
Setelah selesai Sholat Ashar kami pun akhirnya melakukan syukuran kecil-kecilan yang di adakan di Pesantren dengan mas Aditya yang memimpin do'a.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh..
"Terimakasih semuanya telah berkenan hadir di acara tasyakuran kehamilan istri tercinta saya, Adinda Arini Purnama Maharani, semoga istri dan anak kami selalu diberikan kesehatan dan keselamatan, serta lindungan dari Alloh SWT, Amin Yarobbal Alamin..🤲" ucap mas Adit sebagai pembuka acara pada sore hari ini, selanjutnya kami pun membaca do'a bersama.
Sekarang hatiku merasa sangat bahagia serta bersyukur karena mempunyai suami yang Soleh, "Terimakasih Ya Alloh karena telah mengirimkan mas Aditya sebagai imam hamba," ucap syukur tiada hentinya aku panjatkan di dalam hati.
Sampai akhirnya acara pun selesai ketika Adzan maghrib berkumandang, dan kami semua pun segera bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat.
"Mas mau berjamaah di masjid apa bareng sama aku?" tanyaku pada mas Aditya.
"Mas berjamaah sama kamu saja sayang, takutnya nanti dede bayi nya rewel," ucap mas Aditya dengan mengelus lembut perutku.
Benar saja baru juga mas Aditya selesai bicara kini perutku bergejolak hebat sehingga aku berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutku, dan mas Aditya pun langsung bergegas menyusul ku.
"Kasihan banget sih kamu sayang, baru juga makan, udah kamu keluarin lagi semuanya," ucap mas Aditya dengan memijit tengkuk leherku.
"Aku nikmatin saja mas prosesnya, lagian aku juga sangat bersyukur bisa ngerasain semuanya."
"Dulu waktu kamu hamil Bima dan Ayu sama juga kayak gini gak?" tanya suamiku.
"Mungkin karena alam disini sama disana berbeda kali mas, jadi proses semuanya gak terlalu lama, paling satu apa dua kali, mualnya juga gak separah seperti sekarang."
"Tuh dengerin sayang, waktu Bunda hamil kakak kamu katanya gak manja kaya kamu sekarang, jadi kamu juga jangan bikin Bunda susah ya," ucap mas Aditya mencoba berbicara dengan bayi yang ada di dalam perutku, sampai aku tertawa melihat tingkah lucunya.
"Mas itu ada-ada aja sih, ya sudah sekarang kita ambil wudhu aja sekalian, alhamdulillah aku juga sudah lebih baikan, mungkin anak kamu takut dimarahi sama ayahnya," ucapku dengan tertawa.
"Ya sudah kalau dede bayinya ngambek ayah gak bakalan nengok," ucap mas Aditya tersenyum jahil.
"Mas juga harus puasa dulu sampai lewat trimester pertama, yu ah cepetan wudhu, nanti waktu Sholat Maghribnya takut keburu habis," ajakku kepada mas Aditya.
Akhirnya kami berdua melakukan kewajiban kami sebagai seorang Muslim.
"Sayang, mas buatin susu dulu ya,"
"Iya Ayah," jawabku yang dibalas senyuman oleh mas Aditya, kemudian mas Aditya pun berlalu ke dapur.
Tiba-tiba ponselku berdering, kini nampak Ida yang meneleponku.
"Assalamu'alaikum Da"
"Wa'alaikumsalam Arini, gimana kabarnya sehat?"
__ADS_1
"Alhamdulillah Da, terus kabar kamu sama keluarga gimana? sehat juga kan?"
"Alhamdulillah kami semua sehat juga Rin."
"Oh iya Rin, rencananya besok aku sama mas Abdul mau ke tempat kamu, sekalian kami juga mau mondok untuk beberapa bulan, kamu gak keberatan kan?"
"Ya ampun Da, masa aku keberatan sih, lagian kamu sekarang kan sudah kurus jadi gak berat lagi," ucapku menggoda Ida.
"Arini ih malah bercanda, orang lagi serius juga."
"Iya..iya..dengan senang hati kami tunggu kedatangan kalian, dan kamu juga nanti harus jagain keponakanmu yang sekarang ada di dalam perutku ya," ucapku pada Ida yang dibalas dengan teriakan olehnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaa yang bener Arini, kamu sekarang hamil anak mas Aditya?" teriak Ida dengan antusias. sehingga membuatku menjauhkan handphone dari telingaku.
"Kamu berisik banget sih, ni kuping aku sampai sakit dengernya."
"Iya..iya..maaf sayangku, cintaku, my honey baby sweatty," cerocos Ida.
"Tuh mulai deh lebay nya keluar," sindir ku yang dibalas cekikikan oleh Ida.
"Ya sudah Ibu hamil cepetan tidur, jangan begadang ya, tunggu aunty Ida besok ya sayang, Assalamu'alaikum."
"Kalian berdua hati-hati di perjalanannya ya, salam juga buat semua keluarga kamu, Wa'alaikumslam." jawabku, dan obrolan kami pun berakhir.
"Ini sayang, minum dulu susu nya ya," ucap mas Aditya dengan memberikan segelas susu tersebut padaku.
"Terimakasih Ayah, oh iya mas barusan Ida telpon, katanya besok mau datang kesini sama Abdul, sekalian mereka katanya mau mondok juga untuk beberapa bulan."
"Alhamdulillah kalau begitu, biar kamu ada temennya juga kalau Ida kesini, soalnya ayah lagi banyak kerjaan di peternakan," jawab mas Aditya dengan mengelus serta mengecup perutku yang masih rata.
Aku pun kini tertidur di pelukan suamiku, hingga kami berdua masuk ke dalam mimpi indah kami.
......................
Keesokan Hari nya..
Ida dan Abdul kini sudah sampai di Pesantren, aku sangat bahagia dengan kedatangan Ida, teman terbaikku yang tinggal satu-satunya, karena Ani kini sudah tidak dapat lagi berkumpul bersama kami.
"Semoga Ani juga selalu bahagia di alam sana, Amin." do'aku dalam hati.
kami berdua saling berpelukan melepas kangen, bahkan tidak biasanya hari ini bayi dalam perutku tidak rewel.
"Aku kangen banget sama kamu Da."
__ADS_1
"Sama aku juga Rin, apalagi sama si ganteng dalam kandungan kamu ini," ucap Ida dengan mengelus lembut perutku.
"Emangnya kamu tau kalau dia laki-laki?" tanyaku pada Ida.
"Feeling aja sih Rin," ucap Ida cengengesan.
"Mas Abdul gimana kabarnya?" tanya mas Aditya.
"Alhamdulillah baik mas Aditya," jawab mas Abdul.
"Alhamdulillah kalau begitu, gimana nih hubungannya dengan Ida?" tanya mas Aditya lagi.
"Alhamdulillah saya sudah mengkhitbah Ida, mohon do'a dan restunya ya mas Aditya, supaya secepatnya kami bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan," jawab mas Abdul.
"Iya InsyaAlloh mas, mari masuk," ajak mas Aditya kepada Ida dan Abdul.
"Ida, mas Abdul, kalian bawa teman ya," ucapku sehingga mereka nampak bingung.
"Enggak kok Rin, kami cuma berdua," jawab Ida.
"Tuh, tadi ada si kuntilanak kecentilan ikut numpang mobil kalian, tapi dia gak bisa masuk karena disini sudah memakai pagar ghaib," jelas ku.
"Pantes saja tadi mas bilang kan sama Ida, kayaknya ada yang gerayangin tubuh mas," ucap mas Abdul bergidik ngeri.
"Iya dia itu kuntilanak kecentilan, kalau lihat cowok ganteng langsung main nemplok-nemplok aja, dulu juga pas lihat mas Aditya, matanya ampe mau copot tuh, makanya aku kesel banget," ucapku yang dibalas senyuman oleh mas Aditya.
"Untung aja Rin aku gak bisa lihat, kalau aku lihat bisa pipis di celana nanti," ucap Ida yang cekikikan, mungkin ingat tingkahnya dulu pada saat kami liburan ke rumah Neneknya.
"Wah Rin, suasana disini enak banget ya, masih Asri tanpa polusi," ucap Ida.
"Iya Da, makanya aku betah banget tinggal disini, aku dulu kan lahir disini juga," jawab ku.
"Mudah-mudahan kalian betah ya, maaf kalau keadaan nya seperti ini, harap maklum disini berada di kampung yang jauh dari kota," tambah mas Aditya.
"Oh ya Rin, Bunda mana?" tanya Ida.
"Bunda disini sayang, maaf ya Bunda gak nyambut kalian, soalnya Bunda lagi beresin masak," jawab Bunda yang baru datang dari dapur dengan merentangkan kedua tangannya, kemudian berpelukan dengan Ida.
"Terimakasih ya, nak Ida sama nak Abdul sudah berkenan untuk mondok disini, jadi Arini ada temen nya. Hari ini saja tumben bayinya gak rewel, jadi Arini gak bolak balik terus ke toilet," ucap Bunda.
"Iya Bunda, Ida juga seneng banget bisa datang kesini, masakan Bunda kan paling enak, apalagi Ida kesininya sama mas Abdul, pujaan hati Ida," ucap Ida cengengesan.
"Bisa-bisa Ida jadi gendut lagi tuh kalau tiap hari makan masakan Bunda, sindirku yang dibalas senyum malu-malu sama Ida.
__ADS_1
"Tapi awas lho Da jangan kecentilan, kalian itu belum muhrim, jadi mas Abdul nanti tidurnya di kobong sama para santri," ucapku pada Ida dan kami semua pun tertawa melihat Ida yang cemberut.