Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 36 ( Meninggalnya Ani )


__ADS_3

Pov Arini


Setelah kepulangan teman-temanku, mas Aditya pun mengajakku untuk masuk kembali ke dalam rumah. Akan tetapi, aku mempunyai firasat buruk tentang teman-temanku, sehingga hatiku kini merasa tidak tenang.


"Mas kenapa ya hatiku rasanya gak tenang banget, aku kepikiran Ida sama Ani terus," ucapku pada mas Aditya.


"Banyak Istighfar aja sayang, kita do'akan saja mudah-mudahan gak ada sesuatu hal yang buruk menimpa teman-teman kamu."


Tiba-tiba handphoneku ku berbunyi dan ada nomor tidak dikenal yang masuk.


"Assalamu'alaikum, maaf dengan siapa ya?" tanyaku pada orang yang menelpon.


"Wa'alaikumsalam, maaf apa benar ini dengan Ibu Arini?"


"Iya saya sendiri, maaf ada apa ya?"


"Begini Bu, saya dari pihak kepolisian, mau mengabarkan bahwa barusan telah terjadi kecelakaan, dan kami menemukan nomor Ibu yang terakhir di telpon oleh salah satu korban kecelakaan tersebut, untuk lebih lanjutnya saya harap Ibu bisa datang ke TKP, nanti saya kirimkan lokasinya."


"Insyaalloh sebentar lagi saya berangkat Pak, terimakasih atas Informasinya."


"Ada apa sayang? kenapa wajah kamu terlihat khawatir? siapa barusan yang telpon?" tanya mas Aditya.


"Barusan Polisi yang telpon, katanya ada kecelakaan, dan korbannya adalah orang yang terakhir nelpon aku, dan seingat aku, tadi hanya Ani sama Ida yang sempat telpon, aku jadi khawatir pada mereka mas."


"Innalillahi...ya sudah kalau begitu sebaiknya sekarang kita berangkat ya, mudah-mudahan saja itu bukan teman-teman kamu."


Akhirnya, aku dan mas Aditya pun sampai di lokasi kejadian yang ternyata tidak jauh dari rumahku. Betapa terkejutnya aku, ternyata firasat buruk ku tentang mereka benar, karena ternyata korban kecelakaan tersebut adalah teman-temanku.


"Astagfirulloh..ANI...IDA..." teriakku saking syok nya melihat keadaan mobil yang mereka tumpangi.


"Kamu yang sabar ya sayang, mudah-mudahan saja mereka masih bisa di selamatkan," Ucap mas Aditya yang mencoba menenangkanku.


"Aku gak sanggup melihatnya mas, keadaan mobilnya sampai hancur seperti itu, dan hampir masuk ke dalam jurang, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada mereka."


"Kita berdo'a saja, karena segala sesuatu sudah ketentuan dari Alloh SWT, mas harap kamu bisa kuat demi mereka."

__ADS_1


Aku pun hanya bisa menangis dalam pelukan suamiku, dan tak henti-hentinya mas Aditya melapalkan do'a, serta selalu mengingatkanku untuk berdo'a juga karena Polisi masih kesusahan untuk mengevakuasi mereka.


Beberapa saat kemudian aku merasa tanganku di pegang oleh seseorang, tapi pegangannya terasa dingin, aku pun kini melihat ke arah orang yang memegangiku.


"Astagfirulloh Ani, alhamdulillah ternyata kamu selamat," ucapku dengan berusaha memeluk tubuhnya. Namun, anehnya aku tidak bisa memeluk tubuh Ani dan wajahnya terlihat pucat serta nampak banyak darah di tubuhnya.


"Innalillahi waina ilaihi roji'un," ucap mas Aditya yang kini ikut melihat ke arah Ani.


Aku yang belum sadar tentang Ani yang sudah meninggal pun masih saja berusaha untuk memeluknya karena merasa khawatir melihat keadaannya.


"Rin kamu harus berhati-hati terhadap Jerry, dia adalah pengabdi Raja Genderewo, dan kini aku pun menjadi tumbalnya, aku tidak akan tenang sebelum membalaskan dendamku," ucap Ani.


"Maksud kamu apa Ni? ayo sebaiknya kita pergi ke Rumah sakit dulu supaya luka kamu segera di obati," ajakku pada Ani.


"Sayang yang sabar ya, ikhlaskan kepergian Ani," ucap mas Aditya.


"Apa maksudmu mas? Ani ada di hadapan kita, terus kenapa aku harus mengikhlaskan kepergiannya?" tanyaku pada mas Aditya.


Sehingga akhirnya Polisi berhasil mengevakuasi korban dan aku melihat tubuh Ani kini ada di tandu yang dibawa oleh Polisi.


"Innalillahi....Ani maafin aku, aku gak nyangka kalau kamu akan pergi secepat ini," aku pun hampir saja pingsan menghadapi kenyataan pahit ini. Namun, mas Aditya selalu berusaha untuk menguatkanku, lalu dia berkata kepada Ani :


"Ani, saya harap kamu tidak mempunyai rasa dendam, walau pun kamu mengetahui penyebab kamu meninggal."


"Kamu harus ikhlas agar bisa tenang di alam sana, kasihan juga anak dalam kandunganmu kalau kamu nanti sampai dendam, maka roh kalian akan dibawa oleh Raja Genderewo. Ikhlaskan semuanya, karena ini sudah takdir dari Alloh SWT, insyaAlloh nanti saya akan mencoba mencari cara untuk melawan Raja genderewo supaya kamu bisa terbebas darinya."


Kini Ani pun terlihat menangis dengan mengeluarkan Airmata darah.


"Rin, Mas Aditya, maafin aku ya jika sudah banyak salah, terimakasih atas semuanya, tolong sampaikan permintaan maafku juga kepada suami dan keluargaku, aku sangat menyayangi kalian semua," ucapnya. hingga sesaat kemudian Roh Ani nampak menghilang dari pandangan kami.


"Kita harus bagaimana mas? kemana roh Ani pergi?" tanyaku pada mas Aditya.


"Sepertinya Roh Ani belum tenang, dan Raja Genderewo pun masih mengincarnya, nanti kita cari jalan keluarnya, karena sekarang kita harus segera pergi ke Rumah Sakit, barusan juga Polisi sudah berhasil mengevakuasi Ida."


Kami berdua pun akhirnya berangkat menuju Rumah sakit dengan mengikuti ambulance yang membawa Jenazah Ani, Namun aku belum tau bagaimana nasib Ida, mudah-mudahan saja dia masih bisa diselamatkan.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Sakit, aku mencoba menelpon keluarga Ani dan Ida, hingga beberapa jam kemudian nampak satu persatu dari keluarga mereka pun datang.


Jenazah Ani sudah dimandikan dan kini berada di kamar mayat, sedangkan Ida sekarang masih berada di ruang operasi dan Dokter masih berusaha untuk menyelamatkannya.


Kami menunggu Ida dengan cemas lalu kemudian nampak Kakek Soleh dan Nek Ipah pun datang menghampiri kami,


"Assalamu'alaikum Nak Aditya, Nak Arini," ucap Kakek Soleh dan Nek Ipah.


"Wa'alaikumsalam Kek, Nek," ucap kami berdua dengan mencium punggung tangan Nek Ipah dan Kek Soleh.


"Bagaimana keadaan Ani dan Ida Nak?" tanya Nek Ipah.


"Ani sudah meninggal dunia Nek, dan Ida sekarang masih di ruang operasi," jawabku.


"Innalillahi...kasihan sekali nasibmu Nak Ani, padahal Nenek kemarin baru dapat kabar dari Ida kalau nak Ani sedang hamil," ucap Nek Ipah.


"Iya Nek, saya juga tidak menyangka kalau Ani akan secepat ini meninggalkan kita, padahal baru tadi siang kami bertiga bertemu."


Sesaat kemudian ada Polisi yang datang menghampiri kami, lalu meminta keterangan dariku.


"Maaf Bu Arini apa kami bisa meminta waktunya?"


"Iya silahkan Pak."


"Begini Bu, kami tadi menemukan nomor Ibu yang terakhir di hubungi oleh korban, apa ibu mengenal korban?" tanya pak Polisi.


"Iya Pak, Ani dan Ida adalah teman baik saya, dan tadi mereka sempat bermain ke rumah saya sesaat sebelum kecelakaan terjadi," jawabku.


"Apa Bapak hanya menemukan dua korban saja?" tanyaku pada Pak Polisi.


"Iya, kami hanya menemukan dua korban saja yang berada di dalam mobil, apa Ibu mengetahui sesuatu?" tanya Pak Polisi padaku.


"Sebenarnya yang saya tau mereka tadi bertiga, dan yang membawa mobil tersebut adalah Jerry yaitu pacar dari Ida."


"Terimakasih atas keterangannya Bu, kami akan berusaha mencari Pak Jerry, yang kemungkinan masuk ke dalam jurang."

__ADS_1


Akhirnya Pak Polisi pun berpamitan setelah meminta keterangan dariku.


__ADS_2