Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 69 ( Acara Kemping Sekolah )


__ADS_3

Sepuluh tahun kini telah berlalu, Arga kini telah lulus SMA dan setiap tahun dia selalu mendapatkan juara umum. Sedangkan Arya dan Putri sekarang sudah lulus SMP.


Besok Sekolah mereka akan mengadakan acara kemping ke Puncak sebagai acara perpisahan Siswa. Arini dan Ida pun kini terlihat sibuk mempersiapkan keperluan Anak-anaknya.


Arini dan Ida kini bertetangga, karena Ida membeli rumah yang bersebelahan dengan rumah Arini.


Seperti biasa Arga selalu tidak ingin merepotkan Bundanya, sehingga dia selalu mempersiapkan kebutuhannya sendiri.


"Dede belajar mandiri donk jangan nyusahin Bunda terus," ujar Arga.


"Iya nanti kalau Dede udah SMA juga kayak Aa," jawab Arya dengan cengengesan sehingga dia mendapat sentilan di dahinya dari Arga.


"Sudah sayang jangan ribut terus, Bunda seneng kok bisa nyiapin keperluan kalian, nanti kalau kalian berdua mandiri, Bunda jadi gak ada kerjaan donk," ujar Arini dengan tersenyum.


"Bunda temenin Ayah aja, sesekali kita jalan berdua tanpa Anak-anak,"ujar Aditya yang kini memeluk tubuh Istrinya dari belakang.


"Ayah apaan sih, gak enak sama Anak-anak, mereka kan sudah besar," bisik Arini.


Arga yang melihat kemesraan Ayah dan Bundanya kini langsung masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu dengan keras.


BRUUG


Arini, Aditya dan Dede pun kini langsung mengucap istighfar karena kaget dengan perbuatan Arga.


"Kenapa lagi sih sama Aa, semakin hari kayaknya semakin gak suka sama keharmonisan rumah tangga kita," ujar Aditya dengan cemberut.


"Mungkin Aa sedang ada masalah Yah, makanya dia bersikap seperti itu, nanti biar Bunda coba untuk berbicara dengan Aa," ucap Arini dengan mengelus lembut bahu Suaminya.


Kenapa selama ini aku tidak pernah bisa mendengar isi hati Aa ya? tanya Arya dalam hati.


Arini kini mengetuk pintu kamar Arga, lalu kemudian dia masuk ke dalam kamar Putranya tersebut.


Arga kini terlihat menutup tubuhnya dengan selimut.


"Aa kenapa tadi bersikap seperti itu? apa Aa sedang mempunyai masalah?" tanya Arini dengan mengelus lembut tubuh anaknya.


Arga pun kini bangun, lalu kemudian memeluk tubuh Arini dengan erat.

__ADS_1


"Maafin Aa ya Bunda, entah mengapa jika Aa melihat kemesraan Bunda dan Ayah hati Aa menjadi sakit, lalu kemudian Aa ingin marah," ujar Arga dengan menangis dalam pelukan Bundanya.


"Aa harus banyak membaca istighfar, jangan terbujuk oleh bisikan Setan," ujar Arini dengan mengelus lembut punggung Putranya.


"Iya Bunda, terimakasih banyak nasehatnya, Aa pasti akan selalu mengingatnya," ujar Arga.


Entah kenapa aku selalu bermimpi tentang gadis yang mirip sekali dengan Bunda, sehingga aku selalu emosi jika melihat Ayah memeluk Bunda, perasaan apa ini Ya Alloh, ucap Arga dalam hati.


"Ya sudah nanti Aa minta maaf juga ya sama Ayah, karena tadi Aa bersikap tidak sopan dengan menutup pintu secara keras di hadapan orangtua," ujar Arini.


"Iya Bunda Aa pasti bakalan ngelakuin semua perintah Bunda," ujar Arga yang tidak mau melepaskan pelukan Bundanya.


"Makasih ya sayang, Anak Bunda memang baik, tapi sekarang lepasin dulu dong pelukannya, Bunda mau masak buat makan siang dulu," ujar Arini kepada Arga, sehingga Arga pun langsung melepas pelukannya dari tubuh Bundanya dengan tersenyum malu.


......................


Di rumah Ida sekarang Ida sibuk memasukan banyak makanan ke dalam tas Putri.


"Mah gak usah bawa makanan banyak-banyak, nanti Putri takut gendut kaya Mamah," ujar Putri yang kini terlihat kesal.


Sekarang Ida kembali bertubuh gendut seperti saat dia masih SMA, sehingga Ida sering ketakutan kalau Abdul akan berpaling kepada perempuan lain.


"Tapi Mah Putri nanti berat bawanya," rengek Putri.


"Tenang aja Put, kan ada aku, nanti biar aku yang bantuin bawa semua makanannya, daripada nanti Mamah tanduknya keluar," bisik Dinda yang sekarang duduk di samping Putri sehingga mereka berdua kini tertawa cekikikan.


"Kalian berdua pasti ngomongin Mamah kan?" selidik Ida.


"Mamah GR banget sih, daripada ngomongin Mamah mendingan kita ngomongin Aa yang gantengnya gak ada tandingannya," ujar Putri dengan senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Arga yang rupawan.


Dinda pun kini ikutan melamun juga.


Arga memang ganteng banget, sejak pertama kali kita bertemu aku langsung jatuh hati padanya, batin Dinda.


"Astagfirulloh, rupanya Anak Mamah sudah mulai naksir sama lawan jenis ya," ujar Ida dengan memeluk tubuh Putri dan Dinda.


"Iya dong Mah, Putri juga kan normal," jawab Putri dengan cengengesan.

__ADS_1


"Mamah kira Putri naksir sama Dede, kan Dede juga tampan mirip Ayahnya," ujar Ida dengan cengengesan. Ida tidak sadar kalau di belakangnya kini sudah ada Abdul Suaminya.


"Jadi begini ya kerjaan Mamah kalau gak ada Papah, diam-diam Mamah suka ngebayangin lelaki lain," rajuk Abdul.


"Astagfirulloh Papah ngagetin aja sih, siapa bilang Mamah bayangin lelaki lain, hanya Papah seorang yang paling tampan di mata Mamah," ujar Ida dengan mencium pipi Abdul.


Yang lain kan tampan juga gak bakalan bisa Mamah cicipi Pah, ujar Ida dalam hati.


"Mah ingat di depan anak-anak jangan suka mancing-mancing," bisik Abdul.


"Ya sudah kalau gitu kita ke kamar aja yuk, biar nanti Mamah pijitin," bisik Ida. Lalu kemudian Ida dan Abdul pun berlalu ke dalam kamar mereka meninggalkan Putri dan Dinda yang masih senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Arga.


......................


Keesokan paginya Anak-anak sudah terlihat bersiap untuk berangkat kemping, Arga nampak enggan berpisah dari Bundanya sehingga dia terus bergelayut manja pada Arini.


"Aa kenapa sih sudah besar juga manja terus sama Bunda," ujar Aditya yang kesal melihat kelakuan Arga.


"Mulai nih perang Ayah dan anak lagi," ledek Arya.


"Dede gak boleh bicara seperti itu, kan Aa baru kali ini berpisah sama Bunda," ujar Arini.


"Dede juga sama baru kali ini mau pisah sama Ayah dan Bunda, tapi perasaan biasa aja gak lebay kayak Aa," ledek Dede.


"Bunda sebaiknya Aa gak usah ikut kemping aja ya, Aa gak mau sampai berpisah dari Bunda," rengek Arga.


"Sayang, kita gak ketemu cuma tiga hari bukan tiga bulan," ujar Arini dengan mengelus lembut kepala Arga yang tingginya sudah melebihi tubuhnya.


"Aa jangan banyak tingkah deh, emang gak malu sama Dede? Aa kan enak ikut kemping juga sebagai Panitia, jadi gak bakalan cape," sindir Arya.


"Iya ayo cepetan sebaiknya kita berangkat ke Sekolah biar kalian gak ketinggalan Bus," ajak Aditya yang masih saja cemberut melihat tingkah Arga yang tidak mau lepas dari Arini.


Diluar rumah Arini keluarga Ida juga sudah bersiap untuk berangkat bersama, mereka sengaja memakai mobil yang lebih besar supaya muat membawa banyak orang.


Aditya duduk di kursi kemudi ditemani oleh Abdul.


Putri dan Dinda kini berebut ingin duduk dekat Arga, tetapi mereka kecewa karena Arga tidak mau melepaskan pegangannya terhadap Arini, sehingga Arga dan Arini duduk di kursi tengah bersama Ida.

__ADS_1


Dan dengan terpaksa Dinda dan Putri duduk di kursi belakang bersama Dede Arya.


__ADS_2