
Kakek Soleh nampak masih melanjutkan pembicaraannya dengan Arga, meski pun tadi Nek Ipah sudah sempat beberapa kali memanggil mereka untuk sarapan terlebih dahulu, namun Kakek Soleh menjawab masih kenyang karena tadi sudah minum kopi sama makan goreng singkong.
Namun, saking penasarannya Arini pun mencoba menguping pembicaraan mereka dari balik pintu, meski pun Arini tau jika kelakuanku itu sangatlah tidak sopan, namun tingkat kekepoan nya melebihi akal sehatnya saat ini. Dan tidak lama mereka pun terdengar melanjutkan kembali obrolannya.
......................
"Sebenarnya kamu berasal darimana Nak Arga?" tanya Kek Soleh.
"Saya tidak terlalu ingat dengan asal usul saya, namun yang saya ingat, saya sudah lama berada di tempat tinggal yang kini ditempati oleh keluarga Arini," jawab Arga sehingga Arga pun menceritakan tentang dirinya kepada Kakek Soleh.
Awal mula saya menyukai Arini, mungkin sudah semenjak dia berada dalam kandungan, saya nampak tertarik dengan janin yang berada dalam perut Bu Ria (nama Bundanya Arini) karena janin tersebut selalu memancarkan cahaya yang menghangatkan hati.
Setiap hari pasangan Suami-Istri itu selalu terlihat bahagia karena akan memiliki keturunan. Namun, Pak Eko ( Ayahnya Arini ) kadang terlihat cemas, mungkin karena beliau masih teringat dengan kutukan dari Siluman Ular.
Kehamilan Bu Ria nampak tidak wajar, karena selalu ngidam yang aneh-aneh,Bu Ria selalu ingin memakan daging mentah, dan yang lebih parahnya lagi Bu Ria selalu mencoba berburu tikus untuk dia makan, bahkan ketika diadakan acara empat bulanan pun Bu Ria nampak kepanasan serta meraung-raung agar semua orang berhenti membacakan ayat suci Al-qur'an.
Meskipun Arini masih berada di dalam kandungan, namun auranya yang kuat selalu mengundang semua makhluk astral sehingga berlomba-lomba untuk memilikinya, bahkan Raja Genderewo pun sampai sekarang masih mengincarnya.
Aku juga selalu berusaha sekuat tenaga melawan makhluk astral yang berniat mengambil janin Bu Ria.
Sampai akhirnya Pak Eko membawa Bu Ria untuk berobat ke sebuah Pesantren yang berada di Jawa, kalau tidak salah Pesantren milik Kyai Wijaya Kusuma, disana Bu Ria di rukiyah untuk mengusir energi negatif yang berada dalam tubuhnya.
Saya hanya bisa melindungi Arini dari luar Pesantren, karena Pesantren dikelilingi oleh pagar Ghaib yang sangat kuat sehingga saya tidak bisa menembusnya.
Rukiyah pun berlangsung lama sehingga mereka memutuskan untuk menetap di Pesantren sampai Arini dilahirkan.
......................
Beberapa bulan kemudian....
__ADS_1
Pada Suatu malam bertepatan dengan munculnya Bulan Purnama yang bersinar sangat indah lahirlah seorang bayi cantik yang diberi nama Arini Purnama Maharani, tubuh Arini dipenuhi sinar berwarna emas yang berkilauan, sehingga siapa pun yang melihatnya akan merasa takjub, dan entah mendapatkan kekuatan darimana karena malam itu saya bisa masuk melewati pagar gaib yang dipasang disekeliling pesantren.
Saat pertama kali mata saya melihat Arini yang pada saat itu baru saja dilahirkan, rasanya jantung ini seakan berdetak lebih kencang, dan hati saya pun menghangat, ini bukan lagi perasaan suka tapi ini adalah perasaan Cinta pada pandangan pertama.
Hingga akhirnya sampai sekarang saya selalu berusaha untuk melindunginya dari kejahatan makhluk-makhluk astral yang lain, bahkan tak ayal saya sering mengalami luka dalam yang serius akibat serangan mereka. Namun, saya baru kemarin masuk agama yang di anut oleh Arini supaya saya bisa masuk ke dalam rumah Aki.
"Apakah Aki yang memasang pagar Ghaib disekeliling rumah ini?" tanya Arga kepada Kakek Soleh.
"Iya betul Nak Arga, namun karena Arini sedang halangan, maka Rangga Wisesa pun masih bisa masuk ke alam mimpinya," jawab Kek Soleh.
"Sekarang bukan hanya Rangga Wisesa saja yang saya takutkan akan mengambil Arini, bahkan Raja Genderewo pun tadi sempat berusaha mengganggu Arini beserta teman-temannya, sebaiknya langkah apa yang sekarang harus kita lakukan untuk melindungi Arini ki?" tanya Arga.
"Kita tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan Arini dari gangguan Raja Genderewo, karena kekuatan kita tidak akan bisa mengalahkannya. Namun sepertinya Rangga Wisesa tidak akan tinggal diam saja jika sampai Raja Genderewo masih memaksa untuk mengambil Arini," ujar Kek Soleh.
"Lebih baik mulai sekarang kita tidak boleh lengah, kita harus lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, dan ingat Nak Arga jangan sampai kita membuat Arini beserta teman-temannya curiga dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Serta cobalah kamu belajar untuk memperdalam ilmu agama, banyak-banyaklah berdzikir, maka itu akan membantu untuk menambah kekuatanmu," ujar Kek Soleh kepada Arga.
"Untuk itu agar mempermudah semuanya, lebih baik kamu tinggal disini saja untuk sementara waktu, supaya lebih banyak lagi yang menjaga Arini," ucap Kek Soleh.
"Baiklah Ki, saya pasti akan selalu menjaga Arini dengan jiwa dan raga saya bahkan tanpa dipinta sekalipun," jawab Arga.
Namun, tiba-tiba terdengar suara benturan dari balik pintu sehingga menghentikan percakapan Kakek Soleh dan Arga.
Gedebuk....
"Suara apa itu Ki?" tanya Arga.
"Mari kita lihat saja kedalam," ajak Kek Soleh dan Arga pun kini mengikutinya.
Arga dan Kakek Soleh kini nampak saling memandang karena terkejut dengan apa yang mereka lihat, ternyata suara tadi adalah Arini yang terjatuh pingsan di balik pintu.
__ADS_1
"Apa mungkin Arini pingsan karena telah mendengar percakapan kita tadi Ki?" tanya Arga.
"Bisa jadi Nak Arga, karena wajahnya terlihat sangat syok, tapi lambat laun juga kita harus segera menceritakan kejadian sebenarnya kepada Neng Arini," ujar Kek Soleh.
Lalu Kakek Soleh pun memanggil Nek Ipah.
"Bu cepat kesini Neng Arini pingsan, bantu Bapak mengangkatnya ke dalam kamar," ujar Kek Soleh.
"Astagfirulloh..kenapa lagi kamu Nak? tadi dia muntah darah disertai binatang yang menjijikan, lalu sekarang malah pingsan, kasihan sekali nasibmu Nak, padahal kamu anak yang sangat baik," ucap Nek Ipah.
"Mungkin Arini tadi muntah darah yang disertai binatang karena semalam dia sudah memakan serta meminum hidangan di acara Pesta penyambutannya di Kerajaan Siluman ular Ki," ucap Arga.
Nek Ipah pun nampak tidak mengerti dengan yang Arga bicarakan.
"Sudah Ibu gak usah bengong, sekarang cepat bantu Bapak mengangkat Neng Arini, nanti Bapak pasti akan menceritakan semuanya," ucap Kek Soleh.
"Biar saya sendiri saja Ki yang membawanya masuk ke dalam kamar," ucap Arga. Dan Arga pun kini menggendong Arini ke dalam kamar.
Arga kini mencoba membaringkan arini di tempat tidur.
"Beristirahatlah Arini, tapi jangan terlalu lama, aku disini akan selalu menunggumu," ucap Arga dengan mengelus lembut kepala Arini yang tertutupi oleh jilbab, memang selama ini orangtua Arini selalu mendidiknya agar menjadi wanita Soleha, mereka pun selalu teringat dengan semua nasihat yang dulu diberikan oleh Ki Jarot.
"Nak arga sebaiknya kita keluar dulu, supaya Nek Ipah bisa membantu mengganti baju Neng Arini yang sudah penuh dengan keringat," ajak Kek Soleh.
"Bu tolong gantikan baju Neng Arini, kasihan takutnya nanti dia masuk angin, Oh ya Bu Ani dan Ida pada kemana? perasaan daritadi Bapak tidak melihat mereka berdua," tanya Kek Soleh.
"Ani dan Ida sekarang sedang main di Air Terjun Pak, Neng Arini tidak ikut karena sedang gak enak badan, tadi mereka mau pamit sama Bapak, tapi katanya takut ganggu Bapak dan Nak Arga yang sedang mengobrol," jawab Nek Ipah.
Nek Ipah pun kini masuk ke dalam kamar untuk membantu mengganti baju Arini.
__ADS_1