Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 54 ( Berita Kehamilan Ida )


__ADS_3

Hari ini Ida akan mengadakan acara Anniversary Pernikahannya yang ke-1 bersama mas Abdul. Ketika aku sedang memasak tiba-tiba handphone ku berbunyi, ternyata nama Ida yang tertera di layar handphone, aku pun segera mengangkatnya.


"ARINI.." teriak Ida dari sebrang sana.


"Astagfirulloh..Da, kamu ngagetin aku saja sih, kebiasaan banget deh, kalau nelpon tuh ucapin salam dulu Ida bukan malah teriak-teriak," gerutu ku pada Ida.


"Maaf Bu Ustadzah, saking senengnya aku jadi lupa ngucapin salam, Assalamu'alaikum," ucap Ida kemudian.


"Wa'alaikumsalam, tumben banget Da pagi-pagi gini kamu sudah nelpon? memangnya ada kabar bahagia apa sampai membuat kamu tertawa girang begitu?" tanyaku pada Ida.


"Rin Alhamdulillah aku Positif hamil," teriak Ida lagi.


"Alhamdulillah..aku turut bahagia dengernya Da, Selamat ya, kamu jangan sampai kecapean, apalagi nanti malam kamu mau ngadain syukuran Pernikahan kamu yang sudah 1 tahun itu," aku pun mencoba untuk menasehati Ida.


"Iya..iya..aku pasti ingat nasehat kamu, kalau begitu aku mau minta tolong sama mas Aditya ya buat mimpin do'a, sekalian aja aku mau ngadain syukuran kehamilanku," ucap Ida.


"Iya insyaAlloh nanti aku bilangin sama suamiku," jawabku sama Ida.


"Jangan lupa ya bawa Aa dan Dede kesini, sekalian juga bilangin sama si centil Mirna buat kesini juga," ujar Ida.


"Iya insyaAlloh nanti aku bilangin, sudah dulu ya aku lagi masak nih, kasihan suamiku sudah nunggu mau berangkat kerja," ucapku kepada Ida. Kami pun mengakhiri perbincangan kami lewat telpon setelah sebelumnya mengucap salam.


"Bunda siapa yang barusan telpon?" tanya suamiku yang kini tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang.


"Ida, sayang..barusan Ida ngabarin kalau dia positif hamil," jawabku pada mas Aditya.


"Oh..Ayah kirain telpon dari mantan pacar Bunda," ujar mas Aditya mencoba menggodaku.


"Ayah apaan sih ngomong begitu? kan mantan pacar Bunda cuma Ayah seorang," jawabku pada mas Aditya.


"Tapi kan yang ngefans sama Bunda banyak, Ayah sekarang baru ingat sama makhluk halus yang bucin sama Bunda dulu," ujar suamiku.


"Siapa Yah?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Kalau gak salah namanya Arga deh, saking bucin nya dia sampai nyuruh Ayah buat ikhlasin Bunda sama Rangga Wisesa, jadi waktu itu Ayah mundur karena melihat pengorbanan dia juga yang besar buat Bunda dan Rangga waktu itu," ujar Suamiku. Kini aku membulatkan mataku, bagaimana selama ini aku bisa lupa dengan Arga yang sudah mencintaiku, bahkan sejak aku berada dalam kandungan Bunda.


"Kok Bunda diem aja sih? Bunda sudah ingat belum sama Arga? bahkan Bunda sekarang pake nama itu buat Aa, tapi kalau di lihat-lihat Aa mirip banget deh sama Arga," ujar suamiku yang kini nampak berpikir.


"Ayah sebaiknya makan dulu ya, ini masakannya sudah matang, oh iya Bunda lupa, kalau tadi Ida meminta Ayah buat mimpin do'a di acara Ulang tahun Pernikahannya, sekalian juga sama syukuran kehamilannya," ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya insyaAlloh nanti Ayah usahain kerjanya pulang cepat," jawab suamiku. Akhirnya kami berdua pun sarapan karena Aa dan Dede masih tertidur pulas.


"Kalau begitu Ayah berangkat dulu ya sayang, jaga hatimu hanya untukku," ucap suamiku sehingga aku mendelikan mata.


"Iya..iya..jaga buah hati kita baik-baik ya Bunda," ujar suamiku dengan mengecup keningku.


"Ayah juga hati-hati ya, jangan lupa nanti bekalnya di makan,," ucapku dengan mencium punggung tangannya, lalu sesaat kemudian dia melajukan mobilnya setelah sebelumnya mengucap salam.


"Kenapa aku sama sekali tidak mengingat Arga yang dulu selalu ada untukku, dan mengapa disaat aku melihat Aa saat pertama kali dilahirkan justru nama Arga yang terlintas di dalam pikiranku," tanyaku dalam hati.


Kini Mirna terlihat menuntun Aa dan mereka terlihat menghampiriku.


"Arini, ini dari tadi Aa nyariin kamu," ujar Mirna.


"Iya sama-sama..lagian aku juga gak ada kerjaan, dari pada aku masuk sekolah hantu buat gangguin orang, lebih baik aku bantuin kamu jagain Aa, kalau jagain Dede mah aku gak bisa, soalnya kalau Dede lihat aku dia langsung sawan tuh, padahal aku sudah mode cantik gini juga," cerocos Mirna.


"Oh iya Mir, tadi Ida telpon, katanya nanti malam mau ngadain syukuran Ulang tahun Pernikahannya, sekalian sama syukuran kehamilannya, kamu juga di Undang ke sana," ujarku pada Mirna sehingga dia terlihat senang.


"Waaaah bahagianya aku mau jadi Aunty lagi, bisa-bisa nanti kalian jadi besan Rin," ujar Mirna antusias.


"Kalau anak Ida Perempuan dan memang jodoh sama anakku ya gak apa-apa," ucapku pada Mirna.


"Bunda nanti anak tanteu Ida perempuan," celetuk Aa.


"Tuh Aa aja sudah tau," jawab Mirna dengan cengengesan.


"Emang Aa tau darimana?" tanyaku pada Aa.

__ADS_1


"Aa lihat Dede main sama anak tanteu Ida," jawab Aa.


"Aa kan spesial Rin, jadi dia sepertinya sudah mengetahui yang akan terjadi di masa depan," ucap Mirna.


"Iya juga sih Mir, anak kesayangan Bunda ini kan pinter banget," ucapku dengan mencium pipi Aa.


Dede tiba-tiba menangis lalu berjalan ke arah kami. Sekarang Aa dan dede sudah berusia 1 tahun lebih, dan Dede baru bisa berjalan.


"Dede kenapa nangis?" tanya Aa.


"Dede atut antu," jawab Dede yang masih cadel dengan menunjuk Mirna.


"Dede jangan takut, Aunty Mirna baik," ucap Aa.


"Onti dak didit?" tanya Dede.


"Aduh Rin Dede tega banget sih, masa aku udah cantik gini Dede masih takut, Dede Aunty gak gigit ya, enak aja memangnya Aunty Drakula," ucap Mirna sehingga secara perlahan Dede mulai mendekati Mirna.


"Onti Aik da didit dede?" tanya Dede sama Mirna.


"Enggak sayang, sini makanya Aunty gendong Dede ya, jangan takut sama Aunty cantik ini," ujar Mirna dengan mencoba memangku Dede.


"Alhamdulillah akhirnya Dede gak takut juga ya sama Aunty Mirna," ucapku pada Dede.


"Dede dak atut, onti ina aik," jawab Dede.


"Ya sudah kalau begitu Aa sama dede makan dulu ya, nanti Bunda suapi," ucapku pada mereka, sehingga Aa dan Dede pun tertawa.


"Mir kamu ingat Arga gak yang dulu suka nolongin aku?" tanyaku pada Mirna.


"Kenapa kamu tiba-tiba nanyain Arga Rin?" tanya Mirna balik nanya.


"Tadi mas Aditya sempat membicarakan tentang Arga, jadi tiba-tiba saja aku jadi kepikiran tentang keberadaan Arga yang tiba-tiba menghilang." ujarku.

__ADS_1


"Aku gak tau tentang keberadaan nya Arga sekarang Rin, karena terakhir kita ketemu katanya dia mau pergi ke Alas Purwo untuk bertapa disana," jawab Mirna.


"Maaf Rin aku gak bisa jujur tentang keberadaan Arga, karena sebenarnya Arga sekarang berada di sampingmu, dan Aa adalah titisannya." ucap Mirna dalam hati.


__ADS_2