
Arini kini mencoba membuka matanya secara perlahan, kemudian dia melihat sosok Aditya yang pada saat ini berada di sampingnya dengan tersenyum dan menggenggam erat tangannya.
Sontak Arini langsung terbangun dan memeluk tubuh Suami tercintanya.
"Alhamdulillah mas ternyata aku hanya mimpi buruk, aku bermimpi mas Aditya sudah meninggalkan kami untuk selamanya," ujar Arini dengan berlinang airmata.
"Sayang kamu harus sabar ya, ikhlaskan kepergian mas, insyaallah nanti kita akan bertemu kembali di surga," ujar Aditya dengan mengelus lembut kepala Arini.
"Jadi aku tadi tidak bermimpi? jadi mas Aditya sudah pergi meninggalkanku?" tanya Arini.
"Iya sayang, mas ke sini buat pamitan sama kamu, mas yakin kamu akan kuat menjalani hidup meski pun tanpa mas di samping kamu karena anak-anak kita pasti akan selalu menjagamu sayang," ujar Aditya.
"Enggak mas, aku mohon jangan tinggalin aku, aku lebih baik ikut pergi dengan mas Aditya," ujar Arini dengan terus menangis dalam pelukan Suaminya.
"Tidak sayang, sekarang belum waktunya, mas harap kamu akan selalu bahagia, walau sekarang mas tidak lagi berada di samping kamu, tapi mas akan selalu berada di dalam hati kamu sayang," ujar Aditya dengan mengecup kening Istrinya lalu secara perlahan Aditya pun menghilang.
"Mas Aditya..!" teriak Arini yang langsung terbangun dari pingsannya.
"Bunda, Alhamdulillah akhirnya Bunda sadar juga," ujar Arga.
"A dimana Ayah A, kemana perginya Ayah?" tanya Arini.
"Bunda yang sabar ya, ikhlaskan Ayah, sekarang Ayah sudah beristirahat dengan tenang," ujar Arga.
"Gak mungkin A, barusan Bunda bertemu dengan Ayah," ujar Arini.
"Tadi Bunda pingsan saat berada di pemakaman Ayah, sebaiknya sekarang Bunda minum dulu," ujar Arga dengan memberikan segelas air putih kepada Arini.
"Bunda sekarang istirahat ya, jangan terlalu banyak pikiran, sebaiknya kita mendo'akan Ayah semoga semua amal Ibadah Ayah diterima oleh Allah SWT," ujar Arga dengan menyelimuti tubuh Arini.
"Aa keluar dulu ya Bunda, Aa mau melihat persiapan buat acara tahlil nanti," ujar Arga.
__ADS_1
"Tidak A, jangan tinggalin Bunda, Bunda takut sendirian," ujar Arini dengan menggenggam erat tangan Arga, sehingga Arga akhirnya memutuskan ikut berbaring di samping tubuh Bundanya yang terus saja memeluk tubuh Arga dengan erat.
Deg
Perasaan apa ini Ya Allah, kenapa jantungku berdetak kencang ketika Bunda memelukku, batin Arga.
Setelah selesai pemakaman kini semua yang hadir di acara pemakaman pun membubarkan diri, kecuali Arya yang masih terlihat membaca Surah Yasin di depan pusara Ayahnya sehingga Putri pun memutuskan untuk menemaninya serta ikut mengaji juga bersama Arya. Sedangkan Bima dan Dinda memutuskan untuk melihat Bundanya terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke Kerajaan Siluman ular.
Ketika mereka berdua sampai di rumah Arini, mereka melihat Arini dan Arga sedang tidur terlelap dengan berpelukan sehingga Bima dan Dinda pun mengurungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu Bundanya yang masih terlihat syok.
Mudah-mudahan yang selama ini aku takutkan tidak akan terjadi, aku merasa khawatir karena melihat ada perasaan Cinta di mata Arga untuk Bunda yang lebih dari sekedar seorang Anak kepada Ibunya, lalu apa benar jika Arga Adikku adalah titisan seseorang yang sangat mencintai Bunda di masalalunya? batin Bima kini bertanya-tanya.
"Kak Bima kenapa? kok kelihatan melamun terus setelah melihat Arga dan Bunda?" tanya Dinda.
"Aku hanya takut saja dengan kedekatan Arga dan Bunda," ujar Bima.
"Kenapa harus takut Kak? wajar saja kan jika Arga dan Bunda dekat, mereka kan Ibu dan Anak," ujar Dinda.
"Tapi kan Ayah Aditya sekarang udah gak ada Kak, jadi perkataan Pangeran Genderewo juga salah," ujar Dinda.
"Memang benar Dinda, tapi Pangeran Genderewo juga pernah berkata jika Arga adalah titisan dari makhluk halus yang mencintai Bunda di masalalunya, kamu lihat sendiri kan meskipun Aa dan Dede kembar tapi wajah mereka jauh berbeda," ujar Bima.
"Iya sih Kak, oh iya dulu aku juga pernah mendengar cerita Ibuku, jika Bunda Arini pernah dicintai oleh makhluk halus yang bernama Arga, bahkan Arga mencintai Bunda Arini sejak beliau berada di dalam kandungan," ujar Dinda.
"Kenapa namanya bisa sama dengan Aa ya Dinda?" tanya Bima yang kini merasa heran.
"Entahlah Kak, aku juga tidak mengerti, tapi mudah-mudahan saja semua yang Kak Bima takutkan tidak terjadi ya," ujar Dinda.
Akhirnya mereka berdua kini melanjutkan perjalanannya menuju Kerajaan Siluman ular.
......................
__ADS_1
Setelah selesai mengaji di makam Ayahnya, Arya dan Putri pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore dan sepertinya hujan pun akan segera turun.
"Makasih ya Put, kamu sudah menemaniku," ujar Arya.
"Iya De, kamu yang sabar ya, ikhlaskan semuanya, aku yakin Ayah Aditya pasti sudah tenang di alam sana, karena beliau adalah orang yang baik," ujar Putri.
"Amin, mudah-mudah saja Put," jawab Arya.
Sesampainya di rumah Arya, Putri pun membantu untuk mempersiapkan acara tahlil Almarhum Aditya yang akan dilaksanakan setelah Solat Maghrib. Sedangkan Arya kini memutuskan untuk melihat keadaan Bundanya terlebih dahulu sebelum melaksanakan Solat Ashar.
Arya secara perlahan membuka pintu kamar Arini, dan dia melihat Arini dan Arga masih terlelap.
Kasihan Bunda, pasti sekarang Bunda merasa syok sehingga tidak mau ditinggalkan sendirian, ujar Arya dengan menutup kembali pintu kamar Arini secara perlahan.
Beberapa jam kemudian Adzan Maghrib pun berkumandang, dan Arya oun bergegas melaksanakan kewajibannya.
Setelah selesai melaksanakan Solat Magrib kini Arya mencoba untuk membangunkan Arini dan Arga.
"Bunda, Aa, ini sudah masuk waktu Sholat Maghrib, sebaiknya Bunda dan Aa solat dulu ya," ujar Arya sehingga Arini pun kini terbangun.
"Terimakasih ya sayang sudah bangunin Bunda, maaf Bunda tadi tidak bisa menemani Dede waktu di pemakaman," ujar Arini dengan memeluk tubuh Arya.
"Iya tidak apa-apa Bunda, sekarang sebaiknya Bunda dan Aa Solat dulu, kemudian makan juga, Ayah pasti akan sedih jika melihat Bunda terus berlarut-larut dalam kesedihan, jadi sebaiknya kita terus kirim do'a buat Ayah ya Bunda," ujar Arya.
"Iya sayang, pasti Bunda akan selalu mendo'akan Ayah, Aa ayo bangun sayang, kita Solat maghrib dulu," ujar Arini kepada Arga.
Akhirnya Arini dan Arga pun kini melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah.
Setelah selesai Solat dan makan, Arini dan kedua anaknya pun kini bersiap mengikuti acara tahlil untuk mendiang Suaminya.
Mas semoga mas tenang di alam sana ya, insyaallah aku akan ikhlas melepas kepergian mas Aditya, tunggu aku di Surga ya, ucap Arini dalam hati dengan tersenyum dan meneteskan airmata ketika melihat ruh Aditya yang kini berdiri dari kejauhan sambil tersenyum menatap ke arahnya, lalu secara perlahan ruh Aditya pun menghilang bersama cahaya putih yang menyilaukan.
__ADS_1