
Pov Arini
Semenjak pertarungan antara Rangga Wisesa melawan Raja Genderewo hatiku selalu diliputi rasa khawatir, aku terus saja mengkhawatirkan nasib Rangga yang sudah berusaha mati matian melindungiku dari kekejaman Raja Genderewo,
Apalagi sekarang secara perlahan aku sudah mengingat masalaluku dengan Rangga Wisesa selama menjadi Roro Ajeng, kami adalah sepasang Suami-Istri yang saling mencintai segenap jiwa dan raga kami.
Aku melewati hariku dengan rasa cemas terhadap Rangga Wisesa, ingin sekali rasanya aku mengetahui keadaannya sekarang, sampai akhirnya disaat kami bermain di Air Terjun Arga pun mengantarkanku untuk bertemu dengan kekasih hatiku.
Aku tidak pernah menyangka bahwa Arga akan bersedia mengantarkanku untuk menemui Rangga Wisesa, karena aku tau kalau Arga sangat mencintaiku, dan aku pun sangat mengerti dengan perasaannya kalau hatinya kini pasti sangat sakit.
Saking bahagianya hatiku karena akan bertemu dengan Rangga Wisesa secara tidak sadar aku langsung memeluk tubuh Arga dengan eratnya serta tak lupa mengucapkan terimakasih.
Aku melihat kesedihan di dalam matanya, hatiku juga merasakan sakit karena aku terus saja melukai hati Arga, Namun, aku juga tidak mau memberikan Arga sebuah harapan palsu karena untuk selamanya hatiku hanya milik Rangga Wisesa.
Akhirnya sekarang aku sampai di dalam kamar yang di tempati oleh Rangga Wisesa, aku berlari dan langsung memeluk tubuhnya. Namun, aku dikagetkan dengan keadaannya saat ini, karena Rangga nampak terbaring lemah, dan kini sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka dalam yang cukup parah.
Tiba tiba mata Rangga terbuka secara perlahan, dia menatapku seakan tidak percaya kalau kini aku benar benar berada di sampingnya.
Saking tidak percaya dengan apa yang dia lihat, sampai akhirnya dia menyuruhku untuk mencubit pipinya, Namun, karena aku merasa kasihan, masa lagi sakit malah aku cubit pikirku dalam hati, sampai akhirnya dengan malu-malu aku pun mencium pipi Rangga Wisesa.
Rangga Wisesa nampak membulatkan matanya, mungkin karena saking tidak percayanya dengan apa yang aku lakukan barusan kepadanya, sampai akhirnya dia menatapku dengan senyuman, dan pipiku pun menjadi merah merona saking malunya.
Suhu tubuh Rangga terasa panas sekali sehingga aku meminta pelayan untuk membawakan kain serta air hangat beserta obat-obatan tradisional, aku bermaksud untuk mengompres serta mengobati lukanya.
Kini kami hanya tinggal berdua saja di dalam kamar, setelah mengambilkan air kompresan beserta obat-obatan, para pelayan memutuskan untuk keluar, mungkin mereka berpikir takut mengganggu kami.
Namun aku lebih khawatir lagi kalau kami hanya ditinggal berduaan saja, karena katanya jika ada sepasang manusia berduaan maka yang ketiganya adalah setan, tapi kalau di pikir pikir sih disini kan hanya aku saja yang manusia sedangkan Rangga Wisesa siluman ular.
Tetapi tetap saja aku takut kalau kami tidak bisa menahan gejolak asmara kami, buang pikiran kotormu jauh jauh Rin, sekarang kamu fokus saja buat ngobatin Rangga wisesa dulu, ucapku dalam hati.
Rangga nampak tersenyum manis padaku disaat aku mengompres keningnya, Duh bikin hati ade meleleh aja bang, ucapku dalam hati. Sehingga akhirnya dia pun berkata padaku dengan menahan pergelangan tanganku.
"Aku tau kamu pasti takut aku berbuat macam macam sama kamu kan?" ucap Rangga Wisesa.
"Eng..eng...engga kok.." jawabku saking gugupnya dan berusaha untuk menyangkal tuduhan Rangga.
"Tenang saja sayang aku tidak akan ngapa ngapain kamu kok, lagian kamu lihat sendiri kan keadaanku seperti ini? jadi mana mungkin aku bisa ngapa ngapain kamu sedangkan untuk bangun saja aku kesusahan," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Atau sebenarnya kamu ya yang pengen aku apa apain kamu?" goda Rangga.
Aku pun hanya terdiam karena malu, dan kini pipiku mungkin terlihat merah saking panasnya.
"Tuh kan pipinya merah," dia pun berkata sambil mengelus pelan pipiku.
"Ya sudah kamu sekarang diem yah jangan bergerak aku mau ngolesin kamu sama obat obatan ini," pintaku pada Rangga supaya dia tidak terus terusan menggodaku.
Secara perlahan aku membuka satu persatu kancing baju Rangga, tanganku rasanya gemetaran karena ini baru pertama kalinya aku melihat tubuh seorang pemuda, Ya...mungkin setelah aku terlahir kembali menjadi Arini.
Rangga pun tidak pernah melepas pandangannya dari wajahku sehingga membuatku semakin gugup saja.
Aku sangat terkejut melihat perut sispack Rangga, dengan perut yang berbentuk kotak-kotak seperti roti sobek membuatku membulatkan mata.
"Awas tuh ngeces.." goda Rangga.
Aku pun secara replek mengelap sudut bibirku lalu berkata "Gak ada kok".
"Lagian kamu tuh lucu banget sih sayang aku kan cuma bercanda, soalnya aku lihat mata kamu sampai melotot serta mulut kamu tuh sampe mangap-mangap gitu, kamu terpesona yah melihat tubuhku yang gagah ini?" goda Rangga lagi.
Aku pun merasa gemas dengan Rangga karena menggodaku terus, sampai akhirnya aku mencubit perutnya.
"Aduh maaf-maaf kamu sakit ya? kamu sih bikin aku kesel aja dari tadi godain aku terus," aku merasa sangat bersalah karena telah mencubitnya, aku pun kemudian mengelus bekas cubitanku di perut Rangga.
"Masih sakit banget tau sayang, jangan cuma di elus aja dong," ucap Rangga.
"Lah terus harus di apain dong?" tanyaku pada Rangga.
"Coba deh sekarang kamu cium, pasti bakalan langsung sembuh," pintanya padaku.
"Gak mau ah aku malu" aku pun menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Tadi aja punya inisiatif buat cium pipi aku, sekarang giliran aku yang minta kamu malah bilang malu."
"Ya sudah aku merem nih buat nyium bekas cubitan aku," akhirnya perlahan lahan aku berusaha menurunkan ciumanku ke arah perut Rangga, Namun, entah mengapa tiba-tiba yang aku cium bukan perutnya tetapi malah bibirnya Rangga.
"Astagfirulloh..." saking kagetnya aku pun membuka mataku serta menutup mulutku.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, aku tau itu Ciuman Pertamamu kan?" ucap Rangga.
Mungkin dulu sebagai Roro ajeng kita bukan hanya sekedar ciuman karena status kita yang sepasang Suami-Istri, tapi kini aku dan Rangga hanya sepasang kekasih yang berbeda alam, dan aku tau kalau perbuatan kami adalah dosa, meski pun bisa dibilang dosa terindah, tapi tetap saja yang namanya dosa mah tetep dosa gak ada indah indahnya.
Aku pun bingung serta aku sadar betul kalau sekarang aku berada di antara Cinta dan Dosa. Ampuni hamba Ya Alloh.. Do'aku dalam hati.
Beberapa saat kemudian.....
Sekarang Rangga nampak tertidur lelap dalam pangkuanku, sebelumnya aku juga sempat menyuapinya untuk makan supaya dia bisa cepat sembuh.
Kini malam pun tiba, mungkin sebentar lagi Arga akan segera menjemputku, hingga beberapa saat kemudian aku mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu. Setelah aku menyuruhnya untuk masuk pelayan pun langsung membuka pintu dan ternyata pelayan itu datang untuk mengantarkan Arga.
Arga nampak ingin kembali berbalik badan karena mungkin dia tidak sanggup melihat kami yang sedang berduaan, aku tau sekarang hatinya pasti sangat sakit. Akan tetapi, setelah aku mencoba untuk memanggilnya akhirnya dia pun mengurungkan niatnya.
Setelah beberapa kali aku melihat dia menghembuskan napas secara kasar, akhirnya dia melangkahkan kaki menuju ke arah kami.
Beberapa saat kemudian akhirnya Rangga pun bangun, mungkin dia terganggu dengan percakapanku bersama Arga sehingga Rangga pun secara perlahan membuka matanya dan mencoba untuk menggerakan kepalanya yang masih berada dalam pangkuanku.
"Ternyata kamu sudah disini ya Arga? maaf ya tadi kayaknya aku ketiduran, suara merdu Arini serta belaian lembutnya di kepalaku membuatku sampai keenakan hingga terlelap masuk ke alam mimpi," ucap Rangga.
Wajah Arga nampak merah menahan amarah serta dia nampak mengepalkan tangannya, sampai akhirnya dia mencoba bertanya padaku. "Kamu mau ikut pulang sekarang atau tidak Arini?" tanya Arga.
Aku pun serba salah, karena disisi lain aku masih ingin bersama Rangga, namun mengingat status kami sekarang yang bukan suami Istri aku pun mau tidak mau harus ikut pulang bersama Arga.
"Ya sudah sayang sekarang kamu pulang saja ini sudah malam, biar kamu bisa istirahat juga, kasihan kan seharian ini kamu sibuk ngurusin aku," ucap Rangga yang terus saja memegangi tanganku.
"Gimana Arini bisa pulang kalau tangannya kamu pegang terus?" sindir Arga.
"Eh iya aku lupa, sayang kayaknya ada yang cemburu deh melihat kemesraan kita," ucap Rangga dengan mencium tanganku.
"Kamu gak boleh bilang begitu Rangga, bagaimanapun juga hari ini aku bisa bertemu denganmu itu semua juga berkat Arga," aku pun berusaha berdiri setelah Rangga mencoba bangun lalu duduk di tepi ranjang.
"Ya sudah aku pulang dulu yah, kamu jangan lupa makan sama minum obatnya," pintaku pada Rangga. Namun, secara tiba-tiba Rangga menarik tanganku hingga aku terjatuh dan terduduk dalam pangkuannya.
Rangga memeluk tubuhku dengan erat, kemudian berkata "Jaga dirimu baik-baik sayang, aku pasti akan sangat merindukanmu, do'a kan aku ya supaya cepat sembuh agar bisa secepatnya menjemputmu dan kita akan selalu bersama untuk selamanya," ucap Rangga dengan mengurai pelukannya lalu mencium keningku.
Aku pun menjawabnya hanya dengan anggukan kepala saja, karena aku tidak enak dengan Arga yang melihat adegan kami, aku tau sekarang hatinya pasti sangat sakit.
__ADS_1
Aku dan Arga pun akhirnya pulang menuju rumah Nek Ipah, hanya ada keheningan malam yang menyertai sepanjang perjalanan kami.