Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 21 (Kedatangan Bunda, Ayah, serta Aditya)


__ADS_3

"Aditya Wijaya Kusuma, Tunggu..."


Nama itu yang pertama kali Arini teriakkan disaat kembali terbangun setelah beberapa hari terjebak di alam Genderewo.


Rangga nampak menangis bahagia dengan terus menggenggam erat tangannya ketika melihat Arini kini telah kembali sadar. Dan Rangga sama sekali tidak menanyakan kenapa disaat dia terbangun malah menyebutkan nama lelaki lain, dan bagi Arini, Rangga adalah lelaki sempurna yang mengerti serta mencintainya tanpa syarat.


Arga pun nampak berada di pojok kamar tempat Arini berada, dirinya terlihat begitu kacau dengan baju dan rambut yang berantakan serta matanya yang sembab karena terus menangisi Arini. Dan sekarang Arga berlari menghampiri Arini serta duduk ditepi ranjang di sebelahnya. dia langsung memberikan Arini segelas air putih untuk Arini minum.


"Terimakasih Arga, dan terimakasih semuanya karena sudah berusaha untuk menyelamatkan nyawaku," ujar Arini


Kek Soleh dan Nek Ipah juga nampak tersenyum bahagia karena melihat keadaan Arini yang sekarang jauh lebih baik.


"Sayang, jangan pernah ninggalin aku lagi ya, aku gak bakalan sanggup kalau sampai kehilanganmu, jantungku terasa berhenti berdetak disaat kamu belum juga kembali ke dalam ragamu, lebih baik aku mati saja daripada harus melihat kepergianmu," ucap Rangga Wisesa dengan bercucuran airmata.


"Iya maafin aku Rangga karena sudah membuat kalian semua khawatir, mudah-mudahan tidak ada sesuatu hal buruk lagi yang menimpa kita semua," ujar Arini.


"Amin..." ucap semuanya secara serempak.


"Oh ya Nek mana Ani dan Ida?" tanya Arini pada Nek Ipah.


Belum juga Nek Ipah menjawab pertanyaan Arini, kini Ani dan Ida nampak masuk ke dalam kamar.


"Alhamdulillah Rin kamu akhirnya sadar juga," ucap Ani dan Ida secara bersamaan.


"Iya..Alhamdulillah...Ani...Ida..terimakasih ya kalian sudah bersedia menolongku," ucap Arini.


"Kita kan bestie Rin, jadi sudah seharusnya donk saling tolong menolong," ucap Ani dan Ida dengan memeluk tubuh Arini.


"Ida kenapa sih makan terus? Ani gak mau ya kalau badan Ani sampai gendut kayak Ida," ucap Ani yang masih berada di dalam tubuh Ida.


"Lho..kenapa aku ngerasa ada yang aneh ya sama kalian? kok Ida manggil Ani dengan sebutan Ida sih? aku bingung deh," ujar Arini yang kini terlihat kebingungan.


"Jadi Nak Arini sebenarnya semalam jiwa mereka berdua tertukar, Ani masuk ke dalam tubuh Ida, dan Ida juga malah masuk ke dalam tubuh Ani," ucap Kek Soleh.

__ADS_1


"Oh pantas saja aku aneh melihatnya, biasanya kan Ani yang anti makan, sekarang malah Ida yang gak makan-makan," ujar Arini.


"Iya Rin, semua ini mungkin pelajaran juga buat kami karena suka saling menghina kekurangan masing-masing, sekarang kami sudah kapok. Kakek ayo cepet dong bantu kami supaya jiwa kami bisa kembali bertukar," rengek Ida dan Ani kepada Kek Soleh.


"Iya...nanti Kakek pasti bantu setelah semuanya pulih, kasihan tuh Rangga semaleman gak tidur sampe matanya kaya mata panda gitu, terus tuh lihat juga Arga matanya udah kaya di tonjokin orang saking bengkaknya karena nangis terus," ujar Kek Soleh.


Mereka semua akhirnya tertawa melihat wajah dua pemuda tampan yang sangat berarti dalam hidup Arini. Namun, tiba-tiba tawa mereka terhenti karena mendengar ucapan Salam dari luar.


"Assalamu'alaikum...." terdengar suara yang tak asing bagi Arini mengucapkan Salam.


"Wa'alaikumsalam..." jawab mereka serempak. Lalu kemudian Nek Ipah dan Kek Soleh selaku tuan rumah berlalu keluar untuk melihat siapa yang datang, dan Ida beserta Ani yang kepo pun kini ikutan keluar juga.


"Pak..Bu...kami Ayah dan Bunda nya Arini," ucap kedua orangtua Arini.


"Oh Iya Bu Ria sama Pak Eko ya?" tanya Nek Ipah.


"Iya Bu, maaf kami mengganggu waktu Bapak dan Ibu. Kedatangan kami kesini untuk menjemput Arini anak kami," terdengar suara Ayah dan Bunda dari luar sedang mengobrol dengan Nek Ipah dan Kek Soleh.


Rangga Wisesa kini nampak mengeratkan genggamannya di tanganku, serta terlihat kekhawatiran dalam matanya.


Dan Rangga pun hanya menjawab semuanya dengan cara menganggukan kepala saja serta tersenyum manis kepada Arini.


"Rangga aku tahu tentang semua kekhawatiranmu, karena aku juga merasakan hal yang sama, tapi kamu harus yakin dengan cinta kita yang akan selalu abadi untuk selamanya dan hanya maut yang dapat memisahkan kita." ucap Arini pada Rangga.


"Arini...aku mohon apa pun yang terjadi kamu jangan pernah tinggalin aku ya ! aku bisa mati kalau harus berpisah denganmu lagi," pinta Rangga.


"Iya aku janji sayang," jawab Arini pada Rangga Wisesa.


"Nasib...nasib....jadi obat nyamuk, kalau orang lagi di mabuk cinta Dunia kayaknya serasa milik berdua ya, yang lain mah pada ngontrak aja, kalian gak liat apa ada aku disini yang sangat terluka dengan tingkah kalian?" sindir Arga.


"Iya maaf..maaf Abangku yang ganteng," ucap Arini pada Arga.


"Jadi selama ini bagi kamu aku hanyalah seorang Kakak ya Arini?" tanya Arga pada Arini dengan terlihat sedih.

__ADS_1


"Iya Arga, aku bener-bener minta maaf karena sampai kapan pun hanya ada nama Rangga Wisesa dalam hati, jiwa dan ragaku," jawab Arini.


Rangga pun kini nampak tersenyum penuh kemenangan sembari mengusap lembut kepala Arini. Namun, tiba - tiba dari arah luar nampak Ayah dan Bundanya Arini yang berlari kemudian memeluk erat tubuh Arini. Mereka berdua sepertinya belum menyadari dengan keberadaan Rangga Wisesa yang sedikit pun tidak mau melepas genggaman tangan Arini.


"Arini kamu gak kenapa-napa kan sayang? apa ada yang sakit nak?" tanya Ayah dan Bundanya Arini.


"Aku enggak kenapa-napa kok, Ayah dan Bunda jangan terlalu khawatir, disini banyak orang yang menjagaku, apalagi lelaki yang sekarang berada di sampingku ini, dia selalu menjagaku dengan segenap jiwa dan raganya," ujar Arini.


Ayah dan Bunda nampak terkejut melihat seseorang yang kini berada di samping Arini serta memegang erat tangannya.


"RANGGA WISESA...!" teriak Ayah dan Bunda bersamaan.


"Iya...dia dulu adalah Suamiku kan disaat aku masih menjadi Roro Ajeng, sebelum akhirnya aku terlahir dari rahim Bunda dan kini menjadi Arini?" tanya Arini kepada kedua orangtuanya.


Wajah Bunda Ria dan Ayah Eko kini terlihat pucat,


"Maafkan kami sayang, karena selama ini kami tidak pernah menceritakan hal yang sebenarnya kepada kamu Nak," ujar orangtua Arini.


"Tidak apa-apa Ayah, Bunda, justru aku harus mengucapkan terimakasih kepada Ayah dan Bunda, karena selama ini telah mau membesarkanku. Dan aku sangat bahagia dan merasa beruntung karena bisa terlahir kembali dengan menjadi anak kalian, orangtua yang penuh kasih sayang, serta selalu mendukungku dalam hal apa pun juga. Namun, aku mohon, sekarang Ayah dan Bunda ikhlaskan aku ya, aku ingin pergi bersama belahan jiwaku, aku ingin selalu berada di sampingnya hingga akhir hayat kam,' pinta Arini pada Ayah dan Bundanya.


"Tapi sayang, ini semua begitu berat buat kami Nak, kamu sudah hidup bersama kami selama delapan belas tahun lamanya, dan hanya kamu satu-satunya anak yang kami miliki, lalu Bagaimana mungkin kami bisa hidup jauh dari kamu Nak? apalagi sampai berbeda alam," ucap orangtua Arini dengan sedih.


tiba-tiba kini ada suara pemuda yang ikut berbicara : "Mereka benar Arini, karena sekarang keadaan kalian sudah berbeda alam, sehingga sampai kapan pun kalian tidak akan pernah bisa untuk bersama lagi," ucap seorang pemuda yang tempo hari menolong Arini saat terjebak di alam Genderewo.


"Kamu siapa berani sekali mencampuri urusanku?" tanya Arini pada pemuda tersebut.


"Namaku Aditya Wijaya Kusuma, kamu ingat nama itu kan karena semalam aku sudah bilang kepada dirimu tentang siapa aku sebenarnya?" ucap aditya.


"Maaf aku tidak ada urusan denganmu Aditya atau siapa pun kamu," ucap Arini pada aditya.


"Tapi sejak kamu lahir, kita sudah dijodohkan oleh orangtua kita. Mendiang kedua orangtuaku sangat berharap kamu menjadi menantu mereka, dan aku tidak mau sampai mengingkari janjiku kepada mendiang orangtuaku, tujuanku sekarang, aku ingin mewujudkan keinginan mereka yang terakhir," ujar Aditya.


Rangga Wisesa kini sudah nampak mengepalkan tangannya bersiap untuk melayangkan tinju.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutannya? jangan lupa baca cerita selanjutnya ya..Terimakasih..🙏


__ADS_2