
Aku begitu syok mendengar kenyataan yang dibicarakan oleh Kakek soleh dan Arga. Sedikit pun aku tidak pernah menyangka bahwa dalam kehidupanku sebelumnya, aku adalah sosok siluman Ular.
Secara tiba-tiba pandanganku mulai menggelap sehingga aku tidak ingat apa-apa lagi, mungkin saat itu aku pingsan karena belum bisa menerima semua kenyataan ini.
Di alam bawah sadar Arini...
Sesaat kemudian Aku kembali tersadar dan melihat ke sekelilingku, Kenapa sekarang aku berada di bawah air terjun? tanyaku dalam hati. Namun, dihadapan ku saat ini nampak sepasang kekasih yang rasanya tidak asing bagiku, mereka terlihat sangat mesra dan bahagia, dengan sesekali bermain air di dalam kolam Air Terjun. sungguh pasangan yang sangat serasi menurutku.
Beberapa saat kemudian, aku melihat jelas wajah perempuan tersebut, mataku kini membulat dan aku pun sampai menutup mulutku saking terkejutnya dengan yang sekarang aku lihat di depan mata kepalaku sendiri.
Astagfirulloh...bukannya itu aku? lalu siapa lelaki yang sedang bersamaku? gumamku dalam hati.
Bersamaan dengan lelaki tersebut yang nampak berbalik ke arahku, aku pun akhirnya dengan jelas dapat melihat wajahnya. Namun, sekarang aku lebih terkejut lagi,
"APAA...? Itukan Rangga Wisesa?"
Aku semakin heran karena sepertinya mereka berdua tidak dapat melihatku.
"Apa mungkin sekarang aku berada di masalalu?" gumamku lagi.
Aku sampai ikut tersenyum melihat adegan yang berada di depan mataku. Mereka berdua saling memadu kasih dengan bahagianya, berlari dan saling mengejar hingga akhirnya Rangga berhasil menangkap tubuh perempuan tersebut, menggendong lalu kemudian memutarnya. Mereka nampak tertawa lepas, sambil sesekali berpelukan.
"Aku ingin bisa seperti ini selamanya Roro ajeng Permaisuriku yang sangat aku cintai," ucap Rangga Wisesa yang kini membaringkan tubuhnya dalam pangkuan Roro Ajeng.
"Kita pasti akan selalu bersama selamanya Suamiku sayang sampai maut yang akan memisahkan kita," jawab Roro Ajeng dengan mengusap lembut serta memijit kepala Rangga Wisesa.
"Jangan bicara seperti itu Permaisuriku, kamu tidak akan pernah mati, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk melawan takdir, biarlah nanti mustika Siluman Ular aku berikan padamu, supaya hidup kamu abadi," ucap Rangga Wisesa.
"Kamu tidak akan pernah bisa melawan takdir Suamiku, aku tidak akan bisa menerima Mustika Ular itu, karena itu merupakan separuh dari jiwamu. Namun, aku berjanji jika sampai aku mati, maka nanti Sukma ku akan terlahir kembali, dan aku hanya akan mencintaimu seorang sayang," ujar Roro Ajeng.
__ADS_1
Rangga Wisesa nampak sangat mencintai Istrinya, begitu pun dengan Roro ajeng, Sehingga aku sampai terharu melihat kisah cinta mereka.
Sesaat kemudian mereka masuk kedalam Air Terjun, dan Aku terus saja berusaha mengikuti langkah mereka berdua, masih teringat dalam mimpiku tempo hari bahwa dibalik Air Terjun tersebut terdapat pintu Istana Kerajaan siluman ular.
Sekarang Rangga Wisesa dan Roro Ajeng nampak sudah mengenakan baju kerajaan, semua dayang beserta pengawal pun menyambut kedatangan Raja dan Ratu mereka dengan tertunduk hormat, serta menaburkan bunga disaat mereka berdua melangkahkan kaki untuk kembali duduk di Singgasananya. Namun, lagi-lagi tidak ada seorang pun yang dapat melihat keberadaanku saat ini.
Aku merasa terkejut karena secara tiba-tiba tanganku digenggam oleh seseorang, aku pun melihat Rangga Wisesa yang sekarang nampak berada di sampingku dengan terus menggenggam erat tanganku.
"Lho kenapa kamu berada disini Rangga? terus yang duduk di Singgasana itu siapa?" tanyaku padanya.
"Mereka berdua adalah kita di masalalu Permaisuriku, terlihat indah bukan kenangan kita?" ucap Rangga Wisesa.
"Memang aku mengakui bahwa kisah cinta mereka sangatlah indah, tetapi maaf Rangga, sekarang kita sudah berbeda alam," ujarku kepada Rangga.
"Untuk selamanya aku tidak akan pernah melepaskan mu Roro Ajeng," ucap Rangga Wisesa padaku dengan nada yang tinggi.
"Ingat Rangga, Sekarang aku adalah Arini, bukan lagi Roro Ajeng istrimu dahulu, dan tolong lepaskan tanganku, aku merasa sangat kesakitan," pintaku pada Rangga Wisesa.
Entah mengapa, semakin aku berusaha menolak Rangga, maka hatiku rasanya semakin sakit juga.
"Jangan kamu paksakan dulu untuk mengingat semua kenangan indah kita Permaisuriku, karena secara perlahan-lahan nanti pasti kamu juga akan kembali mengingat semuanya, dan sebentar lagi kita pasti akan selalu bersama untuk selama-lamanya seperti janji kita dahulu," ujar Rangga.
"Untuk sekarang mungkin aku tidak bisa menjanjikan itu semua Rangga, karena aku belum yakin sepenuhnya dengan hatiku sendiri," jawabku.
"Tetapi aku akan selalu menunggu saat itu tiba Arini, disaat kamu yakin untuk kembali lagi hidup bersamaku," ucap Rangga.
"Bisakah sekarang kamu mengantarkan kembali jiwaku ke dalam tubuhku? aku mohon Rangga, berikan aku waktu untuk memantapkan hatiku," pintaku pada Rangga Wisesa.
"Baiklah kalau itu kemauanmu, aku akan memberikan waktu untukmu sayang, aku juga sekarang mengkhawatirkan tubuhmu di alam manusia jika kamu terlalu lama berada disini," ujar Rangga.
__ADS_1
"Sekarang pegang eratlah tanganku sayang, kita akan kembali lagi ke rumah ki Soleh," ucap Rangga Wisesa.
Namun, secara tiba-tiba Rangga nampak terpental jauh, sehingga pegangan tangan kami berdua terlepas. Aku tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, karena semuanya terjadi begitu cepat.
Aku hampir pingsan disaat melihat sesosok makhluk tinggi besar dan berbulu lebat yang kini sedang berusaha untuk memegangiku, matanya nampak begitu besar serta mengeluarkan cahaya merah, dia juga memiliki taring yang sangat tajam, sehingga itu terlihat sangat menyeramkan.
"Rangga tolong aku," aku berusaha sekuat tenaga mencoba untuk berteriak.
Rangga pun sama, dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk bangkit walau pun mulutnya kini terlihat mengeluarkan banyak darah.
"Genderewo sialan..lepaskan Permaisuriku," Teriak Rangga Wisesa dengan lantang.
"Ternyata hanya segitu kemampuanmu yang katanya Raja Siluman Ular?" ucap Genderewo sehingga dia tertawa.
Huahahahahahahahaha....
Suaranya terdengar menggelegar sehingga memekikkan telingaku, rupanya dia adalah sosok Raja Genderewo yang tempo hari dibicarakan oleh Kakek Soleh dan Arga.
"Kau sudah main curang Genderewo, beraninya menyerangku secara tiba-tiba, kalau begitu kita buktikan saja sekarang siapa diantara kita yang lebih hebat," tantang Rangga Wisesa.
"Baiklah aku terima tantanganmu Siluman Ular...aku yakin makhluk lemah sepertimu tidak akan pernah mampu untuk melawanku," ucap Raja Genderewo dengan sombongnya.
"Kau tunggu dulu disini gadis cantik, aku akan membasmi hama dulu sebentar," ucap Raja Genderewo padaku yang membuat aku semakin ketakutan.
Secara tiba-tiba kini seluruh tubuhku terlilit oleh rantai yang sangat kuat sehingga aku tidak bisa membukanya, semakin kuat aku berusaha melepaskannya maka semakin kuat juga rantai itu melilit tubuhku.
Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku saat ini, dan aku hanya bisa melihat Rangga Wisesa yang sedang bertarung melawan Raja Genderewo tanpa bisa sedikit pun berbuat apa-apa untuk membantunya.
Akhirnya airmata ini pun tumpah, aku tidak bisa lagi menahannya, aku menangis karena melihat dengan mata kepalaku sendiri Rangga Wisesa beberapa kali terkena hantaman Raja Genderewo.
__ADS_1
"Hentikan Raja Genderewo, aku mohon jangan sakiti lagi Rangga Wisesa, aku akan mengikuti semua keinginanmu, namun aku mohon lepaskanlah Suamiku," teriakku pada Raja Genderewo.
Entah kenapa secara sadar atau tidak aku sudah mengucapkan kalau Rangga Wisesa adalah Suamiku, sehingga Rangga Wisesa yang mendengarnya pun tersenyum manis melihat ke arahku walau pun tubuhnya kini sudah semakin lemah.