
Satu Bulan pun kini telah berlalu dari semenjak Pesta Pernikahan Ida. Ida dan Abdul masih tinggal di Pesantren, karena Ida ingin mendampingiku disaat proses persalinan, dan aku dengan senang hati menyambut keinginannya, karena sekarang tinggal Ida satu-satunya teman terbaikku.
Hari ini sudah beberapa kali perutku mengalami kontraksi, dan hari ini juga bertepatan dengan taksiran Persalinan yang sudah Dokter perkirakan. Mas Aditya juga sudah selalu Siaga di sampingku.
"Sayang, apa tidak sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang?" tanya mas Aditya.
"Mas, aku sangat berharap bisa melahirkan disini, dulu juga aku kan dilahirkan di rumah ini. Nanti sebaiknya kita panggil saja Dokternya buat kesini kalau kontraksinya sudah mulai sering terasa, kalau sekarang kan masih jarang," jawabku pada mas Aditya.
"Tapi sayang, mas merasa khawatir kalau kamu melahirkan disini, alat medis di Pesantren juga masih belum komplit," ujar Suamiku yang kini terlihat cemas.
"Mas tidak usah khawatir, aku kan sudah pernah melahirkan Bima dan Ayu, bahkan dua sekaligus, apalagi sekarang cuma satu bayi, jadi insyaAlloh aku sudah siap, yang penting mas selalu berada di sampingku," ucapku dengan tersenyum mencoba untuk menenangkan suamiku.
Malam pun kini telah tiba, sekarang rasanya perutku sudah sangat mulas, kontraksi juga sudah sering terjadi, akhirnya mas Aditya memutuskan untuk menelpon Dokter kandungan yang sudah biasa memeriksaku untuk datang ke rumah, karena aku bersikukuh ingin melahirkan di rumah saja.
Bunda dan Ida juga kini sudah menemaniku di dalam kamar, kalau Mirna tadi sudah di usir oleh mas Aditya supaya keluar dari kamarku karena takut anak kami nanti sawan kalau melihat dia. Ida kini terlihat mondar mandir seperti setrikaan, kami yang melihatnya pun merasa aneh dengan tingkahnya.
"Ida kamu kenapa sih mondar mandir terus? kayak setrikaan aja, tuh kening kamu juga sampai keringetan begitu," ucapku pada Ida.
"Aku tegang banget nih Rin, aku merasa sangat takut," jawab Ida.
"Kamu takut kenapa sih? perasaan aku deh yang akan melahirankan, tapi kenapa sekarang jadi kamu yang lebih takut dibanding denganku?" tanyaku pada Ida.
"Aku ikutan tegang aja lihat kamu nahan mules gitu, pasti sakit banget yah? dulu aja waktu malam Pertama, aku sampai gak sadar menjerit saking sakitnya, apalagi nanti kalau aku melahirkan," cerocos Ida dengan bergidik ngeri.
__ADS_1
"Kamu tuh gak malu apa Da ngomong begitu di hadapan suamiku? sekarang lebih baik kamu bantu do'a saja daripada cape mondar mandir gak jelas gitu, aku juga yang melihatnya merasa cape," ucapku pada Ida.
"Eh maaf ya mas Aditya, harap ma'lum, Ida kan ngomongnya suka terlalu jujur," ucap Ida dengan cengengesan, dan suamiku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Mas kok Dokternya lama sekali sih, perutku rasanya sudah mules banget ini, sebentar lagi bayi kita pasti akan lahir," ujarku yang sudah merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang saat ini aku rasakan.
"Kamu yang sabar ya sayang, sebentar lagi Dokter pasti akan segera tiba," jawab mas Aditya.
"Bunda maafin Arini ya kalau sudah banyak salah, Arini minta do'anya supaya Arini dan bayi selamat," ucapku kepada Bunda dengan memeluk tubuhnya.
"Sayang, kamu harus kuat ya, Bunda yakin kamu pasti bisa, dan Bunda pasti akan selalu mendo'akan keselamatan kalian berdua," jawab Bunda dengan mengelus lembut kepalaku.
Mas Aditya pun tidak hentinya melapalkan do'a dengan terus mengelus lembut perutku, sampai akhirnya beberapa saat kemudian Dokter pun datang disaat air ketubanku pecah.
"Bu Arini maaf ya saya datang terlambat, tadi di jalan mobil saya tiba-tiba mogok. Mari saya periksa dulu pembukaannya, tolong kakinya di angkat ya Bu, dan nafas nya ditahan ya," ucap Dokter dan aku pun melakukan arahan darinya.
"Sepertinya pembukaannya sudah sempurna dan Air ketubannya juga sudah pecah, nanti kalau Ibu sudah merasakan mulas lagi, ibu tarik napas dari hidung, kemudian keluarkan dari mulut ya," ujar Dokter.
Beberapa menit kemudian aku pun kembali merasakan mulas yang teramat sangat sehingga Dokter menuntunku untuk mengejan, mas Aditya dan Bunda kini berada disisi kiri dan kananku untuk memegangi tanganku, dan Ida kini yang berada di sampingku pun malah terlihat ikutan mengejan.
"Ayo Bu sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan," ucap Dokter memberikan semangat kepadaku.
Hingga sesaat kemudian lahirlah bayi kami bertepatan dengan munculnya bulan Purnama yang bersinar indah seperti saat dulu aku dilahirkan,
__ADS_1
Oek..oek..oek..suara tangisnya mengobati rasa sakit yang sudah aku rasakan.
"Alhamdulillah ya Bu, bayinya sangat tampan dan juga sehat," ucap Dokter.
Mas Aditya dan Bunda pun kini terlihat meneteskan air mata dan menciumi wajahku serta tiada hentinya kami mengucap rasa syukur. Dan Ida kini terlihat lemas sehingga menjatuhkan bokongnya di atas sofa yang berada di samping tempat tidurku.
Namun, beberapa menit kemudian disaat Dokter menyuruh asistennya untuk membersihkan bayiku, tiba-tiba perutku kembali merasakan mulas seperti akan melahirkan lagi.
"Dok, kenapa ya sekarang perut saya tiba-tiba mulas seperti akan melahirkan lagi?" ucapku pada Dokter, kemudian Dokter pun memeriksanya kembali.
"Sepertinya Bu Arini memang akan melahirkan lagi, padahal setiap di periksa saya selalu melihat Ibu hanya mengandung satu bayi saja, tidak mungkin Ibu hamil anak kembar," ucap Dokter yang masih terlihat heran.
Anehnya kini cuaca diluar menjadi berubah, padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, karena tadi Bulan Purnama juga muncul saat kelahiran anak pertamaku. Akan tetapi, secara tiba-tiba hujan badai disertai petir yang menggelegar kini terdengar bersamaan denganku yang kembali mengejan, dan sesaat kemudian lahirlah kembali seorang bayi laki-laki dengan memancarkan cahaya kuning keemasan yang sangat menyilaukan dari dalam tubuhnya.
"Subhanalloh..." ucap kami semua yang melihat kelahiran putra keduaku yang masih menyisakan tanda tanya bagi kami. Dan Ida pun yang menyaksikan semuanya kini malah pingsan.
"Bu Arini, baru kali ini saya menyaksikan kejadian aneh seperti ini dalam hidup saya, padahal selama kita melakukan pemeriksaan kepada kandungan Ibu, sama sekali kita tidak menemukan tanda-tanda Ibu akan memiliki bayi kembar," ucap Dokter.
"Mungkin ini semua memang rezeki yang tidak disangka-sangka untuk kami Dok," jawab mas Aditya.
Aku yang kini melihat bayi tersebut kemudian berusaha untuk menggendongnya, dia sama sekali tidak menangis dan juga tidak mempunyai kotoran pada tubuhnya seperti bayi pada umumnya yang baru lahir, bahkan anehnya dia sudah seperti bayi yang sudah beberapa bulan dilahirkan karena dia sudah tidak memiliki tali pusar.
Bayiku kini terlihat tersenyum padaku, badannya masih mengeluarkan cahaya, dan aku pun secara spontan menyebutkan sebuah nama ketika melihat wajahnya yang sangat tampan.
__ADS_1
"ARGA" itulah nama yang aku ucapkan ketika melihat bayi keduaku saat pertama kali.