
Arini masih mencoba untuk menetralkan debaran dadanya, tapi tiba-tiba Arga membuka matanya juga sehingga kedua netra mereka bertemu.
Tanpa Arini duga Arga kini mencium bibirnya, sehingga Arini pun membulatkan matanya, tapi dia malah diam mematung, hatinya ingin menolak tapi tidak dengan tubuhnya yang malah merespon perbuatan Arga.
Astagfirulloh, sadar kamu Arini, Arga itu anak kamu, batin Arini. Sehingga Arini langsung mencoba melepaskan ciuman Arga.
"Kenapa sayang? kamu juga menikmatinya bukan?" ujar Arga dengan tersenyum.
Arini kini langsung duduk, lalu kemudian menangis, sehingga Arga yang melihatnya pun memeluk tubuhnya dengan erat.
"Maafkan aku Arini, aku tidak dapat mengendalikan perasaanku," ujar Arga.
"Hentikan semua ini A, Bunda tidak mau kalau kita sampai melakukan dosa besar," ujar Arini yang kini merasa frustasi.
"Tapi aku sangat mencintaimu sayang," ujar Arga.
"Itu tidak mungkin Nak, kita itu Ibu dan Anak, jadi selamanya kita tidak akan pernah bersama !" ujar Arini dengan penuh penekanan.
"Aku tau kamu juga mencintaiku Arini, apa salahnya jika memang kita saling mencintai?" tanya Arga.
"Jelas semua itu salah A, karena itu adalah Cinta Terlarang !" tegas Arini.
"Aku tidak peduli dengan semua itu Arini, yang pasti aku akan selalu mencintaimu sampai aku mati !" ujar Arga tidak mau kalah.
"Hentikan semua ini sayang," ujar Arini, namun lagi-lagi Arga malah membungkam mulut Arini dengan ciuman.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu sayang !" ujar Arga lalu kemudian berlalu ke kamarnya karena dia tidak ingin sampai melampiaskan hasratnya yang sudah tidak terbendung lagi.
Arini pun kini bergegas wudhu lalu kemudian Shalat Isya sekalian tahajud,
Ya Allah ampunilah hamba, hamba tau semua ini salah, tolong buanglah perasaan kami, karena hamba takut berdosa Ya Rabb, itulah sebait do'a Arini di sepertiga malam.
Beberapa jam kemudian Arini pun kembali terbangun setelah mendengar Adzan Subuh berkumandang, Arini menunaikan Shalat dan setelahnya bergegas ke dapur untuk membuat sarapan.
__ADS_1
Setelah memasak nasi, Arini kini mencari bahan makanan yang masih tersisa dalam kulkas.
"Aku masak yang ada aja deh, males juga kalau harus keluar dulu," gumam Arini dengan memotong bahan masakan yang ada.
Tiba-tiba ada yang memeluk erat tubuh Arini dari belakang, lalu mencium tengkuk lehernya dengan lembut, sehingga membuat tubuh Arini meremang.
"Kamu mau masak apa sayang?" tanya Arga dengan mencium rambut Arini.
Arini biasanya memakai jilbab, tapi karena dia merasa tidak ada lelaki lain yang bukan muhrim di rumahnya maka dia pun melepasnya ketika di dalam rumah.
"A, Bunda mohon jangan seperti ini," ujar Arini.
"Bukankah kamu juga menginginkannya sayang," ujar Arga, dan Arini hanya diam saja tanpa menjawab apa-apa.
"Kalau kamu diam berarti kamu memang mengharapkan yang sama denganku," ujar Arga yang kini membalikan tubuh Arini untuk menghadap kepadanya.
Arini kini berada dalam dilema, matanya menatap nanar wajah Arga, dia takut berdosa dengan cinta terlarang ini, tapi di sisi lain dia sudah masuk ke dalam pesona Arga, sehingga ketika Arga kembali mencium bibirnya dia hanya diam mematung tanpa melakukan perlawanan.
"Ya sudah sekarang aku bantu masak ya sayang," ujar Arga yang kini dengan cekatan membantu Bundanya memasak, tapi Arini masih diam mematung menatapnya.
"Sayang kenapa diam saja? ayo kita makan masakannya sudah jadi," ujar Arga dengan menggandeng tubuh Arini, lalu membawanya menuju meja makan.
"Ayo buka mulutnya, aku suapi ya," ujar Arga yang kini terlihat bahagia karena Arini terus saja menuruti perintahnya.
Aku tau Arini kalau kamu juga sudah mulai mencintaiku, meskipun cinta kita terlarang aku tidak peduli, yang penting aku bisa selalu berada di dekatmu, bukan sebagai seorang Anak lagi melainkan seorang Kekasih, batin Arga.
Setelah selesai sarapan, Arga dan Arini berangkat ke Kantor. Arini selalu ikut kemanapun Arga pergi karena Arga tidak mau meninggalkannya.
Sepanjang perjalanan Arga terus saja menggenggam tangan Arini, dan Arini pun tidak berusaha untuk melepaskannya.
"Sayang terimakasih ya atas semuanya," ujar Arga dengan memeluk tubuh Arini.
"Tapi A, Bunda takut berdosa jika kita terus seperti ini," ujar Arini.
__ADS_1
"Aku sudah bilang berapa kali Rin, aku ini Arga lelaki yang sangat mencintaimu, bukan lagi Aa Anakmu, jadi sebaiknya kamu jangan sebut aku dengan panggilan itu lagi !" ujar Arga yang kini terlihat marah sehingga dia berjalan mendahului Arini.
Ketika Arga berada di lobi kantornya, dia sengaja tebar pesona supaya Arini cemburu melihatnya.
Ngapain sih Arga pake tebar pesona kepada Karyawan, biasanya juga dia selalu cuek, batin Arini.
Arga yang melihat kecemburuan Arini pun langsung mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.
"Kamu kenapa sih sayang, kok cemberut gitu," ujar Arga dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Arini.
"Bunda gak kenapa-napa A," ujar Arini.
"Ya udah terserah kamu mau panggil aku apa juga, yang pasti sekarang aku tau kalau kamu juga mempunyai perasaan yang sama untukku," ujar Arga tersenyum penuh kemenangan, dan lagi-lagi Arini hanya diam tanpa berusaha menyangkal perkataan Arga karena dia bukan tipe orang yang pandai berbohong.
Arga dan Arini menjalani kesibukan di kantor dengan sesekali Arga memeluk tubuh Bundanya tersebut.
"A jangan gini, gak enak kalau sampai ada yang lihat," ujar Arini yang kini berada dalam pelukan Arga.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita itu Bunda dan Anak, jadi semua ini wajar kan kita lakukan karena kita muhrim," ujar Arga.
"Tapi jika kita mempunyai perasaan yang berbeda selain rasa sayang Ibu dan Anaknya semua itu gak wajar A," ujar Arini yang kini menatap sendu wajah Arga.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan status kita Arini, yang pasti aku akan selalu berada di sampingmu, menjaga serta melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku, sebagai seorang kekasih !" ucap Arga dengan penuh penekanan.
"Tapi A, kita sudah melakukan dosa besar sayang," ujar Arini.
"Bagiku ini adalah dosa terindah, dan aku tidak akan rela melepaskanmu lagi untuk oranglain," ujar Arga yang terus saja memeluk tubuh Arini dengan posesif.
"Ya sudah sebaiknya sekarang kita pulang, kepala Bunda rasanya sakit jika terus memikirkan semua ini," ujar Arini.
Akhirnya mereka berdua pulang dan tiba di rumah setelah jam sembilan malam.
"Sayang aku mandi dulu ya," ujar Arga dengan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Aku harus menghentikan semua ini, aku tidak mau kalau sampai aku dan Anakku terjerumus ke dalam kubangan dosa, tapi bagaimana caranya? aku tidak mungkin seperti Dayang Sumbi yang meminta Sangkuriang untuk membuatkan perahu lalu menggagalkannya, batin Arini.