Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 51 ( Meninggalnya Bunda Ria )


__ADS_3

Hari ini kami akan mengadakan acara Aqiqah dan syukuran 40 hari kelahiran Si kembar Arga dan Arya, Bima dan Ayu pun kini sudah datang untuk melihat adik mereka.


"Assalamu'alaikum Ibunda, Ayah Aditya," ucap mereka dengan mencium punggung tangan kami.


"Wa'alaikumsalam sayang, kenapa kalian berdua baru datang kesini sekarang? padahal Bunda sudah kangen banget sama Bima dan Ayu," tanyaku pada Bima dan Ayu.


"Maaf ya Ibunda kami baru bisa menengok Adik sekarang, soalnya kami sangat sibuk sekali mengurus Kerajaan, apalagi kakek sebentar lagi mau pergi," ujar Bima.


"Lho emang kakek mau pergi kemana?" tanyaku penasaran.


"Nanti juga Ibunda bakalan tau," jawab Bima padaku yang kini terlihat sedih. Aku tau kalau ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.


"Wah adik bayinya mirip sekali sama Ayah Aditya ya Ibunda, lucu banget ih, Ayu jadi gemes pengen nyubit," ucap Ayu yang kini terlihat memegang pipi Arya.


"Ibunda, dede bayi yang lucu ini siapa namanya?" tanya Ayu.


"Si tampan ini namanya Dede Arya, dan kalau yang ganteng ini namanya Aa Arga," ucapku yang membuat wajah Ayu kini terlihat bingung.


"Kalau Aa Arga memangnya bayi siapa Ibunda? kenapa ada disini juga?" tanya Ayu.


"Aa Arga juga Adik kalian berdua, dia adalah saudara kembarnya Dede Arya," jawabku pada Ayu.


"Ibunda tidak sedang bercanda kan? karena gak mungkin Ibunda melahirkan anak kembar, sebab sejak Ibunda hamil kami berdua hanya melihat satu bayi saja dalam perut Ibunda, ya kan kak Bima?" ujar Ayu yang kini mendapat anggukan kepala dari Bima.


"Mungkin ini rezeki dari Alloh SWT untuk Bunda dan Ayah Aditya, karena Aa Arga juga lahir hanya selang beberapa menit dari Dede Arya, tapi karena badannya yang lebih besar jadi kami panggilnya Aa yang artinya Kakak," ujarku pada Ayu. karena aku orang sunda jadi biar lebih gampang aku memanggil Arga dan Arya dengan panggilan Aa dan Dede, dan mas Aditya pun tidak mempermasalahkannya.


Sesaat kemudian..Tiba-tiba Ida datang dengan hebohnya setelah pulang dari Bulan madunya selama hampir satu bulan ini di Lombok. Karena kebetulan suaminya Ida juga ada pekerjaan disana.

__ADS_1


"Hai..hai..tanteu Ida yang cantik datang," ujar Ida yang kini mencoba memeluk kami semua, kecuali mas Aditya.


"Ida..Ida..datang-datang bukannya ngucapin salam gitu biar jadi contoh baik buat anak-anakku," ujarku pada Ida.


"Iya sorry..sorry..I Am forget," ucap Ida dengan cengengesan.


"Perasaan kamu habis bulan madu dari lombok deh bukan dari inggris," ucapku pada Ida. Lalu kini terdengar lagi suara heboh dari Mirna.


"Hai..hai..Aunty Mirna datang membawa oleh-oleh dari Lombok," ujar Mirna yang kini badannya dipenuhi berbagai barang bawaan.


"Kamu mau pindahan Mir?" ledekku pada Mirna yang kini membuat semuanya tertawa.


"Arini Cantik aku tuh baru pulang dari Lombok ikut Ida Bulan Madu, dan ini kami bawa oleh-oleh buat kalian semua," ujar Mirna.


"Kamu jadi obat nyamuk dong Mir selama disana?" celetuk Suamiku pada kuntilanak Mirna.


"Wah Arga rupanya sudah lahir," ucap Mirna.


"Lho kok kamu tau kalau anakku bernama Arga? padahal kamu kan baru datang?" tanyaku dengan heran.


"Ya..tau lah..kan aku serba tau," jawab Mirna.


"Terus kamu juga pasti tau kan nama anak aku yang satu lagi?" tanyaku pada Mirna dan dia nampak kebingungan.


"Ya enggak tau, aku kan tadi juga cuma asal nebak," ujar Mirna dengan cengengesan.


Aku sepertinya melihat Mirna menyembunyikan sesuatu dariku. Lalu disaat aku hendak bertanya lagi padanya, Bunda kini memanggil kami supaya segera membawa Arga dan Arya keluar dari kamar karena acaranya akan segera dimulai.

__ADS_1


Aku menggendong Aa, lalu mas Aditya menggendong Dede. Karena anehnya Arga tidak pernah mau di gendong oleh siapa pun kecuali olehku, beda dengan Arya yang anteng di gendong oleh siapa pun juga.


Akhirnya acara pun kami mulai dengan dipimpin oleh Saudara mas Aditya yang kebetulan menjadi salah satu pengajar di Pesantren ini.


Aku merasa bahagia karena bisa berkumpul dengan semuanya. Namun, netraku kini memanas karena dari kejauhan aku melihat sosok Ayah yang selalu aku rindukan. Ayah nampak tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.


"Kenapa baru kali ini aku melihat Ayah bisa keluar dari Kerajaan Siluman Ular? apakah Ayah sudah saatnya untuk menjemput Bunda?" tanyaku dalam hati.


Hatiku sekarang menjadi tidak tenang, aku belum siap jika harus berpisah juga dengan Bunda, mas Aditya yang kini melihat kegelisahanku pun mencoba untuk menenangkanku dengan mengusap lembut pundakku.


Setelah acara Aqiqah dan syukuran 40 hari Aa dan Dede selesai, kami pun kini membereskan rumah dibantu oleh beberapa santri. Akan tetapi, Bunda tiba-tiba pingsan sehingga membuatku cemas.


Aku pun menangis karena takut jika harus berpisah dengan Bunda, Bima dan Ayu kemudian menghampiriku dan berusaha untuk menenangkanku.


"Ibunda yang sabar ya, Ikhlaskan semuanya, kami tau ini semua pasti berat untuk Ibunda karena harus berpisah dengan Nenek, begitu juga dengan kami yang harus berpisah dengan Kakek, karena sekarang sudah saatnya Kakek dan Nenek pergi ke tempat seharusnya," ujar Bima dan Ayu yang semakin membuatku histeris.


Sesaat kemudian Bunda sadar, lalu memanggilku dan mas Aditya supaya mendekatinya.


"Arini sayang, maafin Bunda ya, karena sekarang sudah waktunya Bunda pergi, kasihan Ayah sudah lama menunggu Bunda, jadilah Istri dan Ibu yang baik untuk anak-anakmu, Bunda minta maaf karena sudah tidak bisa berada di samping kalian lagi," ucap Bunda dengan lirih sehingga membuatku terus meneteskan airmata.


"Nak Aditya terimakasih banyak ya, karena Nak Aditya selama ini sudah menjaga kami dengan baik, tolong titip Arini bersama semua cucu Bunda, jaga serta Bimbing mereka dengan baik, Bunda sekarang sudah bisa pergi dengan tenang, dan Bunda minta supaya Bunda dimakamkan di samping kuburan Ayah," ujar Bunda.


"InsyaAlloh Bunda, Aditya akan menjalankan semua amanah dari Bunda," jawab mas Aditya. kemudian kini mas Aditya membantu Bunda supaya mengingat Alloh SWT di akhir hidupnya.


"Innalillahi Waina Ilaihi Raji'un, ucap mas Aditya kini dengan menutup mata Bunda. Aku pun langsung berhambur memeluk suamiku serta menumpahkan semua airmataku dalam pelukannya.


Acara yang tadinya bahagia, kini berubah menjadi duka, sehingga semua orang yang tadinya tertawa kini menangisi kepergian Bunda.

__ADS_1


"Terimakasih Bunda, Ayah, karena telah merawat serta membesarkan Arini dengan baik, Selamat jalan Bunda, Ayah, semoga kalian bahagia di alam sana." ucapku dalam hati ketika melihat ruh Bunda dan Ayah yang kini tersenyum dengan melambaikan tangannya padaku sebagai salam perpisahan.


__ADS_2