
Aku masih merasa heran dengan apa yang telah terjadi kepadaku hari ini, sehingga setelah melaksanakan Sholat Maghrib aku duduk termenung menyenderkan kepalaku ke dashboard tempat tidurku. Lalu sesaat kemudian Aa menghampiriku.
"Bunda jangan sedih ya, nanti Aa pasti bantu bunda mengalahkan Pangeran Genderewo," ujar Aa.
"Siapa Nak? Pangeran Genderewo?" tanyaku pada Aa.
"Iya..Dia adalah anak dari Raja Genderewo yang dulu Kak Bima musnahkan, dan dia berniat untuk membalas dendam kepada keluarga kita Bunda. Pangeran Genderewo sengaja mengacaukan pikiran Bunda, lebih baik kita Sholat Isya dulu yuk Bunda," ajak Aa padaku.
Meski pun masih kecil tapi Aa adalah anak yang begitu istimewa, dia bahkan sudah lancar membaca Ayat suci Al-qur'an, bahkan dia sekarang sudah bisa menjadi imam Solatku.
Alhamdulillah Ya Alloh karena telah memberikan anak yang istimewa seperti Aa, ucapku dalam hati. Tidak henti-hentinya aku mengucap syukur atas semua rahmat yang telah Alloh SWT berikan untukku.
Mas Aditya dan Dede kini baru pulang dari Mesjid yang tidak jauh dari rumah, Aa sengaja tidak mau ikut karena dia mengkhawatirkan keadaanku.
"Assalamu'alaikum.." ucap Suami dan anakku.
"Wa'alaikumsalam.." ucap Aku dan Aa yang baru selesai melaksanakan Sholat Isya dan Sholat Witir.
Aku pun menghampiri Mas Aditya dan mencium punggung tangannya. Aa dan Dede pun bergantian mencium punggung tangan kami.
"Kelihatannya sudah ada yang bisa menggantikan Ayah menjadi imam Sholat nih," ujar Suamiku kepada Aa.
"Alhamdulillah Yah, Aa kan anak laki-laki jadi harus belajar menjadi imam," ujar Aa.
"Alhamdulillah..Ayah seneng dengernya, Dede juga nanti belajar sama Aa ya," ujar Suamiku. Dan dede pun mengiyakannya.
"Ya sudah sekarang Aa dan Dede Bobo ya, biar besok gak kesiangan bangunnya," ujar Mas Aditya.
"Yah..malam ini kita harus berhati-hati karena akan ada serangan yang datang," ujar Aa.
"Sebaiknya kita tidur bersama saja, biar Ayah yang begadang sekalian berdzikir, kalian bertiga tidurlah, sekarang sudah jam sembilan," ujar Suamiku.
"Aa ikut begadang aja sama Ayah, buat jagain Bunda sama Dede," ucap Aa dan mas Aditya pun tidak menolaknya.
__ADS_1
"Terimakasih ya sayang," ujar Mas Aditya kepada Aa dengan mengusap lembut kepala Aa, Aku pun sampai menitikan airmata, karena baru kali ini melihat Suamiku dan Aa terlihat akur.
"Ayah kenapa hatiku jadi tidak enak begini ya, kenapa tidak biasanya jam segini Mirna belum pulang juga?" tanyaku pada Suamiku.
"Sudahlah Bunda, Mirna bukan anak kecil lagi, jadi Bunda tidak perlu mengkhawatirkannya," ujar Mas Aditya dengan memeluk serta mencium keningku, dan tidak biasanya Aa hanya diam saja, serta tidak protes dengan perlakuan Mas Aditya padaku.
"Tumben nih gak ada yang protes?" tanya Mas Aditya pada Aa. Namun, Aa hanya diam tanpa berkata apa-apa.
Ayah..mungkin sebentar lagi kebahagiaan kita tidak akan lengkap tanpa kehadiranmu, ujar Aa dalam hati.
Aku sudah berusaha untuk memejamkan mataku, tapi rasanya sangat sulit. Dede sekarang sudah terlelap di sampingku, sedangkan Mas Aditya dan Aa masih terlihat duduk berdzikir. Tiba-tiba aku melihat ada Bola Api yang mendekati tubuhku, tapi Aa bergegas menghalau Bola api tersebut.
Lalu sesaat kemudian..
"Allahuakbar..." teriak Mas Aditya yang kini juga terlihat menghalau Bola Api yang datang bertubi-tubi. Mas Aditya bergegas membuat kubah yang mengelilingi tubuhku dan Dede, sedangkan Aa masih terlihat menghalau Bola Api membantu Mas Aditya.
"Banaspati itu rupanya kiriman seseorang, hati-hati Aa !!" teriak Mas Aditya yang melihat Aa hampir terkena serangan Banaspati. Namun Aa dengan lincahnya berhasil menghindar, tiba-tiba disaat Mas Aditya hampir terkena Banaspati, datanglah Bima dan Ayu yang bergegas menghalaunya, sehingga secara perlahan Banaspati pun musnah.
"Bima..Ayu..Terimakasih Nak," ujar Mas Aditya dengan memeluk tubuh mereka. Kini Bima dan Ayu sudah Dewasa, dan kami baru bertemu kembali setelah 5 tahun lamanya portal Ghaib yang terhubung ke Kerajaan Siluman Ular tertutup.
"Wa'alaikumsalam sayang, makasih banyak ya kalian sudah datang menolong kami," ucapku pada Bima dan Ayu.
"Sudah menjadi kewajiban kami melindungi Bunda dan keluarga serta menumpas semua angkara murka di Bumi ini, tapi maaf kami berdua baru bisa datang sekarang," ujar Bima dan Ayu.
"Tidak apa-apa sayang, Bunda juga memakluminya," jawabku pada mereka.
Aa pun kini menghampiri serta mencium punggung tangan kedua Kakaknya. Sedangkan Dede masih terlelap dalam tidurnya tanpa terusik sedikit pun dengan pertarungan yang sudah terjadi.
"Apa ini Arga Bunda?" tanya Ayu.
"Iya sayang, ini Aa Arga," jawabku kepada Ayu.
"Semoga kamu bisa selalu menjaga keluarga ini ya Aa, karena kami tidak akan bisa selalu berada disini," ujar Ayu.
__ADS_1
"Iya kak, aku pasti akan selalu menjaga semuanya," jawab Aa kepada Ayu.
"Bunda beruntung mempunyai Aa yang begitu menyayangi Bunda," ujar Ayu padaku.
"Iya sayang, Aa memang anak yang istimewa."
Lalu Aa kembali berkata,
"Bunda, Aunty Mirna masih di tahan sama Pangeran Genderewo" ujar Aa.
"Apa? jadi yang tadi siang menjemput Mirna itu jelmaan dari Pangeran Genderewo !" teriakku karena merasa terkejut.
"Iya Ibunda, dan kita harus segera membebaskan Aunty Mirna, sebelum dia di musnahkan oleh Pangeran Genderewo." ujar Bima.
"Tapi Kak, kita tidak akan mungkin bisa membebaskan Aunty Mirna sekarang, karena Pangeran Genderewo kekuatannya lebih besar dari Ayahnya, yaitu Raja Genderewo yang dulu pernah kita musnahkan," ujar Ayu.
"Besok sepertinya malam yang tepat untuk kita menyerang ke tempat Pangeran Genderewo, sebaiknya kita semua istirahat dulu, supaya tenaga kita kembali pulih," ujar Mas Aditya. Dan akhirnya kami pun beristirahat setelah sebelumnya Mas Aditya memasang Pagar Ghaib di sekeliling rumah dengan di bantu oleh Bima.
......................
Keesokan Paginya aku merasa bahagia karena sekarang keluargaku lengkap dengan kedatangan Bima dan Ayu.
Setelah melakukan Sholat subuh berjamaah, Ayu pun membantuku memasak.
"Bunda tau gak, kalau kak Bima sekarang sudah naksir seorang gadis," ujar Ayu.
"Siapa nih yang beruntung karena sudah di taksir oleh anak Bunda yang tampan satu ini," ujarku pada Bima yang sedang duduk tidak jauh dari kami, dan wajahnya kini menjadi bersemu merah karena malu.
"Yang di taksir kak Bima masih hidup di Kerajaan Ular, dia anak salah satu Petinggi Kerajaan, namanya Kirana," ujar Ayu.
"Namanya indah ya, pasti orangnya cantik," ujarku pada Bima.
"Ibunda tidak marah kan kalau aku sudah mendekati seorang gadis?" tanya Bima yang kini angkat bicara.
__ADS_1
"Kenapa harus marah? justru Bunda bahagia mendengarnya, Bima dan Ayu kan sudah dewasa, jadi kalian sudah sepantasnya mempunyai pendamping hidup. Dan Bunda hanya bisa mendo'akan kalian supaya mendapatkan pendamping terbaik," ujarku pada mereka, Sehingga sekarang Bima dan Ayu memeluk erat tubuhku.