Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 23 ( Kuntilanak Merah )


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul empat sore ketika Arini terbangun dari tidurnya karena dia teringat belum melakukan ibadah Sholat Ashar, rasanya tidur Arini kali ini sangat nyenyak sekali.


Kenapa tadi dalam mimpi aku melihat Arga melambaikan tangannya padaku seperti mengucap salam perpisahan ya? tanyaku dalam hati.


Arini pun akhirnya membangunkan Ayah dan Bundanya untuk melakukan Sholat Ashar secara berjamaah.


Kebetulan Aditya juga baru keluar dari bilik toilet, sepertinya dia juga akan melakukan sembahyang, sehingga Pak Eko pun mengajaknya untuk berjamaah di Mushola yang berada di samping empang.


Kini aditya sudah nampak berada di depan keluarga Arini untuk menjadi imam sholat Ashar kali ini.


Betapa terkejutnya Arini, rasanya hatinya bergetar ketika mendengar suara Aditya yang sangat merdu melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an, Arini pun yang mendengarnya sempat terkagum-kagum.


Setelah mereka berempat selesai mengerjakan Sholat berjamaah, Aditya akhirnya mengumpulkan semua orang, termasuk Kek Soleh, Nek Ipah, Ani dan Ida.


Hati Arini sebenarnya bertanya-tanya dengan apa yang akan aditya bicarakan kepada mereka. Namun, lebih baik dia menunggu Aditya saja untuk berbicara terlebih dahulu.


Mengapa rasanya hatiku takut bercampur sedih, entah apa yang akan Aditya bicarakan nanti, batin Arini.


Akhirnya Aditya kini memulai pembicaraannya.


"Assalamu'alaikum...., Mohon maaf karena sebelumnya saya sudah mengganggu waktu semuanya untuk berkumpul disini dan terimakasih karena sudah berkenan memberikan waktu untuk saya berbicara."


"Sebenarnya saya telah mendapatkan amanah dari seseorang yang bernama Arga untuk kita semua,"


Deggg


Arini kini merasa gelisah.


"Arga berpesan kepada saya supaya mewakilinya untuk berpamitan kepada semuanya, dia meminta maaf kalau selama ini sudah melakukan banyak kesalahan, dan dia berharap orang yang dia cintai yakni Adinda Arini mendapatkan kebahagiaannya dengan lelaki pilihannya kelak," ujar Aditya.


Sekarang Arini tak kuasa untuk menahan tangisnya, ada sesuatu yang hilang disaat mendengar tentang kepergian Arga dan Arini pun berlari untuk masuk ke dalam kamar.


Arga kenapa sih kamu tega ninggalin aku? kamu kan sudah berjanji kalau akan selalu menjagaku apa pun yang terjadi dengan hubungan kita, walau pun kita tidak bisa saling memiliki, ucap Arini dalam hati.


Tiba-tiba Bunda datang dengan mengusap lembut punggung Arini.

__ADS_1


"Yang sabar ya Nak, Bunda tau ini semua tidak mudah untukmu, tapi cobalah kamu ikhlaskan kepergian Arga, ini semua demi kebaikannya juga, kasihan kan dia kalau terus berada di sampingmu, tapi yang kamu pilih adalah Rangga, hatinya pasti sangat hancur jika harus melihat kalian selalu bersama," ujar Bunda.


"Tapi Bunda, Arga sudah menemaniku semenjak aku berada dalam kandungan Bunda, dan dia yang selalu melindungi kita dari makhluk halus yang selalu berusaha mengambilku," jawab Arini.


"Iya Bunda tau semua itu sayang, karena tadi Aditya juga sudah menceritakan semuanya tentang Arga. Sebaiknya ayo kita kembali keluar, sepertinya Nak Aditya masih ingin menyampaikan sesuatu padamu sayang," ajak Bunda Ria.


Akhirnya setelah hati Arini merasa sedikit tenang, Arini dan Bunda pun menemui Aditya kembali yang masih nampak berkumpul dengan yang lainnya.


Arini meminta maaf karena tadi aku sudah berlaku tidak sopan dengan masuk ke dalam kamar tanpa terlebih dahulu mengucapkan pamit kepada semuanya.


"Arini apa kamu baik-baik saja?" tanya Ani dan Ida.


"Alhamdulillah...sekarang aku sudah merasa lebih tenang", jawab Arini pada mereka.


"Alhamdulillah..kalau begitu," ucap semua yang ada di dalam ruangan ini.


"Kami juga merasa sangat kehilangan dengan kepergian babang tampan Lee Min Hoo. Tapi mungkin kita belum jodoh," cengir Ani dan Ida.


"Oh ya Kek, sekarang kan Arga sudah gak ada, terus gimana dong nasib Ida dan Ani, siapa yang akan membantu Kakek melakukan pertukaran jiwa kami kembali," tanya Ida dan Ani.


"Sekarang Arga sudah pergi, dan Rangga Wisesa juga sedang melakukan semedi, jadi hanya ada Nak Arini dan Nak Aditya yang dapat membantu Kakek," ujar Kek Soleh.


"Nak Arini, Nak Aditya apa kalian bisa membantu kakek melakukan pertukaran jiwa kepada Ani dan Ida? tanya Kek soleh.


"Insyaalloh saya bisa Kek," jawab Aditya.


"Kalau memang aku juga mempunyai kekuatan untuk membantu semuanya, maka dengan senang hati aku akan melakukannya," ucap Arini pada Kek Soleh.


"Nanti malam sepertinya cocok untuk melakukan ritual pertukaran jiwa. Namun, Ani dan juga Ida kalian berdua harus siap dengan gangguan dari makhluk tak kasat mata nantinya," ujar Kek Soleh.


"Iya Kek siap gak siap Ida harus siap karena rasanya Ida udah sesak banget tinggal di tubuh Ani," ujar Ida dengan cengengesan.


......................


Kini malam pun tiba, Arini, Aditya dan Kek Soleh mencoba menyalurkan kekuatan mereka untuk membantu pertukaran jiwa antara Ida dan Ani.

__ADS_1


Ani dan Ida sudah nampak duduk saling berhadapan serta berpegangan tangan, mereka bertiga pun mengelilingi Ani dan Ida untuk membantu melepas raga agar jiwa mereka bisa bertukar kembali.


Mereka sengaja melakukannya di halaman rumah Nek Ipah supaya lebih leluasa.


"Bismillah....Ayo sekarang pejamkan mata kalian serta pusatkan kekuatan kalian untuk mencoba membantu Ani dan Ida melepas raga," ujar Kek Soleh.


Beberapa saat kemudian Arini mencoba melihat dengan mata batinnya, Ani dan Ida kini jiwanya sudah nampak keluar dari raganya. Namun, tiba-tiba angin berhembus dengan kencangnya sehingga membawa terbang jiwa ani dan Ida pada saat Ani dan Ida mencoba untuk bertukar masuk kembali ke dalam raga mereka.


Mereka bertiga yang melihatnya pun kemudian bergegas melakukan lepas raga juga untuk menolong Ani dan Ida.


Mereka mengejar jiwa Ani dan Ida yang tertarik ke sebuah gubuk yang berada tidak jauh dari Air terjun.


"Tunggu !" Kek Soleh nampak menghentikan langkah Arini dan Aditya.


"Kita jangan gegabah, kita tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa," ucap Kek Soleh.


Sesaat kemudian mereka bertiga mendengar tawa cekikikan dari atas pohon beringin.


Hii...Hii..Hii...Hii...Hiii..


"Akhirnya kalian datang juga, aku sudah lama menunggu kedatanganmu Roro Ajeng. Ternyata sekarang pancinganku terhadapmu berhasil juga karena kedua Makhluk yang menjagamu sedang tidak berada di sampingmu," ucap kuntilanak merah yang kini mulai turun dari atas pohon.


"Ternyata kamu kuntilanak merah, apa tujuanmu mengambil jiwa kedua Cucuku?" tanya Kek Soleh.


"Hey diam saja kau tua bangka, jangan ikut campur urusanku dengan Roro Ajeng ! Hiii ..Hiii...Hiii...Hiii...Hiii..." Kuntilanak Merah kembali tertawa.


"Apa yang menjadi urusan Nak Arini sekarang sudah menjadi urusanku karena dia juga adalah cucuku," ucap Kek Soleh.


"Aku beri pilihan kepadamu, berikan jiwa Roro Ajeng padaku, maka aku akan memberikan dua jiwa cucumu," ucap Kuntilanak Merah.


"Jangan mimpi kamu, selama aku masih berada di samping Arini, aku akan selalu menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku !" ucap Aditya dengan lantangnya.


"Siapa kamu cah bagus? lebih baik kamu tinggal saja disini bersamaku serta menjadi pemuas nafsu birahiku, maka aku pasti akan memberikan harta yang melimpah untukmu !" ajak Kuntilanak Merah.


"Jangan kamu pikir aku akan tergoda dengan tawaranmu, aku sudah mengetahui tipu daya kalian yang selalu menjerumuskan manusia dengan iming-iming kekayaan serta jabatan, tapi itu semua tidak berlaku untukku, karena harta yang di dapat dengan cara instan maka akan membawamu ke dalam jurang kesengsaraan," jawaban Aditya yang membuat Arini mengaguminya.

__ADS_1


__ADS_2