Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 31 ( Kematian Rangga Wisesa )


__ADS_3

Arini melewati malam tanpa memejamkan matanya sedikit pun, iya tidak mau kalau sampai ia tertidur Rangga Wisesa pergi untuk selamanya tanpa ia ketahui.


"Tidurlah sayang, sebentar lagi tengah malam, aku tau tentang keresahanmu saat ini, tapi aku mohon jangan siksa dirimu seperti ini karena itu hanya akan membuatku berat untuk meninggalkanmu," ucap Rangga Wisesa yang malam ini nampak menidurkan kepalanya di pangkuan Arini.


"Bisakah kau tidak pergi meninggalkanku suamiku?" tanya Arini.


"Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, aku harap setelah kepergianku, kamu akan terus menjalani hidupmu dengan bahagia."


"Bagaimana aku bisa hidup bahagia, sedangkan kebahagiaanku adalah hidup bersamamu," ucap Arini.


"Jika kamu sudah kembali ke dalam ragamu, secara perlahan kamu pasti akan melupakanku, karena disana sudah ada seseorang yang sangat mencintaimu yang dengan setia selalu menunggumu untuk bangun dari tidur panjangmu," ucap Rangga Wisesa.


"Tidak ada lelaki lain yang aku cintai selain dirimu suamiku sayang," ucap Arini.


"Istriku sayang, setelah kamu terbangun dari tidur panjangmu, nanti di alam manusia kamu pasti akan menemukan jawaban dari apa yang aku ucapkan, raihlah kebahagiaanmu bersamanya, Cintai dia seperti dia yang sangat mencintaimu dengan setulus hatinya," ucap Rangga Wisesa.


"Sekarang tolong panggilah Ayah beserta anak kembar kita, sebentar lagi portal Ghaib akan terbuka dan waktuku sudah tidak banyak lagi."


Arini pun akhirnya menyuruh pelayan untuk memanggil Ayah Eko beserta Bima dan Ayu, setelah mereka semua berkumpul, Rangga akhirnya mengucapkan kata perpisahan kepada keluarganya.


"Bima, Ayu, sekarang sudah waktunya ayah pergi, kalian jaga Ibu dan kakek yah, mulailah belajar mendalami ilmu agama yang di anut oleh Ibu dan juga kakek kalian."


"Ayah..maafkan Rangga karena awal mula petaka yang kalian alami berawal dari air terjun ini, Rangga titip Bima dan Ayu, tolong didik mereka sesuai ajaran agama yang ayah anut supaya mereka tumbuh menjadi anak yang soleh."

__ADS_1


"Dan untuk Permaisuriku sayang, hapuslah airmatamu, lepaskanlah kepergianku dengan senyuman terindahmu, aku tau kamu akan baik-baik saja karena akan ada orang yang mencintaimu dan akan selalu menjaga serta melindungimu nanti di alam manusia sana."


"Permaisuriku aku mencintaimu hingga napas terakhirku, baik itu sebagai Roro Ajeng atau pun Arini, karena hanya ada satu perempuan dalam hidupku untuk yang pertama dan terakhir."


"Tolong bantu aku untuk membaca syahadat supaya aku bisa memeluk agama yang selama ini kamu anut sebelum aku menutup usiaku, Semoga kalian semua selalu bahagia."


Akhirnya Rangga Wisesa pun menghembuskan napas terakhirnya setelah membaca syahadat yang dituntun oleh Arini dan Ayah Eko.


Jiwa beserta raga Rangga wisesa kini hilang ditelan alam dalam pelukan sang Istri tercinta, tangis Arini bersama Ayah serta anak-anaknya pun kini pecah, kini tidak ada lagi sosok Suami tempat dia bersandar dalam suka mau pun duka, serta tidak ada lagi sosok Ayah yang menjadi panutan untuk anak-anaknya.


"Selamat jalan Suamiku, semoga dimana pun dirimu berada, kebahagiaan selalu menyertaimu," ucap Arini


Kini portal ghaib penghubung ke alam manusia pun sudah mulai terbuka.


"Arini Anak Ayah yang akan selalu Ayah sayangi, sekarang sudah waktunya kamu melanjutkan hidupmu tanpa kami Nak, masuklah ke dalam ragamu, Ayah titip Bunda Nak, jaga serta bahagiakan dia hingga akhir hayatnya," ucap Ayah Eko.


"Bima dan Ayu, maafkan Ibu ya Nak karena tidak dapat lagi tinggal bersama kalian, hiduplah yang rukun serta jaga dan patuhi Kakek, Ibu sayang kalian dan do'a ibu akan selalu mengiringi langkah Bima dan Ayu, Ibu pasti akan merindukan kalian semua."


Mereka pun kini menangis sambil berpelukan hingga ada cahaya putih menyilaukan yang secara tiba-tiba menyedot jiwa Arini ke dalamnya.


......................


Setiap malam di Pesantren Aditya bersama para santri selalu mengaji untuk kesembuhan Arini.

__ADS_1


Hari ini bertepatan dengan dua tahun Arini mengalami koma, Bunda Ria selalu berusaha menyuruh Aditya untuk menikahi perempuan lain, karena Bunda Ria kasihan melihat Aditya yang selalu sedih ketika melihat keadaan Arini yang seperti mayat hidup.


Tetapi Aditya selalu menolak perjodohan yang dilakukan oleh Bunda Ria, hingga Bunda Ria selalu berkata.


"Nak Aditya, Bunda Ikhlas kalau nak Aditya menikah lagi dengan perempuan lain yang normal dan bisa memberikan nafkah bathin untuk nak Aditya, serta memberikan keturunan nantinya."


"Bunda sudah menganggap Nak Aditya bukan sebagai seorang menantu, melainkan sebagai Putra kandung Bunda sendiri, mungkin ini sudah saatnya kita mengikhlaskan kepergian Arini, karena kasihan dia sudah terlalu lama tertidur," ucap Bunda.


"Maaf Bunda, untuk yang satu ini Aditya tidak bisa menuruti kemauan Bunda, Aditya sangat mencintai Arini, sekali pun Arini sampai tidak bangun lagi, Aditya tidak akan pernah Menikah lagi dengan perempuan mana pun, karena prinsip hidup Aditya hanya ada satu pernikahan seumur hidup dan hanya ada satu perempuan saja yaitu Arini untuk pertama dan terakhir sampai maut yang memisahkan kami."


"Jika itu memang kemauan nak Aditya Bunda tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena semua keputusan ada di tangan nak Aditya sendiri dan Bunda tidak bisa memaksanya."


"Terimakasih Bunda karena sudah mengerti dengan perasaan Aditya, kalau begitu sekarang Bunda beristirahatlah, jangan tidur malam-malam, serta jaga kesehatan Bunda."


"Baiklah Nak Aditya sekarang Bunda masuk ke kamar dulu ya," ucap bunda yang hanya dijawab oleh senyuman serta anggukan kepala Aditya.


Setelah beres pengajian, akhirnya Aditya pun masuk ke dalam kamarnya, yang kini di hadapannya nampak isterinya yang cantik sedang terbaring dan sudah tertidur dengan sangat lama.


"Sayang kenapa kamu masih tidur juga? apa kamu gak bosen tidur terus? ucap Aditya dengan berlinang airmata."


Aditya pun kini berniat untuk mengecup sekilas bibir Arini seperti yang selalu dia lakukan setiap malam, sebelum dia tertidur dan kemudian memeluk tubuh isterinya tersebut.


Namun, entah kenapa malam ini rasanya Aditya menginginkan lebih dari sekedar kecupan yang hanya sekilas saja, sehingga secara perlahan dia melu*mat bibir manis istrinya sampai tiba-tiba Arini akhirnya bangun dari tidur panjangnya lalu membulatkan matanya saking terkejut dengan apa yang sedang mereka perbuat.

__ADS_1


Tiba-tiba Aditya merasakan pergerakan pada tubuh Arini yang kini berada di bawah tubuhnya, hingga akhirnya netra mereka berdua terkunci dengan saling menatap memancarkan kerinduan yang mendalam dari mata Aditya dan aditya pun secara perlahan melepas pagutan bibir isterinya lalu kemudian dia berkata.


"Aku sangat merindukanmu istriku sayang, sampai-sampai aku melihat dirimu kini membuka mata indahmu itu, aku tau semua itu hanya mimpi, dan aku tidak mau bangun dari mimpi yang indah ini ucap Aditya."


__ADS_2