
Tujuh jam sudah kami melewati perjalanan dari Bandung ke Jawa, akhirnya kami sampai di Jawa pukul dua pagi.
"Alhamdulillah sampai juga ya mas, aku sudah gak sabar pengen tidur."
"Iya sayang, tapi jangan lupa sholat Isya sama tahajud dulu, sebelum melanjutkan mimpi indahmu," ucap suamiku dengan tersenyum.
"Emangnya mas tau gitu aku mimpi apa tadi?" tanyaku pada mas Aditya.
"Tau lah pasti kamu mimpi..."
"Udah yu ah masuk," aku pun memotong perkataan mas Aditya yang sudah pasti mau bicara hal yang aneh-aneh.
"Iya-iya nanti kita lanjutin di kamar ya," ucap mas Aditya dengan cengengesan sambil menggandeng tanganku, dan aku pun memutar malas bola mataku.
"Assalamu'alaikum..." ucap kami disaat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Bunda yang langsung keluar dari kamarnya.
Kami berdua langsung mencium punggung tangan Bunda, dan aku yang sudah merindukan Bunda pun karena sudah satu minggu berpisah kini memeluk tubuhnya dengan erat.
"Arini kangen banget sama Bunda."
"Lho nak Aditya kenapa isterinya kok jadi manja gini?" tanya Bunda.
"Gak tau Bunda beberapa hari ini Arini emang jadi manja banget, udah gitu bawaannya pengen deket-deket sama Aditya terus, sepanjang perjalanan kami kesini juga Arini mepet-mepet terus," ucap suamiku.
"Gak gitu juga Bunda, mas Aditya terlalu melebih-lebihkan tuh, ayo ngaku mas kan yang sebenernya pengen peluk-peluk aku terus?" jawabku pada mas Aditya yang dia balas dengan senyuman.
Bunda pun terlihat tersenyum melihat kami yang terus bercanda dan tertawa, aku tahu Bunda pasti bahagia melihat rumah tanggaku sekarang dengan mas Aditya yang terlihat harmonis.
"Ya sudah Bunda sebaiknya lanjutin lagi tidurnya, kami juga mau istirahat," ucapku.
"Iya Bunda, Arini sepertinya sudah gak sabar pengen ...." ucap suamiku yang kemudian aku bungkam mulutnya sebelum mas Aditya menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
"Bunda kami masuk dulu ya, kami juga belum sholat Isya sekalian mau sholat tahajud dulu," ucapku pada Bunda, lalu kemudian aku menarik tubuh mas Aditya untuk masuk ke dalam kamar, dan Bunda pun lagi-lagi tersenyum melihat tingkah kami berdua.
"Kamu apa-apaan sih sayang, kok tadi mulut mas di bungkam? mas juga tadi mau bilang sama Bunda kalau kita mau Sholat Isya sama sholat tahajud dulu."
"Udah gak usah bohong deh, mas pasti tadi mau bilang yang lain ya kan?" selidik ku.
"Kamu pasti pikirannya kotor tuh, makanya nanti mas cuci deh biar bersih," ucap mas Aditya dengan cekikikan.
"Udah ah aku mau Sholat dulu nanti keburu subuh lagi."
"Ya sudah kita berjamaah saja sholatnya."
Akhirnya kami berdua melakukan sholat berjamaah, dan setelah selesai Sholat mas Aditya pun memeluk tubuhku dengan erat.
"Terimakasih ya sayang, karena kamu sudah menerima kehadiran mas, rasanya mas sangat bahagia memilikimu di dunia ini,"
"Iya sama-sama mas, aku juga sangat bersyukur, karena setelah kepergian Ayah, Alloh mengirimkan mas Aditya sebagai pelindung untuk aku dan Bunda," ucap ku yang kemudian mencium bibir nya, sehingga mas Aditya yang merasa terpancing oleh tindakanku pun langsung mengangkat tubuhku ke atas ranjang, dan akhirnya kami melakukan hubungan suami-isteri.
Suara adzan subuh kini sudah berkumandang, dan akhirnya kami menyudahi kegiatan kami.
"Mas gak cape ya habis nyetir tujuh jam langsung olahraga?" tanya ku pada mas Aditya.
"Ya sudah aku mandi dulu ya mas."
"Gak mau bareng aja mandinya?" tanya mas Aditya.
"Enggak ah nanti yang ada malah gak beres-beres lagi mandinya, nanti waktu subuh nya keburu habis deh," jawabku sambil berlalu ke dalam kamar mandi, mas Aditya pun nampak tersenyum mendengar ucapanku.
Setelah melakukan Sholat subuh berjamaah kami berdua pun akhirnya memutuskan untuk tidur, apalagi dari semalam mas Aditya belum memejamkan mata nya sama sekali.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan, disaat aku mencoba untuk membuka mataku. Namun, suamiku masih terlelap di sampingku dengan memeluk erat tubuhku.
Secara perlahan aku melepaskan pelukan mas Aditya dan menggantinya dengan guling, lalu aku masuk ke dalam toilet karena sudah tidak kuat menahan pipis, dan sekalian saja aku membersihkan diri.
Disaat keluar dari kamar mandi, aku melihat suamiku masih terlelap dalam tidurnya, sehingga aku memutuskan tidak jadi membangunkannya untuk mengajak suamiku sholat dhuha berjamaah.
Sampai akhirnya aku merasakan pelukan dari belakang tubuhku disaat selesai melakukan shalat.
"Sayang, kenapa mas nya gak dibangunin buat sholat dhuha biar kita bisa berjamaah?" ucap suamiku.
__ADS_1
"Maaf ya mas, tadi aku gak tega buat bangunin mas, karena mas tidurnya lelap sekali."
"Iya gak apa-apa sayang, kalau begitu mas ke toilet dulu ya, mas juga mau sholat dhuha dulu, kalau kamu sudah lapar gak apa-apa kalau mau makan duluan."
Setelah mas Aditya selesai Sholat dhuha kami pun langsung keluar karena sudah merasa lapar.
"Bunda, maaf ya Arini gak bantuin bunda masak."
"Iya gak apa-apa sayang, bunda tahu kalian pasti kecapean, makanya bunda juga gak berani bangunin kalian buat sarapan bersama, ya sudah ayo cepetan makan, pasti kalian sudah lapar kan?"
"Terimakasih ya Bunda," ucapku dengan memeluk tubuhnya.
......................
Dua bulan kini sudah berlalu terhitung sejak kami berdua melalui malam indah kami di Bandung untuk pertama kalinya.
Selesai sholat subuh tiba-tiba perutku rasanya bergejolak, dan aku rasanya sudah tidak kuat untuk mengeluarkan isi perutku hingga berlari ke kamar mandi.
huwek..huwek..huwek..
aku akhirnya muntah, dan mas Aditya yang mendengarnya pun langsung berlari menyusulku ke kamar mandi, dia memijit tengkuk leherku secara lembut.
"Kamu gak kenapa-napa kan sayang?"
"Gak apa-apa kok mas, palingan juga aku cuma masuk angin."
Mas Aditya kini menggendong tubuhku keluar dari kamar mandi, lalu secara perlahan membaringkan tubuhku di atas ranjang.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya, mas mau ke dapur dulu buat bikin teh manis hangat buat isteri mas tercinta," ucap mas Aditya dengan tersenyum dan kemudian berlalu ke dapur.
Setelah beberapa menit, mas Aditya kembali ke dalam kamar di temani oleh Bunda.
"Sayang kata nak Aditya kamu tadi muntah ya? kamu gak kenapa-napa kan nak? apa ada yang sakit?" tanya Bunda dengan cemas.
"Bunda gak usah khawatir, Arini gak kenapa-napa kok, mungkin hanya masuk angin saja."
Mas Aditya kini memberikan teh manis hangat padaku, dan aku langsung meminumnya.
"Terimakasih ya mas, eh mas sini deh, aku kayaknya pengen cium badan mas terus deh,"
"Mas masih bau sayang karena mas belum sempat mandi."
Aku pun cemberut mendengar ucapan nya, hingga meneteskan airmata.
"Lho kok malah nangis sih? ya sudah sini mas peluk."
Bunda yang melihat kami pun kini langsung tersenyum.
__ADS_1
"Mungkin itu bawaan bayi, nak Aditya, karena Bunda juga dulu waktu hamil Arini begitu, pengennya meluk sama cium badan mendiang ayahnya Arini."
Kami yang mendengar perkataan Bunda pun kini membulatkan mata, seakan belum percaya dengan kabar bahagia ini.