
Kini kehamilan Arini sudah memasuki bulan ke tujuh, Namun, anehnya perut Arini lebih besar daripada kehamilan normal lainnya, mungkin juga karena Arini mengandung bayi kembar.
Pada tengah malam tiba-tiba Arini merasakan kontraksi yang sangat hebat, Rangga Wisesa yang melihatnya pun terlihat cemas dan segera menyuruh pelayan untuk memanggilkan Tabib Istana.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Tabib Istana pun datang dan langsung memeriksa keadaan Arini.
"Paduka Raja, sepertinya Ratu akan segera melahirkan bayinya," ucap Tabib kepada Rangga Wisesa.
"Tapi usia kandunganku baru menginjak tujuh bulan Tabib," ucap Arini.
"Mohon maaf Ratu, karena di alam kami berbeda dengan Alam manusia, kehamilan disini lebih sebentar serta pertumbuhan bayi nya pun akan lebih cepat," ucap tabib.
"Sayang aku sudah gak kuat, perutku rasanya sakit sekali," ucap Arini pada Rangga.
"Kamu yang sabar ya sayang, aku akan selalu berada di sampingmu," ucap Rangga dengan mengelus lembut perut Arini.
Beberapa saat kemudian setelah beberapa kali Arini mencoba untuk mengejan, lahirlah sepasang bayi kembar. Namun, disaat Arini melihat bayinya, Arini langsung pingsan karena mereka mempunyai wujud ular, mungkin Arini lupa kalau dia sudah hamil anak dari Raja siluman Ular.
Kini terdengar suara tangisan bayi yang bersahutan Oe...oe...oe... sehingga membangunkan Arini dari pingsannya.
"Kamu tidak apa-apakan Permaisuriku?" tanya Rangga Wisesa.
"Mana bayiku Rangga, kenapa tadi aku melihat kalau bayi yang aku lahirkan adalah ular?" tanya Arini.
Tiba-tiba ular yang tadi dilahirkan oleh Arini pun kini menghampiri tubuh Arini lalu berbicara kepadanya, "Ibunda jangan takut kami adalah anak yang selama ini Ibunda kandung, maafkan kami jika telah membuat Ibunda takut," ucap kedua ular tersebut yang secara tiba-tiba kini berubah menjadi bayi manusia yang cantik dan tampan.
"Maafkan Ibu sayang karena telah membuat kalian khawatir, apa pun wujud kalian Ibu akan tetap menyayangi dan menerima kalian apa adanya," ucap Arini.
"Sayang kamu tidak usah takut ya jika sewaktu-waktu anak kita berubah menjadi seekor ular, karena anak kita memang terlahir Istimewa, dan nantinya merekalah yang akan Memusnahkan Raja Genderewo yang selalu mengganggu kehidupan kita," ujar Rangga Wisesa.
__ADS_1
"Oh ya sayang kamu mau ngasih mereka nama apa?" tanya Rangga.
"Bagaimana kalau Bima dan Ayu?" tanya Arini.
"Baiklah kalau begitu kita kasih nama Bima Putra Wisesa, dan Ayu Putri Maharani, nama yang bagus bukan?" ucap Rangga.
"Iya, nama yang sangat Indah, dan mudah-mudahan nanti kepribadian mereka juga sama bagusnya dengan nama mereka," ujar Arini.
Bayi Arini semakin hari tumbuh tidak seperti bayi normal lainnya, di usia mereka yang baru beberapa hari saja mereka sudah bisa berjalan dan berbicara dengan lancar, Ayah Eko pun terlihat sangat menyayangi kedua cucunya.
Hari-hari yang mereka lalui begitu membahagiakan dengan selalu dihiasi oleh gelak tawa dari anak-anak Arini. akan tetapi, anehnya tubuh Rangga wisesa semakin hari terlihat semakin melemah saja.
"Kamu kenapa sayang? aku lihat semakin kesini tubuh kamu semakin melemah, apakah Tabib Istana sudah memeriksanya?" tanya Arini.
"Kamu tidak usah mengkhawatirkan keadaanku Permaisuriku, aku akan baik-baik saja selama kamu berada di sisiku," ucap Rangga dengan memeluk tubuh Arini dengan erat lalu kemudian berbaring dalam pangkuannya.
"Mereka sedang bermain di taman dengan Ayah, padahal usia mereka baru beberapa bulan saja, tapi mereka terlihat sudah seperti anak lima tahun, sehingga rasanya aku hanya sebentar saja mengurus bayi," ucap Arini dengan tersenyum sambil mengelus lembut kepala Rangga Wisesa.
"Aku sekarang bisa tenang untuk meninggalkanmu, karena mereka berdua akan selalu menjaga serta melindungimu sayang," ucap Rangga.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu Rangga, kamu tidak boleh pergi kemana-mana karena kita akan selalu hidup bersama hingga Kakek dan Nenek serta hanya maut yang dapat memisahkan kita," ujar Arini.
"Sayang, sebentar lagi portal ghaib ke alam manusia akan kembali terbuka, dan jiwa kamu pun nanti akan tersedot masuk ke dalam ragamu yang berada di sana," ujar Rangga Wisesa.
"Tidak..aku tidak mau Rangga, aku ingin selalu berada di sini bersama kalian !" Arini pun menangis ketika mendengar ucapan Rangga.
"Aku juga ingin selalu hidup bersamamu sayang, bahkan kalau bisa untuk selamanya, tetapi takdir tidak akan bisa di ubah, karena setelah aku melakukan ritual untuk menjadi manusia tempo hari, mustika abadi kerajaan ular sudah mengeluarkan setengah dari sisa umurku di dunia ini,"
"Serta pada saat aku berusaha untuk mempertahankan jiwa dan ragamu dengan memberikan separuh lagi nyawaku dalam mustika Ular, maka sisa umurku sekarang hanya tersisa sampai hari esok disaat terbukanya kembali portal Ghaib," ucap Rangga Wisesa.
__ADS_1
Kini tangis Arini pun pecah mendengar kenyataan pahit yang akan dia hadapi esok hari.
Bima dan Ayu serta Ayah Eko yang mendengar tangisan Arini pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Rangga wisesa dan Arini.
"Kamu kenapa menangis Anakku?" tanya Ayah Eko.
"Ayah keadaan Rangga sudah semakin lemah, dan dia hanya bisa bertahan hingga besok saja," ucap Arini dengan terus menangis.
"Berusahalah untuk mengikhlaskan kepergian Rangga Nak, karena semua ini sudah takdir, dan Rangga sendiri yang dulu memilih untuk menyelamatkanmu dengan memberikan sebagian dari sisa hidupnya kepadamu," ujar Ayah Eko.
"Jadi Ayah juga sudah mengetahui tentang semuanya?" tanya Arini.
"Bukan hanya Ayah, tetapi kedua Anakmu yang spesial ini sudah mengetahuinya, padahal Ayah dan Rangga tidak pernah menceritakan apa pun kepada mereka," jawab Ayah Eko.
"Ibunda tenang saja, meskipun nanti Ibunda akan kembali ke alam manusia, akan tetapi, kami akan selalu menjaga Ibunda dari sini," ucap kedua Anak Arini.
"Ayah tau ini semua berat untukmu nak, tapi ayah berharap kamu kuat menjalani semua ini, tolong jaga Bunda nanti, sampaikan salam rindu kami semua untuknya," ujar Ayah Eko.
"Bagaimana mungkin aku bisa kembali ke alam manusia dengan meninggalkan kalian?" tanya Arini.
"Kamu tenang saja sayang, tidak usah mengkhawatirkan kami di sini, karena Anakmu bisa menjaga diri dengan baik, dan Ayah akan selalu mendampingi mereka di tempat ini.
Tiba-tiba Rangga membuka matanya lalu berkata, "Ayah terimakasih sudah mau menjaga kedua Anakku, aku meminta maaf jika selama ini sudah banyak salah kepada kalian," ujar Rangga dengan lirih.
"Tidak Nak Rangga, Ayah merasa sangat beruntung karena mempunyai menantu seperti Nak Rangga yang selalu mencintai Anak Ayah serta menyayangi kami semua," ujar Ayah Eko.
"Bima, Ayu, jaga Ibu dan Kakek kalian ya, jadilah Anak yang baik yang selalu berusaha untuk membantu semua orang, Ayah percaya kalian akan tumbuh menjadi kebanggaan Ayah dan Ibu," ucap Rangga Wisesa lagi.
"Iya Ayahanda kami pasti akan selalu menjaga Ibunda beserta Kakek, dan kami pasti akan memusnahkan semua Angkara murka yang ada di muka bumi ini," ujar Bima dan Ayu.
__ADS_1