
Kini Arini bersama keluarganya menuju rumah Ida. Sesampainya disana Ida sudah menyambut heboh kedatangan Arini. Tapi tiba-tiba Ida malah menjambak rambut Mirna.
"Aduh sakit, Ida ngapain sih datang-datang langsung jambak rambut aku?" tanya Mirna yang kini terlihat kesal.
"Sorry ya Mir, mungkin bawaan bayi, tiba-tiba aja aku pengen jambak rambut kamu yang panjang itu," jawab Ida dengan cengengesan.
"Ada-ada aja kamu Da, biasanya juga rambut Mirna kamu bikin kelinci percobaan," ujar Arini dengan tersenyum. Tiba-tiba dari dalam rumah Abdul keluar dengan kepalanya yang tertutupi karung.
"Sayang..sayang..kamu dimana? mas sudah kehabisan napas nih," teriak Abdul.
"Astagfirulloh Da, itu mas Abdul kamu apain? kenapa kepalanya sampai tertutup karung begitu?" tanya Arini.
"Habisnya tadi aku kesel pas lihat wajah mas Abdul, ya sudah aku masukin karung aja kepalanya biar gak kelihatan," ujar Ida dengan cekikikan.
"Ya Alloh Da tega banget sama suami sendiri," ucap Aditya yang kini membuka karung di kepala Abdul.
"Hah..hah..hah.."
Terdengar napas abdul yang terengah-engah.
"Sayang kamu kok tega banget sih, gimana nanti kalau aku sampai kehabisan nafas?" ucap Abdul.
"Ya maaf, lagian itu juga kemauan bayi kita, dari pada nanti ileran emang mas mau?" ujar Ida yang kini nampak cemberut.
"Kamu yang sabar ya Abdul, wanita hamil itu memang sensitif, Arini juga dulu gitu, mood nya naik turun," bisik Aditya pada Abdul.
"Ayah ngapain sih ngomongnya bisik-bisik segala?" tanya Arini.
"Eh enggak Bunda, tadi Ayah ngajak Abdul ke dalam rumah, soalnya kasihan Aa dan Dede nanti kedinginan," ujar Aditya berbohong.
"Ayah Bohong Bunda," ujar Aa.
"Tuh kan Aa aja bilang Ayah bohong, Ayah pasti sudah bohongin Bunda kan? tanya Arini yang terlihat kesal.
"Aa ngapain sih pake ngomong gitu segala, nanti Ayah gak bakalan kasih Aa permen sama coklat lho," ucap Aditya.
__ADS_1
"Kata Bunda juga Aa gak boleh makan permen sama coklat, nanti giginya rusak," jawab Aa dengan menjulurkan lidahnya pada Aditya.
Ibunya Ida kini terdengar memanggil mereka untuk masuk ke dalam rumah supaya acaranya bisa segera di mulai.
"Ayo semuanya masuk, acaranya biar bisa segera di mulai," ujar Ibunya Ida. Dan mereka semua pun akhirnya masuk ke dalam rumah Ida.
Aditya kini membuka acara dan memimpin Do'a setelah semua keluarga beserta tetangga Ida dan Abdul hadir. Acara Syukuran pun selesai setelah jam sepuluh malam.
"Rin kalian nginep aja ya disini, kasihan tuh Aa dan Dede sudah tidur," ujar Ida setelah acara syukuran selesai.
"Aku tanya dulu suamiku deh," tanya Arini yang kemudian melangkahkan kaki ke depan rumah untuk menemui Aditya dan Abdul yang kini sedang asyik mengobrol sambil merokok.
"Ayah gimana kalau malam ini kita nginep disini aja ya?" tanya Arini.
"Emang gak ganggu Abdul dan Ida?" tanya Aditya dengan tersenyum.
"Ida sendiri yang barusan nyuruh kita nginep, lagian kasihan Aa dan Dede juga sudah tidur," ujar Arini.
"Gimana Abdul, gak apa-apa nih kita nginep disini? takutnya nanti ganggu kamu yang mau nengokin bayi di perut Ida," tanya Aditya dengan terkekeh pelan.
"Ya gak apa-apa mas Aditya, apalagi itu permintaan Ida, yang ada kalau kalian nolak nanti aku yang malah jadi sasaran amukannya," ucap Abdul.
"Gak tau mbak saya juga heran, sejak tadi pagi pas dia tau positif hamil, Ida jadi berubah. Jangankan nengokin bayi, baru lihat saya masuk kamar saja, Ida langsung ngusir," ucap Abdul tertunduk sedih.
"Mas Abdul sabar ya, mungkin bawaan bayi," ucap Arini.
"Beda banget sama kamu dulu waktu hamil ya sayang, kalau Arini malah pengennya deket-deket terus sama aku," ucap Aditya dengan tersenyum, lalu kemudian Arini mencubit perutnya.
"Ya sudah mas Aditya, Mbak Arini, sebaiknya sekarang kita masuk ke dalam saja, kasihan pasti sudah pada ngantuk," ajak Abdul.
Mereka pun kini masuk ke dalam rumah, kecuali Mirna yang malah mau keluar rumah.
"Mau kemana Mir kamu malam-malam gini?" tanya Arini.
"Mau cari Cogan lah, siapa tahu di dekat sini ada Demit tampan, lumayan kan kalau aku jadiin gebetan, syukur-syukur mau sehidup semati sama aku," ujar Mirna yang kini terlihat lenggak lenggok di depan cermin.
__ADS_1
"Jangan pake Sehidup Mir, cukup Semati aja ngomongnya, kamu gak sadar apa kalau kamu itu sudah mati," ucap Arini.
"Eh iya ya sorry aku lupa, kamu kalau ngomong suka bener," ujar Mirna dengan cekikikan lalu kemudian berlalu ke luar rumah.
"Awas pulangnya jangan sampai pagi !!" teriak Arini.
"Ngapain sih Bunda pake mencemaskan Mirna segala, lagian gak bakalan ada yang nyulik dia juga, yang ada orang yang lihat dia tuh bakal lari terbirit-birit, Ida saja dulu sampai ngompol di celana pas pertama lihat Mirna," celetuk Aditya sambil tertawa.
"Iya juga sih, yu ah Bobo udah ngantuk banget nih," ajak Arini pada suaminya.
"Gak mau.." ucap Aditya yang kini mulutnya di tutup oleh Arini sebelum melanjutkan omongannya.
"Apaan sih Bunda, kok mulut Ayah malah di tutup? Ayah kan belum selesai ngomong," ujar Aditya.
"Bunda tuh udah tau Ayah barusan mau ngomong apa, udah ayo cepetan tidur, ingat ini dimana !!" ucap Arini dengan memeluk tubuh suaminya, dan seperti biasa Aa tiba-tiba pindah tidurnya menjadi di tengah-tengah Bunda dan Ayahnya, sehingga Aditya pun tidur dengan hati yang kesal.
Di kamar Ida, Abdul kini merengek seperti anak kecil karena Ida menyuruhnya tidur di sofa.
"Sayang kok tega banget sih suaminya di suruh tidur di sofa," ucap Abdul.
"Mas ngertiin aku dong, ini juga bukan keinginanku, tapi keinginan bayi kita," jawab Ida.
"Mas gak bakalan bisa tidur kalau gak meluk kamu sayang," rengek Abdul.
"Mas mau kalau kepalanya aku tutupin karung lagi?" ujar Ida.
"Jangan dong, nanti mas kehabisan napas," jawab Abdul.
"Ya sudah nurut aja tidur di sofa, aku soalnya gak kuat kalau deket-deket mas, bawaannya pengen muntah terus," ucap Ida yang kini sudah menutup matanya. Dan akhirnya Abdul pun terpaksa tidur di sofa.
Mirna kini terlihat lenggak lenggok berjalan di depan pos Ronda. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang memanggilnya dan mencoba untuk menggodanya.
"Hai Cantik, mau kemana nih sendirian saja? boleh Abang temenin gak? ucap lelaki tersebut.
Mirna yang sudah penasaran dengan wajah lelaki tersebut pun sampai lupa membalikan badannya, dan hanya kepalanya saja yang memutar 180 derajat sehingga lelaki tersebut lari ketakutan sambil berteriak.
__ADS_1
"Han..han..han..han sip..."
"Abang kok Mirna dikatain hansip sih, yang bener itu hantu Bang," ujar Mirna. Sehingga lelaki tersebut pun langsung pingsan.