
Hari ini Aa dan Dede akan masuk Sekolah TK, dari pagi Mirna sudah antusias mendandani Dede, sedangkan Aa selalu melakukan semuanya sendiri.
"Aa mau Bunda bantu gak memakai bajunya?" tanya Arini.
"Enggak usah Bunda, Aa kan sudah besar, Aa gak mau nanti malah ngerepotin Bunda," jawab Aa.
Kenapa ya aku merasa sifat dan sikap Aa jauh berbeda dengan Dede, bahkan semakin sini wajah Aa semakin mirip dengan Arga temanku dulu, sedangkan Dede benar-benar mirip mas Aditya, hati Arini pun kini bertanya-tanya.
"Bunda, Aa dan Dede sudah siap belum?" tanya Aditya.
"Sudah Ayah, ayo anak-anak kita berangkat sekarang," ajak Arini pada Aa dan Dede.
"Rin aku nanti nyusul aja ya, soalnya aku belum beres dandan, bulu mataku juga belum ditempel sama yang palsu," ujar Mirna yang nampak mondar mandir.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat dulu, pintunya aku kunci aja ya, kamu kan bisa nembus !" ujar Arini pada Mirna.
"Iya kunci aja Rin, gampang aku mah tinggal menghilang juga sampai," jawab Mirna dengan cengengesan.
Sepanjang perjalanan Dede berceloteh menceritakan semua yang dia lihat di luar mobil. Sedangkan Aa terlihat kalem dengan membaca Buku, Arini dan Aditya pun selalu merasa heran dengan kejutan yang diberikan oleh Aa dari semenjak bayi.
"Bunda kenapa Aa udah bisa baca? tapi Dede belum? kita kan lahirnya sama, umurnya juga sama 5 tahun," tanya Dede sama Arini.
Arini pun bingung menjawabnya karena meski pun Arini tidak mengajarkan Aa membaca, Aa juga sudah bisa sendiri.
"Dede kalau mau cepet bisa baca kayak Aa, Dede harus belajar yang rajin ya !" ujar Arini.
"Iya Bunda," jawab Dede dengan menganggukan kepalanya.
"Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga, ayo kita turun anak-anak," ajak Aditya.
"Arini.." panggil Ida yang kini menghampiri Arini bersama Putri Aisyah.
"Putri ayo salim sama Ayah dan Bunda," ujar Ida menyuruh Putri untuk mencium punggung tangan Arini dan Aditya.
"Waah..pintarnya anak Bunda," ucap Arini kepada Putri dengan mengelus lembut kepalanya.
"Makasih Bunda," jawab Putri dengan tersenyum.
"Ida Abdul mana?" tanya Aditya.
"Itu masih di parkiran mas Aditya," tunjuk Ida.
__ADS_1
"Aku kira Putri gak masuk Sekolah sekarang Da," ujar Arini.
"Kasihan Rin di rumah juga dia gak ada temen, kalau Sekolah kan bisa banyak temannya, apalagi sekarang ada Aa dan Dede, tuh kamu lihat aja Putri langsung nemplok aja sama Aa dan Dede," ujar Ida.
"Siapa dulu dong mamahnya, Ida juga kan suka nemplok kalau lihat yang bening-bening," ujar Mirna yang kini berada di tengah-tengah Arini dan Ida.
"Astagfirulloh Mir," ucap Arini dan Ida secara bersamaan.
"Kamu tuh kebiasaan deh, aku kan sudah bilang kalau datang tuh ucapin salam," ujar Arini.
"Iya Mirna, untung aja kita gak punya penyakit jantung, bukannya kamu juga sama, suka nemplok sama yang bening-bening," sindir Ida.
"Iya Sorry..sorry..bener banget selera kita kan sama Da, oh iya Mas Abdul mana Da?" tanya Mirna.
"Mau ngapain kamu nanyain mas Abdul? mau nemplok apa mau aku templok tuh pipi pake sendal," tanya Ida.
"Tadinya sih pengen gitu langsung nempel kalau lihat yang bening-bening, tapi melihat kedua istri mas-mas tampan yang galak ini, aku mengurungkan niatku deh," ujar Mirna dengan cengengesan.
"Mir kamu gak usah ikut masuk ke dalam kelas anak-anak yah, aku takut jika sampai ada yang bisa melihat kamu, nanti pada sawan lagi," ujar Arini.
"Iya..lagian aku juga sudah ada acara sama teman-teman arisan sosialita kuntilanak Pelangi," ujar Mirna.
"Karena mereka kan pake dasternya warna-warni," ujar Mirna.
"Aku kira kamu mau ke kondangan Mir dengan dandanan yang cetar membahana seperti itu," ujar Ida.
"Aku kan disini senior para kuntilanak, jadi harus tampil beda," jawab Mirna.
"Rin bukannya yang di pakai Mirna itu baju kamu ya?" tanya Ida.
"Iya Da, Mirna tuh udah biasa pake bajuku, awas aja lho Mir kalau sampai baju baruku jadi kotor," ujar Arini.
"Gak mungkin lah aku ngotorin baju kamu, aku kan makannya elegan," ujar Mirna.
Tiba-tiba ada mobil mewah yang berhenti di depan Mirna, lalu keluar lelaki tampan dengan memakai jas.
"Sayang kamu sudah siap belum?" tanya lelaki tersebut pada Mirna.
"Sudah sayang, mari semuanya kami pergi dulu ya, kesayangan Aunty Mirna yang rajin ya belajarnya," ujar Mirna kepada anak-anak.
"Iya Aunty Dadah..." ujar Dede dan Putri dengan melambaikan tangan. Sedangkan Aa hanya acuh dengan terus belajar.
__ADS_1
Akhirnya Mirna masuk ke dalam mobil mewah tersebut dan lelaki tampan yang menjemput Mirna pun memperlakukan Mirna dengan romantis. Dia membuka serta menutupkan pintu untuk Mirna sampai Ida melongo melihatnya.
Abdul yang melihat Ida melongo melihat cowok ganteng yang bersama Mirna pun sampai memasukan pisang goreng ke dalam mulut Ida.
"Istighfar Mah, itu matanya di jaga, mulut sampai ngeces lagi," ujar Abdul kepada Ida.
"Papa apaan sih, syirik aja kalau Mamah lihat cowok yang bening dikit, yang penting hati Mama kan hanya milik Papa," ujar Ida pada Abdul.
"Rin siapa sih cowok yang sama Mirna barusan?" tanya Ida.
"Enggak tau, aku juga baru melihatnya sekarang," jawab Arini.
"Emangnya Mirna sudah putus gitu Bunda sama bang Jarwo?" tanya Aditya.
"Mungkin sudah putus Yah, makanya Mirna cari gebetan baru," ujar Arini.
"Eh dia manusia apa makhluk halus sih Rin? kok bisa pake mobil mewah segala," tanya Ida lagi.
"Gak tau juga Da," jawab Arini.
"Om itu jahat Bunda, dia sejenis sama Om Jarwo, dan Bunda harus hati-hati," ujar Aa.
"Jadi lelaki tampan tadi Genderewo !" teriak Ida dengan bergidik ngeri.
"Emang Aa tau darimana Mbak?" tanya Abdul.
"Aa kan istimewa mas Abdul, dia bisa melihat apa yang tidak bisa di lihat oleh orang awam," jawab Arini.
"Kok daritadi aku perhatiin Aa juga baca buku terus, emang Aa sudah bisa baca Rin?" tanya Ida.
"Udah Da, padahal aku belum sempat ngajarin Aa buat baca, tapi anehnya tau-tau dia udah bisa sendiri. Kadang aku suka heran sama sifat dan sikapnya yang tidak seperti anak kecil pada umumnya," jawab Arini.
"Emang gak salah dari kecil aku ngasih julukan bayi ajaib buat Aa, ternyata dia bener-bener ajaib," ujar Ida.
"Iya kita syukuri aja Bunda, setiap anak kan punya kelebihan masing-masing," ujar Aditya kini dengan memeluk tubuh Arini.
"Ayah jangan peluk-peluk Bundanya Aa," ujar Aa yang kini berusaha memisahkan Aditya dari Arini.
"Dan yang paling buat aku kesel, kalau aku sudah meluk Bundanya pasti Aa selalu memisahkan kami," ujar Aditya dengan tertawa. dan yang lain pun menertawakan sikap Aa yang posesif terhadap Arini.
Kini terdengar suara Bel yang sudah berbunyi, akhirnya anak-anak pun masuk untuk belajar.
__ADS_1