
Saat Perjalanan pulang menuju Pesantren, mas Aditya hanya diam saja tanpa berbicara satu patah kata pun, sehingga membuat hatiku kini menjadi bertanya-tanya.
"Mas tuh kenapa sih daritadi diem aja gak ngomong-ngomong? apa mas marah sama aku?"
"Bukannya gitu sayang, tapi kalau mas sampai salah ngomong lagi gimana? bisa-bisa nanti mas kamu suruh tidur diluar kan?" tanya Aditya dengan cemberut.
"Enggak gitu juga suamiku sayang, masa sih aku tega sama suamiku sendiri," jawabku. Sehingga membuat mas Aditya kini kembali tersenyum.
"Gitu dong, kalau senyum ayah kan jadi semakin tampan," ucapku mencoba menggodanya.
"TOLONG..TOLONG..TOLONG.."
Tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong dari dalam hutan yang saat ini kami lewati, sehingga mas Aditya pun bergegas menepikan mobil.
"Sayang kamu denger kan ada suara minta tolong?" tanya mas Aditya.
"Iya mas aku juga denger, tapi kayaknya asal suara tersebut dari dalam hutan deh."
"Apa mas turun saja ya? mungkin orang itu sedang membutuhkan bantuan kita," tanya mas Aditya padaku.
"Sebaiknya jangan deh mas, aku takut kalau sampai terjadi apa-apa sama mas nanti," Aku mencoba untuk mencegah mas Aditya, tapi mas Aditya bersikukuh ingin tetap mengeceknya sendiri.
"Kamu tenang saja ya sayang, insyaAlloh tidak akan terjadi apa-apa, nanti kalau mas sudah keluar dari mobil, pintu mobilnya kamu kunci ya, dan kalau sampai satu jam mas belum keluar juga dari dalam hutan, kamu telepon saja Abdul atau para santri untuk meminta bantuan, do'akan Ayah juga ya sayang," ucap mas Aditya dengan mengelus perutku terlebih dahulu sebelum akhirnya dia pergi.
"Hati-hati ya mas," teriakku. Dan mas Aditya nampak membalasnya dengan anggukan kepala serta senyuman yang menenangkan hati.
Beberapa saat pun berlalu, kini aku menunggu suamiku dengan cemas karena mas Aditya belum juga keluar dari dalam hutan.
"Duh.. bagaimana ini, mas Aditya sudah hampir satu jam berada di dalam hutan, aku sebaiknya sekarang harus segera meminta bantuan."
Namun, disaat aku hendak menelpon mas Abdul, mas Aditya kini nampak berlari ke arah mobil, lalu aku pun bergegas untuk membuka kuncinya, kini aku melihat dada mas Aditya nampak naik turun dengan napas yang tersengal-sengal.
"Mas kenapa sampai ngos-ngosan begitu?"
"Mas gak apa-apa sayang, nanti mas ceritain, sebaiknya sekarang kita harus segera pergi dari tempat ini." ucap mas Aditya yang kemudian kembali melajukan mobil.
"Ini, mas coba minum dulu biar lebih tenang," ucapku dengan menyodorkan sebotol air mineral kepada suamiku yang kemudian dia minum hingga tandas tak bersisa.
__ADS_1
"Mas pelan-pelan minumnya, kayak yang habis lihat setan aja."
"Emang bener, malah mas lihatnya dua setan sekaligus," jawab mas Aditya.
"Lho kok bisa?" tanyaku heran.
"Sebentar lagi kamu juga bakalan ketemu mereka karena sekarang mereka sedang mengejar kita," jawab Aditya.
"Memangnya mas sudah melakukan apa sama mereka? kok mereka sampai mengejar kita sih?"
"Mas awalnya mencari orang yang kita dengar minta tolong itu, dan ternyata setelah mas sampai di dalam hutan, dia bukan orang melainkan setan, lebih tepatnya kuntilanak yang dulu pernah kita temui di tempat kakek Soleh."
"Maksud mas kuntilanak Mirna?"
"Iya dia kuntilanak Mirna."
"Lho kok bisa dia sampai kesini ya mas? memangnya tadi apa yang sedang mereka lakukan?" tanyaku dengan heran.
"Tadi itu Mirna sampai teriak-teriak minta tolong karena sedang berkelahi dengan kuntilanak yang tempo hari suka numpang di mobil, mas melihat mereka sedang jambak-jambakan, sehingga banyak darah dan belatung yang terlihat keluar dari tubuh mereka, mas sampai jijik melihatnya. Dan akhirnya mas memutuskan untuk kembali lagi kesini karena tidak mau berurusan dengan mereka. Akan tetapi, mereka keburu melihat mas, sehingga mereka berdua malah berusaha untuk mencegat mas."
Aku pun kini meradang, karena pasti tadi mereka sudah mencoba untuk menggoda Suamiku.
"Mas sih tadi gak mau dengerin perkataanku, tadi aku kan sudah ngelarang mas supaya gak masuk ke dalam hutan," ucapku dengan kesal.
"Iya..iya...maaf mas memang salah, kamu yang sabar ya sayang, kasihan anak kita kalau Bunda nya marah-marah terus. Lagian mas sekarang kan sudah ada disini, gak sampai mereka culik juga."
"Pokoknya nanti kalau sudah sampai rumah, mas harus mandi kembang tujuh rupa !, baru ngebayangin saja aku sudah gak rela, mas tadi pasti digerayangi sama mereka kan?" teriakku dengan emosi. Akan tetapi, mas Aditya kini nampak terdiam tanpa menjawab perkataanku.
Akhirnya beberapa saat kemudian kami berdua sampai di Pesantren. Namun, ketika kami hendak menuju rumah, tiba-tiba Kuntilanak Mirna dan Kuntilanak Ganjen kini sudah berada di hadapan kami dan dengan ganjen nya mereka sudah berlenggak lenggok seperti model, tapi menurutku sih lebih seperti cacing kepanasan.
Kuntilanak Mirna tiba-tiba berteriak disaat melihatku.
"ARINI" teriak Mirna dengan berlari ke arah ku. Namun, karena gaun nya kepanjangan dia malah kesandung kemudian nyungseb di tanah. Tadinya aku mau memarahi Mirna tapi melihat kekonyolan dia, aku malah tertawa.
"Mirna..mirna..ngapain sih kamu pake lari-lari segala, kamu juga bisa melayang kan? ha..ha..ha.." aku pun masih belum bisa menghentikan tawaku.
Hi..hi..hi..hi..hi..hi..hi..
__ADS_1
Kuntilanak Ganjen pun kini ikut menertawakan Mirna.
"Ngapain kamu ikut-ikutan ketawa?" teriakku pada si Ganjen.
"Suka-suka aku dong, mulut-mulut aku juga," jawab si Ganjen.
"Terus ngapain juga kamu kemari?" tanyaku padanya.
"Ya..aku cuma mau nganterin si Mirna, tuh katanya dia kangen pengen ketemu sama kamu teman lamanya," jawab si Ganjen.
"Eh kamu gak usah bohong ya, siapa juga yang minta diantar sama kamu, dasar ganjen, tadi aja kamu sampai jambak-jambak rambut aku hingga pada rontok semua," ucap Mirna dengan sengit.
Tiba-tiba dari dalam rumah kini keluar Ida dan Abdul, Mirna yang masih mengingat Ida pun kini kembali berlari ke arah Ida.
"IDA..." teriak Mirna. Namun, tiba-tiba..
Gedebuk..
Mirna kini kembali terjatuh sehingga membuat kami semua yang melihatnya kembali tertawa.
"Kamu Mirna kan? si Kuntilanak yang waktu itu suka numpang mandi di empang kakek aku?" tanya Ida.
"Ida...ternyata kamu masih ingat aku," teriak Mirna dengan antusias dan mereka berdua pun saking bahagianya kini loncat-loncat dengan berpegangan tangan seperti anak kecil.
"Lho Rin kenapa aku jadi bisa lihat Mirna ya? terus itu satu lagi siapa?" tanya Ida.
"Dia itu Kuntilanak Ganjen yang tempo hari suka ikut numpang di mobil kalau melihat cowok ganteng," jawabku pada Ida, sehingga Ida kini terlihat geram lalu menghampiri si Kuntilanak ganjen.
"Dasar kamu Kuntilanak Ganjen ya, kamu kan yang tempo hari menggerayangi tubuh calon suami aku? apa saja yang kamu pegang hemm?" teriak Ida dengan menjambak rambut si Kuntilanak Ganjen.
Kami yang melihat kelakuan Ida pun hanya bisa membulatkan mata, karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ida, tidak biasanya Ida yang penakut kini menjadi pemberani sampai-sampai kuntilanak Ganjen itu teriak kesakitan.
"Awwwww sakit tau, cepetan lepasin," teriak si Ganjen
"Enak saja, jangan harap aku lepasin kamu dengan mudah setelah apa yang kamu lakukan kepada mas Abdul, ayo ngaku kamu sudah pegang apa saja bagian tubuh mas Abdul? aku aja yang calon istrinya belum bisa megang apa-apa," teriak Ida dengan histeris.
"Astagfirulloh Ida..Ida..ternyata itu toh yang buat dia sampai marah seperti itu," ucapku dalam hati sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan bar-bar Ida. Kemudian kini mas Abdul pun menghampiri Ida dan mencoba untuk menenangkan nya.
__ADS_1
"Sudah sayang, ayo lepasin rambutnya, kasihan kan belatungnya sampai rontok gitu, lagian kamu tenang aja, dia gak sampai pegang punyaku kok, nanti juga kamu yang pertama memegangnya, tapi sabar ya nunggu satu bulan lagi," ucap mas Abdul yang kini membuat wajah Ida menjadi merah merona karena malu.