapa donk?" tanya Arini.


"Aku suruh Dinda aja Rin," jawab Ida dengan cekikikan.


"Hem rupanya kamu sudah memanfaatkan Dinda ya," ujar Arini.


"Habis mau gimana lagi, daripada Putri gak bisa berangkat Sekolah, ya sudah aku memanfaatkan apa yang ada aja, lagian mas Abdul juga bukan anak kecil yang harus di jaga, paling ditemenin aja," ujar Ida.


"Kalau Mirna masih ada, kamu bakalan titipin sama Mirna juga gak?" goda Arini.


"Tapi aku kangen juga sih sama Mirna, untung aja sekarang ada Dinda yang gantiin dia, ujar Ida yang kini terlihat sedih.


"Aku yakin Mirna sudah tenang di alam sana, dan dia pasti bahagia karena kamu sudah jagain anaknya," ujar Arini.


"Kenapa kamu gak telepon aku atau mas Aditya? kami kan bisa bantuin mas Abdul," ujar Arini.


"Rin semalam tuh aku sudah berusaha buat telepon kamu, tapi anehnya nomor kamu sama mas Aditya gak ada yang nyambung," ujar Ida.


"Mungkin di blokir kali sama Kuntilanak Ganjen," ujar Arini dengan terkekeh pelan.


"Bisa jadi, soalnya semalam lampu di rumahku juga mati, coba bayangin Rin gimana paniknya aku ketika dia mengancam mau membawa mas Abdul ke alamnya, nanti gimana donk dengan nasibku dan Putri," ujar Ida.


"Kok bisa sih Kuntilanak Ganjen sampai tau rumahmu Da?" tanya Arini.


"Dia bilang sih nanya Mbah Google. Aku juga heran Rin jaman sekarang canggih amat ya sampai-sampai hantu juga punya handphone," ujar Ida.


"Terus gimana cara kamu ngalahin Kuntilanak Ganjen yang ada di tubuh mas Abdul?" tanya Arini yang penasaran.

__ADS_1


"Pas Mas Abdul melayang aku tarik aja kakinya, terus begitu jatuh langsung aku cium aja tuh bibir mas Abdul, jadi Si Kuntilanak Ganjen yang marah akhirnya keluar karena gak mau aku cium," ujar Ida dengan tertawa.


"Kamu ada-ada aja deh Da, tapi ide kamu berhasil juga sih, lalu Bagaimana sekarang nasib si Ganjen itu?" tanya Arini.


"Kita kan saling jambak tuh Rin, terus rambut dia sampai botak karena aku tarik, dan saking kesalnya karena dia ngaku-ngaku terus sebagai maduku, sekalian aja aku tendang dia sampai ke pohon mangga pak Anas yang ada sarang lebahnya. Saking asyiknya ngejilatin madu dia sampai dikerubuti dan dikejar oleh lebah, sampai akhirnya Si Ganjen menceburkan diri ke empang Pak Anas," ujar Ida. Sehingga akhirnya Arini yang mendengar cerita Ida pun kini sampai tertawa terbahak-bahak.


Beberapa jam kemudian Anak-anak pun sudah keluar dari kelasnya. Dede dan Putri yang tiba lebih dahulu kini mencium punggung tangan Arini dan Ida.


"Gimana tadi Sekolahnya sayang? tanya Ida.


"Alhamdulillah lancar Mah," jawab Putri.


"Tapi tadi Dede melihat hantu botak yang berkeliaran di dalam Kelas dan Dia mau ngambil uang di tas Bu guru," ujar Arya.


"Hantu botaknya seperti apa sayang?" tanya Arini.


"Hantu botaknya gundul sama gak pake baju, dia cuma pakai celana yang bentuk segitiga aja," jawab Arya.


"Hantu botaknya ini bukan De?" tanya Arga yang kini berpegangan dengan hantu botak tersebut.


"Iya Aa, tadi dia yang mau ngambil uang Bu guru," jawab Arya.


"Iiiiiiy serem, itumah tuyul," tunjuk Ida dengan bergidik ngeri.


"Dia namanya Ucil tanteu, sebenarnya Ucil adalah makhluk yang baik, tapi dia diperalat oleh seseorang sebagai alat untuk mencari uang," jelas Arga.


"Kasihan juga ya Ucil. Aa bisa gak bebasin Ucil dari orang jahat yang memperalatnya?" tanya Arini.


"Bisa Bunda, kita bacain do'a aja supaya Ucil bisa kembali lagi ke alamnya," jawab Arga.


"Ya sudah ayo cepetan Aa bacain do'anya sebelum orang jahat itu menjemput Ucil," ujar Arini.


"Dede bisa kan bantu Aa buat bacain do'anya, soalnya Aa belum terlalu hafal," ujar Arga.


"Iya Siap, Bismillah......" ujar Dede lalu membacakan Do'a untuk mengantarkan Ucil supaya dapat kembali ke alamnya.


Beberapa saat kemudian akhirnya Ucil menghilang dengan melambaikan tangannya serta mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2