Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 77 ( Tragedi di tempat Kemping )


__ADS_3

Setelah menempuh tiga jam perjalanan, akhirnya Arini, Aditya, Ida dan Abdul pun sampai di tempat Kemping. dan mereka berempat langsung menuju Pos Panitia untuk menanyakan keberadaan anak-anaknya.


"Assalamu'alaikum, Pa maaf saya mau tanya kalau Arga, Arya dan Putri berada di tenda yang mana ya?" tanya Aditya kepada Kepala Sekolah.


"Wa'alaikumsalam, maaf Pak sebenarnya pihak Sekolah juga saat ini sedang mencari keberadaan mereka, karena sejak kami melakukan Jurit malam ke dalam hutan, mereka bertiga belum juga kembali," jawab Kepala Sekolah.


Degg


Jantung Arini kini rasanya berhenti berdetak, dan dia langsung menangis di pelukan Aditya.


"Gimana ini Yah, Bunda takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepada anak-anak," ujar Arini.


"Bunda sekarang harus tenang ya, mereka pasti akan baik-baik saja, sekarang sebaiknya kita terus berdo'a untuk keselamatan mereka," ujar Aditya dengan mengelus lembut kepala Arini dan terus mencoba untuk menenangkannya.


Sedangkan Ida langsung pingsan pada saat mendengar berita dari Kepala Sekolah, sampai akhirnya Abdul membawanya ke Pos kesehatan.


"Bunda tunggu di sini ya, Ayah akan berusaha mencari anak-anak ke dalam hutan," ujar Aditya.


"Bunda ikut Yah, Bunda tidak akan tenang jika terus berada di sini tanpa berbuat apa-apa," ujar Arini.


"Tapi Bunda, di dalam hutan sangat berbahaya, Ayah tidak mau kalau sampai Bunda kenapa-napa," ujar Aditya.


"Bunda mohon Yah, Bunda yakin kalau sekarang anak-anak sedang terjebak di dimensi lain di dalam hutan sana, setidaknya Bunda bisa membantu Ayah untuk membuka pagar gaibnya," ujar Arini.


"Baiklah kalau Bunda memaksa, sebaiknya kita sekarang berpamitan dulu kepada Abdul," ujar Aditya, dan mereka pun kini melangkahkan kaki menuju Pos Kesehatan.


"Abdul, kami berdua memutuskan akan mencari anak-anak ke dalam hutan sekarang," ujar Aditya.


"Tapi apa tidak sebaiknya mbak Arini saja yang menunggu Ida di sini, biar saya saja yang masuk ke dalam hutan bersama mas Aditya," ujar Abdul.


"Tidak perlu mas Abdul, biar saya saja dan mas Aditya yang pergi, mas Abdul di sini saja menunggu Ida," ujar Arini.


"Baiklah kalau begitu, mohon maaf jika saya tidak dapat membantu mencari anak-anak," ujar Abdul.


"Iya tidak apa-apa Dul, kami minta bantu do'a saja dari semuanya," ujar Aditya.


Aditya dan Arini pun kini memasuki hutan setelah mereka berdua membaca Basmalah.


Semakin masuk ke dalam hutan suasana pun semakin mencekam.


Tolooooong


Tiba-tiba terdengar suara teriakan meminta tolong.


"Yah sepertinya Bunda mendengar teriakan minta tolong," ujar Arini.


"Iya Bunda, Ayah juga mendengarnya, itu seperti suara perempuan, apa mungkin itu suara Putri?" tanya Aditya.

__ADS_1


"Bisa jadi Yah, karena sepertinya itu memang suara Putri," jawab Arini.


"Kalau begitu kita harus berkonsentrasi supaya bisa melihat pintu gerbang menuju dimensi lain Bunda," ujar Aditya.


"Bismillah..." ujar Arini dan Aditya secara bersamaan, kemudian mereka berdua memejamkan mata. dan saat ini mereka melihat menggunakan mata batin.


"Bunda lihat kan di depan sana ada gerbang? itu pasti pintu masuk menuju kerajaan Siluman Kerbau, karena Ayah dulu sempat mendengar jika di hutan larangan ini ada kerajaan Siluman Kerbau," ujar Aditya.


"Iya Ayah Bunda juga lihat, terus sekarang kita harus bagaimana?" tanya Arini.


"Sebaiknya kita arahkan tenaga dalam kita ke gerbang tersebut supaya pagar gaibnya terbuka," jawab Aditya.


"Bismillah.." ujar Aditya dan Arini secara bersamaan dengan memusatkan tenaga dalam mereka ke arah gerbang.


Duar


Suara ledakan pun kini terdengar menggelegar, dan pagar gaib pun kini telah terbuka.


"Alhamdulillah, Bunda ayo sekarang kita masuk, ingat kita jangan sampai putus dzikir supaya tidak terkecoh oleh tipu daya Siluman," ujar Aditya.


"Insyaallah Yah," jawab Arini.


Banyak makhluk astral yang menghalau mereka untuk sampai di Kerajaan Siluman Kerbau. Akan tetapi, dengan bekerjasama mereka berdua berhasil mengalahkannya dengan mudah.


Tiba-tiba Arini mendengar teriakan seseorang,


"Bunda tolong aku," ujar Siluman yang menyerupai Arga sehingga Arini pun kini berusaha mendekatinya.


"Tapi itu Aa yah, dia minta tolong sama Bunda" ujar Arini.


"Bunda ingat Aa selalu memanggil dirinya Aa bukan aku, Ayah rasa itu adalah Siluman yang menyerupai anak kita," ujar Aditya.


"Ayah memang tidak pernah suka denganku Bunda, dia selalu cemburu kepadaku karena takut jika aku merebut Bunda dari Ayah, Bunda tolongin aku, aku takut jika Siluman Kerbau memakanku," ujar Siluman tersebut.


Arini pun kini menghampiri Siluman tersebut yang sangat mirip dengan Arga.


"Bunda jangan !" ujar Aditya.


Siluman yang menyerupai Arga pun kini tertawa menyeringai karena dia mengira telah berhasil mengelabui Arini. Tapi tidak disangka Arini kini mengeluarkan tenaga dalamnya lalu memusnahkan Siluman tersebut.


Duar..duar..


Tenaga dalam yang Arini keluarkan kini terdengar menggelegar sehingga siluman tersebut pun musnah.


"Alhamdulillah, Ayah sudah khawatir Bunda akan terpengaruh oleh tipu daya Siluman," ujar Aditya dengan memeluk erat tubuh Arini.


"Bunda tidak rela jika sampai ada makhluk astral yang menyerupai wajah anak kita Yah. ayo sebaiknya kita bergegas menuju kerajaan Siluman kerbau Yah," ujar Arini. sehingga Arini dan Aditya pun kembali melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian kini di hadapan mereka terlihat sosok makhluk tinggi besar dan mempunyai tanduk.


"Selamat datang di Kerajaan Siluman Kerbau Ratu Siluman Ular," ujar Raja Siluman Kerbau.


"Aku sekarang bukan lagi Ratu Siluman Ular, tapi aku adalah seorang Ibu yang sedang mencari anak-anaknya, kau sembunyikan dimana anak-anakku Siluman Kerbau?" teriak Arini.


"Kamu lihat saja, sekarang mereka bertiga sudah lemah, dan sebentar lagi mereka akan menjadi santapanku," ujar Siluman Kerbau.


"Jangan harap kamu akan mendapatkan yang kamu inginkan, karena kami tidak akan membiarkannya !" teriak Aditya.


"Nyalimu besar juga anak muda, kamu beruntung karena telah menikahi titisan Ratu Siluman ular, tapi aku akan segera merebutnya darimu, Huahahahahaha," ujar Siluman Kerbau dengan tawanya yang menggelegar.


"Jangan bermimpi kamu Siluman Kerbau !" teriak Aditya sehingga kini Aditya menyerang Siluman Kerbau dan pertarungan pun tak terelakkan lagi.


Arini kini tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menghampiri anak-anaknya untuk membantu melepaskan ikatan pada tubuh mereka.


Ketika Arini hampir berhasil membukanya tiba-tiba hantu Kuyang memukulnya dari belakang, dan Arga yang melihatnya pun kini menjadi geram.


"Beraninya kamu menyakiti Bundaku !" teriak Arga, kemudian kini keluar cahaya kuning keemasan dari tubuh Arga sehingga melepaskan ikatan yang melilit pada tubuhnya.


Arga kini melepaskan ikatan pada Arya dan Putri juga, lalu dengan membabi buta dia menghajar hantu Kuyang tersebut sampai musnah.


Semua yang melihat kekuatan Arga yang muncul secara tiba-tiba pun kini merasa heran.


"Darimana anak itu mendapatkan kekuatan yang begitu besar? padahal tadi dia sudah lemah tidak berdaya," ujar Siluman Kerbau.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti orang yang ku sayangi !" ujar Arga.


Arga pun kini membantu Aditya tang sudah lemah dan terpental ke pinggir jurang, sehingga Arini yang melihatnya pun kini mencoba untuk menyelamatkan Suaminya.


Arya dan Putri masih terlihat lemah sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa.


Setelah pertarungan yang alot dengan Raja Siluman Kerbau Arga pun berhasil memusnahkannya. Tapi keadaan Arga sekarang mengalami luka dalam yang parah, sehingga dengan tertatih-tatih Arga mencoba untuk membantu Arini menarik tubuh Aditya yang kini sudah hampir terjatuh ke bawah jurang.


Karena tubuh Arga sudah lemah, Arga pun ikut ambruk dan kini Arga dan Aditya sama-sama berada di tepi jurang dan tangan keduanya kini dipegangi oleh Arini.


"Ayah, Aa, Bunda mohon kalian harus bertahan," ujar Arini dengan berlinang airmata karena tidak dapat mengangkat tubuh Arga maupun Aditya.


"Bunda lepaskan saja tangan Ayah, Ayah tidak mau kalau sampai Bunda ikut terjatuh, Bunda harus ikhlaskan kepergian Ayah, Ayah yakin Bunda pasti bisa hidup tanpa Ayah," ujar Aditya.


"Tidak Yah, Bunda tidak akan mungkin bisa menjalani hidup tanpa Ayah," ujar Arini dengan terus berderai airmata.


"Kalau begitu Bunda lepaskan saja tangan Aa, lebih baik Aa yang pergi, Bunda dan Ayah harus hidup bahagia" ujar Arga.


"Tidak, Bunda tidak bisa hidup tanpa kalian berdua," ujar Arini.


Kemudian Aditya pun akhirnya melepaskan pegangan tangan Arini, ketika tubuh Arini hampir ikut terjatuh dan akhirnya tubuh Aditya pun terjatuh ke dasar jurang.

__ADS_1


"Tidaaaaak..Ayah jangan tinggalkan Bunda !" teriak Arini. Secara perlahan kini tubuh Arga mulai naik ke atas dengan dibantu ditarik oleh Arini yang masih berderai airmata karena kepergian Suami tercintanya.


"Bunda maafin Aa, ini semua karena Aa ikut terjatuh juga, jadi Bunda tidak dapat menolong Ayah," ujar Arga dengan menangis dalam pelukan Arini.


__ADS_2