
Arga kini telah sampai di depan kelas Arya, dan ternyata benar kalau saudara kembarnya sudah keluar kelas.
"Bunda maaf ya Aa datangnya telat," ujar Aa yang kini memeluk tubuh Arini.
"Iya tidak apa-apa sayang, Aa sudah beres belum membantu Arwah penasaran penunggu Sekolah ini?" tanya Arini.
"Belum Bunda, soalnya jumlahnya jadi semakin banyak, jadi Aa mau lanjutin besok lagi aja, lagian Aa cape banget Bunda," ujar Aa yang kini duduk di pangkuan Arini.
"Terus yang tadi siapa? sepertinya Bunda lihat ada anak perempuan yang daritadi ngikutin Aa?" tanya Arini.
"Dia hantu KEPO Bunda !" teriak Aa.
Aa sengaja berteriak supaya Dinda mendengar perkataannya. Lalu tiba-tiba..
Awww..
Terdengar teriakan dari belakang pohon di dekat tempat duduk Arini dan keluarganya.
"Makanya jadi hantu tuh jangan suka Kepo, kepalanya jadi kepentok pohon kan?" ujar Aa pada hantu Dinda.
Dinda yang sudah ketahuan pun kini langsung keluar dengan senyuman yang meringis karena kesakitan.
"Maaf aku bukan Kepo, tapi mau ikutan minta tolong," cengir Dinda.
"Rin, jadi anak perempuan itu makhluk halus ya?" tanya Ida.
"Iya Da, kok kamu jadi bisa lihat mereka ya?" tanya Arini.
"Gak tau Rin aku juga heran, aku hanya bisa melihat mereka jika berada di dekat keluarga kamu saja, kalau sehari-hari mah alhamdulillah enggak, nanti bisa-bisa aku sawan lagi," ujar Ida dengan bergidik ngeri.
"Tanteu, aku boleh minta tolong gak?" tanya hantu Dinda kepada Arini.
"Memangnya apa yang bisa Bunda bantu sayang?" tanya Arini.
"Sebenarnya, Dinda sudah lama mencari keberadaan Mama Dinda yang menghilang tanpa jejak," ujar Dinda.
"Memangnya Mama Dinda pergi kemana?" tanya Ida.
"Dinda tidak tau, karena waktu Dinda masih kecil Mama pergi setelah bertengkar dengan Papa Dinda," ujar Dinda.
"Lalu Papanya Dinda sekarang ada dimana?" tanya Arini.
__ADS_1
"Papa sudah kembali ke alamnya, jadi sekarang Dinda tinggal sebarang kara," ujar Dinda dengan tertunduk sedih.
"Tapi kalau di lihat-lihat wajah Dinda gak asing banget deh Da, kayak mirip seseorang gitu," ujar Arini yang terlihat masih berpikir.
"MIRNA..!" teriak Ida.
"Darimana tanteu tau nama Mama Dinda?" tanya Dinda.
"Jadi kamu beneran anak Mirna?" tanya Ida.
"Iya..aku anak Mama Mirna sama Papa Tomi," jawab Dinda.
"Astagfirulloh..ternyata benar cerita Mirna selama ini, kalau dia punya seorang Putri yang bernama Dinda Pratiwi, dari hubungannya bersama Tomi si Pocong item," ujar Arini yang kini memeluk tubuh Dinda dengan erat.
"Jadi tanteu Ida sama tanteu Arini itu teman Mama yang waktu bertemu di Wisata Air Terjun Cilengkrang ya?" tanya Dinda dengan mata yang berbinar.
"Iya sayang kamu benar," jawab Arini.
"Terus Tanteu tau tidak sekarang Mamanya Dinda dimana?" tanya Dinda.
"Maafkan kami yang tidak bisa menyelamatkan Mamanya Dinda ya, Mama Dinda telah musnah karena masuk ke dalam jurang Api Neraka," ujar Arini yang terlihat sedih.
"Jadi sekarang Dinda benar-benar sudah tidak punya siapa-siapa lagi di Dunia ini Tanteu," ujar Dinda yang kini menangis mengeluarkan airmata darah, lalu kemudian memeluk erat tubuh Arini dan Ida.
"Kamu juga bisa memanggil Tanteu Ida dengan sebutan Mamah," tambah Ida.
"Terimakasih ya Bunda, Mamah," ujar Dinda yang kini telah berhenti menangis.
"Ayah, Bagaimana kalau kita bawa saja Dinda pulang ke rumah, kasihan kan dia masih kecil kalau harus berkeliaran sendiri tak tentu arah," ujar Arini.
"Terserah Bunda saja, Dinda juga kan anak Mirna teman kita, jadi Mirna pasti akan senang apabila kita merawat anaknya," ujar Aditya.
"Rin kalau kamu gak keberatan, biar Dinda tinggal di rumahku saja ya, kasihan Putri selama ini tidak mempunyai teman," ujar Ida.
"Memangnya kamu gak bakalan takut Da?" tanya Arini.
"Kayaknya enggak Rin, Dinda kan pake Mode Cantik, Putri juga tuh udah akrab aja sama Dinda," ujar Ida.
"Ya sudah kalau begitu kamu tolong jaga Dinda ya, keluarga kamu pasti bisa melihat Dinda, seperti kalian dulu melihat Mirna" ujar Arini.
"Iya Siap Rin, Anakku kan perempuan, jadi Dinda bisa pake baju Putri," ujar Ida.
__ADS_1
"Kalau begitu lebih baik kita pulang sekarang aja Da, sebentar lagi sudah masuk waktu Dzuhur," ujar Arini.
"Iya Rin aku juga udah ngantuk," jawab Ida.
"Aku pulang duluan ya Da, kasihan Suamiku kayaknya lagi gak enak badan," ujar Arini.
"Bukan pengen di pijat plus plus kan?" tanya Ida.
"Au ah kamu mah omes nya gak ilang-ilang," ujar Arini.
"Aa, Dede, ayo kita pulang dulu sayang," ajak Arini kepada si Kembar.
"Putri, Dinda kalau begitu Dede pulang dulu ya," ucap Dede pada Putri dan Dinda dengan melambaikan tangannya. Tapi Aa terlihat acuh dan tidak berpamitan kepada Putri dan Dinda, sehingga kedua anak perempuan itu terlihat cemberut.
"Putri, Dinda, ayo kita pulang juga," ajak Ida, sehingga Putri dan Dinda kini berpegangan tangan menuju mobil.
"Lho Mah, anak perempuan ini siapa?" tanya Abdul yang masih belum mengetahui tentang Dinda.
"Perkenalkan Papah, ini Dinda teman baru Putri dan kata Mamah Dinda akan jadi saudara Putri," ujar Putri.
"Tapi sepertinya Dinda bukan manusia seperti kita ya Mah?" tanya Abdul.
"Iya Yah, Dinda ini Putrinya Mirna dari si pocong Tomi, yang waktu itu pernah Mirna ceritain," jawab Ida.
"Ternyata Dunia ini sempit sekali ya Mah, pantesan aja wajah Dinda begitu mirip dengan Mirna," ujar Abdul.
"Papah gak apa-apa kan kalau Dinda tinggal di rumah kita?" tanya Ida.
"Ya enggak apa-apa dong sayang, jadi putri gak bakalan merengek lagi minta Adik karena ingin punya teman di rumah," jawab Abdul dengan tersenyum.
"Girang amat, yang takut aku cakar sama jambak lagi," ujar Ida dengan tertawa karena mengingat kelakuannya dulu pada saat melahirkan Putri.
"Iya lah aku kapok, Mamah tuh kalau ngidam suka aneh-aneh, apalagi melahirkannya, sampai bikin Papah jantungan," ujar Abdul.
"Tapi Produksinya gak kapok kan?" tanya Ida.
"Kalau buat Produksi mah tiap malam juga hayu," jawab Abdul.
"Eh kenapa anak-anak pada diem gak ada yang ngomong Mah?" tanya Abdul, sehingga Ida pun menengok ke belakang.
"Pantesan aja pada diem, orang daritadi mereka tidur, tapi untung aja mereka tidur ya, kalau tidak bagaimana nanti kita jelasinnya kalau Putri yang selalu ingin tau malah nanyain tentang Produksi yang selalu kita lakukan tiap malam," ujar Ida dengan cekikikan.
__ADS_1
"Untungnya Dinda tinggal sama kita ya Mah, Putri kan jadi punya temen tidur, jadi gak bakalan ganggu kita lagi kalau mau Produksi," ujar Abdul. Dan pasangan Somplak itu pun akhirnya tertawa bahagia.