Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 78 ( Perpisahan dengan Suami tercinta )


__ADS_3

Arini dan Arga masih menangis dan berpelukan dengan terus melihat ke dasar jurang tempat Aditya terjatuh. Sedangkan Arya dan Putri kini terlihat pingsan.


"Mas Aditya aku harus bagaimana menjalani hidup tanpamu," ujar Arini.


Arga pun mencoba berkomunikasi dengan Bima menggunakan telepati dengan sisa tenaga yang dia punya.


Kak Bima tolong kami, batin Arga.


Sehingga beberapa saat kemudian Bima dan Dinda pun datang ke hutan larangan tempat Arini dan anak-anaknya berada.


"Bunda..!" teriak Bima dan Dinda yang kini melihat Arini terus saja menangis dalam pelukan Arga, kemudian mereka berdua pun menghampirinya.


"Aa apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Bima.


"Kak Bima, cepat tolong Ayah, tadi Ayah terjatuh ke dasar jurang," ujar Arga, sehingga Bima pun langsung turun ke bawah jurang.


"Bunda yang sabar ya, maafkan kami karena sibuk melakukan persiapan Pernikahan, sampai-sampai kami tidak mengetahui jika kalian butuh pertolongan," ujar Dinda.


"Dinda sebaiknya kamu panggil Papa Abdul di Pos kesehatan tempat kemping, suruh beliau membawa rombongan tim medis, karena Putri dan Dede sekarang tidak sadarkan diri," ujar Arga, sehingga Dinda pun bergegas pergi ke tempat Abdul.


Beberapa saat kemudian Bima kini berhasil membawa tubuh Aditya dari bawah jurang, dan di sekujur tubuh Aditya kini terlihat sudah banyak luka.


"Ayah..!" teriak Arini dengan memeluk tubuh Aditya.


Bima dan Arga pun yang melihatnya hanya bisa meneteskan airmata tanpa bisa berbuat apa-apa.


Satu jam kemudian tim medis pun datang ke hutan larangan bersama Abdul atas petunjuk Dinda yang hanya bisa terlihat oleh Abdul.


Setibanya di sana, Aditya, Putri dan Arya pun diangkat memakai tandu, sedangkan Arini kini dipapah oleh Arga dan Bima.


Sesampainya di tempat Kemping akhirnya mereka dibawa oleh ambulance menuju Rumah Sakit terdekat.

__ADS_1


Ida yang sudah sadar dari pingsannya pun kini mengikuti Ambulance bersama Abdul dengan memakai mobil Aditya.


Sesampainya di Rumah Sakit mereka bertiga segera ditangani oleh Dokter, Ida yang melihat Arini pun langsung bergegas menghampirinya.


"Yang sabar ya Rin, mudah-mudahan semuanya akan baik-baik saja," ujar Ida dengan memeluk tubuh Arini.


"Mudah-mudahan saja Da, karena aku tidak akan sanggup menjalani hidup tanpa mas Aditya," ujar Arini


Dokter yang menangani Arya dan Putri kini sudah terlihat keluar, kemudian mereka pun bergegas menghampirinya.


"Dok gimana keadaan anak-anak?" tanya Ida.


"Alhamdulillah Putri dan Arya kondisinya baik-baik saja, mereka hanya pingsan karena kelelahan," ujar Dokter.


Setelah satu jam lebih, Dokter yang menangani Aditya pun kini keluar.


"Dokter bagaimana dengan kondisi Suami saya?" tanya Arini.


"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ujar Ida dan yang lain sehingga Arini pun kini terdengar menangis dengan histeris.


"Yah bangun Yah, Bunda mohon Ayah harus bangun, bukankah Ayah berjanji jika kita akan hidup sampai Kakek dan Nenek," ujar Arini yang kini tangisannya terdengar memilukan hati.


Arga yang melihat Bundanya terus menangis pun kini berusaha mendekati tubuh Arini, lalu kemudian memeluknya dengan erat.


"Ayah hanya tidur kan A? Ayah gak mungkin kan ninggalin kita untuk selamanya?" tanya Arini yang masih belum bisa menerima kenyataan tentang kepergian Suami tercintanya.


"Bunda yang sabar ya, ikhlaskan Ayah supaya Ayah tenang di alam sana," ujar Arga.


"Ayah tidak meninggal A, Ayah hanya tertidur," ujar Arini dengan terus membelai wajah Suaminya sehingga membuat semua orang yang berada di sana ikut menangis.


"Bunda, Bima mohon Bunda jangan begini, kasihan Ayah kalau melihat Bunda seperti ini," ujar Bima dengan ikut memeluk tubuh Arini yang masih berada dalam pelukan Arga.

__ADS_1


Braaak


Tiba-tiba pintu ruang perawatan Aditya terbuka dari luar. Kini terlihat Arya dan Putri di depan pintu ruangan tersebut.


Dengan langkah gontai Arya menuju ranjang Aditya, lalu Arya pun memeluk jasad Ayahnya yang sudah terbujur kaku, sehingga tangisannya pun pecah.


"Ayah, maafin Dede Yah karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Ayah, Dede mohon bangun Yah, jangan tinggalin kami semua," ujar Arya dengan terus berlinang airmata sehingga Abdul kini mencoba untuk mendekati tubuh Arya.


"Dede yang sabar ya, ikhlaskan Ayah, dan jangan sampai airmata Dede menetes di Jenazah Ayah, karena nanti akan membuat Ayah merasa berat menuju alam sana," ujar Abdul yang kini berusaha mengurai pelukan Arya dari jasad Aditya.


Arya pun kini langsung memeluk tubuh Arini dengan tiada hentinya meneteskan airmata.


"Bunda maafin Dede karena Dede tidak dapat membantu menyelamatkan Ayah, Dede anak yang tidak berguna Bunda," ujar Arya.


"Tidak sayang, Dede adalah anak yang Saleh, Dede tidak boleh berbicara seperti itu, mungkin itu semua sudah takdir dari Allah SWT, dan kita harus ikhlas melepaskan kepergian Ayah, Dede terus do'akan Ayah ya, karena do'a anak yang Soleh merupakan salah satu amalan yang tidak akan pernah putus walaupun sudah meninggal," ujar Arini yang kini mengelus lembut kepala Arya.


Setelah Abdul selesai melakukan Administrasi, mereka pun kini membawa Jenazah Aditya menggunakan Ambulance. Arini, Arga, Bima dan Arya kini ikut menemani Jenazah Aditya dalam Ambulance, Sedangkan Ida, Abdul, Putri dan Dinda mengikuti Ambulance menggunakan mobil Almarhum Aditya.


Ida pun mengabari Pondok Pesantren milik Aditya yang berada di Jawa untuk memberitahukan informasi meninggalnya Aditya.


Ida juga memberitahu Nek Ipah dan Kek Soleh serta kedua orangtuanya, dan tetangga Arini untuk membantu persiapan pemakaman Aditya.


Setelah tiga jam perjalanan mereka kini telah sampai di halaman rumah Arini, isak tangis masih terdengar mengiringi kepergian Aditya.


Beberapa jam kemudian perwakilan dari Pesantren pun sudah tiba, Pak Syarif yang masih kerabat Almarhum Aditya dan beberapa Santri pengajar di sana kini mengucapkan bela sungkawa kepada Arini dan keluarga.


"Mbak Arini yang sabar ya, saya atas nama seluruh Santri dan Santriwati Pondok Pesantren milik Almarhum Mas Aditya mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya, semoga semua amal Ibadah Almarhum diterima oleh Allah SWT," ujar Pak Syarif.


"Terimakasih banyak Bapak dan semuanya karena sudah berkenan hadir untuk mengantarkan mas Aditya ke tempat peristirahatan terakhirnya," ujar Arini dengan menitikkan airmata.


Kini mereka semua mengantarkan Jenazah Aditya ke tempat peristirahatan terakhirnya ke TPU tempat Ayah dan Bundanya Arini di makamkan.

__ADS_1


Arini pun tidak kuasa melihat Jenazah Suami tercintanya yang kini dimasukan ke dalam liang lahat sehingga Arini kini pingsan di pangkuan Arga dan Arya yang selalu berada di sampingnya. Arga yang melihat Bundanya pingsan pun langsung menggendong tubuh Arini untuk membawanya pulang terlebih dahulu, sedangkan Arya tetap berada di pemakaman untuk mewakili keluarganya.


__ADS_2