Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 61 ( Misi Penyelamatan Mirna )


__ADS_3

Setelah Arini dan Ayu menyelesaikan masakannya, akhirnya mereka semua sarapan bersama.


Alhamdulillah Ya Alloh, terimakasih atas Rahmat dan Karunia-Mu yang telah memberikan empat orang anak yang luar biasa, serta Suami yang Soleh, sekarang hidupku merasa sangat bahagia, ucap Arini dalam hati.


"Daritadi Ayah lihat Bunda senyum-senyum aja, ada apa nih? ayo ngaku," ujar Aditya menggoda Arini.


"Bunda sangat bahagia, karena Alloh SWT telah menganugerahi ke empat anak yang luar biasa, serta Suami yang Soleh," jawab Arini kepada Aditya sehingga Aditya kini memeluk tubuh Arini dari belakang.


"Ayah yang merasa bersyukur, karena memiliki Bunda dalam hidup Ayah, terimakasih ya sayang, karena selama hidupku kamu telah memberikan kebahagiaan," ujar Aditya kepada Arini.


Entah kenapa hatiku merasa tidak enak ketika mendengarkan perkataan Suamiku, aku mempunyai firasat buruk yang akan terjadi dengannya, gumam Arini dalam hati.


"Bagaimana anak-anak, Apa kalian sudah siap untuk melakukan misi penyelamatan Mirna nanti malam?" tanya Aditya kepada anak-anaknya.Karena Dede tidak mempunyai keistimewaan seperti ketiga kakaknya, jadi dia tidak akan bisa ikut.


"Siap Ayah," ujar Bima dan Ayu yang terlihat semangat, kecuali Aa yang dari kemarin selalu saja terlihat murung.


"Aa kenapa? kalau Aa tidak siap, Aa tidak usah ikut, lebih baik Aa disini saja untuk menjaga Bunda dan Dede," ujar Aditya yang kini memeluk tubuh Aa.


"Tumben Ayah sama Anak akur?" celetuk Arini sehingga membuat mereka tertawa.


Maaf semuanya, aku tidak bisa memberitahukan tentang kejadian buruk yang nanti akan kita alami, ujar Aa dalam hati.


"Aa akan tetap ikut Yah, dan Aa akan membantu sebisa Aa," ujar Aa pada Aditya.


"Kalau begitu sekarang kalian makan yang banyak ya, supaya nanti mempunyai kekuatan yang besar untuk mengalahkan Angkara murka di Bumi ini," ujar Arini kepada anak-anaknya.


"Bunda..Dede juga ingin ikut menyelamatkan Aunty Mirna, kenapa sih Dede tidak mempunyai kemampuan seperti Kak Bima, Kak Ayu, dan Aa?" ujar Dede dengan sedih.


"Dede jangan sedih ya, setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, meski pun Dede tidak bisa ikut, tapi Dede masih bisa mendo'akan Ayah dan Kakak-kakak darisini, Dede juga punya kelebihan yang orang lain tidak punya," ujar Arini.


"Apa itu Bunda?" tanya Dede.

__ADS_1


"Dede kan sudah menjadi penghafal Al-qur'an, bahkan Dede sudah hapal semuanya dan juga artinya, dan itu yang paling membuat kami sebagai orangtua bangga," ujar Arini.


"Dede harus tau, kalau di Surga nanti Dede akan memberikan Ayah dan Bunda Mahkota yang terbuat dari emas, karena Dede sudah menjadi penghafal Al-qur'an, terimakasih ya sayang, Ayah sangat bangga sama Dede," ujar Aditya yang kini memeluk erat tubuh Dede.


Lagi-lagi aku merasa jika perkataan mas Aditya adalah yang terakhir kali untuk kami, Ya Alloh mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk yang akan menimpa keluarga kami, ucap Arini dalam hati.


......................


Malam pun kini telah tiba, Aditya sudah selesai memasang pagar Ghaib di sekeliling rumahnya dengan di bantu oleh Bima.


"Kenapa sih malam begitu cepat datangnya, padahal Bunda masih ingin berkumpul bersama kalian," ujar Arini yang kini terlihat cemberut.


"Ibunda jangan sedih ya, nanti Ayu sama Kak Bima pasti akan berkunjung lagi kemari, sekarang lebih baik Ibunda berdo'a untuk keselamatan kami semua," ujar Ayu yang kini memeluk tubuh Arini.


"Kenapa sih Bunda jadi cengeng begini?" ujar Aditya dengan memeluk tubuh Arini.


"Ayah bisa tidak jika Ayah tidak usah ikut pergi untuk menyelamatkan Mirna?" tanya Arini.


"Tapi Bunda mempunyai firasat buruk, Bunda takut kalau Ayah kenapa-napa," ujar Arini.


"Bunda do'akan saja supaya tidak terjadi hal buruk menimpa kami, tapi kalau memang Ayah harus gugur melawan angkara murka, Bunda harus ikhlas ya, karena hidup dan mati seseorang itu sudah di tuliskan semenjak kita masih dalam kandungan," ujar Aditya dengan memeluk serta mencium kening Istrinya, sehingga membuat Arini meneteskan airmata dan tidak mau melepaskan pelukannya.


"Ayah yakin Bunda adalah perempuan kuat meski pun tanpa Ayah di samping Bunda," ujar Aditya. Sehingga Arini pun kini dengan berat hati melepas pelukan Suaminya, dan Aditya kemudian memberikan senyuman terakhirnya sebelum pergi dengan menatap wajah Istri yang begitu dia cintai, lalu mengucap Salam sebelum bersiap untuk melepas raga.


"Ayo anak-anak kita bersiap-siap, Aa ayo duduk kemari bersama Ayah, kita harus melepas raga untuk bisa pergi ke tempat Pangeran Genderewo," ujar Aditya. Aa pun kini sudah duduk bersila berhadapan dengan Aditya, sedangkan Bima dan Ayu langsung menuju tempat Pangeran Genderewo.


Beberapa saat kemudian, mereka berempat telah sampai di Istana Pangeran Genderewo yang terlihat sepi.


"Ayah kenapa tempatnya sepi ya?" tanya Bima.


"Kita harus tetap berhati-hati, kalian jangan sampai lengah, karena sepertinya disini telah dibuat jebakan," ujar Aditya kepada anak-anaknya yang di balas anggukan kepala oleh mereka.

__ADS_1


Prok..prok..prok..


terdengar suara tepukan tangan dari arah pintu masuk Istana Pangeran Genderewo.


"Selamat datang di Istanaku, Akhirnya kalian datang juga setelah sekian lama aku menunggu untuk membalaskan kematian Ayahku yang telah kalian musnahkan," ujar seseorang yang tempo hari mereka lihat menjemput Mirna.


"Jadi rupanya benar bahwa kamu adalah anak Raja Genderewo," ujar Aditya.


"Kamu tau Identitas ku dari anakmu yang kecil itu bukan?" tanya Pangeran Genderewo dengan menunjuk Aa.


"Apa kamu tau Aditya kalau dia mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa dari manusia normal, karena dia adalah titisan dari Makhluk halus yang bertapa selama bertahun-tahun supaya bisa menjadi manusia," ujar Pangeran Genderewo. Sehingga Aditya, Bima dan Ayu menatap Aa dengan penuh tanda tanya.


"Apa maksudmu?" tanya Aditya.


"Kamu akan mengetahuinya suatu saat nanti jika sampai kalian bisa keluar dari tempat ini, tapi sayangnya kalian datang kesini hanya untuk mengantarkan nyawa saja !!" teriak Pangeran Genderewo.


"Cepat lepaskan Mirna," ujar Aditya.


"Rupanya Kuntilanak itu begitu berharga untuk kalian, sehingga kalian rela mempertaruhkan nyawa untuknya, Ayo cepat bawa Kuntilanak itu kemari !!" ujar Pangeran Genderewo terhadap anak buahnya.


Kini nampak banyak makhluk tinggi besar berbulu yang bermunculan mengelilingi mereka, dan Mirna terlihat dibawa oleh salah satu dari mereka dengan tubuh yang sudah lemah terlilit rantai dan berlumuran darah.


"Mas Aditya, anak-anak, maafkan Aunty karena sudah menyebabkan kalian datang ke tempat ini," ujar Mirna terdengar lirih.


"Aunty harus kuat demi kami," ujar Aa.


"Kamu kejam sekali Pangeran Genderewo, karena sudah menyiksa makhluk yang tidak berdosa !!" ujar Aditya.


Hua..Ha..ha..ha..ha..ha..


terdengar tawa Pangeran Genderewo yang begitu menggema sehingga memekikkan gendang telinga.

__ADS_1


"Aku senang menyiksa makhluk lemah seperti dia yang dengan mudahnya dibutakan oleh cinta," jawab Pangeran Genderewo sehingga membuat Mirna meneteskan airmata karena merasa kecewa dan bersalah kepada keluarga Arini.


__ADS_2